Saturday, November 18, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jawa » Jawa Barat » Bandung Kali ini Tentang Angklung, Batik dan Bukit Moko
IMG20170815105637

Bandung Kali ini Tentang Angklung, Batik dan Bukit Moko

Ibarat menu makanan, perjalanan singkat kami selama dua hari di Bandung kemarin adalah satu paket Nasi Goreng Spesial. Sebuah paket spesial wisata pilihan di Bandung yang menyajikan beragam rasa dalam satu perjalanan bersama. Selama dua hari kami memilih berwisata dengan paduan dan cara yang mungkin sedikit berbeda dengan orang lain. Perjalanan kami nikmati dengan lambat, dengan sederhana, sesederhana obrolan di warung kopi. Dari sajian musikal hingga belajar musik tradisional, dari belajar Batik hingga mendaki bukit. Semua dalam satu paket komplit.

Day #1

Saya memang tidak sendirian dalam perjalanan kali ini. Bersama Mas Teguh Sudarisman dan Bartian Bart kami sepakat untuk menikmati Bandung bertiga pada tanggal 14-15 Agustus 2017 kemarin. Karena kami berangkat dengan waktu dan tempat yang berbeda, maka kami memilih  untuk bertemu di Bandung saja, Bart berangkat dari Bogor, sedangkan Mas Teguh berangkat dari Jakarta satu hari sebelumnya. Sesuai rencana, kami bertiga akan bertemu di Prime Park Hotel Bandung yang akan menjadi tempat kami menginap malam harinya. Dari situ akhirnya kami tak lagi hanya bertiga namun berlima dengan Mbak Ari dan Fine yang menemani kami keliling Bandung selama dua hari.

Bandung di mata saya memang tak pernah terasa jauh. Provinsi tetangga yang bersebelahan dengan Ibukota  Jakarta ini sangat mudah dijangkau dengan ragam moda transportasi pilihan, baik kendaraan pribadi maupun transportasi umum seperti bis kota, mobil travel atau kereta api. Waktu tempuh normal pun tak terlalu lama, hanya sekitar 2-3 jam saja. Kemudahan ini juga yang membuat saya merasa dekat dengan kota yang dijuluki sebagai Kota Kembang tersebut. Jadi ketika saya merasa jenuh dengan rutinitas di Jakarta namun tak memiliki waktu banyak untuk berlibur ke luar kota, maka Bandung adalah pilihannya.

Sebagai fans berat kereta api, setiap kali ke Bandung saya selalu memilih menggunakan kereta api yang relatif lebih memberikan kepastian waktu tempuh dibanding dengan menggunakan kendaraan bermotor yang bisa saja terkendala oleh lalu lintas yang kondisinya padat dengan kendaraan di waktu-waktu tertentu. Jalur Jakarta-Bandung memang terasa lebih ramai dan padat kini terutama di saat akhir pekan atau masa liburan. Maka dibanding menggunakan mobil, lebih baik saya menggunakan Kereta Api Argo Parahyangan dengan  waktu tempuh dari Stasiun Gambir Jakarta ke Stasiun Kebon Kawung Bandung bisa dipastikan sekitar 3 jam saja.

Selain kepastian waktu, pilihan jadwal keberangkatan kereta Argo Parahyangan ini pun cukup banyak, bisa mencapai hingga 8-9 kali keberangkatan per harinya baik pemberangkatan dari Jakarta maupun dari Bandung. Dari Stasiun Gambir kereta berangkat paling awal pukul lima pagi hingga keberangkatan terakhir pada pukul delapan malam, sedangkan dari Bandung lebih awal sekitar 30-60 menit. Harga tiket kereta beragam tergantung jenis kelas yang dipilih. Harga untuk penumpang kelas ekonomi adalah 80.000 rupiah sedangkan kelas eksekutif berada di kisaran harga tiket 100.000-120.000 rupiah dengan waktu tempuh yang sama.

Selain kemudahan transportasi, Bandung juga memiliki berbagai keistimewaan. Sejak dulu Bandung adalah salah satu kota tujuan wisata di Indonesia, baik untuk wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara. Udara yang sejuk, alamnya yang indah dan penduduknya yang ramah adalah beberapa hal yang menjadikan Bandung istimewa. Kota ini memang gemar bersolek dan cantik, apalagi beberapa tahun terakhir ini ketika jalur penerbangan berbagai dari berbagai kota dan negara makin banyak dan traveling telah menjadi gaya hidup penduduk di banyak kota di Indonesia, Bandung pun seolah melihat ini sebagai peluang dan menjelma menjadi kota yang sedemikian menarik buat setiap orang yang datang.

Wisata di Kota Bandung pun kini tak lagi melulu Lembang dan Tangkuban Perahu, tak juga lagi urusan Cihampelas dan Cibaduyut yang kini hanya tinggal legenda, namun tentang wisata alamnya yang indah yang berpadu dengan gaya hidup para pejalan dan kebutuhan mereka untuk eksis di media sosial. Tak heran kini tempat wisata yang disebut dengan tempat yang “kekinian” tumbuh bak jamur di musim hujan. Tak berbilang kafe dan tempat wisata kuliner yang tumbuh, semuanya akan ramai dikunjungi bila tempatnya instagramable, hal yang kini terkadang jauh lebih penting daripada rasa makanannya. Begitu juga tempat-tempat wisata lainnya, sebut saja Tebing Kraton, Bukit Moko, D’ Ranch, Farm House, Maribaya Lodge, Taman Begonia,  Floating Market dan lain-lain. Kesemuanya menjadi obyek wisata yang menarik bagi wisatawan.

Dalam kesempatan menikmati jeda sejenak selama dua hari di Bandung, kami memilih beberapa tempat yang tak hanya menarik dari sisi pemandangannya saja yang indah namun juga kental dengan unsur budaya setempat dan memberi pengalaman istimewa, lebih dari sekedar melihat-lihat dan berfoto. Tempat-tempat yang kami kunjungi selama dua hari adalah Saung Angklung Udjo, Dakken Coffee and Steak, Bukit Moko,  Batik Komar dan tak lupa pusat oleh-oleh Kartikasari. Sedangkan untuk tempat menginap, kami memilih Prime Park Hotel Bandung yang berada di kawasan Suci Bandung.

Saat saya tiba di Prime Park Hotel sekitar pukul setengah sebelas siang, Mas Teguh dan Bart sudah terlebih dahulu tiba, Mbak Ari dan Fine pun sudah bergabung bersama Mas Teguh di lobby. Karena pertunjukan di Saung Angklung Udjo baru berlangsung sore hari maka waktu yang tersedia selama beberapa jam kami gunakan makan siang dan berbincang santai di lobby Prime Park Hotel. Bandung. Sambil menunggu kami juga berkesempatan melihat-lihat ruangan dan fasilitas hotel dengan didampingi oleh pihak manajemen hotel berbintang empat ini yaitu Mbak Ari Eka Putri dan Fine.

Saung Angklung Udjo

Tujuan pertama kami hari itu adalah Saung Angklung Udjo yang terletak di Jalan Padasuka 118 Bandung. Waktu tempuh ke tempat tersebut hanya sekitar 10-15 menit saja dari Jalan P.H.H Mustafa tempat Prime Park Hotel berada, jadi kami cukup santai dan tak perlu tergesa-gesa menuju ke sana. Yang menarik dari tempat ini adalah pertunjukan yang mereka sebut dengan Pertunjukkan Bambu. Pertunjukkan ini secara regular digelar sore hari setiap pukul 15.30 wib setiap harinya. Sebaiknya kedatangan kita disesuaikan dengan menjelang waktu pertunjukkan. Karena tak lengkap rasanya kedatangan pengunjung apabila datang ke sini di luar waktu pertunjukkan karena hanya bisa melihat-lihat alat musik angklung atau membeli souvenir-souvenir khas Saung Angklung Udjo.

Pertunjukkan berdurasi dua jam ini sangat menarik meski saya sempat underestimate tentang acara ini karena merasa bosan di awal pertunjukkan. Mungkin saya terlalu sempat mengambil kesimpulan. Maklumlah, saya tak terlalu suka dengan Wayang Golek dan sama sekali tak mengerti Bahasa yang digunakan. Dan memang benar, saya terlalu cepat mengambil kesimpulan, ternyata saya sangat menikmati rentetan acara berikutnya setelah Wayang Golek didemonstrasikan.  Ada banyak acara menarik sesudahnya. Secara keseluruhan ada 9 mata acara selama dua jam tersebut  yaitu demonstrasi Wayang Golek, Helaran (upacara tradisional Sunda), Tari Topeng, Angklung Mini, Arumba (musik angklung modern yang dimainkan para remaja), Angklung Massal Nusantara, Belajar Bermain Angklung Bersama, Angklung Orkestra dan diakhiri dengan menari bersama. Seru-seru khan ternyata.

Sebagian besar penontonnya adalah wisatawan asing, itulah mengapa acara ini dibawakan dengan menggunakan dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris. Sesekali pembawa acara menyelipkan juga pengantar dalam Bahasa Jepang dan Jerman. Satu hal yang menarik dari pertunjukkan ini adalah ramainya anak-anak dengan rentang usia yang cukup lebar, dari anak-anak hingga remaja yang turut meramaikan pertunjukkan ini, baik sebagai penari atau sebagai pemain musik angklung. Suasana gembira pun tercipta oleh keceriaan anak-anak ini, penonton jadi ikut berdendang seiring dengan dimainkannya musik angklung bahkan mereka ikut menari bersama tanpa canggung di akhir acara. Wah… budaya Indonesia memang tak kalah bersanding dengan budaya bangsa lain di dunia.

Hal lain yang menarik adalah saat belajar memainkan alat musik angklung. Tak tanggung-tanggung, salah satu putra Mang Udjo sendiri yang memimpin. Beliau dengan sabar dan rendah hati membimbing pengunjung yang jumlahnya mungkin ratusan dari tingkat yang paling dasar mengenal alat musik angklung hingga bagaimana membunyikan dan memainkannya secara bersama sehingga dapat menghasilkan nada-nada yang harmonis. Meski angklung bukanlah alat music yang asing buat saya, namun memainkannya bersama-sama dalam satu lagu tentu saja membawa sensasi yang sangat berbeda. Ya… bikin bahagia.

Dakken Coffee and Steak

Seusai menikmati pertunjukkan di Saung Angklung Udjo, kami bergerak menuju kawasan Riau yang terkenal sebagai tempat hangout di Bandung. Di sini bertaburan tempat makan dan tempat belanja yang kekinian. Saat kami tiba, sore baru saja hendak beranjak namun malam belum juga tiba. Perut yang masih terasa penuh membuat kami memutuskan untuk ngopi dan ngemil sore saja. Pilihan jatuh di Dakken Coffee and Steak yang bangunannya unik. Dari depan bangunan ini sudah terlihat menarik karena merupakan bangunan lama khas arsitektur Belanda. Namun meskipun bangunan tua, tempat ini terlihat sangat asri dan terawat. Karena salah satu niat kami ke sini adalah untuk menikmati suasana, maka sepertinya pilihan  kami tidak salah.

Benar saja, bangunan tua yang masih sangat rapi terawat ini memang menghadirkan suasana santai yang membuat pengunjungnya akan betah berlama-lama. pembagian ruang dalam dilakukan dengan sangat beragam, namun memiliki kesatuan tema vintage. Hal ini terlihat dari pemilihan furniture yang hampir semua menggunakan material dari kayu dengan model meja kursi jaman dahulu. Beberapa bagian dinding rumah bahkan masih dibiarkan sebagaimana aslinya dan memperlihatkan tekstur unik seperti batu-bata ekspos yang  hanya di cat putih atau dinding yang hanya dilapis aci. Terasa sangat alami sebagaimana rumah-rumah tempo dulu.

Lukisan, mural atau inspiring quote disematkan di dinding-dinding dalam untuk mempercantik ruang, sementara di bagian luar pengunjung bisa menikmati udara bebas sambal menikmati hidangan di dalam pondok-pondok kecil yang terbuka. Ruangan yang lebar dan pengaturan kursi dan meja yang tidak terlalu rapat membuat tempat ini terasa lega, udara Bandung yang sejuk apalagi sore hari seperti kala itu tak urung membuat kami betah berlama-lama di sana hingga berjam-jam lamanya.

Prime Park Hotel

Seusai dari Dakken Coffe and Steak, kami memutuskan untuk kembali ke Prime Park Hotel dan makan malam di sana. Menunya sangat spesial racikan chef handal Prime Park Hotel. Tentu saja tak hanya makan malam, kami masih sempat berbincang hingga malam larut. Maklumlah, meski sering terkoneksi di media sosial, kesempatan untuk jalan bersama memang tak selalu ada. Nah, saat ada kesempatan untuk bisa berkumpul seperti ini maka ada saja hal menarik yang kami perbincangkan sejak siang tadi, dari urusan travel writing, photografi, vlogging, tempat-tempat asik hingga obrolan khilaf tentang Transformasi Laplace hahaha (abaikan hal terakhir).

Sadar bahwa kami masih harus memulihkan tenaga untuk perjalanan esok hari ke beberapa tempat lagi, maka kami pun beranjak menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Saya menyempatkan diri untuk membasuh diri dengan air hangat agar tidur nyaman. Sejak dini hari badan sudah dibawa ke tempat dingin, ke tempat panas, kedinginan, kepanasan seharian. Air hangat yang mengucur deras dari shower membantu sekali memulihkan badan, kucurannya terasa nikmat saat menghujam di kulit, bikin betah berada di bawah shower.

Prosesi setelah mandi menjelang tidur adalah tarik selimut, buka gawai dan menjadikan aktivitas di media sosial sebagai pengantar tidur. Apalagi di kamar yang saya tempati kecepatan internet nirkabel yang disediakan hotel mumpuni untuk saya melakukan beberapa hal. Saya harus memastikan beberapa pekerjaan beres, email-email yang harus segera direspon sudah dibalas dan memastikan kondisi anak-anak di Jakarta baik-baik saja dan urusan sekolah mereka besok tak ada masalah. Nah setelah itu baru deh mantengin televisi, memainkan remote di antara pilihan channel yang tersedia, berhenti di salah satu channel hingga tak terasa jatuh tertidur. Oh ya, tulisanku tentang Prime Park Hotel Bandung bisa dilihat di sini ya.

Day #2

Puncak Bintang di Bukit Moko

Sebenarnya sih semalam kita sempat bikin rencana mau hunting sunrise di hari kedua di Bandung. Tapi belum lagi selesai ngobrol-ngobrol, rencana itu sudah dibatalkan oleh kami juga hahaha. Memang malam itu kelihatan sih tak ada satupun dari kami yang berwajah sunrise hunter hahaha. Apalagi saya, selalu mampu mengikhlaskan banyak sunrise cantik yang terlewat dalam perjalanan-perjalanan. Lalu karena malas keluar hotel subuh-subuh, saya sempat gegayaan mau bangun pagi aja dan berenang di rooftop yang berada di lantai 12 Prime Park Hotel. Namanya juga gegayaan, eh… kejadian deh, bangun kesiangan. Maka batal pula rencana olahraga pagi.

Padahal kolam renangnya asik banget, letaknya di ketinggian lantai 12 membuat pemandangan saat berenang sangat menarik. Sambil berenang kita bisa memandang pegunungan yang masih berkabut di salah satu sisi kolam renang dan pemandangan kota di sisi yang lain. Angin pun semilir menghembuskan kesejukan Bandung ke wajah saat saya sempatkan duduk-duduk di tepi kolam renang. Ah, semakin menyesal kenapa bangun kesiangan dan sudah harus beranjak ke tempat lain seperti yang kami rencanakan yaitu Puncak Bintang Bukit Moko.

Meski tempat ini cukup cantik di siang hari, namun dari informasi dan pantauan selama berkunjung di sana, waktu terbaik untuk ke tempat ini menurut saya justru sore hari hingga malam menjelang. Yaitu saat matahari mulai bergulir ke barat, semburat jingga di kala senja sungguh cantik dan makin malam lampu-lampu kota Bandung makin gemerlap bagai gerombolan kunang-kunang yang berkumpul di lembah. Melihat foto-foto tempat ini yang aduhai, saya dan Bart malah berpikir bahwa pasti seru rasanya kalau kita bukan sekedar singgah namun sekalian camping ceria di sini. Haseeek!

Oh ya, untuk menuju tempat ini tidaklah sulit. Dari Jalan Padasuka tempat Saung Angklung Udjo yang kami datangi kemarin, kita tinggal mengikuti jalan utama tersebut. Kalau bingung mah tinggal buka Goggle Map saja atau Gunakan Penduduk Sekitar (GPS) juga bisa hehehe. Sayangnya jalan menuju tempat ini belum dilintasi kendaraan umum, jadi harus menggunakan mobil atau motor pribadi atau menyewa kendaraan. Meski jalannya kecil, berkelok dan menanjak, namun sama sekali tak menyulitkan untuk ditempuh. Bahkan Bart malah bilang, “ini keren lho tanjakannya, bisa dipakai untuk latihan trekking nih, mbak. Kita jalan kaki dari bawah sampai ke puncak.” Duh Bart… gimana kalau kamu aja, aku sih kibarkan bendera putih deh.

Tapi jangan khawatir, datang siang pun tak kalah menarik. Kalau sudah sampai di tempat ini dijamin akan banyak lokasi yang bisa dijelajahi, dari Puncak Bintang yang hanya seratus meteran jaraknya hingga patahan Lembang yang jaraknya satu kilometer lebih. Semua tempat hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melalui jalan setapak yang rindang. Ada juga air terjun dan laguna kecil bila anda tertarik untuk menjelajah lebih jauh. Nah karena kami memang niatnya hanya lihat-lihat saja, maka kami cukup puas memandang kota Bandung dari titik tertinggi di Bandung serta berjalan-jalan menelusuri hutan Pinus sambil mengambil beberapa gambar.

Hanya begitupun kami menghabiskan waktu lumayan lama di sana. Tempat ini memang bikin betah, apalagi sambil menatap kabut dan menikmati angin yang derunya di telinga seolah menggoda ingatan akan seseorang. *aiiih, itu mah gue! Bisa sampai puas tuh mengais rindu atau menghadirkan kenangan, atau mungkin ada yang ingin membuat kenangan baru dengan seseorang yang baru, cocok deh kayaknya tempat ini. *makin halu.

Nah, sebelum turun, sempatkan deh mampir ke warung-warung yang berjajar di sebelah kiri jalan. Luangkan waktu untuk ngopi atau ngeteh cantik sambil menikmati cemilan dan ngobrol (lagi). Hm…, ini sepertinya jadi gaya traveling favorit saya yang deh, jalan-jalan, berlama-lama di suatu tempat sambil ngemil dan ngobrol-ngobrol. Bahaya ini, bisa gantung raket jadi travel writer karena perjalanan saya kini isinya hanya ngobrolin segala macam, dari Aminah sampai Zulehah, dari Timur sampai ke Barat. Kapan ngumpulin bahan tulisannya? hahaha.

Rumah Batik Komar

Salah satu yang seru dalam sebuah perjalanan adalah ketika ekspektasi kita terlampaui oleh kenyataan. Demikian yang terjadi saat kami berkunjung ke Rumah Batik Komar. Ekspektasi saya hanyalah melihat-lihat koleksi Batik dan sedikit meliput bagaimana proses pembuatannya. Namun ternyata itu terlampui dengan kenyataan yang saya dapat. Di Rumah Batik Komar saya mendapati “perpustakaan” yang isinya bukan buku melainkan alat cap Batik yang jumlahnya ribuan. Tak heran bila ini disebut “perpustakaan” karena setiap cap punya catatan panjang sejarah dan memiliki cerita dan makna pada setiap motif yang dihasilkannya.

Ekspektasi lainnya adalah ternyata Pak Komar datang ke galeri saat kami masih berada di tempat. Kesibukan beliau yang luar biasa membuat saya merasa beruntung sekali bisa bertemu beliau. Tak hanya itu, oleh beliau kami diajak untuk mencoba membuat Batik sendiri. Bahannya sudah disediakan, jadi kami tinggal mengikuti arahan beliau saat membubuhkan cap di atas kain atau menorehkan malam dengan menggunakan canting. Memang tidak semua bisa kami lakukan sendiri, dengan pertimbangan keselamatan proses pengerjaan, kami masih harus dibantu oleh pekerja dalam proses pencelupan warna dan proses peluruhan malam. Namun itu pun sudah membuat kami sangat bersemangat.

Oh ya, Rumah Batik Komar bukanlah sekedar galeri atau tempat produksi, tapi tempat ini juga menjadi tempat pelatihan untuk belajar membuat Batik. Tak tanggung-tanggung, pelatihannya terdiri dari berbagai paket, dari yang paling sederhana yaitu tour proses membatik, membatik saputangan seperti kami, hingga paket professional yaitu belajar membuat batik hingga bagaimana memproduksi dan manajemen industri Batik. Paket yang terakhir ini diharapkan akan menghasilkan lulusan yang siap untuk membuat usaha produksi Batik secara professional. Keren khan!

So…

Bandung memang tak pernah selesai untuk dikunjungi, berapa lama jua kita berada. Bagi saya perjalanan memang bukan untuk dituntaskan karena ia selalu memiliki alasan untuk kembali bertandang. Begitu juga perjalanan kali ini, mungkin ini tak semata soal destinasi, tapi soal melihat dari lain sisi. Saya memaknainya lebih dari sekedar datang dan jalan-jalan, namun kesempatan untuk bertemu dengan orang baru, bertemu Mbak Ari dan Fine. Dan kesempatan untuk belajar banyak dari teman seperjalanan, belajar melihat sebuah perjalanan dari kacamata Mas Teguh dan Bart. Kapan-kapan kita jalan bareng lagi yaaa.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya ya

Ayo kita pelesiran lagi!

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

12 comments

  1. Ari Eka Putri

    Sukak sama review-nya Mba Donna, kumplit bak Nasi Goreng Spesial ya kan…..Membaca tulisan ini seperti flashback ke perjalanan 2 hari lalu…so real.

    Senang bisa trip bareng, semoga bisa terulang lagi dalam waktu dekat ya….Sukses buat mba Donna! 🙂

  2. Baru tahu kalau ada di Bandung ada tempat Batik Bapak Komar.
    Batik yang dibuat di tempat Bapak Komar. Batik asli Bandung atau semua batik dari seluruh nusantara?
    Cap yang dikumpulkan bapak Komar berapa lama ya dikumpulkannya?

  3. Belum kesampaian mau ke bukit moko, huhu

  4. aku kaget, kirain kamu beneran duduk di masinis lalu keluarin kepala mbak Don :)) eh tapi itu spot foto di stasiun yang mana sih? Gambir atau Bandung Kota?

    Hotel Prime ini aku suka sama viewnya, apalagi kamar mandinya ada bathtub.

    Kalau saung angklung udjo aku pernah lihat performancenya pas mereka tampil di salah satu booth di GIIAS kemarin. Bagus.

  5. Zuper lengkap mbak, aku rasanya seperti memutar ulang acara jalan-jalan kemarin itu.
    Soal jalan kaki ke Bukit Moko itu beneran lho. Sampai sekarang aku masih kepikiran, kalau ke Bandung lagi pengen nyobain trekking dari bawah sampai atas 😀

    Ayo mbak kita jalan bareng lagi! 😉

  6. Kayanya seru banget ya kak.. Ih pengen juga nyobain ke bukit moko.. Terakhir ke Bandung cuma sempat main di kotanya aja >. <

  7. Mbak Donnaaa..envy banget lihat mbak Donna jalan-jalan, ngajar sambil jalan-jalan aduuh kapan yaa bisa seperti Mbak Donna 😀

  8. Speechless dg gaya nulisnya.

    Nyontek ah
    *digetokmbakDonna ^^

    Ok sip siap..
    *redundanmbokyoben ^^

    Gonna make on of my many great trip at latest three week like this..
    The concept I mean..
    Coz every trip has their own soul..
    *minjemkata2nyaabangtukangbecak ^^

    Again, thanks a bunch for your stop by at my blog mbak Don ^^

  9. Ternyata dr kmrn seliweran di IGnya Bart itu sama mbak Donna toh….

    Mbak, kalau motif batik Bandung yg khas apa ya?

  10. Bandung memang punya beragam kisah, banyak hal menarik yg bisa di ulas. Tempat menginapnya instagramable mba,.asyik keliatannya utk foto-foto

  11. akkkk BUKIT MOKO !!! Satu-satunya tempat di Bandung yang selaluuuu aja skip kalau pas ke Bandung. Pernah bela2in mau ke sana, ehh ujan :v Adaa aja pasti halangannya. Kayanya kapan-kapan harus khusus deh nih ke Bandung untuk ke Moko aja hehehe Tapi liat foto-foto dan ceritanya Bunda juga cukup mengobati rindu sama Bandung 😀

  12. Wah seru mbak plesirannya, mau ikutan jadinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge