Wednesday, October 18, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Banten » Jumpa Lagi … #Catatan Perjalanan Baduy 2013 #Part1
Nio...Stasiun Tanah Abang 24 Mei 2013
Nio...Stasiun Tanah Abang 24 Mei 2013

Jumpa Lagi … #Catatan Perjalanan Baduy 2013 #Part1

Jumat, 24 Mei 2013, pukul dua siang waktu Indonesia bagian Cimanggis,
aku menyapu pandangan sekitarku memastikan semua sudah dipersiapkan dengan baik, bukan hanya barang-barang yang harus aku bawa ke Baduy namun juga memastikan rumah yang akan ditinggalkan selama tiga hari ke depan dalam keadaan bersih dan rapi. Dua gadis kecilku sudah duduk manis didalam mobil, meski mereka tidak dapat melewatkan akhir pekan dengan bundanya, namun kami sepakat mereka harus tetap menikmati libur dengan berkumpul bersama-sama saudara-saudaranya. Ku lirik jarum jam ditangan kiriku, sepuluh menit berlalu dan aku segera bergegas ke mobil berangkat menuju Stasiun Kereta Universitas Indonesia agar bisa menepati janjiku pada seorang teman lama yang kupanggil Nio untuk bertemu di Stasiun Tanah Abang pukul 15.30 WIB.

Dalam tempo hanya sekitar 40 menit, kereta Commuterline yang dilengkapi dengan pendingin udara dan jok empuk bertarif 8.000 rupiah telah membawaku dari Depok ke Jakarta, perjalanan yang singkat tanpa macet itulah yang membuatku lebih memilih transportasi jenis ini di Jakarta dibanding jenis lain misal bus kota atau Transjakarta sekalipun. Nio belum tiba di tempat yang kami janjikan, karena aku memang tiba setengah jam lebih awal dari waktu yang kami janjikan.

Perjalanan ke Baduy rencananya baru akan dilakukan esok pagi-pagi sekali bersama rombongan anak-anak Rumah Dunia di Serang yang mengadakan kegiatan “Writing Camp”, namun karena kami tinggal di Jakarta, terlalu riskan rasanya bila harus berangkat dari Jakarta di hari yang sama sehingga kami memutuskan berangkat satu hari sebelumnya menuju Serang menggunakan kereta Kalimaya Express rute Stasiun Tanah Abang – Merak. Nio dengan langkah gemulai nya yang khas terlihat di peron stasiun melambai-lambaikan tangannya ke arahku sekitar tiga puluh menit setelah aku sampai, sesuai dengan janji kami bertemu pukul 15.30.

Anak muda ganteng ini terlihat lebih santai dibanding pertemuan kami terakhir menjelajah Banten. Tubuhnya masih tinggi besar dengan sisiran rambut klimis, yang membedakannya kali ini adalah ransel besar yang dahulu ia bawa digantikan dengan tas jinjing. Aku sempat ketawa terbahak-bahak menggoda Nio dengan bawaannya itu, apalagi saat Nio memamerkan selimut bulu yang menyembul dari tas jinjingnya yang tak berpenutup itu.

“Loe mau masuk hutan apa mau masuk hotel sih, nio?” Selorohku.

Dan seperti biasa, Nio pasti punya jawaban yang gak kalah kocak. Bahkan sambil menunggu kereta masuk Nio tak berhenti berceloteh, ada aja orang yang diajak ngobrol disekitar kami, dari ibu dokter, penglaju sampai pedagang. Aku sampai khawatir kalau kami lebih lama disini bisa-bisa seluruh pengunjung di stasiun ini akan dia “wawancara’. Beruntung kereta beroperasi tepat waktu, hanya dengan membayar harga tiket sebesar 20.000 rupiah kereta pun mulai bergerak pada pukul 16. 25 WIB membawa kami menuju Serang dengan waktu tempuh sekitar dua jam.

Tentu saja perjalanan dari pukul 16.25 – 18. 35 WIB didalam kereta bersama Nio takkan terasa lama, Nio seorang travelmate yang menyenangkan, sedikit ngerepotin kalo sudah narsis minta di ambil gambarnya lewat kamera. Banyak yang bisa kami obrolkan, termasuk larut dengan kebiasaan Nio menyapa siapa pun orang yang ada didekatnya untuk lagi-lagi di “wawancara’. Kali ini yang jadi korban adalah Pak Ahmad, seorang pekerja di Jakarta yang berdomisili di Rangkas Bitung. Seperti gelas yang ketemu tutupnya, Nio dan Pak Ahmad asyik ngobrol dari Aminah sampai Zuleha, dari mitos Suku Baduy sampai Tragedi Bintaro tiada henti hingga Pak Ahmad turun di Rangkas Bitung.

Obrolan kemudian berlanjut hanya kami berdua, kali ini hanya bicara tentang kegiatan Nio di organisasi yang concern terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS), kesibukannya sebagai konseler serta proyek buku, edukasi dan konseling tentang AIDS yang dirasakan Nio semakin mendesak. 45 menit terakhir dari Rangkas Bitung menuju Serang menjadi sesuatu yang berbeda saat Nio menceritakan kegelisahannya tentang bahaya Narkoba dan Sex Bebas, kematian satu persatu orang-orang di sekitarnya karena HIV/AIDS, dan pengalaman pribadinya sebagai ODHA . Dukung penuh cita-citamu, Nio. Banyak anak-anak muda diluaran sana yang harus diselamatkan masa depannya. Doaku semoga kesehatanmu selalu terjaga dan punya waktu banyak agar bisa menyentuh sebanyak mungkin hidup orang lain.

Jumat, 24 Mei 2013, pukul setengah tujuh malam waktu Indonesia Bagian Serang,
Kalimaya Express memasuki Stasiun Serang, langit kota ini sudah gelap, mentari digantikan oleh bulan, bulat penuh bersinar cantik sekali di atas Stasiun Serang. Oh Tuhan…, I love my life, duhai Gusti terimakasih untuk kehidupan yang diberikan pada kami.

Teringat salah satu mention di linimasa ku dari Noe….”terbayang betapa indahnya bulan yang bulat penuh itu esok malam, diatas langit Tanah Baduy.

Yeaaaaayyyy…. we arrived.
Hamdulillah……

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

One comment

  1. Hahaha… nio si gemulai berwajah ganteng dan narsis. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge