Tuesday, August 22, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Bali » Desa Adat Penglipuran, Bali
IMG_8459

Desa Adat Penglipuran, Bali

Sejuk udara pagi menerpa sejak langkah pertama menjejakkan kaki didesa ini. Suasana desa yang tenang, sejuk, damai dan nyaman dengan pola tata ruang yang simetris dengan ruang terbuka dibagian tengah berupa jalan setapak (rurung gede) dengan lebar sekitar tiga meter yang menurun dari utara ke selatan, serta pintu gerbang (angkul-angkul) warna tanah yang tak terlalu lebar setinggi kurang lebih dua setengah meter yang seragam berjajar rapi seolah menyambut menghadirkan sebuah keunikan khas yang menarik untuk segera dinikmati.

Tak meleset dari yang digambarkan masyarakat yang tentang Penglipuran yang berarti menghibur, dimana konon kabarnya dahulu para raja sering datang ke tempat ini untuk menghibur diri dan mencari ketenangan, maka tak berlebihan pula rasanya saya pun merasakan hal yang sama saat berada disini. Sungguh saya merasakan sesuatu yang sulit saya gambarkan dengan kata. Tempat ini begitu tenang, bangunan yang didominasi bahan yang terbuat dari tanah dan bambu tertata rapi, asri dan bersih dengan penduduknya yang ramah-ramah. Kesejukan udara Bangli tak hanya menerpa wajah dan tubuh saya tapi juga masuk ke dalam rongga paru-paru dan jiwa saya. Begitu menyejukkan. Pemandangan Desa Adat Penglipuran yang indah kini membentang didepan mata.

Bukan tanpa sengaja aku menjadikan tempat ini salah satu tempat yang harus aku kunjungi dalam rangkaian perjalananku di Bali menuju Kintamani. Desa Adat Penglipuran ada dalam wilayah administrasi Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli yang terletak sekitar 5 Km utara Kota Bangli atau sekitar 1,5 jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Terletak di daerah dataran tinggi yang masih merupakan salah satu lingkup kaki Gunung Batur, membuat tempat ini memiliki udara yang sejuk dengan kontur tanah yang tidak rata. Topografi yang demikian justru sangat tepat dan sesuai dengan konsep tata ruang Desa Adat Penglipuran yang dibedakan menjadi 3 bagian sesuai dengan konsep Tri Hita Karana yang bertujuan untuk menghadirkan sebuah hubungan yang harmonis antara Tuhan, Manusia maupun Lingkungan yang menjadi sumber datangnya keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

IMG_8443

Tiga bagian dalam konsep tersebut adalah Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala dimana ketiga bagian tersebut memiliki peranan dan fungsi yang berbeda di dalam kehidupan masyarakat Desa Adat Penglipuran. Berdasarkan konsep tersebut, bagian pertama yaitu Utama Mandala terletak paling utara desa, yaitu sebuah tempat suci dimana terdapat Pura Bale Agung (Penataran) sebagai tempat beribadah umat Hindu. Bagian kedua dari konsep Tri Hita Karana adalah Madya Mandala. Di tempat ini merupakan wilayah permukiman penduduk desa yang terbagi dalam dua barisan berjajar yaitu barat dan timur. Sedangkan bagian terakhir atau bagian ketiga adalah Nista Mandala bertempat dibagian paling rendah yaitu tempat yang dipakai untuk kuburan atau orang Bali menyebutnya sebagai Setra. Tata ruang seperti ini diterapkan juga di tiap rumah di desa ini. Ditiap rumah dibangun angkul-angkul/pintu masuk sebagai bangunan penjaga pintu rumah depan. Bagian depan rumah merupakan sanggah/merajan sebagai Utama Mandala untuk beribadah, kemudian dibagian tengah (Madya Mandala) menjadi tempat berkumpul anggota keluarga dan bagian terakhir nista mandala biasanya merupakan ruang service seperti kamar mandi, toilet, atau kandang ternak.

Masyarakat desa sebagian besar bermata pencarian sebagai petani, peternak, dan perajin bambu. Tak heran karena wilayah ini memiliki hutan bambu dengan luas wilayah hampir separuh luas desa ini. Masyarakat setempat sangat menghormati dan mematuhi aturan atau kesepakatan bersama untuk menjaga hubungan harmonis antara Tuhan, manusia dan lingkungan yang dituangkan dalam awig-awig. Pelanggaran terhadap kesepakatan bersama membawa konsekuensi untuk menerima sanksi adat, bisa berupa denda atau dikucilkan. Berdasarkan beberapa sumber, masyarakat desa adat Penglipuran sangat patuh dengan aturan tersebut. Sungguh mengenai hal ini saya tidak meragukannya tidak sedikit pun. Bagaimana tidak… mata dan jiwa saya melihat bukti nyata hal tersebut.

Desa Penglipuran ini menjadi harmoni yang terus terbayang sampai saat ini, meski waktu terus beranjak dan saya berada di tempat dengan ribuan kilometer jauhnya, terpisah oleh lautan luas dari tempat ini. Penglipuran tetap saja indah di pelupuk mata. Suatu saat saya harus kembali, karena saya terus membayangkan keindahan yang lebih luar bisa lagi saat hari raya, menyaksikan prosesi upacara dan barisan masyarakat berpakaian adat di sepanjang rurung gede yang berhias penjor.

IMG_8437

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge