Saturday, November 18, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Malaysia » Ngeteh di Selangor, Tak Lagi Sekadar Minum Teh
IMG_20171021_125505-02

Ngeteh di Selangor, Tak Lagi Sekadar Minum Teh

“Ngeteh” menjadi tak sekadar minum teh itu ketika undangan untuk menikmati teh sambil menikmati tempat-tempat kuliner asik di Selangor datang melalui surat elektronik. Untuk pecandu teh seperti saya, ajakan “ngeteh” bareng selama 4 hari sambil traveling dan mengenal budaya di berbagai tempat di event Selangor International Culinary Adventure – Eat Travel Write 6,0 tentu saja tak akan dilewatkan.

IMG-20171003-WA0050

Istilah ngeteh bagi saya sama karibnya dengan istilah ngopi bagi mereka para penikmat kopi. Istilah tersebut memang biasa digunakan oleh banyak orang untuk menunjukkan aktivitas yang dilakukan sambil minum teh, entah itu sambil ngobrol, sambil menonton televisi atau mungkin sambil membaca. Biasanya teh tidak disajikan sendirian melainkan ditemani oleh makanan kecil atau makanan ringan seperti gorengan atau makanan tradisional setempat.

Saya pribadi setidaknya punya dua waktu minum teh yang jadi kebiasaan yaitu pada pagi dan sore hari. Minuman teh, terutama teh panas bagi saya memang sangat menjadi mood booster untuk memulai hari, sedangkan di sore hari urusan ngeteh menjadi semacam recharge energy setelah sibuk bekerja seharian. Tubuh yang mulai penat dan otak yang sudah lelah berpikir menjadi segar kembali hanya dengan segelas minum teh panas.

Meski aktivitas minum teh ini ditemukan hampir di setiap negara di setiap suku bangsa namun tentu saja ada perbedaan terkait dengan jenis dan cara mereka minum teh. Bahkan di beberapa negara seperti di Jepang misalnya, acara minum teh adalah bagian dari sebuah upacara yang sakral dan terhormat. Sementara di tempat lain, di Indonesia misalnya, kegiatan minum teh bersama adalah bagian dari budaya setempat untuk menjalin kebersamaan keluarga, kekerabatan bahkan hubungan bisnis.

Begitu juga di Malaysia, ngeteh atau minum teh juga merupakan bagian dari budaya lokal yang masih dilakukan hingga kini. Minum teh tak hanya terbatas dilakukan pada petang hari namun bisa saja di waktu-waktu tertentu di sepanjang hari. Hampir mirip dengan di Indonesia, di negara yang dihuni oleh berbagai etnis ini –terutama Melayu, Cina dan India– aktivitas minum teh juga menjadi budaya yang mencerminkan kebersamaan masyarakat setempat.

Selangor sebagai bagian dari Malaysia dan menjadi tuan rumah Eat Travel Write ke-6 ini pun memiliki budaya minum teh seperti lazimnya masyarakat di negara bagian lain di Malaysia. Ngeteh telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian sejak jaman nenek moyang mereka. Bagaimana kisah ngeteh ala mereka dan apa saja hal unik serta tempat-tempat menarik di Selangor selama kegiatan berlangsung, akan saya turunkan dalam beberapa tulisan.

Yuk, Ngeteh!

Berbeda dengan pelaksanaan Eat Travel Write (ETW) Selangor International Culinary Adventure sebelumnya yang telah berlangsung selama lima kali. Di kegiatan yang ke-6 kalinya ini ETW untuk pertama kalinya diberi tema, dan “Ngeteh” adalah tema terpilih yang diusung dalam event berskala internasional tahunan ini. Acara ini biasanya melibatkan peserta dari media, blogger, fotografer, serta social media influencers, yang berasal dari Malaysia dan beberapa blogger dari negara sekitar Malaysia seperti Indonesia, Singapura dan Filipina.

Kebetulan kali ini yang hadir selain dari Malaysia adalah seorang blogger dari Filipina, Mas Eka dan Uyung dari MQTV Bandung dan  saya dari Jakarta. Total seluruh peserta kurang lebih 30 orang dan selama 4 hari kami bersama-sama singgah beberapa tempat di Selangor dengan menggunakan bus khusus serta menginap di resort keren yang saya suka banget yaitu di Philea Mines Beach Resort. Mengapa saya suka banget dan dimana letak kerennya hotel resort ini, tunggu tulisan saya berikutnya ya.

Selama empat hari jadwal kami sarat dengan kunjungan ke berbagai tempat unik, menarik dan beragam, dari kafe ke Zoo, dari mall ke kampung, dari pagi hingga malam dan ditutup dengan keseruan bermain air di theme park. Namun  tentu saja sesuai dengan temanya “Ngeteh”, maka tiap sore selama acara berlangsung kami duduk-duduk bersantai menikmati teh di tempat dengan sensasi dan suasana yang berbeda. Dan serunya, ini selalu menjadi bagian yang menarik dan saya tunggu-tunggu setiap harinya.

So, ngeteh di mana kita sore ini?

tbmsk3

Teh Beng Madu Sue Kamilah yang Sensasional

Tarik, Maaang! Itu yang terlintas pertama saat melihat minuman ini dibuat. Untuk teman-teman di Indonesia mungkin sudah tak asing lagi dengan istilah “Tarik, Maaaaang!” yang biasa digunakan sebagai kalimat pembuka lagu dangdut hehehe. Namun kali ini berbeda, istilah ini saya parodikan untuk keseruan di sebuah kedai makan sore itu. Tak ada musik dangdut atau penyanyi yang meliuk-liukkan badannya sesuai irama. Yang ditarik memang bukan suara atau lagu tapi cara unik pembuatan teh tarik yang diberi nama Teh Beng Madu Sue Kamilah.

Nah, sore itu setelah berkunjung dan santap siang di The Garage KL serta bermain-main dengan berbagai hewan di  Farm in The City, kami pun melepas lelah sejenak dengan ngeteh sore di  Kedai Makan Sue Kamilah. Lokasinya di deretan pertokoan yang ada di Seksyen 7 No. 27 Bandar Baru Bangi. Pilihan ngeteh di sini tentu saja beralasan yaitu karena kedai ini memiliki sajian teh tarik yang istimewa yang diberi nama Teh Beng Madu.

Teh ini memang dibuat dengan cara seperti ditarik. Meski kelihatannya pembuatan teh tarik ini mudah, hanya menuang bolak balik teh hingga terlihat seperti ditarik dari satu teko ke teko lainnya, namun kapasitas teko bervolume 4,5 liter itu tentu saja tidak ringan untuk dibolak balik dan pasti butuh tenaga yang kuat. Ketika saya bertanya pada Ibu Sue Kamilah sebagai pemilik kedai, berapa liter Teh Beng Madu yang bisa dijual oleh per harinya, beliau mengatakan tak lagi sempat menghitung saking banyaknya. Kebayang juga dong kekuatan pria yang tiap hari membuat teh tarik ini.

Tapi apapun itu, yang jelas harga RM4 per gelas adalah harga yang pantas untuk teh senikmat ini. Cita rasa yang khas dari madu yang menjadi salah satu bahan dalam campuran membuat taste minuman ini menjadi unik. Rasa yang tertinggal di lidah sesaat setelah teh meluncur di kerongkongan pun menjadi berbeda tak seperti teh tarik lainnya. Ada kelat, gurih susu dan manis madu dalam komposisi yang pas. Tak berlebihan rasanya bila Teh Beng Madu di sini adalah teh tarik yang paling nikmat yang pernah saya nikmati. Yummi!

Itu baru dari sensasi rasa, belum lagi sensasi bentuk dan penampakannya. Lihatlah buih yang membumbung di atas permukaan minuman hingga meleleh ke dinding-dinding gelas saat dituangkan. Begitu sensasional hingga saya begitu betah berlama-lama menyaksikan proses pembuatannya dan hampir-hampir lupa untuk menikmati rasanya. Buih ini akan bertahan hingga dihidangkan, sehingga sensasi lainnya adalah saat buih tersebut menempel di bibir saat kita menghirup teh.

Hmmm, sensasional khan?!

Ngeteh Sambil Mengapung, Why Not?

Jangan dibayangkan minum teh sambil tubuh kita mengapung di udara atau di laut ya karena judul kecil di atas. Karena yang mengapung sesungguhnya hanyalah paviliun tempat kami minum teh sore itu. Paviliun tersebut memang dibangun diatas permukaan danau tempat di mana di tepiannya Philea Mines Beach Resort berada. Di hotel berbintang empat tersebut lah seluruh partisipan menginap selama event Eat Travel Write 6.0 berlangsung.

Sore itu ngeteh menjadi tak sekadar minum teh. Suasana saat itu memang berangin, langit berwarna kelabu dan rinai gerimis pun ikut menemani. Namun justru suasana seperti itu rasanya jadi waktu yang pas sekali untuk duduk-duduk di atas paviliun terapung di atas danau sambil menikmati segelas besar teh tarik panas. Apalagi beberapa gorengan tradisional seperti Pisang Goreng dan Karipap (sejenis kue pastel) ikut menemani acara minum teh sore itu. Perpaduan yang pas sekali buat saya.

Tak hanya itu, kesempatan sore itu juga diisi dengan berkeliling danau dan kegiatan belajar membuat panganan tradisional setempat yang disebut dengan Kuih Ketayap. Panganan khas tradisional Malaysia ini di Indonesia lebih dikenal dengan nama Dadar Gulung. Kue ini biasanya berwarna hijau yang berasal dari warna Daun Suji dan Daun Pandan yang ditambahkan. Sedangkan dadarnya terbuat dari tepung gandum atau tepung terigu yang dicampur dengan santan, susu dan telur lalu diisi dengan unti atau parutan kelapa yang telah dimasak bersama gula merah atau gula aren.

Kegiatan membuat Kuih Ketayap ini mengingatkan masa-masa di mana membuat camilan sore menjelang minum teh adalah kegiatan yang mengasikkan bersama keluarga. Lalu setelah selesai, panganan itu menjadi santapan keluarga dan kami pun duduk bersama menghabisan santapan senikmat menghabiskan sore sambil berbincang. Sekarang kegiatan ini sulit sekali dilakukan bersama keluarga kecil saya, kesibukan dan segala sesuatu yang instan membuat saya jarang bisa ngeteh bersama suami dan anak-anak, apalagi menyiapkannya bersama. Duh… jadi kangen masa-masa itu.

 Ngeteh ala Kampung Sungai Buah

Lain di kedai, lain di hotel, lain pula di kampung. Di hari ketiga Eat Travel Write 6.0 – Selangor International Cullinary Adventure kami menikmati acara minum teh di sebuah kampung di daerah Dengkil Selangor. Kampung ini telah mendapat predikat sebagai kampung terbaik dan terinovatif di Selangor. Kampung Sungai Buah namanya dan terkenal dengan istilah Warisan Minang. Hal ini disebabkan karena asal-usul penduduk di kampung ini yang sebagian besar berasal dari Suku Minang selain suku lainnya yaitu Suku Jawa dan Suku Boyan yang berasal dari Bawean, Jawa Timur.

Budaya dari pendahulu mereka tentu saja turut mewarnai perkembangan peradaban di sini dan terbawa dalam kehidupan mereka sehari-hari. Jadi selama seharian di sana kami berkenalan dengan para sesepuh kampung dan disuguhi pertunjukan budaya yang mencerminkan ketiga etnis yang ada di kampung ini yaitu Melayu, Jawa dan Minang. Anak-anak gadis dan bujang berdandan apik dengan pakaian tradisional ketiga etnis tersebut dan menarikan tarian tradisional diiringi musik dari masing-masing etnis tersebut.

Begitu juga suguhan makan siang, sajiannya disesuaikan dengan makanan ala kampung khas Kg Sg Buah. Dua di antara masakan tersebut didemonstrasikan oleh ibu-ibu penduduk setempat yaitu Sayur Betik dan Rendang Pucuk Ubi, dua makanan khas yang seolah mewakili keberadaan Etnis Jawa dan Minang yang ada di sana. Betik adalah nama lokal untuk Pepaya, jadi Sayur Betik sesungguhnya adalah sejenis sayur pepaya muda yang diserut dan ditumis bersama Ikan Teri dan rajangan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabe rawit dan lain-lain. Rasanya? Enaaaak…gurih, sedikit manis dan pedas. Cocok sekali di lidah saya.

Sedangkan Rendang Pucuk Ubi adalah masakan yang menggunakan Daun Singkong muda sebagai bahan dasar yang dibumbui dengan bumbu Rendang. Konon kabarnya masakan ini menjadi alternatif pengganti rendang daging di jaman lampau kala daging adalah barang yang mahal dan sulit didapat. Tekstur Daun Singkong yang mirip serat daging setelah dimasak dan kuat meski dimasak di suhu tinggi dan waktu yang lama membuat Daun Singkong adalah alternatif yang baik sebagai pengganti daging.

Sore harinya sepulang kunjungan kami ke industri rumahan Keripik Singkong yang juga ada di Kg Sg Buah, kami pun menikmati acara ngeteh petang ala kampong. Sebagaimana khas masyarakat Malaysia, jenis teh yang lazim mereka minum adalah teh tarik. Jadi jangan salah ya, yang mereka sebut teh adalah pasti teh yang disajikan bersama susu atau sejenis teh tarik. Sedangkan teh yang kita biasa sebut di Indonesia, yang tanpa susu, biasa mereka sebut dengan tea O atau teh kosong.

Nah, sebagai penutup kunjungan kami di Kg Sg Buah, maka tak lengkap bila kami tak ngeteh sore itu. Kali ini masih dengan teh tarik dan ditemani dengan berbagai macam gorengan. Ah, mirip dengan kesukaan saya di Indonesia, minum teh ditemani gorengan. Dan salah satu yang sangat favorit buat saya adalah gorengan pisang, apalagi kalau dilengkapi dengan keripik singkong, dan chickpeas goreng tabur curry leave seperti yang saya camil di Kg Sg Buah. Lalu ngobrol deh berlama-lama hingga senja tiba. Hmmm…. Perfecto!

_DSC3800 (2)

Nah, siapa bilang ngeteh ala kampung tak menarik?

Bagaimana dengan ngeteh ala kalian?

Wanna share?

*sambil nunggu tulisan lengkap saya di Eat Travel Write 6.0 – Selangor Intenational Culinary Adventure

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

One comment

  1. sebagai pecinta teh,,,aku sangaat ngiler mebaca dan melihat foto2 nya
    Inayah recently posted…Ketika Anak Milenial Malam Mingguan di Solo Nonton Wayang Orang SriwedariMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge