Tuesday, October 24, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jawa » Surabaya Heritage Track From House of Sampoerna
PB090171

Surabaya Heritage Track From House of Sampoerna

House of Sampoerna dan Surabaya Heritage Track…

Dua kalimat diatas sudah lekat dalam benak sejak beberapa hari menjelang terbang ke Surabaya. Sebagai kota transit dalam rangkaian perjalanan ke Kota Probolinggo dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, saya hanya punya waktu kurang dari 24 jam untuk berwisata kota di ibukota Jawa Timur ini. Waktu yang sempit itu pun masih harus dipangkas untuk tidur malam dan perjalanan dari Sidoarjo tempat saya menginap di salah satu kerabat dekat. Keterbatasan waktu membuat saya memutuskan untuk memilih satu tujuan saja yaitu berkunjung ke House of Sampoerna (HoS) dan menggunakan fasilitas bus wisata mereka yang diberi nama Surabaya Heritage Track (SHT) untuk keliling Surabaya. Alternatif ini saya anggap paling efektif dan efisien, karena hanya dengan berkunjung dan memanfaatkan fasilitas House of Sampoerna, saya dapat berkeliling Surabaya, mendatangi beberapa tempat bersejarah tanpa harus berlelah panas naik turun kendaraan umum.

PB090175

Cuaca Surabaya sangat panas siang itu, saat jam di pergelangan tangan menunjukkan hampir pukul dua belas siang. Turun dari bis kota yang membawa saya dari Sidoarjo di tempat yang terletak di salah satu titik Jalan Rajawali tak jauh dari Jembatan Merah Plaza (JMP) yang di sebut Wartel oleh warga setempat, saya melanjutkan perjalanan menuju House of Sampoerna dengan menggunakan becak. Cukup mengatakan, “ke museum, pak” sebagai tujuan, maka tukang becak sudah tahu tempat yang kita maksud dan segera membawa kita menelusuri samping Penjara Kali Sosok menuju House of Sampoerna.

House of Sampoerna adalah sebuah area milik keluarga yang dahulu merupakan pabrik rokok pertama sekaligus kediaman keluarga Sampoerna. Tempat ini terdiri dari tiga bangunan yang berjajar ke samping dengan bangunan utama yang saat ini berfungsi sebagai museum dan masih memproduksi rokok secara tradisional berada di tengah. Bangunan ini diapit dua bangunan lain di sisi kiri dan kanan bangunan yang disebut dengan Rumah Timur dan Rumah Barat. Rumah Timur digunakan untuk cafe sekaligus tempat registrasi untuk mengikuti tur dan Art Gallery di bagian belakang bangunan. Rumah Barat yang tadinya digunakan untuk kediaman keluarga Sampoerna, saat ini dalam keadaan kosong dan menjadi tempat tinggal bila ada keluarga yang sedang berada di Surabaya. 

PB090030

Disambut penjaga keamanan yang ramah, saya ditunjukkan arah Rumah Timur yang berada di areal paling depan untuk mendaftar sebagai Tracker, sebutan yang digunakan untuk peserta Surabaya Heritage Track (SHT) sebelum berkeliling agar tak kehabisan tempat duduk yang hanya tersedia dua puluh bangku. Sempat kecewa karena untuk keberangkatan jam satu siang ternyata saya kehabisan tempat duduk. Armada bus yang hanya satu unit tersebut berkapasitas penumpang berjumlah 20 buah telah habis dipesan dikarenakan peminat yang banyak. Sepuluh tempat duduk disediakan untuk penumpang yang melakukan reservasi lewat telepon dan sepuluh tempat duduk yang tersisa untuk penumpang yang datang langsung. Namun penjaga yang melayani reservasi sangat mengakomodir pengunjung, mbak Henri, demikian nama panggilan beliau menyarankan saya untuk tetap mendaftar dengan status waiting list sehingga bila ada yang batal saya bisa menggantikan jatah tempat duduknya. Saya tak keberatan untuk hal ini, bahkan saya juga langsung mendaftar untuk rute di keberangkatan berikutnya pukul tiga sore dan selisih waktu satu jam sebelum keberangkatan pada pukul satu siang saya gunakan untuk melihat-lihat museum di bangunan utama dan pameran foto di Art Gallery yang terletak di bagian belakang Cafe

PB090049

PB090045

Museum di House of Sampoerna yang terbuka untuk umum setiap hari sejak pukul sembilan pagi sampai dengan sepuluh malam ini tidak menarik biaya apa pun pada pengunjungnya, begitu pun pada fasilitas bus Surabaya Heritage Track untuk berkeliling ke tempat-tempat bersejarah di Surabaya. Berada di tempat ini akan terasa nyaman. Dengan pelayanan yang ramah, pemandu yang sangat komunikatif, museum ini juga ditata dengan sangat apik dan terawat, kebersihan terasa di setiap sudut sampai ke bagian yang sering diabaikan yaitu toilet. Selain Art Gallery, di bagian belakang Rumah Timur, terdapat musholla dilengkapi dengan tempat wudhu di bagian dalam, mukena terlipat rapi dan bersih siap digunakan untuk beribadah umat Muslim. Di tempat ini pengunjung bisa melepas dahaga dengan menikmati kopi dan teh panas gratis yang disediakan oleh pengelola House of Sampoerna.

Empat pilar tinggi bercincin logo rokok Dji Sam Soe 234  kokoh berdiri menyambut saya, menyangga tulisan besar SAMPOERNA di bagian paling atas bagai mempertegas kebesaran sebuah dinasti keluarga Sampoerna. Gedung ini terdiri dari dua lantai, lantai satu untuk ruang pamer dan lantai dua digunakan untuk penjualan cindera mata serta melihat proses pembuatan rokok secara tradisional. Sayang sekali saya datang pada akhir pekan dan proses pengerjaan sudah selesai sejak pukul sebelas siang, sedangkan pada hari kerja pengerjaaan dilakukan sampai pukul satu siang

PB090038

PB090018

Ruang pamer di lantai satu tidak terlalu luas, hanya butuh kurang lebih satu jam saya berkeliling, dengan perlahan mencermati setiap benda yang dipamerkan dan membaca detil keterangan yang menyertainya sambil sesekali bertanya dan mendengarkan informasi dari pemandu yang ramah. Segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah pabrik rokok dan keluarga Sampoerna ada disini, lengkap dengan foto-foto sebagai pelengkap informasi. Dari bahan baku sampai alat proses, dari pembungkus sampai alat cetak, foto keluarga, sejarah pabrik sampai jajaran komisaris tersaji lengkap disini. Satu hal yang terekam baik oleh saya setelah berkunjung dari museum ini bukan hanya pada apa yang saya lihat namun lebih dari itu, saya sangat terkesan dengan filosofi hidup Sang Pendiri Sampoerna Liem Seeng Tee tentang “kesempurnaan” dan angka sembilan yang menjadi angka keberuntungan beliau. Hanya dari bertanya tentang makna logo Sampoerna, saya bisa merasakan getar semangat, ambisi, kerja keras, keuletan dan sikap pantang menyerah beliau. Tak heran bila warisan kejayaannya, begitu luar biasa seperti yang saya lihat saat itu. Anda harus lihat dan rasakan sendiri dengan berkunjung kesana

PB090067

PB090054

Puas menjelajahi museum, kegiatan satu hari di Surabaya saya lanjutkan dengan menggunakan bus Surabaya Heritage Track yang disediakan House of Sampoerna. Ada tiga keberangkatan dengan tiga jalur yang berbeda setiap harinya dan berbeda pula rute antara hari kerja dan akhir pekan, ada rute panjang selama satu setengah jam pada akhir pekan dan ada pula rute pendek berdurasi satu jam pada hari kerja. Bis berwarna merah menyala dan gambar yang meriah menghiasi seluruh tubuh bus serta pemandu yang fasih berbahasa Inggris menemani kami siang itu. Setiap tracker, diberikan selembar tiket dan sebuah peta yang menunjukkan rute-rute yang akan dilewati, tempat-tempat yang akan dikunjungi berikut keterangan singkat tentang tempat tersebut. Tiket tadi harus ditunjukkan pada petugas untuk kemudian diberikan tanda pengenal yang dikalungkan di leher selama tur berlangsung.

Tentu saja saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dalam waktu kunjungan yang sangat sempit di Surabaya. Hari itu saya mengikuti dua rute panjang sekaligus yaitu keberangkatan yang kedua dan ketiga yaitu pada jam satu siang dan jam tiga sore. Keberangkatan yang pertama tidak memungkinkan karena pada jam sembilan pagi saya baru mendarat di Bandar Udara Juanda

PB090079

PB090096

Tepat jam satu siang, bus SHT bergerak meninggalkan House of Sampoerna, dengan mengusung tema “Surabaya, The Heroes City”  kami kemudian  berkeliling ke tempat-tempat yang memiliki cerita seputar kepahlawanan. Beruntung sekali saya berada di Surabaya tepat satu hari menjelang perayaan Hari Pahlawan, 10 November. Sebagai kota yang dijuluki Kota Pahlawan, Hari Raya Nasional tersebut disambut dengan meriah oleh warga Surabaya. Di sepanjang jalan yang kami lalui Bendera Merah Putih berpadu dengan umbul-umbul warna warni semarak menghiasi jalan-jalan kota yang hari itu sangat cerah hingga bulan pun masih bisa terlihat saat tengah hari. Kami menelusuri jalan-jalan seputar Kota Tua melihat bangunan-bangunan bersejarah dari dalam mobil sambil mendengarkan pemandu bercerita tentang sejarah bangunan-bangunan tersebut.

Saya kagum dengan pemerintah kota ini. Kota tua dan bangunan peninggalan jaman kolonial sangat terpelihara. Meski kota metropolitan, kota Surabaya terlihat rapi tertata dan bersih. Pedestrian lebar lebar sepanjang kiri kanan jalan berfungsi sebagaimana peruntukannya untuk pejalan kaki. Taman-taman kota yang asri, bunga-bunga yang mekar dengan air mancur dan pepohonan rindang seolah berupaya menghembuskan kesejukan untuk kota yang terkenal panas cuacanya. Saya jatuh hati pada kota ini. Berkali-kali saya menggumamkan kata oh atau wow sambil melihat-lihat kiri kanan jalan, cerita-cerita heroik tentang perjuangan merebut kemerdekaan yang saya dapatkan hanya dari buku sejarah selama ini bisa saya lihat langsung dan merasakan semangatnya. Banyak sekali tempat yang kami lewati dan lihat dari dalam bus, namun beberapa diantaranya kami datangi dan masuk ke dalamnya. Misal, di Monumen Tugu Pahlawan, kami dipersilahkan turun dengan pemandu yang terus mendampingi kami. Di tempat ini berdiri kokoh patung Proklamator Soekarno-Hatta yang sedang membacakan naskah proklamasi, juga terdapat pula mobil Bung Tomo serta Museum Perjuangan 10 November. 

PB090116

PB090105

Begitu pun di gedung PTPN XI, kami berkesempatan melihat-lihat kemegahan gedung yang diresmikan sejak tahun 1925 dan masih berdiri kokoh dan dipakai sebagai gedung perkantoran. Sekilas saya merasakan arsitektur gedung ini mirip dengan Lawang Sewu yang ada di Semarang, Jawa Tengah dengan jendela dan pintu yang berjumlah banyak di sisi-sisi gedung, begitu juga dengan keberadaan ruang bawah tanahnya. Ada yang istimewa dari gedung ini, yaitu konstruksi yang dirancang tahan gempa dengan menyediakan celah antar gedung yang membelah vertikal dari atas ke bawah dan dilapisi semacam karet sebagai peredam. Sesuatu yang hebat menurut saya, mengingat bangunan ini dirancang lebih dari delapan puluh tahun yang lalu.

Berbeda dengan rute siang, perjalanan kami sore hari mengusung tema “Babad Surabaya”. Kali ini perjalanan menelusuri sejarah kejayaan kerajaan di Surabaya dan budayanya. Kami berjalan kaki menelusuri sisa-sisa bangunan Kraton sampai masuk ke dalam gang-gang kecil,melihat beberapa detail yang nyaris luput dari perhatian, hal ini mengingatkan saya pada sudut-sudut gang sekitar Kraton Yogyakarta. Di tempat lain, kami juga diperkenalkan dengan budaya Jawa Timur. Di tempat yang disebut dengan Taman Budaya Jawa Timur atau Taman Budaya Cak Nurasim, seorang tokoh pejuang kebudayaan, pengunjung dapat melihat pameran, seminar atau diskusi budaya serta latihan atau pertunjukkan tari

PB090149

Sekitar jam setengah lima sore, kami mengakhiri perjalanan dan kembali ke House of Sampoerna. Hari semakin sore, tubuh saya semakin teras lelah, namun saya puas bisa melihat dan mengetahui banyak hal meski hanya beberapa jam saja berada di Surabaya. Langit semakin redup, beberapa ruas jalan sudah mulai ditutup untuk persiapan perayaan Hari Pahlawan malam nanti. Beberapa kendaraan perang sudah di parkir di sekitar Monumen Tugu Pahlawan, warga pun sudah berangsur membawa teman dan kerabat untuk menikmati keramaian. Beberapa terlihat ceria mengambil beberapa gambar untuk kenang-kenangan. Saya yang sudah terlalu lelah dan sendiri, cukup menikmati dari dalam bus saja.

Selamat tinggal Surabaya, semoga di lain waktu ada kesempatan untuk kembali kesini.

Surabaya, 9 Novermber 2013

PB090144

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

9 comments

  1. Haiiii, mbak… Tengkiu ya, sudah mengeksplorasi kota tercintaku 🙂 Sebagai alumnus PT HM Sampoerna Tbk (huehehe, nulisnya komplit amat, buww) saya juga super-duper-bangga dengan eksistensi museum keren inih. Kalo ke sby lagi, kabar2i ya mbak 🙂

    • donna imelda

      Hai Nurul….Senang berkenalan denganmu. Wah coba sudah kenal minggu lalu ya, bisa temani aku yang bersolo traveling di Surabaya. Kotamu kereeeen. Thanks sudah mampir…

  2. wah menarik sekali pengalamannya, kayaknya layaak buat dikunjungi tuh… *planning 😀

  3. Wow postinganmu selalu bikin mupeng. Aku minat! Eksekusi entaran wkwkwkkk

  4. Wah mba, waktu PKL do Surabaya aku ga jadi ke house of sampoerna. Padahal sebulan lho tinggal di kota Pahlawan. Tapi alhamdulillah ke monumen tugu pahlawan sama monkasel. Sempet juga menikmati es Karim syang Randi yg trkenal itu. Ahh jadi rindu..

  5. Saya juga udah pernah berkunjung kesini namun belum sempat nulisnya sampai saat ini, benar-benar keren sejarah bangunannya. Salam persahabatan dari blogger Kalimantan… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge