Thursday, December 14, 2017
Home » Traveling » 7 Destinasi Wisata Lingkar Tambang di Sumbawa Barat
donna imelda

7 Destinasi Wisata Lingkar Tambang di Sumbawa Barat

Panas, debu, dan alat berat, itu yang terbayang dalam benak hampir setiap orang ketika saya menyebut kata tambang. Namun cobalah padankan kata tambang tersebut dengan nama Nusa Tenggara Barat dan jalan-jalan atau pelesiran, pasti yang dibayangkan sudah sedikit berbeda. Mungkin mulai hadir di pelupuk mata kita kemegahan sebuah tambang terbuka berdiameter ratusan meter, pulau-pulau kecil nan eksotis, deru ombak yang memecah di tepian pantai, romansa saat mentari kembali ke peraduan dan warna biru yang mewah di atas langit.

Dan itu benar, sembilan hari memenuhi undangan Sustainable Mining Bootcamp (SMB) yang diselenggarakan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa Barat, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman yang luar biasa. Dalam suasana yang santai dan penuh keakraban, saya dan 26 peserta Sustanaible Mining Bootcamp 5 bukan hanya berkesempatan melihat dan mendapatkan informasi langsung kegiatan tambang namun juga keindahan berbagai tempat di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dari tanggal 14 s.d. 22 Februari 2016.

Beberapa tulisan saya tentang kegiatan tambang di PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) di Batu Hijau sudah dituliskan di blog saya www.donnaimelda.com dari beragam aspek dan atau sudut pandang. Sejak perjalanan menuju Batu Hijau, proses penambangan, pengolahan menjadi konsentrat, penempatan tailing hingga dua rangkaian tulisan mengenai program tanggung jawab sosial yang dilakukan PTNNT untuk masyarakat lingkar tambang di Kecamatan Jereweh, Maluk dan Sekongkang.

Namun tulisan kali ini sedikit berbeda, saya ingin mengajak pembaca sedikit bersantai-santai meski masih berbicara seputar tambang dengan berbincang seputar keindahan Kabupaten Sumbawa Barat. Tulisan ini adalah sudut pandang lain hasil kunjungan ke beberapa tempat wisata selama kegiatan bootcamp yang luar biasa padat itu sembari menengok beberapa infrastruktur dan fasilitas yang dibangun PTNNT di area lingkar tambang. Tempat-tempat inilah yang kemudian membuat saya jatuh cinta pada Sumbawa Barat.

  • Teluk Benete

Keindahan Teluk Benete ini saya nikmati sejak Kapal Cepat Tenggara Satu milik PTNNT yang membawa saya dari Pelabuhan Kayangan Lombok mulai memasuki perairan sekitar Sumbawa Barat. Saya sangat menikmati birunya langit di atas Nusa Tenggara, begitu juga dengan gradasi warna biru permukaan air laut yang kadang biru tua, biru muda hingga biru kehijau-hijauan serupa tosca. Kecantikan laut dengan bukit-bukit yang menonjol ke arah laut mengingatkan saya dengan keindahan Laut Flores di Nusa Tenggara Timur.

Musim yang sudah memasuki masa penghujan membuat bukit-bukit itu terlihat menghijau dan asri. Kontras dengan warna bebatuan di bawahnya. Punggung bukit-bukit yang memanjang memancing imajinasi saya untuk berjalan menyusurinya. Lalu terbayang kesyahduannya saat sendiri berjalan menikmati hembusan angin di ketinggian dengan pemandangan lautan biru di bawahnya. Sungguh sebuah eksotisme Nusa Tenggara yang selalu melekat dalam benak

Di Teluk Benete inilah terdapat Pelabuhan Benete yang menjadi salah satu pintu gerbang untuk memasuki Pulau Sumbawa yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat selain Pelabuhan Poto Tano. Namun Pelabuhan Benete sesungguhnya memang bukan pelabuhan umum namun merupakan pelabuhan yang dibangun PTNNT untuk memfasilitasi segala kebutuhan berkaitan dengan kegiatan atau operasional tambang, baik untuk pengiriman barang, pengiriman konsentrat logam hasil produksinya dan transportasi manusia, baik karyawan dan tamu PTNNT juga masyarakat umum.

Dari kejauhan, pantai yang terletak Desa Goa, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat ini tampak landai, airnya tenang dengan pasirnya yang cenderung berwarna gelap. Teluk Benete sendiri bukanlah tempat yang dikhususkan untuk tempat wisata meski pada saat saya melewati tempat tersebut terlihat satu dua orang sedang duduk-duduk santai menikmati pantai. Selain digunakan sebagai pelabuhan, tempat ini juga merupakan perkampungan nelayan dengan garis pantai yang terlihat indah di antara perbukitan sehingga cukup menarik untuk disinggahi.

  • Pantai Lawar

Salah satu hal yang saya suka dari pantai-pantai di Sumbawa Barat adalah pantainya yang tidak terlalu ramai. Seperti Pantai Lawar ini misalnya, letaknya yang jauh dari jalan raya membuat pantai ini sangat sepi. Saat rombongan bootcamp datang, nyaris tak ada pengunjung lain yang berkunjung. Hanya ada sepasang turis asing yang datang, itu pun tak lama kemudian mereka meninggalkan lokasi setelah bermesra sesaat. Mungkin romansa mereka –yang membuat saya iri itu– terganggu oleh kelakar kami. Oh, romansa…

Pantai ini sepertinya bukan pantai yang sering didatangi warga atau setidaknya bukan tempat yang dikelola dengan baik dibandingkan dengan Pantai Maluk dan Pantai Rantung. Hal ini terlihat dari aksesnya jalannya yang terhalang oleh tumbuhan karena jarang dilewati kendaraan besar. Pondokan yang tersedia pun terlihat tak terawat dan mulai melapuk. Kesadaran masyarakat lokal tentang kebersihan sepertinya masih harus ditingkatkan karena terlihat sekali masih banyak sampah-sampah yang diletakkan sembarangan oleh pengunjung di pinggir pantai.

Namun sesungguhnya pantai ini di mata saya cukup menarik, terutama untuk menyepi. Dua buah bukit yang mengapit pantai membuat Pantai Lawar seperti terbingkai. Garis pantainya memiliki jarak yang pendek, sehingga kita tak perlu waktu yang lama untuk berjalan menyusuri pantai dari bukit di ujung yang satu ke bukit di ujung yang lain. Batu-batuan besar yang berserak di sekitar bukit seolah mengundang saya untuk melompat-lompat di atasnya dan mengundang hasrat untuk berpose cantik dengan latar belakang batu-batuan tersebut.

Cobalah berjalan di pinggiran Pantai Lawar pada sore hari. Pasir pantainya yang putih dan halus nyaman sekali saat menyentuh telapak kaki dan menelusup di sela jemari. Sisa-sisa hangat menatari siang masih terasa di kaki. Mendekati bibir pantai, maka akan kita lihat tepian pantainya yang landai dan berombak tenang. Saya pun mulai berimajinasi tentang kenikmatan berendam sambil menanti senja tiba meski mentari tak akan terlihat saat turun karena terhalang bukit.

  • Pantai Poto Batu

Pantai Poto Batu ini unik, membentang cukup panjang di sebuah ruas jalan dalam perjalanan dari Taliwang menuju Kecamatan Jereweh. Di dalam bis yang membawa kami melaju menuju Desa Kertasari, saya menikmati sekali keindahan pantainya dari letak yang lebih tinggi di jalan raya. Airnya bening, hingga bebatuan di dasar pantai terlihat bayang-bayangnya. Ditambah dengan pantulan warna biru langit di cuaca yang cerah membuat permukaan air lautnya membiru indah sekali.

Beruntung Mas Arie memberi kesempatan kami untuk mampir dan mengambil foto. Bis yang kami tumpangi sengaja berhenti di sebuah tempat yang terdapat sebuah gunungan batu besar mirip yang berlubang di tengahnya, mirip goa. Setengah berlari saya menuruni jalan di atas tanah berpasir untuk mengambil foto di tempat yang oleh masyarakat lokal diberi nama Poto Batu ini.

Poto Batu berarti Batu di Ujung. Di beri nama demikian karena batu berlubang tersebut letaknya di salah satu sisi pantai yang dianggap bagian ujung pantai. Selintas batuan tersebut seolah disusun lapis demi lapis, terlihat sangat menarik. Sayang seribu sayang, betapa gemasnya saya melihat hasil karya tangan-tangan usil yang mencoreti batu tersebut dan sungguh mengurangi keindahannya meski saya coba tepis dengan memperhatikan hal lain yang menarik.

Agak jauh di sebelah kanan gunungan batu tersebut, terdapat pemandangan unik lainnya, sebuah muara sungai yang mengalirkan air dari beberapa anak sungai di sekitar Taliwang. Saat itu mungkin sedang surut, daerah penghubung antara muara dan lautan itu tidak tertutup air sehingga menyerupai lapangan pasir yang terbuka. Dari informasi yang saya baca, muara ini kerap dikunjungi penduduk untuk memancing. Wah, pasti menyenangkan.

Jangan tanya antusias kami mengabadikan tempat ini, segala sisi pantai diambil gambarnya, karena memang setiap sudut Pantai Poto Batu ini memang indah. Bebatuan tersebut sungguh memperindah pemandangan. Beberapa dari kami sengaja menaiki gunungan batu tersebut hingga ke bagian puncak, Di sana telah terpancang tiang bendera dengan Sang Merah Putih berkibar dengan anggun di atasnya. Ah, Indonesia… kamu memang memesona.

  • Pantai Kertasari

Kunjungan kami ke Desa Kertasari sebenarnya tidak khusus untuk menikmati pantainya namun juga menjumpai penduduk lokal di sana. Desa yang terletak di Kecamatan Taliwang ini memang istimewa, daerah ini terkenal sebagai sentra penghasil rumput laut di Kabupaten Sumbawa Barat Hampir sebagian besar penduduknya menjadikan budidaya Rumput Laut sebagai mata pencarian mereka yang utama selain sebagai nelayan dan menenun kain.

Mungkin karena siang hari dan saat itu cuaca sangat terik, pantai ini terlihat sepi. Panasnya jangan ditanya, terik seakan membakar kulit. Saya yang sebenarnya kagum saat melihat hamparan pasir berwarna putih bersih, urung menjejakkan kaki di pasirnya yang putih bersih. Tak ada pelancong yang datang siang itu kecuali rombongan kami dan penduduk setempat yang sedang mengurusi rumput lautnya.

Kami menghabiskan sebagian besar waktu di sana untuk berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sebagai desa binaan PTNNT yang telah mandiri, banyak hal menarik yang kami bisa gali di sana. Bukan hanya terkait soal Rumput Laut namun juga soal kerajinan tenun kain hingga mencicipi hidangan khas setempat seperti Sate Kerang, Gulai Sepat, Urap Rumput Laut hingga Es Campur Rumput Laut. Jangan tanya rasanya, juara! Bagi saya tak terbantahkan, ini makan siang paling enak yang saya rasakan selama bootcamp.

Barulah setelah sore menjelang dan sinar mentari cukup bersahabat, kami bergeser ke bibir pantai dan menjejakkan kaki di pasir pantai yang putih dan halus itu. Di sini kami duduk-duduk sambil memperhatikan bagaimana Rumput Laut dipanen, dibawa ke pinggir pantai dan dihamparkan untuk dijemur esok hari hingga sore menjelang dan kami pun akhirnya bergerak meninggalkan Pantai Kertasari sebelum senja tiba.

  • Pantai Maluk

Sebuah landmark besar berwarna putih bertuliskan PANTAI MALUK berdiri kokoh di atas pasir puth nan halus. Pondok-pondok atau gazebo untuk makan minum dan bersantai sudah tersedia.
Bila anda datang ke tempat ini, pastikan anda tidak lupa menyicipi dendeng ala Sumbawa yang enaknya luar biasa yang disebut dengan Rarit. Pastikan pula saat anda berbincang, anda ditemani dengan Pisang Goreng dan Sambal Tujak serta sebutir Kelapa Muda sebagai minumannya. Dijamin bikin betah, kenyang dan gagal move on.

Kecamatan Maluk termasuk wilayah terdekat dengan pusat kegiatan tambang di Batu Hijau. Jumlah penduduk di lingkar dalam tambang ini cukup banyak, baik penduduk asli maupun pendatang yang berasal dari luar Sumbawa Barat. Tak heran bila dibandingkan dengan Pantai Kertasari dan Pantai Lawar, tempat ini jauh lebih ramai dikunjungi. Tempat yang infratrukturnya dibangun oleh PTNNT ini pun terlihat lebih terawat dan telah dikelola dengan baik.

Letaknya yang tak jauh dari jalan besar di pusat kota kabupaten membuat pantai ini tak hanya didatangi oleh mereka yang bertujuan untuk refreshing atau berwisata namun juga sekedar singgah untuk makan siang. Hal ini terlihat dari beberapa pengunjung berseragam PT. Newmont Nusa Tenggara yang datang untuk makan siang sambil berbincang sejenak lalu melanjutkan kegiatannya masing-masing.

Dua kali kami mendatangi pantai ini, dan dua kali pula saya ingin menceburkan diri di pantainya yang landai dan ombaknya relatif tenang. Apalagi pada siang hari, saat pertama kali kami datang untuk makan siang setelah sesi berbagi inspirasi dengan siswa siswi SMKN 1 Maluk. Siang itu pengunjung belum banyak yang datang. Berbeda dengan kondisi sore hari saat kami melepas Tukik, terlihat lebih ramai dengan penduduk yang datang bersama keluarga. Tampaknya mereka ingin refreshing dan menghabiskan hari sambil menikmati senja di pantai ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

  • Pantai Rantung

Kami tiba di Pantai Rantung saat matahari baru saja tergelincir ke arah barat. Sinarnya masih terang menyilaukan mata sehingga saya harus menunggu sejenak hingga mentari turun dan redup sambil menulis beberapa paragraf sebelum akhirnya kaki ini berjalan menuju pantai. Tak sulit untuk mencari tempat menginap, di sini banyak terdapat penginapan berupa cottage atau homestay yang bisa digunakan untuk menginap atau sekedar singgah seperti kami.

Pantai ini unik, saat saya menyisiri garis pantainya, terlihat bahwa ternyata pasirnya berwarna kecoklatan dengan butirannya relatif lebih besar-besar dan membulat mirip merica atau ketumbar. Garis pantainya paling panjang di antara pantai-pantai yang lain yang kami datangi sehingga saya puas menikmati langkah demi langkah sendirian menyusuri pinggiran pantainya yang tak terlalu ramai menjauh dari pondokan.

Garis Pantai Rantung ini bentuknya melengkung-lengkung, dengan ujung lengkungan serupa bukit yang menjorok ke arah laut. Di sebuah titik di pantai ini bahkan terdapat sebuah tempat yang strategis sekali untuk menikmati sunset, di mana mentari yang turun persis berada di antara dua ujung bukit. Saya pun memutuskan untuk menikmati sunset sendirian di sini, menikmati sinar keemasan mentari yang turun, di semburat merah jingga langit di atas Pantai Rantung.

Saya tak tahu mengapa kemudian pantai ini bikin saya sentimentil sekali. Terutama saat tubuh saya rebah di atas hangatnya bulir pantai bak ketumbar di pantai ini. Entah karena lelah setelah berpanas-panas keliling Water Treatment Plant di Santong, atau entah karena saya telah terbius pada aura senja yang tiba-tiba hadirkan rindu dan kenangan yang begitu kuat. Yang jelas saya benar-benar menikmati detik-detik mentari turun ke bumi hingga hilang dari pandangan kala itu.

  • Air Terjun Perpas

Kalau Pantai Rantung telah membuat saya jatuh merindu tak karuan, lain halnya dengan Air Terjun Perpas. Tak ada roman-roman picisan dalam perjalanan menuju ke sana, namun keseruan yang dihadirkan memberikan pengalaman tersendiri. Untuk mencapai tempat ini, diperkirakan kami harus trekking berjalan menembus hutan kecil selama kurang lebih satu jam dari tempat parkir bus berada.

Saya sempat berpikir sejenak untuk ikut atau tidak ke tempat air terjun tersebut berada. Bukan karena satu jam waktu trekking yang saya khawatirkan, namun medan yang harus dilalui apakah memiliki tanjakan yang curam atau tidak. Terus terang saya bukan adventurer, punya trauma soal trekking, sehingga jelas tidak menyukai trekking di medan yang sulit. Saya cuma ibu-ibu yang doyan jalan dan mau bersusah payah asal medannya masih bisa dilalui dengan senyum cantik meski ngos-ngosan hehehe.

Dan, alhamdulillah, ternyata memang trek-nya tak terlalu sulit. Waktu tempuh juga hanya sekitar 40 menit saja. Sebagian besar tanjakan dan turunannya landai, hanya ada satu dua tanjakan yang relatif cukup tinggi dan panjang. Dalam perjalanan sesekali kami harus merunduk di bawah pohon-pohon besar yang tumbang atau melompatinya sambil menerobos vegetasi yang semakin dalam semakin rapat.

Namun perjalanan masih bisa dinikmati. Selama trekking kami masih saling berbincang satu sama lain. Jalurnya sangat aman, hanya bertemu satu dua kaki seribu berukuran besar di balik pohon tumbang atau bebatuan. Saya sih cuma berharap jangan ada ular melintas dari dalam semak. Sempat ketemu satu sih ular berwarna hijau di pinggir jalan setapak sebelum masuk hutan, tapi untunglah ular tersebut sudah mati.

40 menit trekking tak terasa melelahkan bila beramai-ramai dan suasananya menyenangkan seperti yang kami alami. Terlebih saat gemuruh air terjun sudah terdengar makin jelas, tanda lokasi air terjun sudah dekat. Dan serunya, keberadaan air terjun ini seolah tiba-tiba menyeruak di depan mata. Sesaat setelah menuruni setapak, lalu membelok, tiba-tiba di depan mata terbentang sebuah areal terbuka yang dikelilingi oleh hutan di bawah langit Sumbawa yang kala itu berwarna biru cerah. Saya terpukau!

Kaki kami berpijak di atas permukaan sebuah batu besar. Ya, batu besar! Tak terbayang berapa besar sesungguhnya batu yang kami pijak ini, kalau permukaannya saja seluas bidang yang kami tempati. Dan hal ini sukses membuat saya berperilaku norak luar biasa, Berpose dengan berbagai gaya, mengambil gambar di setiap sudut, sambil menghirup udara dalam-dalam. Bersyukur sekali saya tidak mengurungkan niat saya ke sini tadi di parkiran Terbayang kalau saya mengambil keputusan seperti yang sudah-sudah, yaitu mengatakan tidak mau dan tidak mampu bahkan sebelum mencoba menjalaninya. Pasti menyesal.

Air terjun perpas ini sebanrnya tidak terlalu istimewa. Tercurah dari tempat yang tidak terlalu tinggj, juga tidak lebar. Tetapi…, kebersamaan kami, obrolan sepanjang jalan, canda selama berada di sana, terekam begitu lekat dan indah dalam benak. Foto serta rekaman video kala itu masih mampu menghadirkan rasa yang sama seperti saat video itu dibuat, bahkan ketika saya melihatnya kembali saat tulisan ini dibuat.

Saya sempat ragu-ragu untuk menyeburkan diri ke dalam kolam di bawah air terjun itu. Namun setelah puas berfoto, pikiran mulai bingung, mau ngapain lagi? Yang lain terlhat betah berlama-lama, bahkan beberapa diantara kami mulai terjun ke air, ada yang dengan melompat dari atas batu, ada yang bergelayutan dengan akar pohon bak Tarzan, dan ada pula yang menyeburkan diri dari pinggiran kolam.

Saya mulai tergooda, mulai deh membuka jam tangan, menggulung celana panjang. Niatnya sih cuma main air. Saat itu mikirnya, nggak mungkin nyemplung dengan pakaian lengkap dan celana jeans tanpa membawa pakaian ganti. Bisa berabe saat trekking turun nanti dengan pakaian basah, resiko masuk angin dan celana jeans basah dan berat sudah terbayang di pelupuk mata.

Eh, pas nyemplungin kaki, wuiiiiiih sejuknya merambat hingga ke betis. Nyemplungin tangan, cibang-cibung, basuh-basuh muka…, wah kok tambah seger. Sementara itu Kak Cumi Lebay dari dalam air sudah teriak-teriak mengajak turun. “ayo, Mbak Don… nyebur!” Dan saya masih saja galau, nyebur kagak…nyebur kagak… dan akhirnya, tiba-tiba terpikir aja jangan sampe nyesel sudah sejauh ini nggak nyebur. Makaaaa, byuuuuuuur …., aku pun masuk ke dalam kolam. Yeaaayyy.

Jangan tanya rasanya, tak terkatakan. Saya masih bisa membayangkan sejuknya air itu merambati kulit dari kaki ke pinggang, naik ke dada, merambati punggung, merasuk hingga ke tulang iga, seolah menembus ke paru-paru hingga pada akhirnya seluruh tubuh ini merasakan kesejukan yang luar biasa. Sungguh luar biasa… dan membuat saya enggan mengakhirinya.

 

Nah… bagi kalian yang akan bertandang ke Sumbawa Barat, pastikan jangan melewatkan tempat-tempat yang saya ceritakan di atas ya.

Wisata di lingkar tambang? Why not!

Sampai jumpa di Sumbawa Barat

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

11 comments

  1. Tempat ini bikin kangen. Serasa baru kemarin dari sana 🙂
    Evi recently posted…Upacara Meprani di Balai Banjar Semawang – SanurMy Profile

  2. Wah, sejak diceritakan mas Iqbal ttg perjalanan kemarin dan pesona Sumbawa , aku jadi pingin ke sana nih.. Duh. Seru banget ya kemarin kalian , dapat pemandangan kaya gini, dapat pula pengetahuan dunia tambang.
    insanwisata recently posted…Goa Gelatik: Indahnya Tempat Bertapa Prabu AnglingdarmaMy Profile

  3. Tempat yang ngangenin.. Terutama yang di air terjun.
    iPutu recently posted…Tentang FotosintesaMy Profile

  4. Beberapa kali liat teman-teman blogger yang ke sini seru kayaknya. Dulu baca punya om Cumi, Mas Timo, mas Iqbal dll. Kece-kece tempatnya 😀
    Nasirullah Sitam recently posted…Menapaki Setiap Sudut di Lawang Sewu SemarangMy Profile

  5. Jadi kagen Sumbawa Barat Mbak, dulu segelintir waktu cuma sempat ke Kenawa 🙁
    Rifqy Faiza Rahman recently posted…Perjalanan: Ekspektasi dan RealitaMy Profile

  6. Ah Sumbawa. Masuk bucket list aku nih, Mba. Dari dulu belum kesampean ke sana. Hiks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge