Tuesday, August 22, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Sumatra » Lampung » Basecamp Sonokeling, Serunya Perjalanan menyusuri Lereng Gunung Tanggamus
PA310160_Snapseed

Basecamp Sonokeling, Serunya Perjalanan menyusuri Lereng Gunung Tanggamus

DONNAIMELDA.com – Hari sudah berangsur siang,  tapi cuaca masih terasa redup di Desa Sidokaton, Jumat, 31 Oktober 2014. Langit di atas desa yang terletak di lereng Gunung Tanggamus ini terlihat kelabu. Sambil berdoa penuh harap agar tak turun hujan saat kami trekking nanti, saya bersiap menyiapkan kantong untuk melindungi kamera dan alat komunikasi untuk berjaga-jaga bila hujan ternyata benar-benar turun.

Hari ini adalah hari pertama Tour D’ Semaka yang merupakan bagian dari rangkaian Festival Teluk Semaka 7 di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Panitia yang dipimpin langsung oleh Mas Elvan, telah merancang perjalanan bagi kami peserta tur hari ini ke dua tempat, yaitu Lereng Gunung Tanggamus dan Air Terjun Way Lalaan. Telah lewat pukul setengah sepuluh pagi saat kami memulai perjalanan dari homestay menuju tujuan pertama. Perjalanan akan ditempuh dengan waktu kurang dari satu jam, menggunakan bis yang disediakan Dinas Perhubungan berangkatlah kami ke titik mula trekking hari ini di Desa Sidokaton.

Angin sejuk khas dataran tinggi menyusup ke rongga hidung hingga ke paru-paru saat saya turun dari bis. Saya menyapu pandang ke semua penjuru di tempat ini. Desa yang relatif sepi dan tenang, nyaris tak ada kendaraan yang melintas kecuali beberapa petani yang lewat. Mungkin sebagian besar masih berada di ladang. Atmosfer desa yang kental menarik perhatian sebagian besar peserta yang sebagian besar memang fotografer dan penikmat foto. Kami pun bertebaran mencari obyek lensa kameranya masing-masing.

Begitu pun dengan saya. Sambil menunggu panitia menyiapkan segala sesuatunya, saya menyempatkan diri untuk menyapa beberapa petani yang ada di sekitar. Petani tomat yang sedang menyiangi kebunnya menarik perhatian saya untuk berbincang. Juga pemilik rumah tak jauh dari tempat bis kami parkir yang berprofesi sebagai petani dan pengepul buah pisang. Tumpukan Buah Pisang yang telah ranum namun masih berwarna hijau, teronggok bertandan-tandan di samping rumah, seolah mengajak saya untuk singgah.

Pisang nan ranum
Pisang nan ranum

Banyak hal menarik hasil berbincang dengan mereka, mengetahui bagaimana mereka dengan sabar merawat tanaman sampai panen tiba, meski terkadang hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Entah karena harga jual yang begitu rendah atau disebabkan oleh panen yang gagal karena faktor alam. Mereka tetap hidup dengan bersahaja. Menjadikan Lampung salah satu sentra komoditi Buah Pisang Nusantara. Ah, saya lalu teringat pisang-pisang berlabel yang cantik yang saya beli di supermarket di Jakarta yang berasal dari sini.  Harga yang lumayan mahal bila dibandingkan dengan harga asalnya yang hanya 1.500 rupiah per kilogram, namun ternyata hanya bisa dinikmati keuntungannya oleh petani di tingkat pengepul seharga dua ratus rupiah per kilogram.

Desa Sidokaton, Titik Mula Trekking Menuju Basecamp Sonokeling
Desa Sidokaton, Titik Mula Trekking Menuju Basecamp Sonokeling

*****

Wajah klasik petani negeri
Saya dan peserta lainnya tak ada yang tahu kemana panitia akan membawa kami sebenarnya. Yang kami tahu hanyalah kami akan trekking menyusuri kaki Gunung Tanggamus sampai ke Basecamp Sonokeling untuk menyaksikan pemandangan Teluk Semaka dari ketinggian. Tak ada yang tahu pasti juga berapa jarak tempuh dari Desa Sidokaton sampai ke Basecamp Sonokeling. Saya hanya mengetahui perkiraan waktu tempuh saja, yang dikatakan bisa ditempuh dengan waktu satu jam.

Dengan stamina dan semangat yang masih menggebu-gebu, riang hati saya memulai trekking. Masih bisa sambil ngobrol-ngobrol dan sesekali bercanda menikmati pemandangan sekitar. Di kiri dan kanan jalur trekking, kami disuguhi panorama khas pertanian dataran tinggi. Pohon Kopi dan Kakao, Kebun sayur seperti Kol atau Kubis serta tanaman buah seperti Cabai dan Tomat mendominasi lahan pertanian. Diselingi bunga-bunga yang tumbuh liar di beberapa titik saya berusaha menikmati setiap detailnya.

Saya memperkirakan bahwa musim kemarau panjang membuat tanaman-tanaman ini tak secantik yang pernah saya lihat di dataran tinggi lain seperti di Ciwidey, Jawa Barat atau Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah. Bahkan saya melihat daun-daun Tanaman Bawang terkulai layu dan Buah Tomat membusuk tergantung di tangkai-tangkai tanaman.

Perkiraan saya tak sepenuhnya benar. Iklim dan cuaca serta ketinggian jelas menjadi faktor pada vegetasi tanaman disini, namun melalui Mbak Evi -salah satu teman seperjalanan saya- yang sempat berbincang banyak dengan petani setempat, diperoleh informasi bahwa Tanaman Tomat itu sengaja tidak dipanen. Buah-buah yang menggantung di tangkai tanaman dibiarkan membusuk. Hal ini disebabkan karena biaya produksi seperti ongkos angkut dan harga pupuk yang tinggi tidak diiringi dengan harga jual yang sepadan sehingga tidak menguntungkan petani. Miris saya mendengarnya.

Salah satu pemandangan menarik dalam perjalanan
Salah satu pemandangan menarik dalam perjalanan

*****

Oh, Sonokeling
Sambil menikmati suasana, langkah demi langkah terus melaju meninggalkan menit demi menit di belakang. Waktu terus merambat seraya saya menyisir sabuk Gunung Tanggamus menuju Basecamp Sonokeling. Perjalanan kemudian mulai lebih banyak mendaki dibanding mendatar. Kemiringan tanjakan bahkan ada yang mencapai kurang lebih empat puluh derajat dan cukup panjang. Stamina sudah berkurang, namun masih semangat untuk melanjutkan perjalanan. Tentu saja tetap harus tahu diri apabila nantinya tak mampu meneruskan perjalanan. Hanya kita yang tahu batas kemampuan kita.

Tiga puluh menit berlalu. Lelah mendera. Satu persatu peserta lain mendahului saya. Tiga diantara lima peserta wanita sudah jauh di depan. Sesekali saya menengok ke belakang sambil menunggu Mbak Evi. Namun saya tetap melangkah sesuai irama kaki. “Berjalanlah dengan lambat dan konstan, Na. Gak usah lihat ke atas saat tanjakan. Terus melangkah! Itu saja” begitu pesan dari seorang teman seperjalanan saat menuju desa Cibeo waktu itu. Pesan yang kemudian selalu saya ingat setiap trekking.

Irama yang lambat ini membuat saya harus berdamai dengan keinginan untuk mengabadikan banyak hal melalui kamera. Karena bila saya terlalu banyak mengambil gambar, saya akan lebih lambat dan terpisah dari iring-iringan. Padahal, saya sudah cukup tertinggal, kewalahan mengatur nafas dan langkah untuk perjalanan yang kemudian rasanya kok tidak jua sampai itu.

Kebiasaan buruk mulai menghinggapi, mulai mempertanyakan, “memangnya ada apa sih di atas sana? Sepadankah dengan nafas yang tersengal-sengal dan langkah yang terseok-seok ini?” Sebuah pertanyaan yang  hadir  karena tak sempat mencari informasi apapun tentang tempat ini sebelum berangkat. Tapi ya sudahlah, anggap saja sebuah kejutan sesampainya di sana kelak.

Pemandangan Teluk Semaka berbalut kabut dari Ketinggian 700 mdpl.
Pemandangan Teluk Semaka berbalut kabut dari Ketinggian 700 mdpl.

Kurang beberapa menit saja dari pukul dua belas siang, akhirnya saya sampai juga di Basecamp Sonokeling setelah satu setengah jam berjalan diselingi berkali-kali istirahat. Di sebut Sonokeling karena tempat ini adalah kawasan hutan lindung yang dengan sengaja ditanami Pohon Sonokeling oleh Dinas Kehutanan Provinsi Lampung lebih dari 45 tahun yang lalu.

Sebagian besar peserta sudah terlebih dahulu sampai. Beberapa meter di kejauhan, suara Indra di titik pandang sudah terdengar. Berteriak-teriak memberi semangat sambil mengatakan agar kami segera bergabung bersamanya, melihat pemandangan indah di tempatnya berdiri saat itu. Pemandangan Teluk Semaka di ketinggian 700 mdpl.

Di titik ini, kami meluapkan kegembiraan. Sebagian besar sibuk mengambil gambar dan tak lupa sedikit berpose di beberapa titik pengambilan gambar. Saya tak langsung membuka tutup lensa kamera. Butuh waktu sejenak untuk menarik nafas panjang-panjang, memenuhi sebanyak mungkin paru-paru dengan oksigen bersih untuk memanjakan organ tubuh yang di Jakarta terpaksa menghirup udara yang sudah mengandung banyak polutan. Rasa lega terasa lebih lapang karena berpadu dengan kegembiraan.

Saya berjalan mendekat ke ujung lereng, di sebelah kiri saya terdapat saung kayu dengan beberapa bendera di atasnya. Tempat ini adalah basecamp para pendaki. Di sekitar tempat ini biasanya para pendaki mendirikan tenda untuk bermalam atau sekedar beristirahat sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Tanggamus yang terletak di ketinggian 2102 mdpl. Beberapa meter dari tempat ini juga terdapat sumber mata air yang airnya bisa dapat langsung diminum. Saya sempat mencicipi, rasanya sejuk dan segar.

Di hadapan saya kini terbentang wajah Teluk Semaka, teluk terbesar dan terdalam yang ada di Provinsi Lampung. Kabut putih menyelimuti sebagian besar bentang alamnya. Sedikit mengurangi kenikmatan mata, namun sensasinya tetap terasa kuat. Seekor elang terbang rendah di atas kami, menjadi daya tarik tersendiri. Sementara di belakang saya, puncak Gunung tertinggi kedua setalah Gunung Pesagi di Lampung -Tanggamus- berdiri tegak, seolah memperhatikan polah para peserta yang tak habis-habisnya bergaya, bercanda, berteriak-teriak melampiaskan kegembiraan.  

PA310160_Snapseed
Puncak Tanggamus

Seraya beristirahat meluruskan tungkai kaki dan memandang jauh lurus ke depan. Saya merenungkan sejenak perjalanan barusan.

Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah keinginan, rasa takut yang harus dihadapi dan kemampuan menakar harganya. Sungguh sebuah perjalanan melelahkan yang terbayarkan.

Menikmati Suasana
Menikmati Suasana

*****

Prahara Di Tengah Ladang
Mengikuti hasrat hati, sebenarnya ingin berlama-lama di sini. Menikmati udara sejuk, angin yang berhembus lembut membelai wajah dan bentang alam yang indah Basecamp Sonokeling. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah hijaunya pepohonan, birunya langit dan suara-suara penghuni hutan yang bersahut-sahutan. Namun perlahan kabut putih yang menyelimuti sebagian langit Teluk Semaka berangsur berganti awan kelabu, menandakan hujan akan turun. Kami pun memutuskan untuk segera turun.

Sebagian orang sering menganggap perjalanan mendaki adalah perjalanan yang lebih berat dibanding dengan perjalanan menurun. Namun bagi saya, keduanya memiliki tantangan masing-masing. Bila tanjakan akan membuat nafas saya memburu dan jantung rasanya ingin meledak, maka saat menurun beban yang tak kalah berat akan terasa di lutut, pergelangan kaki dan ujung jari. Benar saja, baru separuh perjalanan pulang, kaki saya mulai rewel. Pergelangan kaki kiri saya terasa nyeri saat kaki kanan melangkah turun. Perut pun sudah menagih hak untuk segera diisi.

Jalur Trekking
Jalur Trekking

Menjelang memasuki desa, dari kejauhan saya melihat peserta tur sudah berkumpul di tengah-tengah ladang.  Mereka duduk berhadap-hadapan. Di antara mereka terhidang nasi dan lauk pauk lengkap beralas daun pisang. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Saya pun mempercepat langkah tuk sampai di lokasi dan tanpa basa basi langsung bergabung, menempatkan nasi dan lauk pauknya ke atas piring.

Bayangkan nikmatnya. Tubuh dalam keadaan lapar dan lelah setelah trekking mendaki gunung ini makan siang di tengah ladang dan beralas daun pisang. Nasi dengan lauk tempe dan ikan goreng, serta berbagai jenis lalapan, baik yang direbus maupun mentah, lengkap dengan sambal terasi dan sayur asam ini menjelma bagai menu surgawi. Tak berlama-lama, hidangan pun berpindah dari piring ke perut.

Pucuk dicinta, ulam tiba.
Pucuk dicinta, ulam tiba.

Tapi apa daya, firasat saya tadi pagi bahwa hujan akan turun hari ini justru terbukti saat hidangan baru dua suapan saja masuk ke mulut. Tiba-tiba hujan deras turun tiada ampun, membasahi semua makanan yang ada di hadapan kami. Peserta kocar-kacir mencari tempat berlindung. Meninggalkan semua makanan di tengah ladang hingga basah kuyup. Beberapa teman sempat menyelamatkan makanan, termasuk saya. Saya sibuk berlari menuju saung terdekat dengan sepiring nasi lengkap dan semangkok sayur asam. Meninggalkan kacamata dan alas kaki di tengah ladang. Lapar telah membuat otak saya lebih fokus pada makanan dibanding pada barang-barang yang harus diamankan. Untunglah kamera dan alat komunikasi aman di dalam ransel.

Mungkin alam memang sedang mengajak kami bercanda. Karena kejadian yang semula bagai prahara, kini menjadi cerita manis saat dikenang. Berbagai cerita heboh terjadi pada episode ini. Dari penyelamatan sepapan petai oleh Indra yang sia-sia karena kemudian jatuh dan terinjak oleh Lukman saat hendak dimakan, sampai metode baru ala Indra untuk menyelamatkan gadget dari hujan dengan cara yang tak lazim. Hingga hari ini, cerita tersebut selalu sukses menjadi bahan tertawa kami di grup. [] Donna Imelda

Selalu ada hal yang manis dari kejadian yang paling pahit sekalipun. Kali ini, hujan menjadi penutup yang manis di lereng Gunung Tanggamus.

Bersama Indra di Basecamp Sonokelng
Bersama Indra di Basecamp Sonokelng

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

12 comments

  1. Riez LightBlues

    Wow seru sekali yaa berpetualang…

  2. Sepertinya kata chebok bermula dari sini..hihihi
    dan membaca cerita ini, seakan2 masih disana…

  3. Melly, kata chebok itu bermula di pagi pertama, saat Indra frustrasi pln mati lagi 🙂

    Mbak Donna, beruntung dirimu sampai diatas juga 🙂

  4. Perjalanan yang menyenangkan, menyusuri jalan yang dipenuhi tanaman hijau. seger banget..

  5. Selalu iri dengan perjalanan/travellingmu, Mbak Donna.
    Cerita-ceritanya menarik, tapi bisa nggak daku seperti dirimu 😀

  6. Meski badan udah pegel tapi rasanya capek itu perlahan hilang setelah ngomongin kejadian-kejadian tak terduga setiap kawan saat mereka menyelamatkan diri dari guyuran hujan hahaha… Sungguh moment tak terlupakan… *ketik ini sambil senyum-senyum* 😀

  7. aku pingin merasakan juga trekking 🙂

  8. Selalu ada hal yang manis dari kejadian yang paling pahit sekalipun. ( mantap ) ngomong2, budget nya berapaan wisata ke daerah diatas ? 🙂
    perjalanan recently posted…Pelatihan pengadaan barang dan jasa 2015 Paling DicariMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge