Tuesday, November 21, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Celoteh Pagi Di Phnom Penh
P4040308

Celoteh Pagi Di Phnom Penh

P4040307 Jumat, tanggal 4 April 2014. Perjalanan South East Asia hari ini menginjak hari keempat. Matahari belum terlihat di ufuk Timur Phnom Penh saat saya bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan Solat Subuh yang hampir kesiangan itu. Tak ada panggilan azan seperti yang biasa membangunkan saya setiap hari di Jakarta. Bukan hal yang aneh mengingat lebih dari sembilan puluh persen warga Phnom Penh adalah penganut Agama Budha. Tak ada masjid di sekitar Hotel Salita yang mengumandangkan azan. Keberadaan masjid di kota ini memang bisa dihitung dengan jari, itu pun kami tak sempat melihat apalagi mengunjungi. Solat di perjalanan kami lakukan ala musafir sesuai dengan tuntunan.

Hari ini kami berlima sedikit bersantai. Perjalanan menikmati kota Phnom Penh rencananya baru akan kami mulai pukul sembilan pagi. Saya pun memilih untuk beraktivitas di dalam kamar saja menanti waktu sarapan tiba. Bersantai di atas kasur, mendengarkan musik dari televisi sambil berkomunikasi dengan keluarga di Jakarta dengan menggunakan fasilitas Wi Fi dari hotel.

Dari balik pintu kaca kamar yang lebar terlihat langit tersaput awan. Meski cuaca terasa hangat, namun mentari sepertinya malas untuk segera muncul pagi itu. Saya pun jadi ikutan malas, malah kemudian asik menikmati pemandangan kehidupan pagi di sekitar hotel dari teras balkon sambil mengambil beberapa gambar. Alhasil hingga lewat pukul delapan pagi saya baru mulai mandi dan kemudian bergabung dengan teman-teman lainnya untuk sarapan.

*****

Tak banyak pilihan yang bisa saya makan di hotel meski beragam jenis masakan tersedia ala buffet. Saya harus memastikan makanan yang halal untuk saya konsumsi. Banyak kemungkinan yang bisa membuat makanan tersebut tidak boleh saya—sebagai Muslim—konsumsi, baik karena bahan bakunya terlarang seperti daging babi, proses penyembelihan yang tidak Islami, perawis yang ditambahkan dalam proses, atau makanan yang mungkin berasal dari turunan bahan yang tidak halal seperti mentega, keju, susu, lemak atau minyak, bahkan es krim. Meski terdapat olahan seperti nasi atau mie goreng dan daging ayam, saya tidak merasa aman dari minyak atau lemak yang digunakan saat memasak serta proses penyembelihan ayamnya.

Pagi itu saya memilih hanya mengkonsumsi Buah Naga dan Semangka, selembar roti bakar diolesi mentega dan selai yang kemasannya mencantumkan logo halal dari pemerintah setempat. Cukup memberi energi buat saya sampai siang. Perut saya memang pemilih dan kapasitasnya kecil, namun tidak rewel atau merepotkan. Selama ada buah-buahan yang bisa saya temui, saya tidak merasa kesehatan pencernaan saya terganggu selama perjalanan.

P4040451
Dengan uang sebesar satu US$1, bisa membeli buah secara eceran

Sejak di Thailand, saya benar-benar merasa terberkati dengan ketersediaan buah-buahan yang begitu mudah didapat sepanjang perjalanan. Begitu juga di Phnom Penh. Dengan uang sebesar satu US$1 saya bisa membeli buah secara eceran. Harga sebesar itu bisa ditukar dengan dua buah apel, dua buah pier, satu wadah kecil buah potong atau segelas jus buah. Bahkan di lain tempat, bila sarapan pagi di di hotel menyediakan buah yang disajikan masih dalam utuh dengan kulitnya seperti Jeruk, Pisang, Markisa, saya tak segan mengambil sedikit lebih banyak dan menyimpannya dalam ransel harian saya. Saat saya lapar dan belum menemukan makanan yang cocok dengan yang saya inginkan maka bekal inilah yang menjadi pengganjal perut.

Tak sulit untuk tetap menjaga diri untuk mengkonsumsi bahan makanan yang halal dan baik selama perjalanan. Selama masih ada pilihan, berarti keadaan belum darurat untuk memilih yang tidak halal. Alhamdulillah, di beberapa negara Indochina yang saya kunjungi, saya dengan mudah menemukan juga makanan dalam kemasan yang berlogo halal resmi dari pemerintah setempat. Bahkan sampai air mineral dalam botol pun banyak yang bersertifikat halal. Tapi hati-hati juga, karena beberapa kali saya temukan, produk makanan kemasan yang di Indonesia telah mendapatkan sertifikasi halal, di sini justru belum bersertifikat. Begitu pula sebaliknya. Sedikit jeli saat membeli, memberi kenyamanan lebih saat mengonsumsi.

P4040449

*****

Hampir pukul sepuluh pagi, matahari mulai tinggi. Kami memutuskan untuk segera berkeliling kota dengan menggunakan tuk-tuk. Tak sulit mendapatkan alat transportasi ini, beberapa sopir tuk-tuk terlihat sengaja menunggu tamu yang menginap di depan hotel. Begitu kaki kita melangkah keluar, mereka akan dengan ramah menghampiri kita untuk menawarkan jasanya.

Pada salah satu sopir yang raut wajahnya bersahabat dan ramah, kami melakukan tawar menawar harga. Untuk perjalanan seharian penuh sampai pukul lima sore, ia bersedia mengantar keliling kota sampai kembali lagi ke hotel dengan ongkos yang akhirnya disepakati sebesar US$25. Karena kami berjumlah lima orang maka ongkos itu akan ditanggung bersama sebesar US$5 per orang. Untuk ongkos sebesar itu, beberapa tempat sudah direncanakan akan disinggahi seperti: Independence Monumen, National Museum, Royal Palace, Watt Phnom, Central Market dan Russian Market.

Tuk-Tuk di Bangkok
Tuk-Tuk di Bangkok
Kabin Tuk-Tuk di Phnom Penh
Kabin Tuk-Tuk di Phnom Penh

Ada perbedaan sedikit antara tuk-tuk di Bangkok dengan tuk-tuk di Phnom Penh. Keduanya sama ditarik dengan mesin motor beroda tiga semacam bajaj di Indonesia. Badan tuk-tuk di Bangkok berukuran lebih lebar dengan bangku penumpang hanya satu baris yang bisa berisi tiga sampai empat orang berbadan langsing. Sedangkan tuk-tuk di Phnom Penh, relatif berukuran lebih ramping namun memiliki dua baris bangku penumpang yang saling berhadapan sehingga bisa memuat sampai enam orang di dalam kabinnya.

Meski Cambodia memilik mata uang sendiri yaitu Riel (KHR), namun mata uang dolar biasa gunakan di Phnom Penh. Nilai tukar US$1 saat kami bertandang pada bulan April 2014 kemarin setara dengan 4.000 Riel. Namun di banyak tempat wisata yang kami kunjungi, sepertinya penduduk Phnom Penh tak mau repot dengan uang kembali. Kata-kata one dollar sering sekali kami dengar dari bibir pedagang di pinggir jalan. One dollar untuk membeli buah, one dollar untuk membeli air kemasan, one dollar untuk segelas sari buah, bahkan one dollar untuk kontribusi masuk tempat wisata seperti di Watt Phnom. Tinggal menyodorkan selembar uang, maka kita mendapatkan barang yang kita inginkan.

One Dollar
One Dollar

*****

Nah, uang saku sudah di tangan, ongkos sudah sepakat. Perut kenyang, cuaca cerah, hati pun riang. Jadi tunggu apalagi, yuuk kita keliling kota Phnom Penh
Tunggu ceritanya di tulisan yang akan datang ya….

P4040312

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

9 comments

  1. serba one dolar ya mbak jadinya 🙂

  2. Memang lebih praktis dengan pake $ jadi simple ngak repot kalo disana haha

  3. Wiih, asik. musti lebih teliti tp ya klo di negara yg mayoritas non muslim.

  4. kalo gitu, mbak ada masalah dlm berbahasa gak ? hehehe

  5. Alhamdullilah mbak, selama ini bisa menjaga makanan halal dinegara yg nggak banyak muslimnya.
    Biasanya buah jadi andalan saya. Alhamdullilah sehat.
    Emakmbolang recently posted…Jelajah Dharamsala (3) : Kuil dan air terjun BahgsuMy Profile

  6. Salah satu yang jadi perhatian kalo jalan-jalan ke negara yang mayoritasnya non muslim, mesti wanti-wanti dengan makanan.
    Dini recently posted…Pastel Jakarta from Istana Pasar Baru RooftopMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge