Saturday, December 15, 2018
Home » Traveling » Kereta Api… Rangkaian Gerbong Sarat Cerita
kabin argo sindoro

Kereta Api… Rangkaian Gerbong Sarat Cerita

bahwa perjalanan yang paling romantis adalah perjalanan dengan menggunakan kereta api seorang diri

Kukencangkan tali ransel yg mengikat pinggang dan dadaku, bersiap masuk ke dalam perut ular besi yang perlahan memasuki Stasiun Universitas Indonesia, tempatku menunggu kereta Commuter Line menuju Stasiun Tanah Abang. Tujuan perjalananku kali ini adalah Kota Serang sehingga aku masih harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Kereta Api Kalimaya rute Tanah Abang-Merak setibanya di Stasiun Tanah Abang nanti. Keadaan di dalam gerbong cukup padat meski bukan jam berangkat dan pulang kantor, terlihat penumpang di dalam gerbong didominasi oleh perempuan dan anak-anak. Aku mahfum, musim liburan akhir tahun seperti ini memang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk melakukan perjalanan bersama keluarga.

Aku tersenyum sendiri. Di tengah kepadatan penumpang di dalam gerbong pikiranku melayang tentang kecintaanku dengan moda transportasi yang berjalan di atas sepasang besi yang berseberangan namun selalu bersisian ini. Banyak alternatif transportasi yang bisa aku pilih sebenarnya, namun selama perjalanan yang akan aku lakukan menyediakan waktu longgar dan memungkinkan ditempuh melakui darat, pilihanku pasti jatuh pada kereta api. Bukan semata karena kereta jarak jauh berkelas eksekutif memberikan kenyaman yang menjadi alasan, jaman kereta api KRL ekonomi masih ada pun aku bisa menikmati pengap dan padatnya angkutan rakyat tersebut. Aku selalu punya cara menikmati kondisi paling sulit sekalipun asalkan sendirian. Mungkin ini pula yang menyebabkan aku selalu merasa bahwa perjalanan yang paling romantis adalah perjalanan dengan menggunakan kereta api seorang diri.

Sejak sekolah menengah aku terbiasa bolak balik Pekalongan-Jakarta sendiri. Saat itu aku harus menamatkan Sekolah Menengah Atas di Kota Batik itu, sementara orangtuaku harus pindah tugas dan berdomisili di ibukota. Setiap ada kesempatan “pulang” aku selalu menggunakan kereta api.  Jenis kereta yang paling sering aku naiki adalah Senja Utama atau Fajar Utama rute Stasiun Semarang Tawang – Stasiun Senen Jakarta. Kala itu kereta jenis Argo belum ada, jadi menggunakan tiket tanpa nomor tempat duduk karena kehabisan itu bukan hal yang asing bagiku. Cara ampuh bila berhadapan dengan kondisi itu adalah sesegera mungkin ke gerbong restorasi, pesan makanan dan minuman dan jangan beranjak sampai tiba di tujuan. Praktis bukan? Sedemikian sering hal ini aku lakukan hingga tak heran bila aku kenal dengan para petugas restorasi. Perkenalan dengan sesama penumpang pun tak terhitung. Beberapa jadi teman saat aku pindah ke Jakarta, beberapa hilang ditelan waktu dan beberapa jadi teman dekat. Mengingat hal ini aku tiba-tiba merasa ada yang beda, Kalau dipikir, kenapa dulu aku tak se-solitaire kini ya?.  Sekarang, alih-alih berkenalan dengan orang baru, dua belas jam duduk satu bangku di kereta pun aku hanya sanggup melempar senyum basa-basi, sekali saja.

Melanjutkan studi  di Jakarta tak menghalangiku untuk melakukan perjalanan dengan kereta. Mengunjungi beberapa teman SMA yang terpisah karena melanjutkan studi di Semarang atau Yogyakarta menjadi alasanku untuk melakukan perjalanan. Saat itu pilihan bertambah, kereta kelas eksekutif yg menjadi pilihan. Tak perlu lari-lari rebutan kursi, gerbong berpendingin udara bangku 2-2 yang dapat di atur kemiringan sandaran kursinya membuat perjalanan makin menyenangkan. Menikmati pemandangan alam yang dilewati kereta sambil merenung atau berkhayal membayangkan pertemuan dengan teman dan pujaan hati kala itu sungguh sebuah keasikan tersendiri. Bayangkan, dari kenikmatan seperti ini,  berapa banyak puisi dan tulisan indah yang lahir di kereta api.

Lain lagi cerita tentang KRL Jabotabek. Aku mulai akrab dengan kereta ini sejak menempuh kuliah pasca sarjana di Bogor. Tempat tinggalku yang berbatasan langsung dengan wilayah Depok dan Bogor memberi dua pilihan menuju Bogor. Bisa berkendara melalui jalan tol lewat Gerbang Tol Cibubur atau naik kereta melalui Stasiun Universitas Indonesia. Tentu saja pilihanku adalah menggunakan kereta, kecuali bila aku terburu-buru atau lagi banyak bawaan. Pagi-pagi sekali aku sudah menuju stasiun, Bila tidak diantar suami, aku akan menitipkan mobil di stasiun. Hanya dengan membayar lima ribu rupiah biaya penitipan untuk satu hari, mobil aman untuk ditinggal lalu di ambil sepulang kuliah.

Waktu itu masih ada tiga jenis kereta menuju Bogor, yaitu KRL Ekonomi, Ekonomi AC dan Pakuan Ekspress. Dua yang pertama sama-sama berhenti di setiap stasiun, bedanya hanya pada fasilitas pendingin udara saja. Berbeda dengan Pakuan Ekspress yang selain berpendingin udara juga hanya berhenti di stasiun tertentu sehingga waktu tempuhnya lebih cepat. Aku tak terlalu peduli soal perbedaan ini, untuk mengejar jam kuliah paling pagi maka kereta yang lebih dahulu tiba, itu yang aku tumpangi. Tak jarang aku harus naik KRL Ekonomi, berbaur dengan penumpang baik lelaki dan perempuan, pedagang, pengamen, pengemis dan tentu saja copet. Kalau siang kegerahan dan kalau hujan boleh buka payung di dalam karena keretanya bocor. Segala jenis manusia dengan segala tingkah laku rasanya ada di situ. Aku tak terlalu ambil pusing, tinggal cari posisi paling strategis yg masih bisa dapat angin supaya tidak pengap, dekap kencang ransel supaya gak kecopetan, pasang earphone, mainkan musik dan pejamkan mata sampai kereta berhenti di stasiun terakhir, Bogor. Amaaaan.

Jakarta dan kereta api terkadang mengajarkan kita  untuk menjadi manusia yang egois. Homo homini lupus. Tak ada yang peduli deritamu apalagi bila muda dan sehat, karena hanya perempuan renta dan sedang mengandung yang patut diberi tempat di kereta. Aku masih beruntung rasanya bekerja dengan waktu yg tidak mengikat dengan waktu tempuh antara rumah dan kantor hanya lima belas menit saja. Untuk ukuran Jakarta waktu tempuh normal itu bisa satu sampai satu setengah jam dan bisa sampai lebih dari tiga jam bila macet. Jadi terbayanglah betapa tidak normalnya lima belas menit tiba di kantor.  Sesekali bila ada urusan di Jakarta, aku ikut mencicipi pahit manisnya bersama para penglaju atau The Commuter lain menuju kawasan elit para pencari nafkah pada jam berangkat atau pulang kerja. Jangan tanya bagaimana kondisinya, meski sekarang hanya ada satu jenis kereta yaitu Commuter Line yang semuanya berpendingin udara, tapi bila didalamnya penumpang sudah berjejal tak memberikan ruang antar manusia bahkan hanya sekedar untuk bergerak, kereta tak ubahnya kaleng sarden. Bila kereta bergerak kami semua limbung, menjepit mereka yang di pojokan. Bila hendak turun, harus menyibak punggung dan lengan manusia yang begitu rapat satu sama lain. Bila hendak naik, maka harus mendorong orang yang ada di pintu agar bisa masuk, persis seperti menjejal pakaian dalam ransel saat berkemas. Lalu berdiri menghadap pintu kaca otomatis dengan hidung hanya berjarak beberapa sentimeter dan tangan terentang mirip Spiderman. Maka dalam situasi seperti ini, umpatan, sindiran, keluh bahkan mengaduh pun sudah tak berdampak nyata. Masing-masing menyelamatkan diri. Aku bahkan pernah menyaksikan wanita yang hanya bisa berupaya maksimal melindungi jahitan di perutnya pasca operasi Sectio sambil mengaduh dan menyebut nama Allah. Miris…. 

Begitulah kereta api dalam hidupku. Boleh dikatakan aku adalah penggemar kereta api. Banyak cerita, banyak pelajaran yang didapat sebagai pengguna. Saat aku hampir menyelesaikan tulisan ini, aku berada di dalam gerbong kereta ekspress Kalimaya yang sedang berhenti di Rangkas Bitung menurunkan penumpang.  Satu stasiun lagi aku akan sampai di Serang. Kurang lebih dua jam asik menulis, hingga tak terasa tujuan semakin dekat. Semburat jingga di langit terlihat cantik seolah mengajakku untuk mengalihkan perhatian dari layar gadget. Indah berpadu dengan pemandangan alam sepanjang jalan. Pergantian dari siang ke malam memberikan suasana yang lain dari pada yang lain, sebagaimana perjalanan dengan menggunakan kereta yang selau memberikan warna yang berbeda dibanding angkutan yang lain.

Ya…, aku memang sudah terlanjur cinta dengan kereta api. 

Rangkasbitung, 27 Desember 2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Malaysia Twin Towers Source unsplash.com

Malaysia, Tenggara Yang Patut Dikunjungi Sebelum Tua

Malaysia, Tenggara Yang Patut Dikunjungi Sebelum Tua – Menjadi tua bukan satu hal yang merugikan, ...

15 comments

  1. Simbah kakungku dulu masinis KA. Aku ingat om2ku yg kuliah di UI, STAN & UGM dapat kartu khusus supaya nggak bayar. Kalau nggak gitu gak bisa pergi2 krn gaji masinis dulu kecil banget & rumahnya gedhek alias anyaman bambu, sedangkan anaknya banyak. Rumah simbah dekat stasiun KA Madiun 😀

  2. Hahaha…Seneng bacanya, jadi inget kereta jadul lagi dehh…! tidur di lantai, dilangkahi orang nggak boleh marah! Alhamdulillah kita bisa ikuti perubahan stasiun dan kereta. Liat gambar mbak jadi kepengen coba. 🙂

  3. Aku dah lama banget ngak naik kereta jarak jauh, sempet naik KRL pada hari senin jam 7 pagi dari lenteng agung ke manggarai dan itu MENDERITA, badan di gencet kayak bikin pepes ikan mau pingsan KAPOK
    cumilebay.com recently posted…Ku terbang diatas Malin KundangMy Profile

  4. Aku baru satu kali naik KRL Mbak… seru… berasa naik subway di luar negeri 😀
    Tapi belum sekali pun naik kereta api, rugi banget ya… tapi insya Allah secepatnya, nanti aku bakal PKL di Solo, tentunya pake kereta api ke sana… insya Allah
    sofia zhanzabila recently posted…Have Fun Bareng Keluarga? Night at The Museum 3 AjaMy Profile

  5. saya suka naik kereta api mbak, tapi herannya, selama di jakarta (sejak tahun 2005 saya di sini), belum sekalipun saya nyicip kereta. 🙁

    ada link atau cerita ttg kereta api dari jakarta ke bandung gak mbak. saya terpikir mau ajak anak2 ke bandung pake kereta, sekalian ngenalin kereta ke mereka..

    dulu saya suka naik kereta jakarta-malang… beberapa kali … saat belum punya momongan..

    makasih sharingnya…

  6. Aku juga selalu suka kemana-mana naik kereta mak, sensasinya beda dari kendaraan lain yaa 😀
    Ranii recently posted…Suguhan Seni Budaya Sunda Di Kasepuhan Sinar ResmiMy Profile

  7. aku belum pernah naik kereta, pengen banget naik kereta mak, pengen tau rasanya seperti apa 🙂

  8. naik kereta api memang membawa kesan tersendiri…bbrp bulan lalu saya membaca novel fiksi tentang perjalanan dengan kereta api keliling dunia, tepatnya ke tibet, penulisnya sendiri sepertinya penggila kereta api hehehe.

  9. Waktu SMA sekolah di Bandung, hampir tiap wiken pulang naik kereta. Jadi, kereta api memang juga punya kenangan sendiri buat saya 🙂
    Keke Naima recently posted…Ini Benda Yang Wajib Chi Bawa KemanapunMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge