Wednesday, October 18, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Antara Jakarta, Kochi dan Trivandrum
Backwater dari Ketinggian di Atas Kota Trivananthapuram
Backwater dari Ketinggian di Atas Kota Trivananthapuram

Antara Jakarta, Kochi dan Trivandrum

Dari kejauhan, saya mengenali seorang gadis cantik berwajah India yang berdiri dengan seikat bunga di tangannya. Di sebelahnya, berdiri seorang lelaki muda dengan ekspresi wajah sama dengan gadis cantik tadi, terlihat berusaha mengenali satu persatu penumpang yang akan keluar dari terminal kedatangan Trivandrum Airport, Kerala. Tak salah lagi, dengan selembar karton bertuliskan “Welcome, Donna Imelda”, saya pastikan mereka adalah Roja Rose dan Shiju, crew Kerala Blog Express 2 yang bertugas menjemput saya hari ini.

Penerbangan Panjang Jakarta – Thiruvananthapuram
Ini adalah penerbangan terpanjang yang lumayan melelahkan buat saya. Meski total penerbangan di angkasa hanya sekitar tujuh jam saja, namun saya harus menempuh perjalanan dari Jakarta ke Thiruvananthapuram, India selama dua hari, dari tanggal 1 Maret 2015 dini hari dan baru tiba di pada tanggal, 2 Maret 2015 pukul sebelas siang waktu setempat. Butuh waktu total sekitar 28 jam untuk sampai di Thiruvananthapuram, tempat yang ditentukan sebagai titik kumpul 30 travel blogger pemenang Kerala Blog Express 2 yang berasal dari 21 negara dari berbagai belahan dunia.

Dengan berganti pesawat sebanyak 3 kali diselingi 2 kali transit, saya menempuh rute Flying Thru Jakarta (CGK) – Kuala Lumpur (KUL) – Cochin (COC) dengan menggunakan maskapai penerbangan milik Malaysia, Air Asia. Keesokan paginya, saya meneruskan perjalanan dari Cochi (COK) menuju Trivandrum (TRV) –nama lain Thiruvananthapuram– dengan menggunakan maskapai penerbangan domestik milik India, Indigo. Rute ini saya pilih dengan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah jumlah transit yang hanya dua kali serta harga yang paling ekonomis.

Suasana KLIA2 Yang Nyaman
Suasana KLIA2 Yang Nyaman

Setelah terbang selama dua jam dari Jakarta, saya harus transit selama sembilan jam di Kuala Lumpur International Airport (KLIA2) sebelum berganti pesawat untuk melanjutkan perjalanan menuju Kochi –nama lain dari Cochin– malam harinya. Waktu tunggu yang cukup lama memang. Namun karena pernah mengalami transit yang lama bahkan sampai harus menginap di Low Carrier Cost Terminal (LCCT) yang kondisinya lebih mirip hanggar besar untuk manusia, maka berada KLIA 2 ini saya merasakan atmosfer yang jauh lebih nyaman.

Dengan hanya membawa satu ransel di punggung –karena bagasi diambil sesampai di Kochi nanti—saya nyaman menjelajahi tempat-tempat belanja di setiap sudut KLIA 2. Dengan durasi transit yang panjang, saya bisa makan siang di food court yang berada di lantai dua sambil berlama-lama berselancar di dunia maya dan menulis beberapa catatan perjalanan. Musholla yang bersih dan nyaman, serta beberapa spot di sekitarnya memungkinkan saya rebahan bahkan sampai tertidur saat kantuk menyerang tanpa rasa khawatir. Di kala bosan, saya bisa melewatkan waktu dengan menonton di Movie Zone.

Yang terasa melelahkan itu saat saya harus menunggu penerbangan ke Trivandrum. Setelah menempuh penerbangan selama empat jam dari Kuala Lumpur, saya bingung harus melakukan apa di Cochi International Airport, Kochi. Airbus A320-200 mendaratkan saya pada pukul setengah sebelas malam waktu setempat, sedangkan penerbangan ke Trivandrum hanya ada dua jadwal setiap harinya yaitu pukul sembilan malam dan pukul sembilan pagi. Tentu saja saya tidak bisa menggunakan maskapai penerbangan Air India yang telah terbang pukul sembilan malam, sehingga saya harus menggunakan maskapai penerbangan Indigo pukul sembilan pagi keesokan harinya.

Ruang Tunggu Terminal Keberangkatan Internasional Cochin
Ruang Tunggu Terminal Keberangkatan Internasional Cochin

Calon penumpang hanya diperbolehkan masuk ke area check in paling cepat tiga jam sebelum jadwal keberangkatan tiba, sementara saya sudah mendarat dan berada di sini sebelas jam sebelumnya. Beruntung terminal kedatangan dan keberangkatan internasional hanya terhubung oleh koridor pendek sehingga saya tak perlu keluar area terminal kedatangan untuk menunggu di terminal kedatangan internasional. Meski saya akan berangkat dari terminal keberangkatan domestik, saya memilih untuk tidak keluar, karena malah akan menyebabkan saya nantinya terkatung-katung di beranda karena terminal kedatangan domestik dikunci sampai esok hari.

Di terminal kedatangan hanya ada kursi panjang dengan sekat-sekat sandaran tangan yang tak memungkinkan saya rebahan di atasnya. Kondisi di dalam bandar udara yang tertib membuat saya rasanya segan dan tak mungkin tiduran di atas lantai menanti pagi tiba. Terpaksalah saya dengan energi yang tinggal sisa melawan bosan dan membunuh waktu hanya dengan duduk, berdiri, duduk lagi, berdiri lagi sambil mondar mandir antara terminal kedatangan dan terminal keberangkatan yang hanya tersambung melalui sebuah koridor. Ini bagian yang paling membosankan dan melelahkan.

Kerala yang bersahabat
Akhirnya saya tak tahan juga menahan bosan di dalam terminal internasional dan memutuskan untuk keluar dan menuju terminal domestik sekitar pukul empat pagi. Saya perkirakan tak lama lagi waktu sholat subuh akan tiba, sehingga saya menyempatkan diri untuk bebersih badan seadanya dan berwudhu terlebih dahulu. Sebagaimana perkiraan saya, terminal domestik masih dalam keadaan gelap gulita dan terkunci. Saya menanti di luar persis di depan konter maskapai Indigo. Di sini saya mulai merasakan betapa bersahabatnya warga Kerala.

Kecantikan dan Pelayanan yang Bersahabat
Kecantikan dan Pelayanan yang Bersahabat

Meski baru buka, petugas konter tiket Indigo melayani saya dengan sangat ramah. Mungkin dia melihat wajah saya sudah cukup lelah, ia menyarankan saya untuk mencoba masuk ruang tunggu terminal kedatangan sambil menitipkan pesan, bila saya tidak diperbolehkan masuk karena jadwal penerbangan saya yang masih lama, saya dipersilahkan untuk menyampaikan kepadanya untuk dibantu. Beruntung saya tak mengalami kendala untuk bisa masuk ke terminal kedatangan, saya pun menanti waktu check in di dalam sambil menikmati secangkir teh panas dan sepotog pisang goreng yang saya beli di salah satu sudut terminal.

Beberapa hal menjadi catatan saya berkaitan dengan aturan bandar udara setempat yang saya alami. Saya melihat keamanan di sini di jaga sangat ketat, tegas namun bersahabat. Saat check in, saya harus memperlihatkan kartu kredit yang digunakan untuk membayar tiket pemesanan. Tentu saja saya tidak dapat memperlihatkan kartu kredit tersebut karena tiket saya pesan melalui seorang teman baik yang memiliki usaha di bidang ticketing di Jakarta. Meski harus menanti beberapa saat karena petugas tersebut harus berdiskusi terlebih dahulu dengan atasannya, akhirnya dengan kalimat peringatan yang sangat simpatik dengan ekspresi wajah dan senyum bersahabat, boarding pass saya pun dicetak. Saya diperkenankan masuk.

Barang yang tak masuk bagasi, termasuk ransel harus menggunakan name tag dan di cek pada saat boarding. Tentengan atau tas tangan tanpa name tag akan dipertanyakan. Name tag diberikan saat boarding pass di cetak. Pemeriksaan barang bawaan juga cukup ketat. Pria dan wanita diperiksa di tempat yang berbeda. Semua penumpang wanita diperiksa dalam sebuah ruangan tertutup oleh petugas wanita, baik dengan menggunakan detektor logam maupun diraba langsung oleh petugas. Setelah aman dan tak ditemukan barang yang mencurigakan, tiket akan di stempel dan barulah kita bisa masuk ke ruang tunggu boarding.

Ruang Tunggu Penumpang Penerbangan Domestik Cochin
Ruang Tunggu Penumpang Penerbangan Domestik Cochin

Saya pun lega, tak ada masalah melewati semua prosedur. Baik yang diatur oleh maskapai, imigrasi maupun bea cukai setempat. Penerbangan selama 45 menit dari Kochi menuju Trivandrum sungguh bagai sekejap saja, dari udara saya menikmati pemandangan Backwater yang dikelilingi pohon kelapa dimana-mana. Saking semangatnya, terburu-buru saya keluar terminal kedatangan setiba di Trivandrum. Gadis cantik dengan seikat bunga di tangan, menyita perhatian saya dan membuat saya meninggalkan satu tas jinjing di toilet.

Dan lagi-lagi, saya kagum dengan keramahtamahan Kerala, barang saya disimpan dengan baik oleh airport manager, dihubungi via telepon saat saya sudah tiba di hotel, dan dengan penuh kalimat yang bersahabat saya dilayani. Sesampainya kembali di airport pun, saya didampingi, dibuatkan berita acara dan diajak berbincang sambil melihat kronologis tertinggalnya barang tersebut melalui CCTV. Salut!

Perjalanan panjang dan melelahkan CGK-COC-TRV ditutup dengan manis di Uday Samudra Hotel. Seikat bunga dan ucapan selamat datang kini tergeletak anggunnya di atas kasur. Burung-burung di sekitar kamar yang banyak berterbangan dan hinggap kesana kemari, kicaunya seolah ikut mengucapkan selamat datang. Alhamdulillah, akhirnya sehat, lancar, dan selamat tiba di Kerala. Sampai juga ya aku di India…. yeaaaayyyy

Semanis Ucapan Selamat Datang
Semanis Ucapan Selamat Datang
Aku dan Roja Rose, crew Kerala Blog Express 2
Aku dan Roja Rose, crew Kerala Blog Express 2

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

14 comments

  1. Perjalanan panjang namun terbayarkan ya Mbak Don. Itu kenapa sampai tertinggal tas di Toilet? Tak sedang berhalusinasi nasi padang, kan?

    • donna imelda

      Mbak Vi..halusinasiku bukan hanya nasi padang mbak… terdampar di airport dan gak bisa lurusin pinggang semalaman ituhhhhhh, sesuatuuuu hahahaha

  2. Eh busyet itu ruang tunggu di cochin, bangku2 nya macam di teras rumah jaman jadul aja hehehe

    • donna imelda

      hahaha, iya sih… beberapa tempat di sini jadinya terkesan bernuansa vintage meski gak didesain supaya vintage sih, alias memang begitulah adanya.

  3. Selamat ya, Mbak! Turut seneng kemarin. Kayaknya seru jalan – jalannya, aku tunggu kelanjutannya ya 😀

  4. Cantik banget pemandangan paling atas itu. Nice capture

  5. Ah, mulai ikutan menikmati perjalanan Mbak Donna di Kerala deh. India itu kayak paradoks ya Mbak, bermilyar penduduk di India yang luas tapi ternyata semacam serupa tapi tak sama. Ada perbedaan kasta, status harta, bla bla bla. Saya salut banget di Kerala disambut begitu ramah, airport di Kochi yang nyaman dan bersahabat, bahkan traveler perempuan kayak Mbak Donna pun aman-aman saja di sana. Meskipun belum tentu serupa di belahan India yang lain hehehe.

    • donna imelda

      bener banget, Rifqy. Layalnya negara2 ketiga di Asia Tenggara. banyak paradoks yang kita temui. Kerala is safety for tourism. Tahun depan ikutan ya, Qy…

  6. Ya ampuuun .. aku berkunjung beberapa kali ke blog ini dan.bingung mo komentar di mana.. hihi

    aku menikmati setiap kata mbak!

  7. hallo sangat menarik sekali, kami harap kami bisa membuat hal seperti ini untuk website kami, salam sukses selalu.

  8. KLIA2 ini luas banget, suka takut ketinggalan pesawat kalo connecting flight hihihi
    tapi lebih nyaman daripada LCCT
    Salman Bluepacker ID recently posted…Nuansa Batik di BATIQA Hotel CirebonMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge