Sunday, December 17, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Papua » cerita dibalik perjalanan ke Timika

cerita dibalik perjalanan ke Timika

Sesuai dengan planning dari Jurusan Teknik Kimia di bawah koordinasi Wk I bagian Marketing PESM tanggal 25 malam sepulang dari kampus aku mulai packing pakaian yang akan di bawa ke Timika dalam rangka promosi selama 4 hari (dua hari di perjalanan pulang pergi).

Jumat 26 April 2008 dini hari kami sudah standby di Bandara Soekarno Hatta untuk bertolak menuju Timika kira2 jam 5 pagi dengan pesawat milik maskapai penerbangan Merpati selama kurang lebih lima jam termasuk 30 menit transit di Makasar. Perjalanan terasa membosankan karena perjalanan yang cukup panjang dan tak ada pemandangan yang bisa dilihat selain awan…duh kaki pegal, mau sambil baca tekanan udara menyebabkan kepala malah pusing…tidur dah kenyang…pokoke bosen lah. Kurang lebih jam 12 siang WITA kami mendarta di bandara Mozes Kilangin Timika Papua. Kesan yang pertama tuh udah mau ketawa aja….kok seperti perjalanan dengan mesin waktu yang mundur beberapa abad ke peradaban lain.
Gimana gak…menjelang mendarat aja yang terlihat tuh gunung, bukit dan hutan, mendarat di bandara timika yang kondisinya duh….gak tega ngomongnya….lihat photo aja ya…he he he. Jauh deh kalo dibanding dengan Soekarno Hatta bak langit dan bumi. Tapi sebenarnya bisa dimaklumi karena ternyata bandara yang baru masih dibangun dan yang sekarang dipakai itu adalah rintisan PT Freeport Indonesia.

Di bandara kami sudah disambut oleh dua mahasiswa kami tuk menuju Laboratorium lingkungan PT Freeport Indonesia yang kebetulan letaknya sangat dekat (bersebelahan kali yee) dengan bandara. Setelah koordinasi sebentar tentang rencana dan schedule dua hari ke depan ternyata kami masih harus melanjutkan perjalananan ke Highland tempat kami menginap yang letaknya diatas pada ketinggian kurang lebih 3.000 meter (gak perlu jadi pendaki gunung tuk sampe ke gunung ya…ha ha ha) Kami ke atas ke arah penambangan dengan mobil jeep milik PTFI yang memang diperbolehkan naik keatas dengan total waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Segitu ketatnya aturan main di perusahaan membuat kami pun harus ikut aturan. Mobil tanpa plat nomer itu melaju dengan kecepatan maksimal berbeda-beda sesuai yang telah ditentukan dan dengan waktu tempuh juga telah ditentukan dan dengan pemeriksaan ketat di beberapa titik. Wah seperti di film2 aja….jadi berkhayal macem-macem.

Jalan yang kami lalui berbatu dengan lebar yang sangat memadai karena memang ditujukan untuk keselamatan, mengingat kiri kanan jalan tersebut jurang yang konon kabarnya kalo jatuh ke situ baru bisa sampai ke dasar kalo udah lagu Indonesia Raya berkumandang sebanyak 4 kali saking dalamnya itu jurang.
Pemandangannya….jangan ditanya…!!!! Indaaaaaaah banget. Apalagi waktu sampai di Tembaga Pura dan Hidden Valley, pemukiman karyawan yang letaknya didalam lembah, dengan lampu2 yang menyala terlihat dari atas ditengah2 bukit dan gunung. Serasa……!!!

Emang sih pas berangkat gak bisa lihat apa2 selama perjalanan karena dah malam dan kabut juga cukup tebal. Tapi keseokan harinya saat kami turun lagi ke tempat kemarin tuk presentasi baru deh keliatan keindahan alam papua. Susah menggambarkannya, berjalan diantara gunung dan lembah dengan cuaca dingin dan beberapa air terjun terlihat dari kejauhan. Alam papua khususnya Timika dari Tembagapura, hidden valley sampai ke bawah di Timika betul2 bisa dinikmati sebagi wisata mata. Melewati terowongan yang menembus gunung sepanjang 1050 meter juga memberi sensasi tersendiri.

Ternyata ketakjuban itu belum seberapa karena hari ketiga kami dibawa ke Grasberg Mine, tempat penambangan terbuka PTFI yang tingginya 4286 m, dengan suhu dibawah 10 derajat celscius. Dari tempat itu kami bisa melihat dari jarak yang cukup dekat gunung yang puncaknya tertutup es, dan melihat kebawah kegiatan penambangan.
Aku takjub melihat bagaimana kecilnya manusia dibanding dengan alat2 berat yang mereka pakai untuk bekerja dengan kondisi ekstreem seperti itu untuk menaklukan alam dan memanfaatkannya. Terbayang pula betapa kaya nya Indonesia dengan kandungan tanahnya yang mengandung emas, perak dan tembaga. Yang katanya masih luama banget habisnya….terus kalo orang papua sendiri belum bisa menikmati dengan layak kekayaan alamnya… kayaknya ada yang harus dikoreksi mungkin.

Ngobrol dengan mahasiswa kami yang bekerja di PTFI mengatakan sebenarnya perusahaan sudah menyumbang banyak hal tuk kemajuan Papua, dari memberdayakan penduduknya, mengirim beberapa tuk studi lanjut dan berkarir disana, membangun fasilitas bahkan samapi mengucurkan dana yang jumlah nya cukup untuk membuta kita berdecak kagum. Tapi beberapa kendala seperti pemerintahan dan budaya juga menghambat percepatan kemajuan itu.

Hari keempat kami turun ke bawah menuju bandara dan menyempatkan diri tuk ke dermaga Portsite tempat pengapalan konsentrat tembaga, emas dan perak yang dijual. Disana kita bisa melihat kepiting guede2 dan harganya murah plus ikan2 hasil tengkapan mereka yang gak kalah luar biasa segar dan besar. Hm….gak kayak di jakarta ya…kepiting kayak gitu makanan mewah tuh……he he he.

Waktu yang sangat terbatas membuat kami tidak sempat ke tempat lain bahkan ke kota Timika itu sendiri, karena kami harus segera kembali ke Jakarta.
Meski begitu banyak cerita yang kami dapat dan mudah2an kamim bisa kemabali lagi ke Papua tuk melihat kota lain…sekarang transportasi darat sedang dibangun dengan memanfaatkan hasil samping lumpur penambangan (tailing) yang kandungan silikanya tinggi dan bisa dibuat beton jalan raya yang menghubungkan seluruh papua…

yuk kita kesan lagi…..

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge