Thursday, September 21, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Nusa Tenggara Timur » Atambua…. Mutiara Yang Terpendam
4h1

Atambua…. Mutiara Yang Terpendam

Hati saya membuncah melihat Sang Merah Putih berkibar-kibar diatas tiang bendera di depan kantor kecamatan yang sederhana di tengah-tengah padang rumput yang luas. Dengan latar belakang pegunungan yang membentang lebar dibelakangnya, angin sejuk berpadu hangatnya mentari Kalukuk Mesak Atambua membelai wajah dan menderu halus ditelinga, seolah berbisik di padaku dan berkata, “Ini negeri mu…Indonesia”

 

Atambua

atambua-1jpgHari masih gelap saat saya terbangun pagi itu, jam di layar telepon seluler masih menunjukkan pukul 5.30 WITA. Udara di kamar hotel yang kami tempati terasa dingin bukan hanya disebabkan oleh udara yang dihasilkan oleh pendingin udara di kamar, tetapi memang cuaca di Atambua ini memang relatif lebih sejuk layaknya daerah yang berada di dataran tinggi. Hal ini membuat saya rasanya tak ingin beranjak dari tempat tidur dan masih betah berselimut. Jumat, 26 Juli 2013 adalah hari ketiga rangkaian perjalanan kami di Nusa Tenggara Timur, rencananya seharian ini kami akan mengunjungi beberapa kecamatan yang berada di Kota Atambua Kabupaten Belu untuk melihat infrastruktur di wilayah perbatasan Republik Indonesia dengan Timor Leste. Ada 9 kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Belu ini, jumlah yang tidak memungkinkan dikunjungi semua oleh kami sehingga tim dipecah menjadi dua sesuai dengan jumlah kendaraan yang ada. Saya dan tiga orang teman lain rencanya akan mengunjungi Kecamatan Kalukuk Mesak yang letaknya berbatasan langsung dengan Timor Leste.

atambua-2Kantor Kecamatan Kelukuk Mesak ini persis berada di pinggir jalan Umarese, jalan negara yang menghubungkan Indonesia dengan Timor Leste. Kantor sederhana nan resik ini berdiri di atas tanah negara berukuran 11.300 meter persegi. Sebuah mobil jenis Suzuki Katana keluaran tahun 1990-an berplat DH 611 YG parkir di bawah pohon besar disamping kantor kecamatan. Mobil lama berwarna merah ini masih terlihat mulus dan terawat dan digunakan untuk keperluan transportasi sehari-hari Pak Camat dan aparat kecamatan. Setelah berbincang-bincang sebentar di kantor, Pak Vincen selaku Camat Kalukuk Mesak menugaskan Pak Yosep, sekretaris camat untuk menemani kami berkeliling, suatu kegiatan yang kemudian menorehkan paradigma baru buatku, Atambua… sebutir mutiara yang yang terpendam..

*****

Teluk Gurita

Tempat yang kami kunjungi pertama kali adalah Teluk Gurita yang berada tak jauh dari Dusun Susuk. Dalam perjalanan menuju Teluk Gurita kita bisaatambua-3 melihat berbagai pembangunan yang sedang dilakukan. Dari jalan raya lebar dua jalur, drainase, menara telekomunikasi, perumahan yang dirancang khusus anti gempa, sampai rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sempat tertangkap mata saya kondisi tanah dan bebatuan yang unik, meski saya tak tau apa gerangan yang membuat berbeda. Jawaban kemudian saya dapatkan dari Pak Demsy pengemudi mobil kami, beliau mengatakan bahwa tanah di Atambua terkenal dengan kandungan Mangan. Belakangan saya baru tau dari internet bahwa negeri ini adalah negeri yang kaya dengan Mangan sebagai primadona tanah Atambua. Bahkan kandungan mangan terbaik negeri ini ada di Pulau Timor, khususnya di Kabupaten Belu. Itu belum termasuk kandungan logam dan mineral lain yang diperkirakan juga terkandung didalamnya seperti tembaga dan nikel. Wow saya berdecak kagum. Harapan saya mengangkasa, semoga kekayaan alam dan pembangunan yang agresif dilakukan di wilayah Timor bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat kelak.

atambua-4Perjalanan kami lanjutkan menuju Pelabuhan Penumpang Teluk Gurita. Melewati rumah-rumah khas Nusa Tenggara Timur yang dindingnya terbuat dari pelepah daun Tanaman Tali Gewang atau yang kita kenal juga dengan Pohon Sagu. Atap rumah beragam, ada yang masih beratapkan jerami namun tak sedikit pula yang terbuat dari seng. Sebagaimana karakteristik masyarakat NTT pada umumnya, rumah-rumah mereka pun terlihat semarak dengan dinding yang berwarna warni. Sebagian besar menggunakan warna-warna cerah seperti biru, merah, hijau bahkan kuning. Beberapa ruas jalan seolah di pagari oleh pepohonan yang demikian rimbun, hingga kami merasa teduh berjalan dibawahnya Dedaunan yang menguning dan gugur berserakan dipinggir jalan menambah indah suasana oleh paduan hijau kuning pepohonan dan aroma laut.

 

Kekaguman saya tak berhenti disitu, sesampainya kami di Pelabuhan Teluk Gurita, mata saya dimanjakan oleh dermaga modern yang menjadi bingkai pemandangan laut yang indah berwarna biru tua berpadu dengan hijau tosca dikelilingi daratan yang tertutup rimbun pepohonan. Satu dua perahu nelayan terlihat mengapung-apung diatas air seolah menjadi pemanis lukisan alam Sang Maha Kuasa. Sayang sekali, meski pelabuhan kokoh ini dibangun dengan fasilitas layaknya pelabuhan penumpang, namun toh pelabuhan ini pada kenyataannya tidak digunakan sebagaimana peruntukannya sebagai pelabuhan penumpang yang menghubungkan Atambua dengan daerah lainnya sehingga bangunan menjadi rusak karena faktor alam dan tak berpenghuni.

atambua-7atambua-6****

Mota Ain

4.7Perjalanan kami lanjutkan ke salah satu pintu perbatasan yang menghubungkan Indonesia dengan Timor Leste di Mota Ain yang masih berada di wilayah Kecamatan Kalukuk Mesak, Kabupaten Belu, Atambua. Mota Ain yang terletak kurang lebih 30 km jauhnya dari Atambua merupakan salah satu pintu gerbang utama perlintasan manusia dan barang menuju Timor Leste selain 3 pintu perbatasan lainnya yaitu Metamasin yang masih berada di wilayah Kabupaten Belu serta Wini dan Napan yang berada di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Di Mota Ain ini saya menyempatkan diri melihat-lihat infrastruktur yang ada seperti terminal dan pasar tradisional. Fasilitas yang dibangun di wilayah perbatasan ini meski sederhana sebenarnya cukup mengakomodir kebutuhan penduduk setempat meski belum maksimal digunakan dan kurang perawatan. Tak banyak pedagang dan pembeli di pasar tradisional Mota Ain begitu pun di terminal. Terdapat juga bangunan yang digunakan sebagai kantor imigrasi dan beacukai untuk keperluan lalu lintas manusia dan barang yang akan keluar atau masuk Indonesia dari Timor Leste dan sebuah bank milik pemerintah.

4.8Untuk melewati perbatasan diperlukan dokumen berupa paspor dan visa. Visa yang hanya berlaku selama 30 hari, bisa diperoleh dengan membayar biaya sebesar $10, biaya yang tak kecil. Hal ini membuat saya berpikir bahwa dengan tingkat perekonomian yang masih rendah, tentu biaya ini memberatkan mereka yang sesungguhnya sedarah dan bersaudara ini untuk saling bertemu. Bayangkan saja,  untuk bertemu, berkumpul, menikmati kebersamaan dan melepas rindu, persaudaraan mereka yang terpisahkan garis perbatasan ini harus ditebus dengan berulangkali membayar visa. Saya menyempatkan diri duduk-duduk di pintu perbatasan sambil berbincang singkat dengan tentara yang menjaga pintu perbatasan. Lalu lintas di pintu perbatasan yang ditutup sore hari sekitar pukul empat ini cukup ramai baik oleh mereka yang melintas menggunakan mobil atau berjalan kaki. Dari pintu gerbang berlambang Burung garuda yang salah satu sisinya bertuliskan Fare Well – Selamat Jalan dan salah satu sisi lainnya bertuliskan Welcome to Indonesia – Selamat datang ini saya memperhatikan mereka yang hilir mudik. Langkah terjauh tanpa dokumen hanya bisa dilakukan beberapa meter dari gerbang, diatas jembatan dan tak boleh melebihi batas garis kuning, karena wilayah setelah garis kuning tersebut sudah termasuk wilayah Timor Leste.

atambua-8Di pangkal jembatan kita bisa menemukan prastasti berupa pilar dari beton di cat putih setinggi orang dewasa dengan dua buah plakat di kedua sisinya. Salah satu plakat berisi gambar bendera Indonesia dan Timor Leste dan tulisan “GARIS BATAS NEGARA BERADA DIANTARA PILAR INI DENGAN PILAR DI SEBERANG SUNGAI INI” dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Portugis dan Bahasa Inggris dibawahnya. Salah satu plakat disisi lain berisi penandaan mengenai batas antara kedua negara lengkap dengan koordinat posisi pilar itu berada dan ditandatangani oleh kedua mentri luar negeri pada tanggal 30 Agustus 2005. Ada perasaan miris saat saya membaca tulisan di pilar tersebut. Pikiran saya melayang ke suatu masa dimana sebagian wilayah Indonesia terpisah sekaligus memisahkan mereka yang sesungguhnya bersaudara hanya melalui sebuah jajak pendapat. Miris…

Hari menjelang sore, langit biru di atas Mota Ain makin meredup. Saya dan teman-teman pun menyelesaikan kunjungan kami hari itu dan kembali ke Kota Atambua untuk bersiap kembali ke Kupang esok hari. Selamat tinggal mutiara yang terpendam……

Mota Ain, 26 Juli 2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

4 comments

  1. Foto jalanan yang dipayungi pohon itu loh… hmmm

    • donna adofani

      ya ya ya….foto jalanan yang dipayungi pohon itu akses menuju Pantai Lalendo, Kupang dan Teluk Gurita di Atambua… daunnya hijau kekuningan…serasa summer dimana gitu wkwkwkwk

  2. Ayo tengok Atambua lagi, Mbak!
    PLBN (Pos Lintas Batas Negara) Wini dan Motaain kini sudah dipermak habis2an, megah dan keren luar biasa! Punya Timor Leste kalah cakep mah! Bangga jd Indonesia 🙂

    • Wah mba terima kasih udah bahas full atambua. Kebetulan minggu depan saya mutasi ke atambua, ikut dinas suami. Melihat foto2 mbak, mudah2an saya bisa kerasan di atambua.. Atambua indah dan mudah2an saya bisa segera membaur di sana…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge