Tuesday, August 22, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jawa » Batu Ratapan Angin, Mengagumi Telaga Warna dari Ketinggian #DiengSeries
BRA

Batu Ratapan Angin, Mengagumi Telaga Warna dari Ketinggian #DiengSeries

Dua gadis kecil cekatan melangkah mengikuti setapak yang membelah kumpulan pohon Pinus dan rimbun rerumputan. Sejuk angin berhembus lembut mengiringi tubuh mereka yang terus bergerak di pendakian landai yang singkat. Seolah tak sabar menemui kejutan yang disajikan di ujung tanjakan berliku, setengah berlari mereka menuju sebuah titik terbaik untuk menikmati panorama cantik …..Telaga Kembar. 

bra1

Dataran Tinggi Dieng. Sudah pukul dua siang kala itu, tak terlihat lelah di wajah mereka meski perjalanan panjang harus ditempuh dari Jakarta sejak dini hari. Bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta saat matahari baru saja muncul di langit Tangerang, kami sekeluarga terbang dengan penerbangan paling pagi menuju Semarang untuk kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Dieng. Di Bandara Ahmad Yani, kami sudah dijemput oleh Tour Guide yang sengaja datang dari Dieng untuk memandu kami selama dua hari kedepan. Rombongan kami yang tadinya hanya berempat bertambah menjadi tujuh orang bersama mereka ini. Tiga pemuda yang baik dan ramah inilah yang kemudian oleh anak-anak dipanggil akrab dengan sebutan oom Amiem dan oom Agus, serta oom Ahmad yang bertugas di belakang kemudi.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang membuat kami sekeluarga merasa nyaman, meski saya yakin sang pengendara bisa saja mengendarai dengan kecepatan lebih tinggi, namun saya tahu, mereka sedang memenuhi ekspektasi saya sejak di Jakarta dengan Mas Amiem untuk mencarikan kami mobil yang bagus serta pengendara yang handal dan aman mengingat kami membawa anak-anak. Ternyata yang kami dapat justru lebih dari yang saya bayangkan, tak hanya aman dan nyaman, kami yang baru beberapa saat saja berkenalan langsung merasa akrab dengan tiga pemuda Dieng yang baik dan ramah ini, hingga perjalanan panjang terasa menyenangkan tanpa bosan sama sekali. Bagaimana tidak, selain pemandangan sepanjang jalan yang indah, suasana yang sangat berbeda dengan Jakarta, juga karena diisi dengan obrolan, cerita tentang hal-hal yang kami temui di jalan, tempat2 menarik yang akan kami kunjungi dan cerita unik tentang masyarakat Dieng diselipi canda serta sesekali bersenandung mengikuti lagu yang kami dengar dari radio. Anak-anak sangat menikmati perjalanan.

Batu Ratapan Angin merupakan tempat pertama yang kami kunjungi di Dieng. Bila anda berwisata ke Dieng maka tempat ini bisa sekaligus anda kunjungi bersamaan dengan kunjungan ke Dieng Plateu Theatre, karena jalan masuk menuju jalan setapak yang akan dilalui persis berada di area parkir Dieng Plateu Theater. Dengan berjalan mendaki diantara pepohonan pinus, semak dan rumput, maka kurang dari sepuluh menit kita akan sampai di Batu Ratapan Angin. Bentuknya serupa tonjolan batuan dengan luas permukaan yang hanya memuat beberapa orang saja. Dengan ketinggian lebih dari 2000 mdpl di tempat yang kecil tanpa pagar ini saya dan anak-anak harus ekstra hati-hati untuk menaiki tempat tersebut.

bra21

Jangan tanya apa rasanya berada di tempat tersebut. Saya tak mampu melukiskan seluruh rasa yang menyentuh indra di tubuh saya. Kesejukan dataran tinggi Dieng, angin yang menderu halus di telinga mengingatkan saya dengan Kintamani. Namun adakah kata yang dapat mengungkap bagaimana rasanya bila angin nan sejuk itu kita rasakan saat berdiri diatas ribuan meter diatas permukaan laut ditempat sekecil ini, menatap dua telaga yang sering disebut dengan Telaga Kembar yang begitu luar biasa indah dengan begitu takjub.

Saya masih ingat bagaimana saya menggeleng-gelengkan kepala dan sempat berseloroh dengan hati kecil saya sendiri sambil berujar, “Tuhan….. Engkau pasti sambil tersenyum saat menciptakan negeri ini”. Telaga Warna yang berdampingan dengan Telaga Pengilon ini menjadi bentang alam yang begitu indah dihadapan saya sekeluarga. Telaga Pengilon yang artinya telaga cermin begitu tenang, permukaannya berkilau diterpa sinar mentari hingga menyerupai cermin raksasa. Sedangkan Telaga Warna yang berada disampingnya tak kalah terlihat cantik dengan warnanya yang biru kehijau-hijauan karena kandungan sulfur didalamnya. Begitu mengagumkannya sehingga anak-anakku bilang, aku kok seperti berada di awan ya bun, itu yang didepan kita seperti lukisan alam di layar raksasa.

 

Tidak anakku…ini nyata.

Kita memang berada di Negeri di Atas Awan

Selamat datang di Dieng, anakku….

bra31

Terimakasih Tuhan, memberikan keindahan bagi negeri ini dan memberi kami kesempatan untuk bisa ada di tempat ini

 

 

Dieng, 14 Agustus 2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

4 comments

  1. Berapa kilo trekkingnya??

    • donna imelda

      ini mah cuma sekejap mata, noe. Karena meskipun tinggi kita mulai trekking nya juga gak dari bawah banget. Naek mobil sampe Dieng Plateu Theatre, 7 menit juga sudah sampe. *pasti belum baca isinya ya…

  2. Baguuus banget. Aku pengin balik lagi agak pagian, nggak terburu-buru kayak kemarin. Tapi anakku bilang nggak mau lagi. Stress dia, mobilnya naik terus nggak nyampai2. Dasar anak Riau, gak punya gunung wkwkwkkkk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge