Friday, June 23, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jawa » Jawa Barat » Kampoeng Wisata Rumah Joglo dan D’ Jampang – Selisik Wisata Bogor Barat Part 2
Rumah Joglo Ciampea Donna Imelda

Kampoeng Wisata Rumah Joglo dan D’ Jampang – Selisik Wisata Bogor Barat Part 2

Bisnis yang berpihak pada kelestarian adat budaya, pemberdayaan masyarakat lokal dan edukasi menjadi kunci yang membuat saya jatuh hati pada dua tempat ini. Masih dalam rangka Fam Trip bersama Disbudpar Kabupaten Bogor, saya menemukan mutiara dalam pariwisata di Bogor Barat di Kampoeng Wisata Rumah Joglo dan D’ Jampang.

  • Kampoeng Wisata Rumah Joglo

Kesan hijau, asri dan tenang langsung tertangkap oleh saya ketika memasuki tempat ini. Aneka pepohonan berbagai jenis berbaris rapi  di seluruh penjuru. Sebuah gerobak kayu dan sepasang becak di halaman rumput nan terawat terlihat mengapit sebuah cafe berbentuk rumah adat. Keberadaan benda-benda ini bagai sebuah salam perkenalan dari sebuah kampung yang mengusung nuansa pedesaan di Jawa Tengah lengkap dengan rumah adat tradisionalnya dan segala pernak-pernik yang didominasi bahan dari kayu.

Kesan itu semakin menguat ketika saya dan rombongan Fam Trip masuk lebih jauh ke tempat yang diberi Kampoeng Wisata Rumah Joglo ini. Melalui jalan setapak berundak dilapisi batu alam pengunjung akan menjumpai sebuah taman kecil nan asri yang menjadi taman selamat datang. Di sana terdapat sebuah papan petunjuk yang memperlihatkan arah ke tempat-tempat dan fasilitas yang ada di Rumah Joglo.

Saat itu saya memilih untuk berjalan mengikuti jalan setapak yang berada di sisi sebelah kanan papan petunjuk arah. Barisan bangunan-bangunan mungil dari kayu yang saling berhadapan menarik perhatian saya. Semuanya berbentuk Joglo dan mengapit jalan setapak yang saya lalui. Bangunan-bangunan ini ternyata adalah kamar-kamar untuk para tamu yang menginap di Kampoeng Wisata Rumah Joglo. Ukurannya tidak terlalu luas, sekitar 9 meter persegi dan dilengkapi dua buah kasur setiap kamarnya.

Total ada enam buah kamar yang terdiri dari tiga  kamar setiap barisnya. Masing-masing kamar di beri nama tokoh-tokoh pewayangan seperti Anila, Anggada, Jembawan dll. Namun di area yang menempati lahan seluas 2,5 hektar ini juga tersedia ruangan-ruangan untuk kapasitas tamu yang lebih banyak. Jadi selain bangunan yang berukuran kecil dengan kapasitas untuk dua orang dengan kamar mandi di luar, terdapat juga bangunan yang berukuran besar untuk rombongan berkapasitas hingga 50 orang dengan fasilitas kamar mandi di dalam.

Bagi yang suka berkemah, Kampoeng Wisata Rumah Joglo juga menyediakan area camping ground lengkap dengan area untuk api unggun dan MCK. Pengunjung atau tamu yang akan menginap tak perlu repot membawa tenda karena pengelola sudah menyediakan dua jenis tenda di sana. Para tamu bisa memilih akan menggunakan Tenda Doom berkapasitas 5 orang, atau sekaligus menggunakan Tenda Pleton berkapasitas 50 orang.

Suasana asri dan hijau yang telah memikat sejak pertama saya menginjakkan kaki di sini semakin berkesan saat mendengarkan penuturan Dedi Hernawan, Manajer Operasional Kampoeng Wisata Rumah Joglo. Tempat yang didirikan pada tahun 2012 oleh sepasang suami istri ini awalnya adalah sebuah resort dengan cottage-cottage berkapasitas 120 hinggan 150 orang. Di buat dengan konsep budaya dan adat Jawa sesuai dengan pemiliknya yang berasal dari Tanah Jawa. Namun karena darah Sunda yang mengalir di tubuh sang istri berasal dari Majalengka, maka didirikanlah Rumah Joglo di Tanah Pasundan, tepatnya di daerah Ciampea –Bogor Barat.

Pasangan suami istri ini tak hanya mendirikan Rumah Joglo sebagai lahan bisnis semata namun juga memadukannya dengan unsur budaya tardisional, edukasi dan rekreasi.  Kearifan lokal dan budaya setempat diadaptasi dalam berbagai kegiatan seperti workshop melukis, membatik, membuat wayang golek dan menari. Pemberdayaan masyarakat pun ditingkatkan dengan melibatkan masyarakat lokal, baik sebagai pekerja maupun sebagai mitra. Baik dalam ruang lingkup internal Rumah Joglo maupun pada event-event tertentu. Sungguh sebuah sebuah harmonisasi yang mempererat dua buah kultur yang berbeda.

Untuk itulah Rumah Joglo yang peduli dengan pariwisata, edukasi dan budaya melengkapi Kampoeng Wisata Rumah Joglo ini dengan fasilitas lengkap seperti restaurant dan cafe, sarana outbound, kolam renang, kolam pancing, camping ground, ballroom, resort, area paint ball bahkan olahraga rafting. Dalam kegiatan-kegiatannya, Rumah Joglo juga memberdayakan sekitar 40 UKM lokal di sekitar Desa Tegal Waru, Kecamatan Ciampea dan memiliki pekerja dengan jumlah masyarakat lokal mencapai 65%.

Soal harga saya pikir sangat terjangkau. Untuk kamar standar kapasitas dua orang bertarif 300 ribu per malam sudah termasuk sarapan, kamar mandi di luar. Sedangkan yang berkapasitas 4 orang seharga 500 ribu per malam dengan kamar mandi di dalam dan air panas. Nah kalau mau ambil paket outbound, bisa memilih paket dari harga 85.000 sampai dengan 200.000 tergantung kelompok usia dan jenis permainan. Harga ini sudah termasuk makan siang dan instruktur untuk outbound dengan jumlah minimal peserta sebanyak 50 orang.

Kalau mau nginep reramean juga seru lho, untuk barak per orangnya dikenakan tarif 130.000 per malam sudah termasuk sarapan. Murah khan! Bahkan bila memesan barak untuk kapasitas 25 orang hanya dikenakan tarif 2,5 juta saja. Untuk 50 orang dan 40 orang hanya perlu merogoh kantong sebesar 4,5 juta dan 3,5 juta. Berarti per orangnya dikenakan tarif kurang dari 100 ribu rupiah.  Dan itu sudah termasuk sarapan. Wow! Yuk ah kita reramean menginap di Kampoeng Wisata Rumah Joglo.

Informasi lengkap dan harga terkini bisa hubungi

Kampoeng Wisata Rumah Joglo

Jalan Situ Hayang No. 1B Kampung Tegal Waru Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor.

Email: kampoengwisatarumahjoglo@gmail.com

Telepon: 0251-8620698

Rumah Joglo Ciampea Donna Imelda

*****

  • Kampung Wisata D’ Jampang

Tak sulit menemukan tempat ini karena gerbang masuknya berada persis di tepi Jalan Raya Parung, Bogor bersebelahan dengan Zona Madina milik Dompet Dhuafa. Kebetulan Kampoeng Wisata D’ Jampang memang merupakan sebuah kawasan pemberdayaan desa terpadu di bawah binaan Yayasan Dompet Dhuafa. Awalnya saya pikir hanya akan mengunjungi sebuah kampung wisata yang luasnya beberapa hektar saja. Sungguh saya tak mengira bahwa tempat ini ternyata luasnya mencapai 25 kilometer persegi, meliputi 4 buah kecamatan dan memiliki 50 titik wisata.

Desa Jampang memang memiliki potensi, sumber daya dan kearifan lokal yang luar biasa. Berakar dari seni budaya Pencak Silat yang sudah ada secara turun temurun, tercatat bahwa di desa ini memiliki setidaknya 40  perguruan silat, tempat penempaan golok, kerajinan batik, pakaian silat hingga minyak urut yang terkenal.  Berbekal potensi inilah kemudian desa ini kemudian dikembangkan menjadi tempat wisata sambil terus mendorong upaya pemberdayaan masyarakat lokalnya. Diharapkan, melalui upaya ini visi Kampoeng Wisata D’ Jampang untuk menjadi Desa Wirabudaya pada tahun 2020 akan tercapai.

Sekarang di tempat ini sudah terdapat 50 zona wisata dengan konsep yang kreatif dan variatif yang bisa dikunjungi, lengkap untuk berbagai ketegori usia atau ketertarikan. Setiap zona akan memberikan pengalaman yang  berbeda dan pengunjung bisa memilih paket-paket yang tersedia seperti Paket Wisata Dolanan, Paket Wisata Agro, Paket Wisata Outbound dan Paket Wisata Komunitas. Di kawasan ini juga terdapat Jampang Village yang bertujuan menginisiasi warga untuk bisa berbahasa Inggris dan bagi yang ingin menginap disediakan homestay atau menginap di rumah warga.

Ada beberapa wahana yang bisa di pilih di Kampoeng Wisata D’ Jampang, yaitu Wahana Edukasi untuk mengasah kemampuan berfikir dan menumbuhkan kreatifitas melalui eksperimen sains atau berbagai kreasi dan permainan dan Wahana Entrepreneurship untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi pengangguran dan memancing kreatifitas bisnis melalui usaha kecil dan menengah. Ada juga Wahana Agrowisata dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam di sektor pertanian, perikanan dan peternakan melalui budidaya tanaman dan peternakan hewan serta Wahana Wisata Budaya seperti Kampung Silat Djampang dan Kampung Wisata Golok Djampang.

Dalam kunjungan kami kemarin, rombongan sempat diajak berkeliling Kampoeng Wisata D’ Jampang. Karena lokasi yang dikunjungi cukup jauh satu sama lain, maka kami dianjurkan untuk naik sepeda. Untunglah saya yang sudah bertahun-tahun tidak bersepeda ini masih bisa mengendarai sepeda meski pakai acara ngos-ngosan saat keluar masuk kampung dan jalan yang menanjak. Lumayan juga lho betis dan paha jadi pegal, apalagi harus bolak balik membetulkan sadel yang sudah mulai kendor. Tersiksa rasanya. Begini nih kalau nggak pernah olahraga.

Tujuan pertama kami adalah melihat Peternakan Kambing atau pengelola menyebutnya Wisata Ternak. Pengunjung bisa memilih paket atau wahana Agrowisata bila ingin melihat-lihat peternakan dan budidaya tanaman. Di salah satu kandang yang kami datangi kami melihat sebuah kandang yang ukurannya cukup luas. Kondisi kandangnya bersih dan terawat, begitu juga dengan ternaknya semua dalam keadaan bersih, sehat dan terawat. Ada sekitar 50 sampai dengan 100 ekor Kambing dengan variasi hingga sekitar 20 jenis  yang diternakkan di sini, baik sebagai pejantan atau indukan maupun yang untuk di jual, baik spesies lokal maupun impor.  Dari peternakan ini pula dikelola Program Kampung Ternak yang menyediakan Kambing untuk Aqikah.

Tak jauh dari tempat Wisata Ternak kami sempat mengunjungi rumah yang dijadikan tempat home industry Stick Lele. Lucu ya namanya, saya baru sekali ini mendengar nama tersebut. Ternyata itu adalah makanan olahan yang bahan bakunya menggunakan daging ikan Lele. Wah, kreatif juga ya perempuan-perempuan di Desa Jampang ini. Meski usahanya masih baru dimulai dan skala kecil, namun mereka sudah lakukan secara profesional. Stick Lele dikemas dalam kemasan yang menarik, sudah mendapatkan ijin dari Departemen Kesehatan dan sudah bersertifikat halal. Keren khan? Satu kantong isi 800 gr mereka jual seharga sepuluh ribu rupiah. Harganya terjangkau dan sudah memberikan keuntungan alias pendapatan tambahan buat warganya.

Beranjak dari home industry Stick Lele, kami menuju tempat budidaya Ikan Hias tak jauh dari situ.  Area yang digunakan cukup luas, mencapai 14 hektar. Bukan main pemberdayaan yang dilakukan Kampung Wisata ini untuk masyarakatnya, dari bantuan modal awal hingga pendampingan dan pembinaan. Tak kurang ada 6 kelompok usaha yang melakukan budi daya ikan hias. Per kelompok usaha biasanya terdiri dari sekitar 10 kepala keluarga, sehingga total ada 60 kepala keluarga yang fokus mengembangkan usaha budidaya ikan hias dan mendapatkan penghidupan dari usaha ini. Saya pikir ini sebuah upaya yang keren, mengintegrasikan bisnis, wisata dan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan.

Nah, kunjungan terakhir kami di Wahana Agrowisata adalah mengunjungi Sentra Jamur Jampang. Tempatnya agak jauh dari pusat Zona Madina sehingga kami harus menggunakan kendaraan ke sana. Letaknya di perkampungan bersisian dengan gerbang masuk Telaga Kahuripan. Penduduk setempat sudah mampu melakukan budidaya Jamur Tiram Putih ini secara mandiri. Dari membuat log bag atau kayu tiruan untuk media tumbuhnya jamur hingga pembibitan. Sayang saat kami datang, mereka baru saja panen sehingga jamur yang kami lihat hanya beberapa saja. Nah bagi yang ingin belajar mengenai budidaya jamur, bisa datang ke tempat ini lho.

Tak cukup waktu yang hanya beberapa jam saja mengeksplor tempat  yang begitu luas. Bayangkan ada 25 kilometer persegi yang terdiri dari 50 zona wisata. Saya sepertinya harus menjadwalkan waktu untuk datang kembali dengan rombongan yang lain dan harus menginap biar afdol hehehe.

Seru kayaknya ya… yuk kita ke Kampoeng Wisata D’ Jampang.

Ini alamat dan kontak untuk info lebih lanjut.

Kawasan Zona Madina – Wisata Djampang

Jl. Raya Parung – Bogor km. 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor 16310

Telepon: +62.251- 861.2925

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

pulau ketam donna imelda

Pulau Lumpur Nan Unik itu Bernama Pulau Ketam

Deretan rumah panggung yang unik dengan tiang-tiang kayu penyangga serta barisan perahu yang tertambat itu masih ...

9 comments

  1. Cocok banget deh untuk liburan bareng keluarga,

  2. Waktu kami ke Rumah Joglo, Kafe Semar buka dan kami ketagihan makan Gurame Dabu-dabu di sana 🙂

    Di Kampung Jampang banyak teman-teman mantan TKI yang belajar dan sepulangnya membuka usaha. Belum kesampaian saya belajar budidaya jamur. 🙂

    Kapan ke sana lagi ajak saya dong Bu 🙂
    Okti Li recently posted…Ajak Balita Naik Gunung? Siapa Takut! Berikut PersiapannyaMy Profile

  3. Lhah di Bogor? Jawaaa bangett ini
    Inayah recently posted…Review Tea Tree Oil Series Travel PackageMy Profile

  4. cocok banget ini untuk liburan berbau edukatif…. cocok banget…hehehe
    Akhdan Baihaqi recently posted…Kambing Qurban PurwokertoMy Profile

  5. Aduh ampuuun, joglonya cakep banget. Adem kayaknya tidur di sana ya mbak
    Anne Adzkia recently posted…Ide Bermain dan Giveaway Buku Pojok Bermain AnakMy Profile

  6. rumah-rumah joglonya yang untuk penginapan mirip di Tembi, Jogja nih
    amey recently posted…Burger Monalisa, Salah Satu Kuliner Legendaris di JogjaMy Profile

  7. Ini sih gak bohong, kampung wisata rumah joglo beneran bikin betah. Bawaannya mager (males gerak). Nyaman dan asri. Saya pernah nginep di sana.

  8. Makasih infonya, mbak Donna. Pengen tau kalau harga makanannya berapa ya di luar paket?

  9. Pelesiran bareng memang lebih nendang!
    Cihui…

    Memang sudah seharusnya ya, kelestarian adat budaya, pemberdayaan masyarakat lokal dan edukasi saling bersinergi, apalagi kalau bicara tentang tempat wisata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge