Tuesday, August 22, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Banten » Jalinan Rasa di Jembatan Akar #Catatan Perjalanan Baduy 2013 #Part5
noe and daffaP5263045

Jalinan Rasa di Jembatan Akar #Catatan Perjalanan Baduy 2013 #Part5

Jelang dini hari di Desa Cibeo, Baduy Dalam. Aku makin gelisah meneruskan tidurku, pikiran ku melayang-layang kesana kemari. Nyeri dilutut berkurang namun tak menghilang. Tulang belakang ku semakin tak nyaman pada posisi rebah diatas lantai bambu tanpa alas. Memiringkan badan pun tak banyak membantu, serba salah. Tak mudah ternyata beradaptasi dari tidur diatas kasur empuk lebar leluasa menjadi tanpa alas dan berhimpitan dengan banyak orang dengan tubuh yang didera nyeri. Bermacam resah menghuni rasa, kekhawatiran untuk melanjutkan perjalanan yang lebih panjang dan tentu saja akan lebih lama dibandingkan hari kemarin kuperkirakan menjadi sumber segala keresahanku. Berkali ku coba untuk mengusir semua pikiran buruk dari benakku, kuambil posisi duduk menanti saatnya Sholat Subuh, memandang dalam gelap puluhan peserta lain yang masih lelap tidur disekitarku. Begini rasanya sendiri…

Suku Baduy Dalam memeluk keyakinan yang disebut dengan Sunda Wiwitan, penghormatan kepada roh nenek moyang dan kepada satu yang kuasa yang mereka sebut Nu Kuwasa. Aku memastikan tak akan ada suara adzan disini. Tak seperti di rumah, dimana aku selalu dibangunkan oleh Adzan Subuh yang berkumandang melalui pengeras suara musholla dekat rumah, disini aku mengandalkan jam tangan untuk mengetahui waktu sholat. Kutunggu jarum jam ditanganku bergerak menuju waktu yang aku perkirakan akan memasuki waktu Sholat Subuh, lalu perlahan beringsut membuka pintu sepelan mungkin agar tak mengganggu tidur peserta lainnya. Kunyalakan senter untuk membantuku melihat, memilih satu diantara deretan bambu yang berisi air.

Tak ada sumber air dan sarana MCK disekitar rumah di desa ini, semua keperluan tersebut mereka lakukan di sungai. Mereka hanya menyediakan potongan bambu dengan panjang sekitar satu ruas yang dilengkapi lubang untuk mengeluarkan air didalamnya. Air mereka ambil dari sungai dengan menggunakan bambu ini dan diletakkan diberanda rumah, sebagian untuk mencuci kaki atau tangan dan sebagian lagi digunakan untuk keperluan memasak. Aku memilih satu yang kuperkirakan isinya belum terpakai untuk wudhu. Segar terasa menyentuh wajah mengusir letih pelupuk mata yang tak bisa tidur semalaman, siap bermesra denganNya…? Inna sholati, wanusuki, wamahyaya, wamamati lillahi robbil alamiin…. dan aku merasa ingin sekali di dekap Tuhan.

***

Pagi menjelang, riuh rendah suara pedagang yang berdatangan menjajakan dagangannya didepan rumah tempat kami menginap, ditingkahi suara canda, obrolan dan tawar menawar harga peserta. Aku memperhatikan dari jarak yang tak terlalu dekat, ada banyak barang yang mereka tawarkan, dari kaos, kain, tas, baju, gelang, cindera mata sampai hasil hutan seperti madu. Sungguh barang-barang yang unik, sebagian besar memanfaatkan bahan alam, seperti kayu, batok kelapa, akar tumbuhan, bambu bahkan biji-bijian dari hutan. Saya kagum dengan kain yang mereka tenun dengan warna warna alam yang unik khas Suku Baduy.

Peserta yang rata-rata masih berusia muda ini terlihat antusias sekali memilih dan menawar, aku sesekali tersenyum memperhatikan hal ini sambil menahan gejolak untuk mengambil gambar melalui kamera. Berulang kali aku berpikir andai aku bisa melukis, setidaknya mampu membuat sketsa untuk menggantikan tugas kamera menangkap momen, sungguh semua pemandangan disekitarku ini adalah gambaran unik yang ingin aku bagi bagi mereka yang belum sempat datang kesini. Kesederhanaan, wajah polos anak-anak Baduy, wanita-wanita berkulit putih dengan pipi bersemu merah yang pemalu dan cenderung menarik diri dari keramaian, bayi-bayi lucu dan interaksi antar manusia tak luput dari perhatianku, semua melekat erat sampai tulisan ini aku buat. Ah…aku rindu kembali kesana.

baduy kidsIMG-20130528-WA0010

Tubuhku terasa hangat, pertanda matahari mulai tinggi, panitia pun mulai memberi tanda agar kami berkumpul dan memulai perjalanan kembali ke Ciboleger dengan rute melewati Jembatan Akar yang menjadi tempat yang sudah digadang-gadang sejak kemarin sebagai tempat yang paling eksotis dan harus dikunjungi di Baduy. Dari Desa Cibeo tempat kami menginap, untuk sampai ke Ciboleger kami membutuhkan jarak tempuh sekitar 17 kilometer atau setara dengan berjalan kaki selama kurang lebih enam jam. Saya perkirakan Jembatan Akar terletak sekitar tiga per empat jarak total tersebut, karena setelah melewati Jembatan Akar jarak yang saya tempuh menuju Ciboleger tak lagi sejauh jarak dari Cibeo menuju Jembatan Akar. Kekhawatiran saya ternyata berlebihan, perjalanan pulang melewati Jembatan Akar tak lagi menyiksa seperti perjalanan kemarin.

Perjalanan dimulai dengan menaiki tanjangan yang panjang, saya pun memulai dengan sikap mental “I can do it”, tak ada yang perlu dikhawatirkan dan saya akan menyelesaikan perjalanan ini dengan baik. Meski perjalanan hari kedua ini lebih lama dan lebih jauh, namun kemiringan tanjakan atau turunan tak securam menuju Cibeo, kalau pun ada jumlahnya tak sebanyak kemarin dan yang jelas tak ada tanjakan yang tinggi dan kemiringannya seperti Tanjakan Cinta yang bikin putus asa. Ada beberapa ruas jalan setapak yang memang harus ekstra hati-hati karena sempit dan bersisian dengan jurang atau turunan yang kering dan licin, salah satu peserta sempat tergelincir dan jatuh, beruntung teman-teman lain sempat meraih tangannya agar tidak tergelincir lebih jauh ke bawah. Aku berjalan dengan pelan, kecepatan konstan dan meletakkan titik tumpu pada tongkat dan kaki kanan agar lutut di kaki kiri saya tak mendapat beban berlebihan. Saya masih bisa berjalan sambil berbincang ringan dengan Noe, sesekali menyapa Daffa yang asik menikmati setiap langkah kakinya tanpa beban atau bercanda dengan peserta lain. Cukup menyenangkan dan bisa dinikmati.

***

jembatan akarIMG-20130528-WA0020

Kami pun tiba di Jembatan Akar,  terletak cukup jauh di bawah ke arah sungai melalui jalan setapak yang sempit dan terjal, jembatan ini terlihat memesona sejak pertama mataku menangkap keberadaannya. Membentang di atas sungai lebar berarus deras dengan air berwarna kehijauan, dengan ketinggian kurang lebih sepuluh meter dari sungai dibawahnya , akar hidup dari pepohonan disekitar jembatan yang saling berpilin membentuk jembatan ini terlihat unik dan kokoh. Dari informasi yang aku dapatkan di internet, tak kurang dari 40 tahun untuk bisa menghasilkan jalinan akar sepanjang jembatan yang dulunya adalah dua jembatan bambu seperti yang aku lihat menuju Cibeo. Akar yang masih tumbuh dan memanjang terus dijalin sepanjang jembatan dari waktu ke waktu bertahun-tahun. Tak heran tempat ini seolah menjadi “landmark” Baduy. Perjalanan anda tak lengkap tanpa mampir ke tempat ini.

Ditempat ini kami beristirahat cukup lama, beberapa memilih untuk turun ke sungai untuk bermain air. Aku memilih tidak turun ke sungai dan duduk di salah satu ujung jembatan ditemani beberapa anak Baduy. Aku memilih menikmati detail jembatan akar, mengisi ruang jiwa dengan rasa yang hadir saat memandang ke arah sungai, pada dia dan mereka yang menikmati sejuknya air sungai dan bermain main didalamnya lalu mengambil beberapa gambar. Aku menikmati kesendirianku disini.

Jembatan Akar mengajariku tentang hukum proses, bagaimana suatu keindahan tercipta melewati perjalanan waktu yang panjang untuk bisa dinikmati. Bahwa keindahan kehidupan berasal dari kehidupan itu sendiri yang harus tetap hidup, melewati ruang dan waktu, menjalin rasa, peristiwa dan manusia didalamnya untuk peduli, memberi, menerima dan menjaga hingga menjadi tautan yang terhubung satu sama lain, tak terpisahkan. Tak ada keindahan yang bisa dinikmati jangka panjang dengan proses instan. Kebersamaan kita merupakan suatu perjalanan panjang, proses tempa rasa yang kuharap tercipta indah pada akhirnya.

 

Bukankah untuk meraih fajar seseorang harus melalui perjalanan malam? *Gibran

baduy kids1IMG-20130528-WA0017

Baduy, 25.06.2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

4 comments

  1. Hehehe… soulmate atau memang kita ngga berbaur ya? Dalam series kita saling sebut nama. Yg lain kemenong. Wkwkwk

    • donna imelda

      hahaha…. terjadi begitu saja, yang muda khan langkahnya cepat, gue lambat…nah loe khan jagain gue xixixi….jadi ya gitu deh antara soulmate dan tak sengaja tak terbaurkan …halah, oposeh.

  2. Catatan perjalanan yg enak dinikmati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge