Saturday, November 18, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Nusa Tenggara Timur » Hopping Islands at Labuan Bajo: Antara Pink Beach, Padar dan Komodo di Pulau Rinca
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Hopping Islands at Labuan Bajo: Antara Pink Beach, Padar dan Komodo di Pulau Rinca

Terseok-seok sudah kedua kaki ini melangkah, menempuh jalan setapak berkerikil di atas tanah kering saat mentari Flores telah beranjak tinggi. Terik seolah membakar kulit, tenggorokan pun terasa kering, namun tekad untuk terus mendaki masih terpatri kuat di hati. Meski sempat ragu di awal pendakian, namun di titik ini saya tak ingin menyerah hingga puncak Pulau Padar yang menjadi tujuan tercapai.

Suddenly Bajo

Perjalanan saya ke Labuan Bajo sebenarnya terjadi begitu saja setelah meliput Festival Sangiang di Bima, Nusa Tenggara Barat. Meski sempat mengintip beberapa destinasi di Flores namun sampai berangkat saya dan Evi Indrawanto belum memutuskan untuk mampir ke sana. Namun menjelang pulang, kami tergiur oleh ajakan sepasang anak muda, Zoffar dan Yeyen serta Boim untuk meneruskan perjalanan hingga ke Flores, Nusa Tenggara Timur setelah urusan Festival Sangiang dan jalan-jalan kami di Bima selesai.

“Cuma delapan jam berlayar dari Bima ke Flores, Bunda…, nanti kita akan melihat tempat-tempat indah ini”, begitu rayu mereka sambil memperlihatkan sederet gambar indah di di sebuah akun Instagram pada saya dan travelmate saya Evi Indrawanto. Padahal sebenarnya tanpa dirayu pun, mimik wajah kami sudah terlihat berhasrat untuk ikut menjejakkan kaki di Labuan Bajo. Gambar-gambar itu makin menguatkan hasrat kami untuk melanjutkan perjalanan bersama mereka.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan Kota Pelabuhan Labuan Bajo

Saya pun teringat beberapa catatan perjalanannya Mas Danan Wahyu. Beliau yang sudah malang melintang sebagai travel blogger sudah menuliskan banyak sekali catatan perjalanan di blog pribadinya di www.dananwahyu.com. Coba deh blusukan di blognya, pembaca akan banyak sekali menemukan tempat-tempat menarik baik yang diceritakannya tidak hanya dalam bentuk tulisan namun juga dalam bentuk video.

Mas Danan Wahyu tak hanya menulis soal destinasi saja di blognya, tetapi juga rekomendasi hotel hingga tips-tips traveling dan foto-foto menarik di kategori photography. Banyak artikel-artikel yang menarik, salah satu perjalanan beliau yang menarik perhatian saya adalah perjalanan ke Nusa Tenggara Timur. Tak tanggung-tanggung, beliau berkelana dari Kupang, Ruteng, Ende, Maumere hingga Labuan Bajo. Dan saya pun akhirnya menapaki salah satunya yaitu Labuan Bajo.

Traveling dan Teman-Teman Baru

Akhirnya kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo. Keputusan kami tak salah, Labuan Bajo dan gugusan pulau di Taman Nasional Pulau Komodo telah membuat saya jatuh cinta sejak kapal ferry yang membawa kami berlima dari Pelabuhan Sape di Bima mulai masuk ke perairan Flores, Nusa Tenggara Timur. Gugusan pulau-pulau berwarna coklat di Bulan Agustus yang kering, kontras dengan birunya permukaan air laut. Sebuah paduan yang menjadikan pemandangan selama perjalanan begitu cantik dan mewah di mata saya.

Saat itu saya dan teman-teman telah merencanakan untuk mengunjungi beberapa tempat selama di Labuan Bajo termasuk hopping islands menggunakan kapal kayu. Rute yang kami rencanakan untuk hopping islands adalah Pink Beach, mendaki Pulau Padar dan melihat Komodo di Pulau Rinca. Ketiganya berada di gugusan Taman Nasional Komodo yang bisa dilakukan dalam satu hari perjalanan melaut.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saat kami berada di sana 4 Agustus 2015 yang lalu, ombak sedang tinggi. Rencana di awal untuk menggunakan kapal kecil saja untuk berlima akhirnya berubah menggunakan kapal berukuran sedang untuk mengantisipasi kondisi gelombang dan alasan keamanan penumpang. Kapal tersebut tentu saja terlalu besar bagi kami berlima. Lewat upaya pasangan muda paling asik sedunia, Zoffar dan Yeyen, mereka mengajak lagi beberapa orang di sekitar hotel tempat kami menginap untuk hopping island.Dua diantaranya adalah teman baru kami waktu sama-sama menyeberang dari Sape ke Labuan Bajo.

Di luar ekspektasi, kami yang hanya mencari tambahan beberapa orang teman saja akhirnya mendapat banyak teman baru untuk berlayar. Saya yang tadinya hanya berlima bersama Evi Indrawanto, Boim, Yeyen dan Zoffar akhirnya memiliki sembilan teman baru. Total ada empat belas orang dalam kapal yang kami sewa satu hari itu. Empat belas orang yang baru pertama ketemu dan berlayar bersama inilah yang akhirnya membawa kenangan yang paling mengesankan hingga kini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Meski baru pertama kali bertemu, tak ada kesenjangan diantara kami. Dua emak-emak, dua pria muda dan 10 orang anak muda menikmati kebersamaan satu hari penuh dari fajar hingga senja di atas kapal. Obrolan, canda dan polah tak putus-putus membawa kegembiraan. Dari sekedar ngobrol, menikmati musik hingga upacara bendera ala-ala di atas kapal. Itu belum termasuk berbagai gaya foto yang selalu mengundang tawa bersama. Dari gaya andalam yang jaim dan sok manis –itu sih gue–, gaya konyol hingga pre-wedding ala-ala. Saya pastikan, tak ada yang tak bahagia hari itu.

Angkat Sauh Kapten!

Keputusan untuk menggunakan kapal berukuran sedang ternyata sangat tepat. Kapal yang digunakan terasa lebih kokoh menghadapi gelombang dan menghadirkan perasaan aman dibanding kapal yang berukuran kecil. Apalagi pada saat pulang. Di sore hari menjelang malam, ombak mulai terasa lebih tinggi dan lebih keras dibanding saat berangkat. Itu pun sesekali kami masih merasakan hantaman ombak ke dinding kapal hingga memercik ke arah dek kapal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kondisi kapal yang berukuran sedang juga lebih nyaman. Bila pada kapal kecil penumpang akan duduk di bangku yang disusun berjajar menghadap ke satu arah selama perjalanan, maka di kapal berukuran sedang tak ada bangku-bangku yang berjajar. Ruang penumpang didesain berbentuk sekat-sekat seperti kubikel berukuran kurang lebih 2,5 x 2,5 meter dengan pembatas yang tingginya hanya sekitar 50 cm saja. Penumpang bisa duduk lesehan bahkan rebahan di kubikel beralaskan kasur busa yang dilengkapi dengan bantal untuk bersantai.

Sekat yang rendah memungkinkan keakraban antar penumpang tetap terjalin dan mata pun tetap bebas memandang ke segala arah. Setiap ruang dialasi kasur busa berukuran sedang dan dilengkapi dengan bantal untuk bersantai. Memang tidak mewah namun sangat nyaman. Saya juga dengan bisa dengan santai menikmati perjalanan sambil berbincang dengan teman-teman, membaca, menulis bahkan sambil mengkhayal indah hingga jatuh tertidur.

Kami memulai pelayaran sepagi mungkin agar tidak kemalaman saat kembali nanti. Pukul setengah lima pagi kami sudah bergerak menuju dermaga. Letaknya tak jauh dari hotel yang kami tempati sehingga kami hanya perlu berjalan kaki beberapa menit saja ke sana. Bulan masih tampak di langit Labuan Bajo kala itu, namun mentari sudah menyembul dari balik bukit, membuat langit Bajo bagai disoroti dua sumber cahaya.

Di haluan sudah tersedia minuman hangat yang disediakan anak buah kapal (ABK), tinggal memilih apakah lebih menyukai kopi atau teh seperti pilihan saya. Dan ternyata, minum teh di ujung haluan di bawah langit yang masih temaram itu menghadirkan rasa tenteram sampai ke jiwa. Apalagi sambil ditemani sinar mentari yang perlahan makin terang dan hangat. Pelayaran pun dimulai dengan suasana hati yang sangat menyenangkan.

Pink Beach dan Merah Muda yang Menawan

Pukul lima kapal pun mulai bergerak meninggalkan pelabuhan menuju tempat yang akan pertama kali kami kunjungi yaitu Pink Beach. Perlu waktu sekitar 2,5 jam untuk berlayar menuju pantai yang konon pasirnya berwarna semu merah muda. Selama perjalanan saya menikmati biru yang sangat mewah. Warna langitnya, permukaan air lautnya, benar-benar biru yang sempurna.

Angin laut menderu-deru di telinga saya. Kadang bagai membawa pesan, sesekali meniupkan kenangan, lalu hadirkan angan, rindu dan harapan. Bukit-bukit yang rumputnya meranggas kecoklatan terlihat cantik dan eksotis di tengah lautan membiru. Sesekali saya menebak-nebak bentuknya, ada yang seperti gunung, ada yang seperti Kura-Kura bahkan ada yang seperti Komodo di mata saya. Inilah yang saya sebut dengan eksotisme Nusa Tenggara.

Mendekati Pantai Merah Muda atau Pink Beach, kapal mulai melaju perlahan mendekati perairan yang lebih dangkal. Di sini baru terlihat bahwa airnya ternyata bening sekali sehingga saya bisa melihat dasar lautnya dengan jelas dari atas kapal. Terlihat beberapa wisatawan asik snorkeling di sekitar pantai. Dari kejauhan pesisir pantainya terlihat bersemu merah muda, tak terlalu nyata warnanya di kamera saat saya mencoba mengambil beberapa gambar.

Untuk bisa menjejakkan kaki di pantai, kami harus dibantu dengan perahu kecil yang standby di pantai dengan membayar ongkos sepuluh ribu rupiah bolak-balik. Namun bila yang suka langsung berenang, sangat memungkinkan untuk mencapai bibir pantai dengan berenang saja. Aktivitas di Pink Beach yang utama tentu saja berenang dan dan melihat keindahan bawah lautnya. Namun bagi yang menyukai pemandangan dari ketinggian, bisa mendaki bukit di sisi pantai dan mengambil beberapa gambar di sana.

Pulau Padar dan Lelah yang Terbayarkan

Ada tiga pulau terbesar di gugusan Taman Nasional Komodo yaitu Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Padar. Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang secara administratif terletak di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Keberadaannya dalam wilayah Taman Nasional Komodo menjadikan Pulau Padar juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia dari UNESCO.

Namun berbeda dengan dua pulau terbesar lainnya, Pulau Padar ini tidak dihuni oleh Komodo. Pejalan yang datang ke sini rela berlelah-lelah mendaki untuk menikmati pemandangan yang sangat cantik di puncaknya. Namun untuk mendapatkan itu sungguh sebuah tantangan besar buat saya yang sejak awal sudah bertekad ikut naik ke puncak. Tekad yang kuat sempat tergerus curamnya setapak di cuaca yang kering dan panas yang membakar. Ah, harusnya kami mendaki lebih pagi.

Agustus adalah puncak musim kering di Flores, vegetasi pulau yang lebih mirip bukit ini hanya berupa savana nyaris tanpa pepohonan. Selama pendakian tak satu pohon yang kami temukan, hanya rumput yang meranggas di antara setapak berkerikil dan berpasir. Sungguh perjalanan 30 menit mendaki yang penuh perjuangan. Jangankan pepohonan untuk berteduh, bahan rerumputan pun tak ada yang bisa dijadikan pegangan.

Terseok-seok sudah kedua kaki ini melangkah sejak pertama pendakian, menempuh jalan setapak berkerikil di atas tanah kering saat mentari Flores telah beranjak tinggi. Namun suguhan pemandangan nan cantik sejak beberapa meter di ketinggian pertama membuat saya bertekad, harus sampai ke puncak. Di titik ini saya melihat kecantikan lengkungan garis pantai yang permukaannya membiru di antara dua bukit. Di atas sana pasti pemandangannya lebih cantik.

Terik seolah membakar kulit, tenggorokan pun terasa kering, namun tekad untuk terus mendaki masih terpatri kuat di hati. Meski sempat ragu di awal pendakian, namun di titik ini saya tak ingin menyerah hingga puncak Pulau Padar yang menjadi tujuan tercapai. Sesekali saya berhenti untuk mengatur nafas, namun itu pun tak bisa berlama-lama. Makin lama berhenti maka akan makin lama sampai, yang berarti makin lama pula terpapar panas.

Upaya saya tak sia-sia, di atas sana terbentang pemandangan alam yang kecantikannya baru pertama kali saya lihat dan hingga kini masih melekat begitu erat. Di hadapan mata saya, punggung-punggung bukit menjulur ke arah laut, bagai jemari alam yang lentik menghimpun lautan. Sejenak saya lupa akan panas yang menerpa, saya terpukau, diam tanpa kata memandang penuh suka cita. Manusia begitu kecil ketika dihadapkan pada ciptaan-Nya dan tak ada karya seindah karya-Nya.

Entah berapa puluh gambar yang saya ambil di sini, seolah tak ingin melewatkan satu sudut pun saat itu. Lengkungan demi lengkungan garis pantai begitu indah terhampar. Seluruh indra saya seolah bekerja, menatap biru yang membius dan merasakan hembusan angin di kulit yang berpeluh, sambil menghela haus dengan berteguk-teguk air melewati kerongkongan. Bahkan debur ombak di bawah sana seolah sayup terdengar dan aroma lautnya pun tebawa angin hingga ke hidung. Lelah yang sungguh terbayarkan.

Komodo di Loh Buaya – Pulau Rinca

Prioritas kami untuk mendatangi Pulau Padar membuat kami harus memilh Pulau Rinca untuk meilhat Komodo. Letak Pulau Rinca memang relatif lebih dekat dari Pulau Padar sehingga kami memilih untuk melihat Komodo di Loh Buaya di Pulau Rinca saja agar tidak kemalaman kembali ke Labuan Bajo.

Sebagai kawasan yang dilindungi ada beberapa aturan yang harus kita patuhi di tempat ini. Dari pertama kali kaki menjejak di Loh Buaya, kita sudah di sambut dengan beberapa simbol larangan di gapura masuknya. Seperti larangan berburu satwa, menyalakan api, menebang pohon serta memberi makanan pada binatang. Dan yang jelas untuk memasuki wilayah ini, pengunjung harus mendapat ijin dari pengelola.

Ada dua jalur trekking untuk mengelilingi pulau ini yang disebut dengan jalur pendek dan jalur panjang. Setelah melapor dan membayar admission fee di kantor pengelola, rombongan akan ditemani oleh ranger yang fungsinya tak hanya sebagai guide tapi juga sebagai orang yang akan melindungi, menjaga dan mengawasi pengunjung. Setiap 5 orang akan dipandu oleh satu orang ranger.

Medannya tak sulit, namun perlu kehati-hatian yang ekstra mengingat bagaimanapun Komodo adalah binatang buas yang berbahaya. Pulau ini sudah dikelola dengan baik, ada beberapa pondokan yang berfungsi sebagai kantor dan tempat beristirahat atau menginap. Beberapa rute pejalan pun sudah dibuatkan jalur trekking menggunakan beton. Namun pengunjung hanya diperbolehkan berada di wilayah tertentu dan tetap harus didampingi ranger.

Konon kabarnya, ukuran Komodo yang ada di Loh Buaya ini masih kalah besar dibanding yang ada di Pulau Komodo yang bisa mencapai 3-4 meter. Tapi buat saya, yang sebesar di sini saja sudah membuat ngeri dan berdecak kagum. Bisa melihatnya saja sudah satu hal yang disyukuri, mengingat bisa saja Komodo tersebut bersembunyi dan tak menampakkan diri ketika kita berada di sana. Seperti dua ekor Komodo yang tidak saya sadari keberadaannya ini, bila tidak diberitahu oleh ranger saya tak melihatnya.

Saat Komodo ini diam, seolah ia adalah binatang yang lambat dan malas. Tapi ternyata perkiraan saya salah. Ketika bergerak terutama bila sedang mengejar mangsa, Komodo ini bisa bergerak sangat cepat dan menyergap. Itulah mengapa, ranger selalu mengingatkan untuk menjaga jarak, bahkan serta merta mengajak kami segera pergi karena saat itu salah satu Komodo yang sedang kami lihat tiba-tiba bergerak maju ke arah kami.

Salah satu turis asing sempat membuat saya geram, pada saat kami mulai bergegas menjauh dari Komodo yang bergerak itu, sang turis masih saja bergeming seolah menunggu apa yang akan terjadi. Perilaku pejalan seperti inilah yang sering saya sayangkan, tak mengindahkan larangan atau himbauan, padahal bila terjadi sesuatu akan menimbulkan masalah dan kerepotan berbagai pihak.

Tak seperti yang saya duga, meski buas, Komodo tidak membunuh mangsanya dengan mencabik-cabik dan atau langsung memangsanya, namun terlebih dahulu membunuh dengan menggigit dan menyebarkan racun yang ada pada air liurnya. Lalu setelah mangsanya terinfeksi dan kemudian mati barulah Komodo tersebut memangsa buruannya.

Komodo juga hewan dengan seleksi alam yang sangat ketat. Masa kehamilannya juga pendek, hanya selama 30 hari saja. Biasanya sekitar pertengahan Agustus Komodo betina akan melahirkan telur-telurnya. Dalam sekali bertelur, Komodo akan menghasilkan sekitar 15-30 butir telur yang akan terus dijaganya hingga selama kurang lebih 4 bulan atau sampai Bulan Desember. Namun untuk menetasnya, telur-telur ini membutuhkan waktu hingga sembilan bulan lamanya.

Pada bulan November biasanya akan mulai turun hujan sehingga memadatkan tanah tempat Komodo menyimpan telurnya, membuat sarang ini kemudian akan tertutup rumput-rumput yang tumbuh di atasnya dan melindungi telur-telur di dalam lubang. Dan saat itulah induknya akan pergi meninggalkan sarang dan membiarkan telur-telurnya menetas sendiri. Telur-telur ini tidak menetas bersamaan, ada yang akhir Bulan Maret, April bahkan sampai awal Bulan Mei.

Untuk bertelur Komodo akan menggunakan sarang berupa gundukan yang di dalamnya terdapat beberapa lubang-lubang. Lubang-lubang tersebut dibuat oleh induk Komodo namun gundukan sarangnya sebenarnya dibuat oleh Burung Gosong atau sejenis Burung Maleo untuk bertelur. Membuatnya bisa sampai 5-7 tahun lho. Biasanya Komodo memangsa telur-terlu burung tersebut dan mengambil alih sarangnya.

Lubang yang digunakan untuk menyimpan telur-telurnya hanyalah satu, sedangkan lubang-lubang yang lain berfungsi untuk mengelabui predator-predator seperti Babi Hutan, Monyet atau Komodo yang lebih besar agar tidak memangsa telurnya. Jumlah yang menetas sangat tergantung pada alam dan serangan predator. Setelah menetas pun, bayi-bayi Komodo tidak dilindungi oleh induknya, mereka harus survive sendiri. Bahkan induk Komodo tidak mengenal anaknya sendiri sehingga bisa terjadi kanibalisme. Namun uniknya, satu mama Komodo nanti akan tetap bertelur kembali ke sarangnya yang lama.

Mekanisme ini sebenarnya adalah mekanisme alamiah Komodo untuk mengontrol populasinya. Terbayang bila seluruh telur-telur itu menetas, dalam satu tahun bisa penuh Pulau Rinca dengan Komodo. Sedemikian ketat seleksi alam pada Komodo, bahkan bisa dalam satu sarang tak ada satu pun bayi Komodo yang bertahan. Secara populasi lebih banyak komodo betina daripada Komodo jantan dengan perbandingan 1:3. Jadi biarkanlah alam mengatur keberadaan mereka, bersyukurlah bahwa binatang purba ini ada di Indonesia.

Damn, I love Indonesia

Matahari sudah tergelincir ke arah Barat saat kami akhirnya harus meninggalkan Loh Buaya kembali ke Labuan Bajo. Langit yang terang perlahan temaram hingga kemudian benar-benar gelap. Hanya lampu-lampu kapal yang menjadi penerang. Saya melepas semua penat sambil menikmati dalam-dalam penguhujung hari itu dari haluan kapal. Segelas teh panas di tangan, senja merah hitam menaungi rasa, terimakasih Tuhan telah menjadikan Indonesia sebagai negeriku.

Damn… I love Indonesia.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

42 comments

  1. air lautnya jernih sekali! dan bisa bertemu dengan komodo asli memang seru ya. 😀
    Agung Rangga recently posted…Magang di Penerbit MizanMy Profile

  2. Noted..harus kesampaian di tahun 2016 ini 😀
    Diarysivika recently posted…Food Junction, Tempat Nongkrong dan Kuliner di SurabayaMy Profile

  3. ini sih racun banget nih… kalau liat foto jalan-jalan pengennya langsung kesana pakai pintu doraemon
    Mariana recently posted…Lakukan 5 Hal Ini untuk Lawan DiabetesMy Profile

  4. lihat foto-foto keren
    jadi pengin berkunjung
    smoga langkah ini diringankan amin
    salam sehat mbak Dona

  5. Indah sekali, Masya Allah.
    Saya pernah ke Labuhan Bajo tapi cuman numpang mampir bandara doank, blm menjelajah. Moga suatu hari nanti bisa ksana lagi aamiin 😀
    Aprillia Ekasari recently posted…Cara Membuat Blog Naik ke Level yang Lebih TinggiMy Profile

  6. Namanya memang kebule bulean…tapi..aseli Indonesia banget dan cuantik. Sayang jauh dari pulau jawa
    inayah recently posted…Kalau Harus Liburan Di rumahMy Profile

  7. Ya Allah cantiknya NTT, Labuan Bajo, insyaa Allah mau kesana juga
    evrinasp recently posted…Rumah Dinas Peninggalan Belanda Nomor 12AMy Profile

  8. Duluuu aku ke Padar untung pas pagi … itupun juga udah mulai panas hahaha!
    Emang ndakinya bikin lelahhhh, tp stlh di atasss … AMAZING!
    Timothy W Pawiro recently posted…Working at the corner of Warkop ModjokMy Profile

  9. Saat di Komodo, saya jadi paham bahwa tak cukup hanya sekali kunjungan untuk menuntaskan segala yang ada di sekitarnya. Saya bermalam di kampungnya 5 hari 4 malam, keterbatasan dana membuat saya harus menahan erat niat keliling pulau2 sekitar Komodo. Mungkin kelak akan dikhususkan waktu benar-benar untuk piknik hehe 😀

    Foto-fotonya segeerrr 🙂
    Rifqy Faiza Rahman recently posted…Perjalanan: Ekspektasi dan RealitaMy Profile

  10. Subhanallah alam Indonesia begitu indahnya, saya belum pernah ke sini Mba. Beruntung banget Mba Donna sudah ke sini 😀
    Keren pokoknya. Itu Komodo mirip Dinosaurus serem hahaha
    Ani Berta recently posted…Menikmati Panorama Kuala Lumpur Dan SekitarnyaMy Profile

  11. Wow.. indahnya Labuan Bajo & gugusan kepulauan sekitar Taman Nasional Komodo ya,
    tempat itu jadi salah satu tujuan impian saya mba kalau ke Indonesia Timur. Hebat euy sudah ketemu terus selfie bareng Si Komo 😀
    doakan saya bisa nyusul kesana yah..
    Percha recently posted…Saya Dan Transportasi PublikMy Profile

  12. Cantiknya kebangetan. Itu air laut bening dan biru banget. Belum lagi pemandangannya. Aaaa, ya Allah.

  13. Ini cantiknya pake banget. Lautnya bening dan biru. Aaa ya Allah.

    Benar benar pengalaman berharga banget visa jelajah Indonesia

  14. donna imelda

    Iya, alhamdulillah, Oka
    donna imelda recently posted…Serba-Serbi Memilih PakaianMy Profile

  15. wah banyak banget tempat2 menariknya … amazing
    my dream destination …. landscape alamnya menakjubkan dan … komodo-nya .. kerennn

  16. Subhanallah, mba kemarin begitu sampai di puncak di Pulau Padar apa nggak nangis? Saya ngebaca dan ngeliat fotonya hati ini…duh indah buangeeet mba. Meskipun nggak ada rumput sekalipun yang dijadikan pegangan. Kalo pemandangan bak lukisan terindah ini hasil akhirnya. Oke oke ajaaa 🙂

  17. Kalau langsung ke Labuan Bajo untuk carter kapal, kemungkinan dapat besar kan? Mau booking online harga bule semua ?
    KetimpringanDotCom recently posted…Liburan Bareng Keluarga di Batu MalangMy Profile

  18. Babang cuma bisa ngiler liat jernihnya laut dan pemandangan laut dari atas bukit yang banyak banget di nemu instagram ?

  19. Pantai,Laut dan Pulau nya bikin mupeng tante donna. *Hanya Sebuah Mimpi Kalau Kemari ?

  20. Ah pulau,laut dan pantai nya kece banget nih tante.. Hanya sebuah mimpi kalau ingin ke sini.. 🙁

  21. Gak ada tempat di Indonesia yang paling ingin aku kunjungi belakangan ini selain pulau ini. Bismillah, semesta semoga mendukung 🙂
    Haryadi Yansyah | Omnduut.com recently posted…Sensasi Menginap di Kettuvallam Sembari Menyusuri Sungai Pampa di IndiaMy Profile

  22. Oh cantiknya~ Ini perjalanan one package yang tak terlupakan ya~!
    Dee – @HEYDEERAHMA recently posted…Kenali Manfaat Kafein yang Terkandung di dalam Secangkir KopiMy Profile

  23. Tempatnya tampak alami sekali, belum tersentuk pembangunan modern.
    Itu kapal tidak bisa bersandar ditepi pantai ya ? harus sewa atau berenang. Aduh serem sekali kalau buatku.

  24. Labuan Bajo. destinasi yang sanat berkesan. aku belum sempet ke Padar nih. ayok kapan2 ke sana bareng IDcorners

  25. Keren pake bangeeet! Foto2nya bikin mupeng. Perlu diagendain ke Labuan Bajo nih. ?
    Lathifah Edib recently posted…Mengintip Pesona Pulau Pahawang Bersama Blogger CihuyMy Profile

  26. Keren pake bangeeet! Foto2nya bikin mupeng. Perlu diagendain ke Labuan Bajo nih. Nabung ayo nabung. ?
    Lathifah Edib recently posted…Mengintip Pesona Pulau Pahawang Bersama Blogger CihuyMy Profile

  27. wah komodo memang memiliki daya tarik yang sayang untuk dilewatkan.. destinasi wajib inihh
    mydaypack recently posted…Spot Foto Unik Ini Hanya Ada di Taman Prasejarah Leang-LeangMy Profile

  28. Ngiler pingin ke labuan bajo, sayangnya tiket pesawat kalimantan-labuan bajo harganya lebih mahal dari budget tripnya nya belum lagi waktu transitnya yg lama…wow…

  29. Cantik banget yah Mbak pemandangannya. Bener-bener bikin makin kepengen ke sana. Kangen sama air biru dan langit bersih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge