Thursday, September 21, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jawa » Kawah Putih…. Memaknai Sebuah Perjalanan
kawah putih_Snapseed

Kawah Putih…. Memaknai Sebuah Perjalanan

Mungkin engkau pernah mendengar puncak yang diberkahi
Ia adalah gunung tertinggi di dunia.
Dan apabila engkau sudah mencapai puncaknya,
engkau hanya akan memiliki satu hasrat
untuk turun dan tinggal bersama dengan mereka yang menghuni lembah terdalam
Itulah mengapa ia disebut gunung yang diberkahi – Kahlil Gibran

Ada gurat kecewa dalam benak, seiring langkah menuruni setapak menuju kawah. Bau belerang makin menyengat saat jarak dengan tempat yang aku tuju semakin dekat. Tubuhku menggigil menahan dingin di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda sejak aku dan rekan-rekan satu kantor menjejakkan kaki di Kawasan Wisata Alam Kawah Putih, Bandung. Kulit wajah dan jari-jari tangan terasa kaku diterpa angin bercampur air hujan. Jas hujan plastik tipis membalut tubuhku hanya sampai ke lutut, tak mampu melindungi wajah, ujung tangan dan bagian lutut hingga kaki dan membuat bagian-bagian tersebut basah kuyup. Alih-alih menikmati keindahan kawah dan tebing-tebing terjalnya, kabut menutupi hampir sebagian besar pemandangan indah yang semestinya kami nikmati bila cuaca tidak hujan seperti ini.

Kupandangi satu per satu wajah-wajah mereka, kurasakan tubuhku sedikit menghangat saat melihat gurat-gurat wajah yang masih berusaha menikmati tempat ini sebagaimana adanya. Di bawah payung dan terlindungi mantel, beberapa diantara mereka masih bisa tertawa-tawa sambil mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan. Aku tersenyum kecil dan berkata dalam hatiku, sesungguhnya tak ada yang sia-sia meski apa yang tersaji tak seperti yang diharapkan. Bersama-sama sejauh ini meninggalkan rutinitas kantor, kami bisa merasakan kebersamaan tanpa batas, tanpa memandang hirarki jabatan dan bercanda selayaknya teman.

Sejak pagi bis yang kami sewa sudah siap menjemput kami, tiga puluh lima orang warga Fakultas Teknologi Industri Universitas Jayabaya, baik dosen maupun karyawan siap untuk melepaskan sejenak penat kerja menjelang libur akhir tahun 2013 dengan tujuan utama adalah Kawah Putih. Melalui berbagai persiapan yang tak terlalu repot, kami berangkat tak lama setelah jam menunjukkan pukul tujuh pagi 23 Desember 2013. Perjalanan cukup lancar, macet di beberapa ruas telah kami prediksikan sebelumnya sehingga tak terlalu membuat kami risau. Lagipula, empat setengah jam perjalanan dari Jakarta sungguh tak terasa karena berbagai acara kami gelar di dalam bis yang berukuran besar tersebut. Dari sekedar bernyanyi bersama di sepanjang Tol Cipularang sampai beberapa permainan yang dilombakan sepanjang jalur Soreang-Ciwidey. Tawa dan canda pun tak putus-putus berderai menghangatkan perjalanan.

Kawasan wisata di daerah Ciwidey ini sebenarnya bukan tempat yang asing buatku, setidaknya ini untuk yang ketiga kalinya aku bertandang. Banyak alternatif wisata yang bisa dilakukan. Suasana khas dataran tinggi yang dingin sambil menikmati perbukitan dengan sawah yang hijau membentang di seling deretan tanaman bawang, tomat dan kol yang tumbuh subur berjajar rapi di kiri kanan jalan serta perkebunan Strawberry yang menjadi ikon utama tempat ini menawarkan kita menikmati buah yang berwarna merah dan segar itu dengan cara yang berbeda. Pengunjung bisa memetik sendiri buah Strawberry langsung dari tanamannya , kemudian di timbang dan kita membayar sesuai dengan banyaknya buah yang kita petik. Dengan leluasa, pengunjung bisa memilih buah yang disukai. Aku yang tak terlalu suka rasa asam biasanya memilih buah yang tua dan berukuran besar serta warna merahnya sudah terlihat di seluruh permukaan buah. Rasanya asam manis segar bisa langsung disantap di tempat. Hmmm… sayang hujan membuat salah satu acara yang kami rencanakan di sini harus dibatalkan.

Kawah Putih yang terbentuk saat letusan Gunung Patuha ini berada di ketinggian 2.430 mdpl. Tak heran bila udaranya dingin dengan temperatur rata-rata 10 derajat Celcius. Berbeda dengan pengunjung yang menggunakan mobil pribadi yang diperkenankan naik sampai ke tempat parkir atas tak jauh dari kawah, kami yang menggunakan bis harus menggunakan mobil kecil yang disediakan pengelola dari tempat parkir bawah yang tak jauh dari gerbang kawasan menuju ke atas. Dengan membayar lima belas ribu rupiah untuk tiket masuk dan tiga belas ribu rupiah untuk ongkos naik Ontang-Anting , demikian nama mobil sejenis carry ini kami naik ke atas. Didesain khusus berpenumpang dua belas orang, mobil melaju kencang melewati jalan berliku naik turun berbelok tajam membuat ibu-ibu yang duduk di dalam berteriak-teriak antara takut dan senang. Begitu pun aku dan beberapa rekan lain di mobil yang berbeda, suasana hujan dan jalan yang licin sesungguhnya menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Kutepis setiap pikiran buruk yang melintas, sambil sesekali berdoa, semoga seluruh rangkaian perjalanan kami dilancarkan. Aku tersenyum saat teringat seorang ibu rekan kerjaku bercerita bagaimana dia berulangkali menyebut namaku sebagai salah satu panitia yang mengusulkan tempat ini sebagai tujuan wisata kami, sambil berteriak kala ontang anting meliuk naik turun dan membuat adrenalinya berpacu kencang.

Sayang hujan semakin deras saat kami tiba di atas. Beberapa rekan tak berlama-lama di sekitar kawah. Aku sengaja menjadi orang yang terakhir meninggalkan tempat, menunggui beberapa rekan yang bisa tetap asyik berfoto lalu memastikan semua peserta kembali sudah kembali ke tempat bis kami parkir. Aku merasa bertanggungjawab atas keberadaan mereka disini, lagipula bisa diperkirakan bahwa kawah dengan kandungan sulfur tinggi yang ditemukan oleh Dr. Franz Wilhelm Junghuhn tahun 1837 ini tak akan membuat orang terlalu berlama-lama karena bau belerang yang menusuk.

Beberapa teman akhirnya saling menunggu di bawah, ada yang sambil menikmati wedang jahe untuk menghangatkan tubuh dan ada pula yang sambil belanja berbagai oleh-oleh. Banyak kios-kios kecil yang menjajakan cendera mata dari baju kaos sampai tas dan boneka, dan tentu saja oleh-oleh khas Ciwidey, Buah Strawberry. Sebenarnya masih ada tempat lain menarik yang letaknya tak jauh dari sini, ada Bumi Perkemahan Ranca Upas yang indah dengan penangkaran Rusa dan kolam air panas di dalamnya, atau Situ Patenggang yang indah dikelilingi hutan Pinus dan perkebunan teh. Kami memilih untuk kembali ke Jakarta, karena cuaca tak memungkinkan kami menikmati dengan baik tempat tersebut.

Selalu ada yang bisa disyukuri pada setiap kesempatan yang Tuhan beri. Kali ini mungkin kami belum bisa sepenuhnya menikmati pemandangan alam Ciwidey, tapi kebersamaan yang tercipta hari ini sungguh menjadi berkat yang luar biasa bagi kami, setidaknya begitulah yang aku rasakan. Jabatan, tekanan pekerjaan, perbedaan acap mencipta jarak di antara kami dan terus terbentang seiring waktu yang terus berjalan. Perjalanan seperti ini seperti sebuah recharge jiwa, mengisi kembali celah-celah yang sempat tercipta, kegembiraan menjadi jembatan untuk bergandengan, berharap sekembali dari sini kami semua kembali bersinergi.

Semoga….

PC231398

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

2 comments

  1. Kawah Putih, keren mb. Semoga bisa kesana suatu saat nanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge