Tuesday, October 24, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Kalimantan » Kandangan dan Pesona Kuliner Hulu Sungai Selatan
PC120224

Kandangan dan Pesona Kuliner Hulu Sungai Selatan

Bagi anda yang pernah mengunjungi Kota Kandangan, apa yang melekat dalam ingatan anda selain Ketupat Kandangan? 

Banyak kenangan istimewa yang masih melekat dalam ingatan saya saat mengunjungi Kandangan bersama Indra Pradya, Evi Indrawanto dan Halim Santoso. Bukan hanya sajian kulinernya yang beragam dan lezat, masakan tradisonal terutama ikan-ikan segar yang gurih dan bikin “nagih”, serta sejarah dan peninggalan budaya yang hebat, namun juga budaya dan kearifan lokal yang unik serta keramahtamahan penduduknya. Semua bagai magma potensi wisata daerah yang luar biasa dan siap muncul mewarnai pariwisata Indonesia.

Bersama Bapak Totok Agus Daryanto --KadinBudpar HSS-- dan Jajarannya
Bersama Bapak Totok Agus Daryanto –KadinBudpar HSS– dan Jajarannya

Kandangan bagai sebuah rumah bagi semua orang yang singgah. Dengan keramahan yang tulus, mereka membuka pintu bagi pendatang layaknya sebuah keluarga yang pulang. Kehangatan seperti ini yang kami rasakan sejak pertama menjejakkan kaki di Ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Di kantor Dinas Pariwisata di Kandangan, Bapak Totok Agus Daryanto selaku Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Hulu Sungai Selatan beserta jajarannya, Pak Zulfazar dan rekan-rekan masih berkenan menanti dan menyambut kami dari Banjar Baru dalam suasana kekeluargaan yang kental meski jam kerja telah usai.

Beberapa potensi wisata di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) telah terdengar sejak di Jakarta, terutama tentang wisata bamboo rafting di Loksado. Namun duduk bersama Pak Totok sore itu, dan mendengar beliau menceritakan banyak hal berkaitan dengan pariwisata, kekaguman saya terhadap kota ini semakin bertambah. Terlebih saat beliau menunjukkan beberapa foto cantik di beberapa tempat yang menjadi obyek wisata di HSS, rasanya kami harus meluangkan banyak waktu untuk menjelajahinya satu persatu.

Beruntung sekali kami disediakan tempat menginap oleh Dinas Pariwisata tepat di tengah kota. Hotel Rakat Mufakat namanya, milik Dinas Pariwisata Kandangan yang letaknya satu lokasi dengan pasar tradisional Kandangan. Hal ini sungguh sebuah kesempatan untuk bisa melihat geliat perekonomian dari dekat dan berinteraksi dengan penduduk setempat. Bahkan dari balkon kamar yang kami tempati, kami bisa melihat aktivitas warga sore itu dan menikmati semburat keindahan matahari terbenam di sela-sela awan selepas hujan.

Denyut Malam dan Kuliner Kandangan
Ketupat Kandangan, adalah menu wajib yang harus dicicipi. Indra Pradya bahkan sudah menantang kami jauh-jauh hari untuk merasakan sensasi makan ketupat berkuah tanpa sendok alias harus menyuap makanan dengan tangan. Acara makan ketupat ini menjadi istimewa karena Pak Totok beserta keluarga mengajak kami makan malam menikmati Ketupat Kandangan bersama. Ah, sungguh sebuah kehormatan bagi kami. Terimakasih, pak.

Ditemani juga oleh Wahyu –Duta Wisata Hulu Sungai Selatan— kami menikmati Ketupat Kandangan di rumah makan yang konon kabarnya tersohor sampai ke Timur Tengah. Rumah Makan Kaganangan namanya, letaknya di Jalan Jend. Ahmad Yani, Kandangan. Umumnya satu porsi terdiri dari tiga buah ketupat yang dipotong-potong ukuran sedang, ditemani sepotong Ikan Haruang (Ikan Gabus) di Masak Habang (dibakar atau digoreng bersama saus tomat) lalu di siram kuah santan. Rasanya seperti perpaduan antara gurih dan manis, dan bila anda ingin menambahkan rasa pedas, tersedia sambal yang disediakan terpisah.

Masakan Kelezatan dan Sensasi Makan Ketupat Kandangan
Masakan Kelezatan dan Sensasi Makan Ketupat Kandangan

Meski harus berpikir sejenak sebelum makan, saya toh menyelupkan tangan juga ke dalam piring untuk merasakan sensasi yang diceritakan Indra. Aneh rasanya di awal, namun terbiasa juga di menit-menit berikutnya. Ketupat yang tadinya berupa gumpalan beras tanak akhirnya tercerai berai bagai nasi dalam kuah. Ikan Haruang Bumbu Habang menjadi fokus utama saat makan, ikan yang jarang sekali saya nikmati di Jakarta menjadi menu favorit saya di Kandangan sebagai teman makan ketupat atau sarapan Nasi Kuning.

Dalam keadaan perut masih terasa kenyang seusai makan ketupat, kami diajak oleh Pak Zulfazar untuk singgah di warung penjual penganan khas tak jauh dari hotel untuk bersantai sambil ngopi menikmati suasana malam Kandangan. Sungguh terasa nuansa khas penduduk yang akrab dan senang berbincang. Pertanyaan-pertanyaan kami seputar penganan khas dijawab penuh atensi oleh mereka, sesekali ditingkahi dengan canda ringan.

Ragam Wadai Khas Banjar: Apam Batil, Lopis Hijau, Gumbili dan Papare
Ragam Wadai Khas Banjar: Apam Batil, Lopis Hijau, Gumbili dan Papare

Di sini, lidah saya harus beradaptasi segera dengan cita rasa manis yang mendominasi sebagian besar makanan khas Banjar. Kalaupun tidak manis, biasanya wadai –sebutan penduduk lokal untuk kue—di sini dinikmati dengan saus gula merah atau saus gula aren. Nama wadai-wadai ini terasa aneh karena belum pernah terdengar telinga saya. Banyak yang mengandung ulangan suku kata seperti Kukulih, Pupudak, Papare. Ada juga Puracit, Slada Gumbili, Apam Batil, selain nama-nama lain yang sudah akrab di telinga saya seperti Wajik, Lopis atau Serabi.

Urusan makan, bahkan tak terhenti sampai di sini. Sekembalinya kami ke hotel, kami kembali disuguhkan makanan khas Banjar lainnya. Kali ini suguhan berupa Lamang Ketan, lengkap dengan telur asin dan saus kacang. Untunglah malam itu kami berkumpul untuk membicarakan teknis kegiatan besok di Loksado, sehingga masih ada waktu sambil berbincang untuk memberi kesempatan lambung mencerna makan sebelumnya agar bisa menikmati Lamang dan teman-temannya. Tak elok, kata Pak Zulfazar bila kita menolak mencicipi makanan yang telah dihidangkan.

20141224(2)
Nasi Kuning dan Ikan Haruang yang lezat dan gak cukup satu kalau makan. Lamang, Telur asin dan Saus Kacang yang bikin lidah bergoyang

Saya ternyata menyukai hidangan ini, kehadiran telur asin mengurangi cita rasa manis yang hadir dalam saus kacang. Lamang gurih berpadu dengan asin dari telur yang masir itu serta manis dari saus kacang jadi perpaduan yang unik di lidah. Halim saja sampai menyesal tidak membawa telur asin itu sebagai oleh-oleh. Andai perut saya tidak terlanjur penuh, ingin rasanya bisa makan lebih banyak.

Kalau menyitir kalimatnya Mbak Evi Indrawanto sih, hidangan ini membuat lidah saya bergoyang, aisshhh. Tak percaya, datang deh ke Kandangan. 

PC120401

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

21 comments

  1. Hmmmm…enak semua, Mbak Donna…Kalau yang kurus kayaknya gak masalah ya..Ini yang “berisi” tambah berbobot saat pulang dari Kandangan…
    Evi recently posted…Eksplorasi Kuliner KandanganMy Profile

  2. kenyang menyantap ketupat kandangan di rumah Uni Evi, tetap pengin coba wadai mungil putih hijau dalam takir di meja mbak Donna. Semakin ngaruh ngomporin pembaca berkunjung ke HSS yang eksotik nih Mbak. Salam
    prih recently posted…SinterklasMy Profile

  3. Malah paling suka sama telur asinnya… nggak ada yang ngalahin enaknya. Dan sekarang nyesel nggak makan telur asinnya banyak-banyak hahaha
    Halim recently posted…Bamboo Rafting in LoksadoMy Profile

  4. senangnya bisa jalan-jalan dan menikmati kuliner khas daerah. inign hati ke kandangan, sayangnya hanya bisa surf di internet, haha
    buret recently posted…Cara unik bersedekah, 10 Warung sedekah di IndonesiaMy Profile

  5. Ih, bikin laper tengah malam, deh, hihihi 😀

  6. hmm maknyus smeua mbak makanannya
    Lidya recently posted…Blogwalking TimeMy Profile

  7. Duh…mbak Donna, itu foto2nya menggugah selera kepengen nyicip hihihihi
    Orin recently posted…Balada Si DulMy Profile

  8. wah.. enaknya yang bisa keliling2.. makanannya bikin mupeenggg.. kayanya enak ya mak? coba dong dibawa ke depok XDD

  9. mbak imelda hulu sungai selatan tuh masuk kalimantan selatan atau dimana ya
    detik.website recently posted…Gara Gara Pergaulan Bebas Siswi Ini Melahirkan Di Kebun Warga Bingkai BeritaMy Profile

  10. Seusai membaca di blog Bu Evi, betapa membaca di sini semakin kepengin saja. Khas dan maknyus bener kuliner di Kandangan ya, Mbak.
    Akhmad Muhaimin Azzet recently posted…Membimbing Anak Agar Berbuat yang TerbaikMy Profile

  11. waduh makanannya enak semua kliatannya itu.
    Klo pergi kesana, pulang badan jadi tambah melar ya mak hahaha *eh tapi klo mak Donna sih langsing, jadi enak klo kuliner 😀
    Lianny Hendrawati recently posted…Cara Praktis Menyimpan Pakaian DalamMy Profile

  12. Serunya jalan-jalan Mba Imelda… *mupeng saya 🙂

    apalagi baca tentang kuliner dan lihat foto-fotonya, bikin lapar pagi-pagi gini… *Tanggung jawab Mba… heheheh
    Awan recently posted…Aku dan laron-laron ituMy Profile

  13. Kalau Kekandangan tidak lengkap bila tidak ke Nagara.

  14. Gimana mba ketupat kandangan dengan “iwak haruan babanam nya” ? enak kan bu.. hehe .. Kandangan (Kab HSS) tdk bgitu jauh dgn kmpung halaman saya di Kab HST ! Salam kenal bu Imelda

  15. Gimana bu ketupat Kandangan dengan “Iwak haruan bebanamnya” ? Enak kan bu .. hehe.. Kandangan (Kab HSS) tdk begitu jauh dgn kampung halaman saya di Kab HST, tetangga kabupaten 😀 , saam kena bu Imelda 🙂

  16. maknyusss jelajah mulu nih 😀

  17. Wah, bikin lapar pagi-pagiii :)))

  18. haduuh ketupat kandangannya kayak enak banget.. di jakarta ada yang jual ga ya :(( kepengen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge