Saturday, December 16, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Banten » Selamat Datang di Ciboleger, #Catatan Perjalanan Baduy 2013 #Part2
Selamat Datang di Ciboleger
Selamat Datang di Ciboleger

Selamat Datang di Ciboleger, #Catatan Perjalanan Baduy 2013 #Part2

Everything I want the world to be,
Is now coming true especially for me
And the reason is clear
It's because you are here
You're the nearest thing to heaven that I've seen

I'm on the top of the world lookin' down on creation
And the only explanation I can find
Is the love that I've found ever since you've been around
Your love's put me at the top of the world

*Top of The World Lyrics, Carpenters

Sabtu, 25 Mei 2013 pukul setengah enam pagi di Stasiun Serang. Sinar bulan redup tersaput awan.
Panitia Baduy Writing Camp terlihat sibuk, ada yang mendata peserta, mengumpulkan uang iuran untuk biaya perjalanan, mendokumentasikan kegiatan dan tentu saja tak lupa memesan tiket. Sementara saya duduk manis di sisi muka stasiun menanti semua persiapan panitia selesai. Ada sedikit kantuk yang tersisa karena nyaris semalaman saya gak bisa tidur di homestay, hal yang sama dialami pula dua rekan perjalananan saya Noe dan Fenny sehingga akhirnya kita bertiga kompak keasyikan ngobrol sampai jelang pagi, padahal pukul lima pagi kami harus sudah bergerak menuju Stasiun Serang dan berkumpul dengan peserta lainnya. Ada empat puluh delapan nama yang tercatat sebagai peserta namun akhirnya yang berangkat berjumlah empat puluh dua orang, termasuk didalam nya ada delapan panitia dari relawan Rumah Dunia di pimpin Jack Alawi sebagai ketua panitia yang akan mengurusi segala hal berkaitan dengan acara ini.

Rangkaian panjang perjalanan menuju Baduy dimulai dengan menumpang kereta sejenis KRL bertarif 4000 rupiah dari Stasiun Serang pada pukul 06.50 menuju Stasiun Rangkas Bitung. Kereta rakyat khas negeri ini, dengan bangku terbuat dari fiber glass yang bisa diisi sampai tiga orang dewasa, berhenti di setiap stasiun dan bermacam pedagang yang hilir mudik sepanjang gerbong. Sedikit menyesal saya mengganti kamera pocket saya yang ramping, dlm kondisi padat penumpang seperti ini cukup repot mengeluarkan kamera yg berukuran besar, dan akhirnya saya kehilangan banyak momen yang harusnya bisa saya tangkap.

Saya mendadak inget mama di Lampung ketika seorang ibu dihadapan saya menghentikan salah seorang pedagang nasi bungkus. Isinya nasi merah, jenis nasi yang baik dikonsumsi oleh penderita diabetes seperti ibu saya karena kadar glukosanya yang rendah. Mendadak hati saya buncah, sebuncah hati saya saat istirahat sejenak di Rumah Dunia tadi malam dan mendengarkan lagu yang disukai papa melalui permainan gitar salah satu relawan Rumah Dunia. Teringat bahwa mereka lah yang membentuk saya seperti ini, berani keluar rumah, hidup jauh dari mereka, melihat dunia lebih jauh…lebih dalam.
Selalu ada sosok yang kita rindu, di suatu tempat, disuatu waktu.
Hiks…mendadak aku kangen mereka.

Nasi merah satu pincuk kecil, ditambahkan tumis kulit melinjo dan beberapa potong ikan asin dihargai 4.000 rupiah, cukup mengenyangkan untuk sarapan pagi. Ingin ikut menikmati namun takut lambung berontak sementara perjalanan baru saja dimulai. Saya pun mengurungkan niat, lalu memutuskan untuk menikmati lebih lanjut situasi sepanjang perjalanan, melintas sawah dan ladang ditingkahi suara pedagang yang tiada henti menjajakan dagangannya. Potret khas kehidupan negeri ini, sungguh menarik untuk dinikmati.

Sekitar pukul 08.00 kereta berhenti di Stasiun Rangkas Bitung dan kami semua turun, melanjutkan perjalanan menuju Terminal Pariuk Aweh menggunakan angkotan kota dengan ongkos 2.500 rupiah. Perjalanan tak lama hanya sekitar lima belas menit saja menuju kesana untuk kemudian menempuh etape terakhir menuju Terminal Ciboleger dengan menggunakan mobil sejenis colt yg mereka sebut Elf bertarif 15.000 rupiah, melewati jalanan aspal yang tidak terlalu lebar dan naik turun, beberapa ruas jalan berlubang disana sini, sehingga ada peserta yang mulai cari kantong kresek dan permen untuk mengantisipasi mual dan muntah. Beruntung saya duduk di depan disebelah supir sehingga jalan meliuk2 itu tidak menyiksa saya bahkan cukup bisa menikmati dengan tidur-tidur ayam disela-sela perjalanan.

Sesampainya di terminal Ciboleger, perjalanan kami menggunakan moda transportasi harus berakhir, karena untuk melanjutkan sampai ke Baduy Dalam hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Total perjalanan dari Stasiun Serang sampai ke Terminal Ciboleger ini membutuhkan ongkos perjalanan hanya Rp. 21.500 dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam.

Cerita selanjutnya….abis ini ya. Kami akan istirahat sebentar di Terminal Cibolegar utk makan, buang air kecil dan ngelurusin pinggang dan mengambil beberapa foto.
see u…

Terminal Ciboleger, masih Sabtu 25 Mei 2013
saat awan tipis menghalangi mentari pukul sepuluh pagi

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge