Thursday, September 21, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Kesepakatan Ala Sopir Tuk Tuk
P4030257

Kesepakatan Ala Sopir Tuk Tuk

“Lho, tadi khan kita sudah sepakat kalo bayarannya seribu Baht doang, kenapa sekarang minta dua kali lipat begitu sih?”, kami berlima saling berpandang-pandangan. Rasanya tak ada satu pun dari kami yang salah mendengar kesepakatan dengan sopir Tuk Tuk ini sebelum diantar berkeliling kota Bangkok. Niat tulus kami untuk memberi uang tip tambahan sebagai bentuk terimakasih kami karena dilayani dengan baik oleh beliau, mendadak menjadi sebuah keterpaksaan. Meski kami akhirnya tetap memberikan tambahan uang tersebut , tak urung kecewa terlanjur menjadi penutup kebersamaan kami di Ibukota Thailand ini.

Kami memang hanya berada di kota Bangkok beberapa jam saja untuk transit dan berganti moda transportasi. Rencananya kami akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang dari Bandara Don Mueang, Bangkok menuju Phnom Penh, Cambodia pukul satu siang nanti. Waktu tunggu sekitar 5 jam sayang sekali bila hanya dihabiskan dengan menunggu di bandara. Padahal waktu tersebut masih bisa kami gunakan dengan sight seeing di Kota Bangkok. Untuk itu, sebagai moda transportasi, pilihan kami jatuh pada angkutan yang paling mudah dan murah, yaitu Tuk Tuk. 

P4030261

Kami tiba tadi pagi sekitar pukul delapan di sebuah terminal bis yang terletak tak jauh dari Chatuchak Market. Kami menempuh perjalanan malam yang sangat membosankan ini selama kurang lebih tiga belas jam. Sesekali bis melewati pos penjagaan untuk pemeriksaan. Petugas masuk ke dalam bis dan memeriksa paspor beberapa penumpang. Tak semua penumpang diperiksa dan saya juga tidak tahu apa sebabnya. Saya cukup lega bahwa tak ada satu pun dari kami berlima yang dianggap mencurigakan.

Kondisi gelap malam dan jalanan yang didominasi pepohonan di kiri kanan jalan membuat saya tak bisa menikmati pemandangan apapun. Tidur memang pilihan yang paling baik, meski saya sendiri akhirnya bolak balik terbangun selama perjalanan. Bahkan di rentang tiga jam pertama perjalanan saya sungguh tersiksa. Bagaimana tidak? Badan saya sungguh lelah namun tak juga bisa memejamkan mata. Dalam keadaan terjaga, saya juga tak bisa melakukan apa-apa. Tersiksa bukan?

Di saat seperti itu saya sungguh merindukan semua kenyamanan yang saya miliki di Indonesia dan sempat menyesali diri mengapa memilih perjalanan seperti ini. Terlebih saat saya teringat bahwa masih akan ada perjalanan seperti ini nanti yang harus saya tempuh dari Phnom Penh menuju Ho Chi Minh City. Bahkan, sedemikian bosannya saya hingga sempat berubah pikiran untuk mengakhiri saja perjalanan ini di Phnom Penh sesampainya besok dan kembali ke Jakarta. Alamak…

Bis yang kami tumpangi tidak buruk sebenarnya, tapi memang tak memenuhi ekspektasi saya untuk bisa mendapatkan kenyamanan seperti yang saya bayangkan. Bis terdiri dari dua tingkat dengan susunan bangku 2-2 yang berlapis jok tipis terasa sempit buat kaki saya yang panjang. Mendapat nomor bangku di bagian belakang lantai atas bis membuat goncangan terasa mengganggu saat bis melewati tikungan tajam. Dipadu dengan kondisi tubuh yang lelah dan masih belum juga mandi membuat kepala saya agak pusing dan perut saya sedikit mual dalam bis yang dingin.

***

Turun dari bis, kami duduk-duduk sebentar di terminal untuk menyusun langkah di hari yang singkat di Bangkok. Setelah berbincang dan bertanya-tanya, kami lalu memutuskan untuk sight seeing saja menggunakan Tuk Tuk. Kesepakatan diperoleh setelah tawar menawar dengan sang sopir Tuk Tuk. Untuk mengantar kami berlima berkeliling dan singgah di Wat Arun dan Grand Palace, serta berakhir di Bandara Don Mueang, kami dikenakan biaya sebesar seribu Baht. Kami pun memulai wisata kota Bangkok.

Perjalanan menyenangkan bagi kami. meski terik, kami menikmati atmosfer kota ini. Sopir Tuk Tuk ini pun memiliki kepribadian yang menarik menurut saya. Ia ramah dan komunikatif. Sepanjang jalan ia selalu mengajak kami berbincang, menunjukkan banyak hal dan sengaja menempuh rute tertentu yang lebih panjang sekedar untuk membuat kami senang karena bisa melihat sisi kota Bangkok lebih banyak. “I am happy if you happy.” begitu katanya. Ia juga sabar menunggu dan menjaga ransel-ransel yang kami tinggal di Tuk Tuk selama kami keliling Grand Palace.

P4030255

Sayang sekali kami tak punya banyak waktu di Bangkok. Nyaris bisa dikatakan bahwa kami hanya singgah di Grand Palace. Saya dan Agus, bahkan benar-benar hanya singgah di pelataran istana raja ini dan menikmati suasana sekitar sambil menunggu Tiko, Ayub dan Nurul berkeliling bagian dalam istana. Wat Arun yang ada dalam kesepakatan untuk disinggahi pun luput karena waktu yang begitu sempit. Apa boleh buat, setengah tergesa kami segera kembali ke Tuk Tuk dan bergegas ke bandara bila tak ingin ketinggalan pesawat ketika jarum jam menunjukkan angka sebelas siang.

Perjalanan menuju bandara yang diperkirakan kurang dari setengah jam ternyata meleset. Saya mulai resah ketika perjalanan terasa panjang dan lama, sudah lebih dari tiga puluh menit menuju bandara. Saya curiga, jangan-jangan bandara yang dituju memang letaknya jauh dari Grand Palace dan Tuk Tuk tak diperbolehkan menggunakan jalan tol. Seperti di Indonesia, bukankah bandara terletak di pinggir kota dan bajaj atau bemo tidak diperkenankan menggunakan jalan tol menuju bandara. Hal ini juga dirasakan teman-teman lain, sehingga kami pun sepakat untuk memberi uang tambahan sebagai wujud terimakasih dan jerih payah sang sopir.

P4030262

Tapi ternyata perkiraan kami salah. Sebelum kami membayar ongkos, saat kami turun dari Tuk Tuk, sang sopir malah terlebih dahulu meminta bayaran dua kali lipat dari yang kami sepakati. Saya tidak tahu mengapa demikian. Bisa jadi karena sang sopir yang salah perhitungan dan merasa ongkos yang dia minta terlalu murah untuk jarak sejauh yang kami tempuh, atau memang karena modus sang sopir untuk mengambil kesempatan pada turis asing seperti kami.

Kami tentu saja menolak dan berusaha dengan baik-baik mengingatkan kembali sang sopir mengenai kesepakatan awal. Namun sang sopir tetap bersikeras, sehingga salah satu dari kami terpaksa dengan tegas memberikan uang senilai seribu tiga ratus Baht, tak peduli dia mau atau tidak. Setelah itu kami berlalu meninggalkan sang sopir dan masuk ke dalam gedung untuk check in.

Ah, selalu saja ada hal menarik dalam sebuah perjalanan. 

P4030258

P4030263

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

12 comments

  1. Menarik sekaligus ngeselin ya Mak 🙂

  2. Ah ngeselin ya mak….jd ingat wkt naik becak di Malioboro Yogya…Si tukang becak keliling2 ke tmpt2 yg tdk kami inginkan, pdhl sy sdh menolak,kr sdkt byk sy sdh hafal daerah sekitar Malioboro, sy jd curiga….jgn2 nanti minta uang lebih..dan ternyata benar yg semula dia minta 15rb ee berubah 35rb…dg kesal akhirnya sy ksh jg…hemm…

    • Nah, yg gini aku juga pernah mbak Irowati. Modus utk ngakalin pelancong memang banyak ditemui di seputar tempat wisata. Mungkin besarannya tak jadi soal, tp perasaan “ditodong atau dipaksa” itu yg bikin kesal. Niat baik ngasih lebih keduluan cara yg gak enak.

  3. Jadi ada bahan postingan .. hehe

  4. Adududu, ngebayangin pas di bis pusiangnya kek apa. 🙂

    Tapi sampai Grand Palace rasa lelah terbayar ya, Bu.

  5. perjalanan menggunakan bis dengan jok tipis buat pegal ya mbak

  6. pak sopirnya ngeselin yaa, jadi inget saat naik becak. Bapak penarik becaknya nrimo banget, dikasih berapa saja nggak protes, akhirnya aku malah kasihan dan kutambahin 2 kali lipat dari yg biasa kuberikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge