Friday, August 18, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Sumatra » Lampung » Geliat Pagi di Pelabuhan Nelayan Kota Agung, Tanggamus.
Pelabuhan Nelayan Kota Agung
Pelabuhan Nelayan Kota Agung

Geliat Pagi di Pelabuhan Nelayan Kota Agung, Tanggamus.

Sejenak aku menghentikan langkah dan berdiri di tengah dermaga sambil memandang lurus ke arah lautan luas. Angin pantai menerpa wajahku, mengayun-ayunkan ujung kerudung yang kukenakan. Sementara itu dibelakang punggungku, Gunung Tanggamus kokoh berdiri. Mega membalut sebagian tubuhnya, namun ia tetap gagah berdiri, seolah tak lepas memperhatikan hiruk pikuk kegiatan manusia di kakinya.


Jumat, 31 November 2014 yang redup.
Geliat kehidupan sudah terasa sejak subuh di kediaman Bapak Marhasan Samba, Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran Pariwisata Kabupaten Tanggamus. Bersama dengan teman-teman lain yang jumlahnya hampir 30 orang, rumah beliau yang dijadikan tempat tinggal sementara untuk saya dan rekan-rekan selama tiga hari ke depan ini terasa ramai. Kami yang tergabung dalam Tim Media Sosial (Medsos) akan bersama-sama meliput kegiatan Festival Teluk Semaka ke-7 yang puncak acaranya akan berlangsung pada tanggal 1 November 2014.

Pengetahan Adok atau pemberian gelar adat, Karnaval dan atraksi 1000 Khakot, serta Tanggamus Sparkling Night merupakan acara pokok Festival Teluk Semaka ke-7. Namun di tahun 2014 ini, festival menjadi lebih istimewa karena tambahan kegiatan kunjungan wisata untuk pertama kali. Kegiatan kunjungan wisata yang diberi nama Tour D’ Semaka ini bertujuan untuk memperkenalkan potensi daerah-daerah wisata dan kebudayaan yang ada di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Tak heran bila peserta Tour D’ Semaka berasal dari para penggiat media sosial baik penulis, travel blogger, fotografer maupun wakil dari media lokal yang nantinya diharapkan menjadi jembatan informasi kepada publik.

Dermaga Pelabuhan Nelayan Kota Agung Dengan Latar Belakang Gunung Tanggamus
Dermaga Pelabuhan Nelayan Kota Agung Dengan Latar Belakang Gunung Tanggamus

*****

Sejak semalam tiba di Kota Agung, saya dan beberapa teman telah merencanakan untuk ke dermaga pagi-pagi sekali esok hari. Rencana panitia untuk memberangkatkan peserta Tour D’ Semaka hari pertama ke Lereng Gunung Tanggamus dan Air Terjun Way Lalaan adalah pukul 09.00 WIB. Jadi kami masih punya waktu banyak untuk melihat matahari terbit di pelabuhan.

Sayang sekali saya cuaca pagi itu redup, langit berawan. Saya juga kesiangan sampai di dermaga yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari rumah tinggal peserta Tour D’ Semaka. Tentu saja saya tidak berhasil mengabadikan momen matahari terbit. Namun hal itu tidak membuat saya berkecil hati. Suasana Pelabuhan Nelayan Kota Agung di pagi hari yang unik dan khas, jarang sekali saya rasakan di Jakarta, mampu membuat saya larut dalam suasana dan hiruk pikuk para nelayan dan pedagang.

Dengan kamera berukuran sedang ditenteng di tangan, beberapa kali saya disangka wartawan. Jelas terbaca di wajah mereka bahwa saya menjadi pemandangan aneh bagi para pedagang dan nelayan di sana. Ujung mata saya berulangkali menangkap pandangan mata yang mengikuti langkah saya. Berkostum santai dengan kaos berwarna merah terang, wajah segar habis mandi yang diulas tipis bedak dan lipstick, saya tentu saja terlihat mencolok di antara mereka dan tumpukan ikan, bakul-bakul bambu, gerobak yang hilir mudik serta riuhnya tawar menawar harga.

Namun jangan khawatir. Mereka ramah-ramah sekali. Bila saya minta ijin untuk memotret, pasti mereka mengiyakan sambil tersenyum dan sesekali terlibat pembicaraan pendek. Bila saya mengajak mereka berbincang menanyakan satu dua hal yang ingin saya ketahui, mereka akan antusias menjawab. Saya yang semula canggung karena terpisah dengan teman-teman yang lain, akhirnya merasa nyaman sendirian berkeliling wilayah pelabuhan sampai ke pasar dan tempat pelelangan ikan.

Nadi perekonomian berdenyut di sini
Nadi perekonomian berdenyut di sini

Di tempat tak jauh dari ujung dermaga, tempat kapal-kapal nelayan itu merapat saya sempat asik memperhatikan nelayan membongkar muatan ikan dari kapal. Dengan menggunakan bakul- bakul bambu, mereka bahu membahu memindahkan isi kapal ke daratan. Di atas dermaga, pengepul sudah siap menanti, melakukan tawar menawar lalu mendistribusikan ikan-ikan ini sampai ke kota-kota lain.

Selintas kapal nelayan itu kelihatan kecil, namun ternyata sungguh sarat muatan. Seolah tak habis-habis ikan segar dipindahkan dari kapal ke daratan. Melihat ikan berlimpah ruah, rapi dalam bakul-bakul yang disusun berjajar di sisi dermaga, membuncah rasa kagum pada tanah tempat lahir saya ini. Sehingga terlintas dalam benak saya, harusnya negeri yang dikenal sebagai negara agraris ini, layak pula disebut sebagai negara maritim karena potensi kekayaan lautnya yang luar biasa.

Tidak seperti di pasar-pasar tradisional yang menyediakan banyak jenis ikan. Di tempat ini tak banyak ragam ikan yang saya jumpai, rata-rata didominasi oleh jenis Ikan Tongkol. Hal ini kemungkinan besar karena memang Perairan Teluk Semaka adalah habitat yang cocok dengan ikan jenis ini. Sekilas saya melihat jenis Ikan Kembung yang diikat buluh bambu, namun itu pun jumlahnya sedikit sekali.

Ikan Tongkol Segar
Ikan Tongkol Segar
Tempat Pelelangan Ikan
Tempat Pelelangan Ikan

Penjualan sebagian besar dilakukan dalam partai besar melalui proses lelang. Ikan-ikan berukuran sedang ditempatkan dalam bakul-bakul yang terbuat dari bambu dan dibawa ke tempat pelelangan. Saya tak melihat timbangan di sana. Kesepakatan harga sepertinya tidak diukur berdasarkan berat atau jumlah ikan per bakul, melainkan harga ikan per bakul. Dengan kisaran dua ratus ribuan per bakul -tergantung besar kecilnya ikan- kesepakatan diperoleh layaknya transaksi jual beli di pasar tradisional melalui proses tawar menawar atau lelang.

Selain penjualan dalam jumlah besar, saya juga melihat penjual-penjual ikan dalam jumlah kecil. Ada yang menggelar dagangannya di atas meja, ada pula yang menempatkan dagangannya di dalam ember-ember besar atau sekedar menggunakan tampah bambu dan kantong kresek. Ikan-ikan ini dijual dengan harga per ekor sekitar 800 rupiah.

Hati saya tergelitik menyaksikan beberapa pedagang kecil yang tetap semangat menjemput rezekinya. Didominasi pedagang dari kaum ibu, mereka hanya menjajakan beberapa ekor ikan saja dalam kantong kreseknya atau di atas tampah bambu mereka. Sungguh kontras dengan pemandangan berpuluh-puluh bakul yang ada di sekitar mereka.

“Tetap semangat ya bu, semoga rezekinya terus bertambah dan berkahnya mengalir untuk keluarga.” Ucapku dalam hati 

Menemani ibu berdagang
Menemani ibu berdagang

*****

Matahari beranjak tinggi, dermaga mulai ditinggalkan para pedagang dan nelayan. Jam di tangan sudah menunjukkan jelang pukul tujuh pagi. Perut sudah mulai menunjukkan tanda-tanda ingin sarapan dan teh panas pun sudah mulai menghantui pikiran. Baru terasa bahwa perutku belum terisi apapun selain air mineral sejak bangun tidur. Aku pun memutuskan untuk melangkah pulang menuju rumah tinggal, bergabung bersama peserta Tour D’ Semaka lainnya.

*****

Gunung Tanggamus masih kokoh berdiri, tepat berada lurus di hadapanku. Meski terlihat dekat, langkahku menuju Tanggamus tak akan sampai. Ada rindu yang membuncah di puncaknya. Kubiarkan pikiran terbang sejenak ke Jakarta, dimana sebagian denyut hidupku berada.

Lalu teringat Kahlil Gibran yang mengatakan, “Kamu dapat melupakan orang yang dengannya kamu telah tertawa, tapi takkan pernah dapat kau lupakan, dia yang dengannya kamu telah menangis.”

Ah, aku kangen kalian pagi ini.

Aku dan geliat pagi di Pelabuhan Nelayan Kota Agung
Aku dan geliat pagi di Pelabuhan Nelayan Kota Agung

Dermaga Pelabuhan Nelayan Kota Agung, Lampung
Jumat Barokah, 31 Oktober 2014

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

pulau ketam donna imelda

Pulau Lumpur Nan Unik itu Bernama Pulau Ketam

Deretan rumah panggung yang unik dengan tiang-tiang kayu penyangga serta barisan perahu yang tertambat itu masih ...

23 comments

  1. Duhh..kirain aku doank yg ngerasain mereka ramah2, ya mbak 🙂

    Setelah membaca ini, aku jadi malu dg tulisanku sendiri..hihihi

    ditunggu ceritanya, versi mbak Donna :p

    • donna imelda

      Hahaha, aku barusan juga malu dengan tulisan Halim yang jago banget ngambil angle foto dan tulisannya, Mel. Tapi aku pikir2, setiap dari kita punya keunikan. Belajar dari orang lain namun tetap menjadi diri sendiri itu paling penting. Keep writing, Cantiiiik….

  2. Foto-fotonya tante Donna juga bagus-bagus kok. Nggak kalah sama fotonya Halim, hehehe. Mungkin ikan tongkol satu keranjang itu mesti lebih di-close up tante, biar saya semakin tergoda untuk beli, hehehe.

  3. Aihhh..aku gak dapat fotonya, ikan-ikan berjejer rapi sebelum di lelang itu. Keren banget Mbak Don…

  4. mengabadikan kegiatan lewat foto, jarang2 ya mbak bisa lihat lelang ikan seperti ini

  5. Masing-masing punya sudut pandang cerita berbeda hehehe… suka tulisan ini Tante *ketjup*
    By the way, behind the scene foto terakhir ada di grup FB, lucu juga misal dijejerin hehehe…

  6. Mak Donna jd paling cantik nih….
    Lihat ikan tongkolnya seger-seger jd pingin ulek bumbu…. hehe
    Ikannya banyak begitu apa pas festival sj apa setiap hari mak ?

    • donna imelda

      hehehe, paling cantik karena yang lain ganteng2 ya Mbak Irowati. Kebayang deh ikan2 yang segar itu di tangan Mbak. Yummmiiii pasti. Tiap hari insyaallah begini karena memang fotonya diambil di pelabuhan ikan, mbak.

  7. Artikel ini mengalir dengan indaaah sangaat :))
    Makasi mak. Jadi lebih tambah wawasan

  8. Ikan nya seger2, tulisan nya cakep kok. Aku aja ngak bakal bisa nulis ilmiah dan teratur macam ini 🙂

  9. wah, ikan-ikannya segar-segar mbak

  10. Senangnya dapat wawasan ini. 😀 Aku pernah ke Lampung 2 kali karena ipar nikah, Mbak. Yang aku lihat sebatas semak belukar aja. Pas baca tulisan ini, nyesel deh ga jalan-jalan waktu di sana. 🙁 *jedotin pala*

  11. Jangan bosan datang ke Lampung ya kakak 🙂

  12. aduhhh itu ikan’y seger2 benerrr…. bawa plg 5 kg mak tongkol’y 😀
    aira abdullah recently posted…kebesaran hati umiMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge