Tuesday, August 22, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Banten » Bintang Jatuh di Rumah Dunia…… Writing Camp day #1
rd

Bintang Jatuh di Rumah Dunia…… Writing Camp day #1

Ada yang sedang menanggalkan pakaianmu satu demi satu
mendudukkanmu di depan cermin dan membuatmu bertanya,
“tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?”

Ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu
menimbang-nimbang hari lahirmu, mereka-reka sebab-sebab kematianmu
Ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu.
SDD

Aku menengadahkan kepalaku ke arah langit. Cuaca di salah satu sudut Kota Serang Jumat malam ini cerah. Langitnya terlihat sangat cantik berhias bintang-bintang yang bersinar terang menyinari sekelompok orang yang duduk membentuk lingkaran. Aku adalah salah satu dari mereka, satu dari enam belas orang peserta Writing Camp yang diadakan Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia. Bersama kami duduk seorang lelaki yang menjadi pusat kegiatan malam ini, aku memanggilnya Mas Gong. Tak jauh dari tempatku duduk, ada Mbak Tias Tatanka –istri Mas Gong- dan dua anak mereka Kaka dan Odie. Beberapa orang relawan Rumah Dunia juga turut dalam acara ini, duduk di pinggir lingkaran, saling memperkenalkan diri dan berbincang-bincang sambil menikmati Nasi Goreng dan Wedang Jahe. Mataku berkeliling, lingkaran ini hampir sebagian berisi anak-anak muda. Dari perkenalan singkat, perkiraanku tepat bahwa aku lah peserta paling tua diantara anak-anak muda usia sekolah menengah ini. Satu peserta dari Bandung sudah berusia dewasa, tapi tetap saja aku berusia lebih tua. Ah, tak apalah, toh belajar tak mengenal batasan umur, aku menghibur diri.

rd2

Ini adalah untuk ketiga kalinya aku bertandang ke Rumah Dunia setelah Travel Writer Workshop bersama Backpacker Koprol dan Writing Camp di Baduy. Rumah Dunia memang bagai bola salju yang senantiasa bergulir. Beberapa kegiatan berkaitan dengan dunia literasi silih berganti setiap hari diselenggarakan, semakin hari semakin banyak dan semakin kuat persis bola salju yang semakin bergulir semakin besar dan pesat. Meski terletak cukup jauh dari Jakarta dan keterbatasan waktu membuat aku jarang hadir di Serang, tapi kegiatan Rumah Dunia di Ciloang ini selalu menjadi hal yang menarik perhatianku. Beberapa nama bahkan menjadi lingkaran dalam kehidupanku, seperti Mas Gong dan Mbak Tias, sebagai pendiri Rumah Dunia serta beberapa relawan inti Rumah Dunia. Dengan memanfaatkan teknologi informasi melalui sosial media, secara interaktif aku dapat terhubung setiap hari setiap saat dengan kegiatan dan pemikiran mereka.

Begitu pula dengan kegiatan malam ini, jelang akhir tahun 2013, selama tiga hari ke depan dari tanggal 28 sampai dengan 30 Desember 2013, Rumah Dunia kembali membuat kegiatan Writing Camp, kali ini materinya adalah membuat novel perjalanan. Rasa yang sudah menggebu-gebu ingin menerbitkan sebuah novel perjalanan di tahun 2014 yang akan datang membuat dua hal ini terasa klop, bagai gelas ketemu tutupnya. Pada kegiatan ini peserta akan belajar berkreasi, menciptakan tema, judul, tokoh, karakter, alur, plot sampai rencana sinopsis. Dikombinasi dengan belajar secara teori di “kelas terbuka” dan menuliskan sendiri cerita untuk novel yang akan dibuat. Format acara yang dikemas menarik dengan cara menikmati perjalanan dan kulinari khas Serang secara langsung seperti ini membuat aku nekad mendaftar meski cuti belum diajukan dan sampai H-2 kondisi kantor seakan tak bisa ditinggal.

PC292159

PC271976

Perkenalan dan penyampaian materi dari Mas Gong di hari pertama malam ini ditutup dengan berbagai atraksi dan pentas seni. Sangat menarik, hingga aku merasa malam ini adalah sebuah momentum. Setelah sempat merasa bersalah meninggalkan anak-anak yang sedang libur sekolah dan menunda penyelesaian masalah di kantor yang justru datang menjelang berangkat ke Serang, juga mental attack karena merasa terlalu tua untuk mulai belajar menulis di tengah anak-anak muda yang penuh semangat dan talenta, aku justru menemukan alasan tepat berada di sini. Sebagian besar peserta adalah penggiat literasi dan relawan taman bacaan. Dari mereka yang muda ini aku belajar tentang berbagi, ketulusan dan semangat. Berkumpul dengan mereka aku seperti berada di habitat yang benar. Musikalisasi puisi para relawan Rumah Dunia, penampilan peserta Writing Camp dan karya mereka yang luar biasa serta penayangan film dokumenter berbagai kegiatan Rumah Dunia meyakinkan diriku bahwa memang ini yang aku suka, ini yang aku mau, seperti ini yang aku inginkan dan inilah impianku. Aku hanyut dalam suasana yang tercipta. Bulat sudah tekad, tak ada waktu yang tepat untuk memulai dan tak ada kata terlambat untuk belajar.

***

Baru kemarin aku lihat jutaan bintang di langit Sorbonne melalui layar lebar, belum hilang rasanya takjubku pada perjalanan Ikal dan Arai, dua anak dari pelosok negeri bernama Belitong mengejar impiannya. Bintang-bintang yang baru beberapa jam lalu aku pandang begitu cantik di Langit Rumah Dunia, kini makin menakjubkan, tak kalah dengan gemintang di langit Sorbonne. Beberapa diantaranya seolah turun ke bumi, bagai bintang jatuh yang terdampar di Rumah Dunia. Ada impian yang tercipta, ada doa yang dipanjatkan, seperti cerita dongeng saat bintang jatuh, begitu pula harapku. Semoga setiap langkah menuju impian senada dengan skenario Tuhan.

Dan musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono ini pun semakin manis dikecap rasa, Metamorfosis Sapardi Djoko Damono oleh Reda dan Ari.

Ciloang, 28 Desember 2013

rd1

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge