Tuesday, October 24, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Banten » Cibeo, Satu Malam Sejuta Makna. #Catatan Perjalanan Baduy 2013 #Part 4
donnaimelda_suku_badui_banten_001_53

Cibeo, Satu Malam Sejuta Makna. #Catatan Perjalanan Baduy 2013 #Part 4

“Ketika kamu sampai pada inti kehidupan,
kamu akan menemukan keindahan dalam segala hal,
bahkan dalam mata mereka yang buta akan keindahan”
Kahlil Gibran

Udara sejuk Desa Cibeo menjalar di wajahku, meniup lembut juga peluh yang masih bercucuran. Sudah menjelang sore hari saat aku duduk meluruskan kakiku yang panjang ke arah depan di teras kecil yang terbuat dari bambu memanjang rumah Pak San San. Lega mendominasi perasaan saat aku tiba di Desa Cibeo Baduy Dalam setelah berjalan kaki dari Desa Kaduketug 1 Baduy Luar sekitar 13 kilometer jalan setapak menembus hutan, bukit, lembah dan sungai selama kurang lebih 4 jam . Ah…terbayar sudah perjuangan menuju tempat ini. Sesaat hilang rasa lelahku, membuncah rasa menyadari bahwa akhirnya aku bisa sampai di tempat ini.

Mataku berkeliling melihat sekitar, diantara obrolan dan gurauan hangat teman seperjalanan yang juga melepas lelah, aku menikmati suguhan pemandangan desa ini. Sungguh suasana yang damai, aku mendengar indah gemerisik angin menelisik rumpun bambu, deretan asri rumah panggung dari bambu yang ukuran dan bentuknya seragam saling berhadap-hadapan, sekumpulan wanita dan anak-anak berkumpul dan berinteraksi hangat ditingkahi gemericik aliran air sungai yang tak jauh dari tempat kami, menghidangkan sebuah harmoni manis antara kehidupan manusia dan alam.

Tak kulihat manusia-manusia egois kota yang sibuk berjalan hilir mudik dengan ponsel yang tak pernah lepas dari genggaman atau bangunan dan tembok bercat warna warni dengan pagar besi menjulang tinggi yang membuat manusia menjadi makhluk asing bagi manusia lainnya. Semua begitu alami, tak ada bising suara kendaraan bermotor yang dengan angkuhnya membunyikan klakson, apalagi teriakan-teriakan manusia yang mengumpat dan mencaci hidup dan makhluk hidup lain seperti yang kulihat sehari-hari di Jakarta. Manusia dan kehidupan disini seolah berputar dengan ritme yang bersahaja. Aku menikmati dalam-dalam semua rasa yang hadir kemudian.

Tak ingin kalah dengan Daffa yang sudah terlebih dahulu berendam didalam sungai tak jauh dari tempat kami istirahat, aku berjalan menuju sungai, disana kutemukan air sungai yang begitu bening, dingin dengan lingkungan yang sangat terjaga kebersihannya. Tepatlah kearifan lokal Suku Baduy Dalam untuk menjaga air sebagai sumber kehidupan dengan tidak menggunakan pembersih sintetis seperti shampoo, sabun dan pasta gigi yang pasti akan masuk bercampur dengan air sungai saat membersihkan tubuh, hingga tak ada bahan kimia pencemar air yang masuk ke dalam sungai. Semua dari alam, untuk alam, kembali ke alam dan menjalani siklus secara alamiah. Sayang aku tak menceburkan tubuhku ke air, karena ruas sungai yang diperuntukkan mandi berada ditempat lain sedangkan aku masih lelah bila harus berjalan sedikit lebih jauh. Tak apalah, aku pun cukup menikmati sungai yang terbuka ini dengan membasuh2 tangan, kaki dan wajah sambil membersihkan lumpur yang melekat di celana panjang, kaki dan sandal gunungku. Sejuk menjalar-jalar berganti hangat menerpa sebagian tubuh, berlama-lama kunikmati sensasi yang timbul, sungguh tak ada kata yang dapat menggambarkannya.

Malam menjelang, Desa Cibeo makin lengang dan gelap. Tak ada penerangan elektronik disini, hanya cahaya api kecil semacam lilin di wadah bambu yang memberikan cahaya samar. Tak ada suara-suara musik dan televisi seperti yang biasa aku nikmati di rumah. Sebagian besar penduduk desa terutama wanita dan anak-anak masuk ke dalam rumah sebagaimana kami peserta Writing Camp Rumah Dunia. Malam ini tak ada kegiatan diluar pondok, kami hanya akan makan malam dan berbincang-bincang untuk menggali lebih jauh tentang kearifan lokal Suku Baduy Dalam dengan Pak Juli sebagai tuan rumah tempat kami menginap. Dirumah ini Pak Juli tinggal bersama dengan satu keluarga lainnya yaitu keluarga mertua beliau yang masih memiliki anak kecil, yang bungsu masih bayi dan masih merangkak, sedangkan anak tertuanya perempuan berusia 17 tahun adalah istri Pak Juli. Mereka belum lama menikah dan saat ini istri beliau sedang mengandung anak pertama mereka dengan usia kandungan tujuh bulan.

Rumah-rumah disini dibangun dari jalinan bambu, rangka kayu tanpa paku, dinding anyaman bambu dan ijuk atau rumbia sebagai atapnya. Konstruksi yang cukup kokoh dan tahan puluhan tahun. Desain rumah-rumah mereka seragam, rumah panggung yang berdiri dengan jarak sekitar satu meter di atas tanah berhadap-hadapan satu sama lain sehingga terlihat rapi dan asri. Rumah mereka tidak memiliki jendela dengan pintu satu atau dua saja, di depan atau dibelakang. Dilengkapi teras kecil memanjang untuk berbincang.

Suara malam di desa yang terletak di Perbukitan Gunung Kendeng yang jauhnya sekitar 120 kilometer dari Jakarta menemaniku berdiam di dalam rumah panggung sambil menanti Pak Juli dan beberapa orang panitia sedang menyiapkan makan malam buat kami. Makan malam yang sederhana, hanya mi instan dan ikan sarden kalengan yang kami bawa dari Serang menjadi lauk teman nasi, tapi cukup nikmat bagi perutku yang sudah kelaparan. Suku Baduy memasak menggunakan kayu bakar dan tungku yang diletakkan di dalam rumah. Mereka tak ingin menyakiti tanah yang memberi mereka kehidupan dengan menyentuhkannya dengan api. Disekitar tungku terdapat beberapa alat masak yang terbuat dari besi, batok kelapa, batang kayu dan tanah liat. Semua hampir berasal dari bahan alam. Ruangan didalam rumah ini nyaris tanpa dinding pemisah. Berbentuk segiempat, dan diisi oleh dua keluarga. Satu ruangan yang berdinding, terpisahkan dengan ruangan lain oleh anyaman bambu dan letaknya beberapa sentimeter lebih tinggi yang berfungsi sebagai bilik mertua atau orangtua, ada pula bilik kecil disudut ruangan untuk berganti pakaian dan sisanya ruagan terbuka yang menyatu dengan dapur membentuk bidang huruf L. Aku pun seperti merasa berada didalam studio besar.

Mengambil tempat tak jauh dari tungku, aku menikmati hangat api dari kayu bakar yang menyala dengan menatap langit-langit rumah beratap daun kelapa dan tidak menggunakan paku. Pikiran sejenak terbang ke Jakarta, membayangkan malam dimana anak-anakku berada tanpa bundanya malam ini, sudah jelas berbeda kondisinya, di sana udara sejuk berasal dari mesin pendingin udara, ada suara dan gambar dari televisi yang tiada henti meski mataku sudah letih, dan melakukan ritual pengantar tidur diatas kasur empuk dengan menggeserkan jemari ke segala arah diatas piranti elektronik dengan layar sentuh. Disini, tak ada semua itu, hanya rebah di lantai kayu dan bambu tanpa kasur menjadi alas tidur kami, menahan dingin angin yang masuk dari kolong rumah panggung dan berharap bisa lelap malam ini untuk menyimpan energi besok hari.

Suku Baduy merupakan nama pemberian peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan Badawi atau Bedoin Arab yang artinya nomaden atau berpindah. Mereka juga kerap di sebut dengan “Urang Kanekes” karena tinggal di Desa Kanekes. Pakaian yang digunakan oleh Suku Baduy merupakan hasil tenunan sendiri dengan menggunakan bahan dan pewarna alami dari hutan. Suku Baduy Luar umumnya menggunakan baju warna hitam sedangkan Baduy Dalam berwarna putih. Dengan luas lebih dari 5000 hektar, Desa Kanekes memiliki sekitar 56 Kampung Baduy. Tiga diantaranya yaitu Kampung Cikeusik Cikertawana, dan Cibeo merupakan kampung orang Baduy Dalam, sedangkan 53 kampung lainnya merupakan kampung orang Baduy Luar. Setiap kampung di Baduy Dalam, dikepalai oleh seorang Kepala Suku yang disebut Puun dan wakilnya yang disebut Jaro. Tiga Puun di kampung di Baduy dalam ini memiliki peran yang berbeda, Puun Kampung Cibeo mengurusi pertanian, Puun Kampung Cikertawana mengurusi kesehatan dan obat-obatan, dan Puun Kampung Cikesik mengurusi keagamaan.

Suku Baduy Dalam sangat mengedepankan kejujuran, sejak semula saya berinteraksi dengan mereka, terlihat bahwa mereka ramah tapi sangat bersahaja. Mereka memang tinggal di pedalaman tetapi mereka tidak terbelakang. Kemana pun mereka pergi mereka lakukan hanya dengan berjalan kaki, walau pun mereka pergi ke luar daerah mereka. Beberapa dari mereka bahkan sering ke Jakarta, diundang atau mendatangi orang-orang seperti kami yang pernah berkunjung ke Baduy. Hebatnya perjalanan mereka ke Jakarta itu tetap mereka lakukan dengan berjalan kaki berhari-hari. Bagi mereka hal itu sudah biasa. Pak Juli dan Pak San San cukup setia mendampingi saya selama perjalanan dua hari di Baduy, sesekali ada di dekat peserta lain, namun rasanya saya tak pernah jauh dari pandangan beliau berdua yang menjadi guide di kelompok kami. Saya memang berjalan dengan perlahan dengan kecepatan yang nyaris konstan –bahkan cenderung lambat- dibanding peserta lain, sehingga mereka perlu memastikan saya tidak tertinggal atau pun tersesat.

Mereka komunikatif, bercerita tentang banyak hal dan menyebut beberapa nama tempat di Jakarta dengan tepat. Mereka bahkan tak jarang diundang ke Jakarta dan menginap di apartemen, makan di mall besar dan kenal beberapa ruas jalan di Jakarta. Saya senang mereka mengenal baik tempat tinggal saya, bahkan mengenali tempat-tempat, sekolah dan perumahan dengan radius beberapa kilometer dari situ. Mereka bilang, “oh….Cimanggis bu, tol Cijago sudah jadi ya bu. Masuk nya dari mana bu? Lebih dekat dari cibubur atau dari Cibinong, lewat Radar Auri bisa khan bu kalo daerah situ. Kami biasa ke Jakarta, membawa madu hutan, durian, dan gula aren” dan saya pun makin terkagum-kagum. Mereka bilang, “nanti kalau musim durian, kita kasih kabar ibu, bisa kita bawain ke cimanggis, nanti kami dikenalkan ke bapak ya bu (suami saya maksudnya)”. Ow ow ow….saya tersanjung.

Suku Baduy sangat mengedepankan kejujuran, saya sempat menanyakan kalau ke Jakarta tetap berpakaian seperti ini pak? Kalau diluar Baduy khan banyak hal yang bisa dilakukan diluar adat ya pak? Tanyaku. Mereka menjawab, “Iya bu… namun biar pun di luar Baduy kami tetap harus mengikuti aturan adat (pikukuh) Suku Baduy, seperti tidak merokok, tidak menggunakan ponsel atau makan makanan yang dilarang seperti makan daging kambing”. Saya membayangkan mereka pasti jadi pusat perhatian orang Jakarta saat mereka di Mall atau lagi makan steak di restoran besar didalam mall tersebut. Saya salut, mereka tetap percaya diri sebagai Orang Baduy namun tetap rendah hati, bukan rendah diri meski berbeda dan minoritas. Rasa hormat mereka pada pengunjung mereka tunjukkan lewat sikap dan tingkah laku mereka, bukan kata-kata. Saya banyak belajar tentang hal ini dari mereka.

Sayang sekali saya masih melihat beberapa pengunjung yang datang ke desa ini namun tak bisa menangkap penghormatan mereka dan membalas dengan penghormatan yang serupa. Ada pengunjung yang merokok sementara bagi orang Baduy Dalam, merokok terlarang buat mereka. Menurut saya, meski beberapa hal bagi kita tidak terlarang, namun apa yang tidak mereka lakukan sebaiknya kita juga tidak melakukan nya saat berada di kampung mereka. Itu yang saya sebut dengan respek. Aturan mereka sebenarnya juga mudah dicerna dengan akal sehat dan berlaku universal, diterapkan di seluruh sendi kehidupan kita dimana pun kita berada, seperti menangkap dan membunuh binatang, membuang sampah dan menebang pohon sembarangan, mengkonsumsi minuman yang memabukkan dan melanggar norma susila.

Saya tidak menemukan sumur di wilayah ini, mereka tidak merusak struktur tanah untuk mendapatkan sumber air. Termasuk mengganggu kehidupan seperti pepohonan. Mereka percaya bahwa, setiap pohon memiliki karakteristik di akarnya yang telah menyatu dengan sumber mata air dbawahnya, merusak struktur tanah akan mengganggu hal tersebut dan kita sudah disediakan sumber air di permukaan yaitu melalui hujan dan air sungai yang berlimpah. Kearifan lokal Suku Baduy mengajarkan saya bagaimana memperlakukan air sebagai sumber kehidupan dan memperlakukan tanah sebagai tempat kehidupan.

Sistem pertanian mereka juga sangat baik, setiap panen mereka memilih bibit terbaik sebagi Indung Pare/benih induk, berbagai jenis kultivar yang ditanam secara bergantian berurutan untuk memotong rantai hama atau penyakit tanaman. Lumbung padi atau Leuit menggunakan prinsip First In First Out, padi yang masuk pertama akan terlebih dahulu dimasak, padi digunakan untuk konsumsi sendiri dan tidak dijual, dan tidak mengganggu hutan lindung untuk dijadikan ladang. Teori yang saya pelajari dari mata kuliah Manajemen Industri ini ternyata jauh lebih dulu sudah digunakan nenek moyang Suku Baduy. Bahkan mereka sudah mengenal konsep jejak ekologis, bahwa tindakan merusak lingkungan yang dilakukan di suatu tempat akan mempengaruhi tempat yang jauh dari asal-usul kerusakan tersebut. Demikianlah kearifan lokal Suku Baduy menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Kita yang menyebut diri orang kota dan modern ini, sungguh harus banyak belajar dari mereka.

&&&

Saya tak bisa sampai larut malam menyimak obrolan teman-teman dengan Pak Juli malam itu, karena saya harus menyiapkan tubuh saya untuk esok hari. Butuh waktu lebih panjang dengan medan yang tak kalah sulit dengan perjalanan hari pertama untuk kembali ke Ciboleger esok hari melewati Jembatan Akar. Sungguh saya mengkhawatirkan lutut saya yang masih nyeri meski sudah berhenti berjalan dan berharap waktu malam ini bisa tidur untuk mengurangi nyeri.

Saya melewati malam dengan gelisah, tidak terbiasa tidur di atas alas yang keras dengan angin dingin menusuk-nusuk punggung saya dari kolong rumah panggung. Lutut saya tak kunjung reda dari nyeri, dan saya harus menahan sakit setiap lutut saya digunakan untuk menekuk atau sekedar berganti posisi tidur. Rasa nya saya tak tidur, hanya memejamkan mata melewati malam. Sementara Daffa tertidur nyenyak di samping ibunya.

Tiba-tiba saya ingin sekali dipeluk, di tempat ini….*sempat2nya melo

“Bagaimana aku dapat kehilangan keyakinan dalam keadilan hidup,
saat mimpi orang-orang yang tidur diatas bulu-bulu
tidaklah lebih indah daripada mimpi mereka yang tidur diatas tanah”
Kahlil Gibran

Cibeo, malam itu

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

4 comments

  1. Ah, aku sukaa setiap tulisan mba tuh jadi kuat dengan sisipan quote. 🙂

  2. Baduy, sejak SMU dulu pgn banget ke sana. Sampe sekarang belum juga kesampean. Semoga bisa menjejakkan kaki di tanah Baduy.

  3. Dari dulu pgn banget ke Baduy, sampe sekarang belum terlaksana. Pernah istirahat di rumah penduduk sewaktu ke TN Ujung Kulon, model rumahnya panggung, asyik ya, tapi aku belum coba kalo nginep.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge