Tuesday, October 17, 2017
Home » Uncategorized » Ketika Bandung Terasa Begitu Jauh
P_20160428_121806

Ketika Bandung Terasa Begitu Jauh

Kamu tahu rasanya ketika kota terdekat dengan kota tempat tinggalmu terasa begitu jauh? Saya sih baru kemarin merasakannya. Cuma ke Bandung doang sih judulnya, tapi rasanya kok jauh sekali untuk bisa sampai di sana. Bagaimana bisa demikian? Begini ceritanya.

Melalui Evi Indrawanto, saya dan sahabat D’ Jakartans mendapat undangan dari sebuah hotel yang berada di Bandung. Dalam rencana, kami seharusnya berada di sana selama tiga hari sejak tanggal 27 sampai dengan 29 April 2016 sambil tur keliling beberapa tempat di daerah Bandung. Namun ternyata mendadak ada urusan kantor yang tidak mungkin saya tinggalkan pada tanggal 28 April 2016, sehingga saya putuskan untuk menyusul ke Bandung setelah urusan kantor saya selesai.

Pagi-pagi sekali saya sudah harus keluar rumah untuk suatu urusan di daerah Hayam Wuruk sebelum ke Bandung. Tak ingin bagai Ikan Sarden dalam kaleng di dalam gerbong commuterline yang kadar manusiawinya berkurang hingga 50% saat jam berangkat kerja, saya pun memilih untuk berangkat sesaat setelah sholat subuh ditunaikan. Hari masih gelap saat itu, namun saya sudah berangkat menuju Stasiun Universitas Pancasila menunggu kereta yang akan membawa saya ke Stasiun Jakarta Kota.

  • Mulas ini mau dibawa ke mana?

Karena selesai urusan di Hayam Wuruk saya tak mungkin pulang dulu ke rumah, maka dengan ransel sehari-hari yang makin terasa lebih berat karena membawa barang-barang bekal menginap di Bandung, serta satu tas jinjing yang tak kalah beratnya, saya pun berangkat. Gerbong commuterline yang membawa saya sudah ramai terisi penumpang meski waktu masih menunjukkan pukul 5.30 pagi. Celah-celah kosong di antara penumpang lumayan memberi kenyamanan meski harus berdiri beberapa lama karena tak mendapat tempat duduk.

Nah, Keseruan pertama sudah dimulai di sini. Perut saya mulas ingin ke toilet. Bayangkan rasanya! Dengan kondisi mendesak, eh, commuterline yang akan masuk Stasiun Jakarta Kota malah berhenti dahulu beberapa saat menunggu antrian masuk. Terbayang ya horornya detik demi detik menahan mulas yang menuntut harus segera ke belakang. Kalau wajah saya di foto saat itu, mungkin terlihas seraut wajah pucat menahan mulas dan takut kebablasan. Duh!

  • Bulan juga kelihatan dari sini, Neng!

Urusan kerjaan beres lebih awal dari perkiraan saya. Jam di pergelangan tangan saya menunjukkan waktu sekitar pukul 10.30 WIB saat itu. Saya langsung cek jadwal keberangkatan dan ketersediaan kursi Argo Parahyangan yang berangkat dari Gambir hari ini. Di situs resmi pembelian tiket PT. KAI tertera beberapa pilihan keberangkatan lengkap dengan harga tiketnya. Jadwal keberangkatan terdekat pukul 12.45 WIB, saya perkirakan masih cukup waktu untuk tiba di Gambir dalam waktu yang tak terlalu lama dengan menggunakan Bus Trans Jakarta.

Pikiran saya sederhana saja, Gambir itu khan letaknya selurusan dengan Monumen Nasional, jadi nanti saya tinggal turun di Halte Museum Nasional dan melanjutkan dengan berjalan kaki melintas Tugu Monas. Saat itu sih rasa-rasanya saya tak akan jauh berjalan kaki. Monasnya saja kelihatan kok, dan di ujung sana samar terlihat Stasiun Gambir. Jadi setelah turun di Halte TransJakarta  depan Museum Nasional, saya menyebarang dan berjalan kaki ke arah yang ternyata salah.

Posisi Stasiun Gambir yang ada di sisi Timur, malah saya tuju dari arah Barat. Dan saya masih terlalu percaya diri bahwa jarak yang akan saya tempuh itu dekat dengan berjalan kaki, tapi ternyata saya salah perkiraan. Perkiraan untuk memperpendek jarak tempuh dengan memotong jalur tepat ke arah Tugu Monas tak bisa dilakukan, karena selain pintu utama saja yang dibuka, dan saya harus berjalan jauh untuk mencapai pintu utama, nanti saya juga tak bisa keluar persis di pintu yang dekat Stasiun Gambir, demikian kata bapak penjaga gerbang Monas.

Akhirnya saya lanjutkan berjalan kaki memutari lapangan, melewati Istana Merdeka dengan langkah yang makin lama makin pelan, pundak dan pinggang mulai pegal-pegal menahan beban dalam tas ransel. Lutut tua saya mulai terasa nyeri. Saya mulai melirik kaki saya yang menggunakan flat shoes bersol karet, sepatu yang sesungguhnya tak nyaman dipakai untuk berjalan kaki jauh. Mulai menyesal kenapa tadi tidak membawa sepatu keds yang lebih nyaman yang biasa saya pakai saat traveling atau berpergian santai.

Padahal beberapa hari sebelumnya saya sempat intip-intip sepatu Keds di situs belanja online Zalora. Koleksinya bagus-bagus dengan berbagai corak dan warna. Sepatu jenis ini nyaman dipakai untuk berjalan jauh dan modelnya sederhana, sesuai dengan selera saya soal sepatu santai. Lain kali memang jangan menunda-nunda, giliran diperlukan dan tak ada, dampaknya bisa sampai urusan dengkul dan kaki. Pemilihan sepatu yang nyaman untuk berjalan adalah syarat mutlak untuk bisa menikmati perjalanan.

Lucunya di bawah paparan matahari Jakarta yang terik, saat itu kok saya tetap merasa percaya diri, bahwa jarak sudah dekat. Tapi di sisi lain, kaki seolah berkata, kok gak sampe-sampe sih, Don?! Ah, jadi ingat anekdot tukang becak kalau ditawar calon penumpangnya yang mengatakan bahwa jarak yang akan dituju itu dekat karena terlihat dari tempat ia menawar ongkos. Tau gak dalam anekdot itu apa jawaban tukang becaknya? “Duh, neng… kelihatan itu belum tentu dekat lho, bulan aja kelihatan dari sini!” nah lho… hahaha.

  • Penderitaan Belum Berakhir

Meski dengan kaki yang lemas dan tubuh yang berpeluh, akhirnya saya sampai juga di Gambir. Untungnya masih ada waktu dan masih tersedia tiket untuk jam keberangkatan yang saya pilih. Saya juga menyempatkan diri untuk makan sejenak karena tadi pagi saya tak sempat sarapan. Lumayan, saya bisa bobo-bobo cantik selama menempuh perjalanan selama 3 jam dalam gerbong yang sejuk dan nyaman menuju Bandung.

Namun ternyata penderitaan saya belum berakhir di sini. Hujan deras berangin menyambut saya di Stasiun Bandung, terpaksa saya harus menunda kenyamanan yang seharusnya bisa langsung beristirahat di hotel dengan berteduh cukup lama di sebuah resto kecil di dalam stasiun. Hati saya mulai gelisah, waktu terus  berjalan, jam menunjukkan rush hour, jam pulang kerja di Bandung, pasti macet.

Dugaan saya tepat, saat hujan sudah tinggal gerimis dan saya tak sabar meninggalkan stasiun, saya disuguhi pemandangan crowded dan macetnya Kota Bandung. Perpaduan yang lengkap lah, kondisi jam pulang kantor, habis hujan deras, dan jarak hotel yang cukup jauh dari stasiun. Rasanya sih pengen masuk lagi ke stasiun dan balik saja ke Jakarta.

  • Naik Ojek Becek-Becek 

Saya mulai mikir, naik apa yang enak ke hotel. Naik taksi paling enak, tapi macetnya tak tahan, apalagi jalan-jalan di Kota Bandung banyak sekali yang satu arah, malas membayangkan duduk manis tapi tak sampai-sampai. Pilihan lainnya naik angkot, resikonya sama dengan naik taksi, jauh lebih murah sih, tapi resikonya bisa lebih lama karena angkot khan suka ngetem. Lagian letak hotelnya tak dilewati rute angkot langsung.

Sambil mikir saya ngobrol-ngobrol dengan anak muda, bertato, dengan sepatu koboy,  tapi wajahnya ganteng dan raut mukanya terlihat baik. Kata-katanya juga santun. Ya sudahlah, akhirnya setelah menawar yang sama sekali tak berhasil, saya boncengan dengan akang ganteng naik motor kece mblusuk-mblusuk jalan pintas, masuk keluar kampung di Bandung demi tiba di Terusan Babakan Sarijadi, tempat di mana hotel yang saya tuju berada. Alhamdulillah, perjalanan panjang saya berakhir juga di lobby hotel dan disambut senyum ramah resepsionisnya.

  • Moral of The Story

Terbayang khan pengalaman saya  hari ini menempuh perjalanan ke Bandung. Sudahlah sendirian, bawa-bawa ransel berat, harus berasa horor karena menahan mulas di dalam kereta. Lalu pakai acara jalan kaki memutari Lapangan Banteng untuk sampai di Stasiun Gambir dan disambut hujan serta macet yang luar biasa di Bandung. Untung ada abang ojek ganteng bertato yang mengantar saya ke hotel ditemani gerimis-gerimis kecil. Sayang bukan pacar jadi terlarang berasa roman-roman menyek.

Hari sudah lewat waktu magrib waktu saya menjejakkan diri di hotel, sementara itu D’Jakartans yang lain masih berjuang keluar dari kemacetan di beberapa titik dari Ciwidey menuju hotel. Kamar hotel yang luas nan nyaman bernuansa merah kesukaan saya telah menanti, membasuh penat perjalanan yang terasa sangat panjang hari ini. Terimakasih Tuhan… Engkau mengajarkan aku sesuatu hari ini.

Sebagaimana hidup, kita kadang harus menempuh perjalanan yang tak biasa, menanggung beban yang berat dan melelahkan yang membuat kita kadang ingin menyerah dan berhenti sebelum tiba di tujuan. Namun ternyata, kalau kita tak berhenti dan terus melangkah, kita akan tetap sampai jua dan menikmati manisnya sebuah perjalanan.

Selamat menikmati akhir pekan, sahabat…

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

sebeeeeeeeel…….

pemerintah oh pemerintah…….kenapa juga deh…..mp ku do blokir sebeeeeeeeeel

17 comments

  1. Nggak kebayang jalan-jalan sambil mules dengan kaki sakit pula karena sepatu kurang nyaman. Ayo beli yang baru 🙂
    Evi recently posted…Nilai Sebuah IdeMy Profile

  2. donna imelda

    hahaha, siaaaap, kakak… sudah dapat pilhan Keds yang oke, tinggal eksekusi. Yeaaayyy…. yuk ke Bandung lagi xixixixi
    donna imelda recently posted…Serba-Serbi Memilih PakaianMy Profile

  3. Mbak Donna. I feel you! Aku termasuk orang yang sering kebelet pup hahahaha. Jadi ngerti banget gimana perasaannya Mbak Donna waktu kebelet :s

    Eniwey, kenapa nggak naik gojek aja dari Sta. Bandung? Lebih murmer, Mbak XD
    Ditunggu postingan keseruannya selama di Bandung 🙂

  4. Kayaknya penuh tantangan banget ya hahahahhaa. Tapi seru juga bacanya 😀
    Nasirullah Sitam recently posted…Obrolan Pagi di Pelataran Candi BarongMy Profile

  5. Kalau ke Bandung aku sukanya juga naik kereta .. gak suka naik travel atau bus kecuali kalau kepepet.
    Naik kereta itu sukanya bisa menikmati pemandangan sambil minum kopi hangat plus mie kuah hangat

  6. wah .. perjuangannya untuk sampai ke bandung begitu amat ya …
    kalau sudah mulas … wah bisa jadi kacau balau .. hehehe

  7. Hidup kadang terasa sangat drama ya mbak hahaha
    Inayah recently posted…4 Fakta Samsung Galaxy J7 Yang Harus DiketahuiMy Profile

  8. Tapi happy ending ya mba dona.. Dengan perjuangan yg lumayan berat..

  9. sama mbak soalnya aku juga naik kereta dari Gambir ke Bandung sampainya juga sore karena di Bandungnya salah naik angkot tujuan mau ke Dago jadi naik angkot yng penting ada tulisan Dago nya, angkotnya ngetem lamaaa banget nunggu penumpang tapi gak kapok kok ke Bandung lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge