Friday, August 18, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jakarta » Kiddos Tour de Museum
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kiddos Tour de Museum

Anak-anak ini telah sepakat untuk menikmati perjalanan mereka dengan cara yang tidak biasa. “Kita naik kereta dan busway aja ya, bunda Donna, biar asyik!”, begitu pinta mereka.

Langit Kota Depok agak redup pagi ini saat empat anak usia belasan berjalan pelan beriringan memasuki peron Stasiun Depok Lama, 2 Januari 2014. Wajah mereka terlihat gembira saat melewati tiang-tiang bercat oranye yang berjajar sepanjang koridor menyambut kereta Commuter Line yang akan membawa mereka ke Stasiun Kota. Diba dan Rani – anak-anakku – beserta sepupu mereka Raihan dan Bagas akan menghabiskan sisa liburan pergantian tahun dengan mengunjungi Museum Nasional dan Museum Bank Indonesia. Sengaja kami meninggalkan mobil di stasiun dan melanjutkan perjalanan yang kami beri nama Kiddos Tour de Museum dengan transportasi umum. Anak-anak ini telah sepakat untuk menikmati perjalanan mereka dengan cara yang tidak biasa. “Kita naik kereta dan busway aja ya, bunda Donna, biar asyik!”, begitu pinta mereka. Aku tentu saja mengabulkan permintaan mereka. Biarlah mereka merasakan serunya pengalaman naik Kereta Commuter Line dan Bis Trans Jakarta hari ini. 

tdm1  Berpergian dengan kereta di Kota Jakarta dan sekitarnya adalah cara yang paling praktis dan cepat dibanding dengan menggunakan kendaraan pribadi. Jalur khusus kereta yang menembus kota tanpa hambatan memungkinkan perjalanan ditempuh tanpa harus mengalami macet meski resiko berdesak-desakan tetap saja terjadi. Aku sudah memperkirakan kemungkinan ini dengan mengambil jam keberangkatan berbeda dengan waktu para pekerja berangkat ke kantor agar tidak terlalu berdesak-desakan.

Commuter Line yang kami tumpangi kali ini cukup padat. Meski bukan jam berangkat kerja namun masa liburan membuat kereta dipenuhi penumpang. Aku dan anak-anak sengaja mengambil tempat di Gerbong Khusus Wanita yang relatif lebih sepi. Meski tak mendapatkan tempat duduk, kami cukup nyaman menikmati perjalanan sambil berdiri di dalam gerbong. Kami hanya membayar ongkos sebesar empat ribu rupiah untuk rute Stasiun Depok lama menuju Stasiun Jakarta Kota dan tambahan lima ribu rupiah sebagai deposit untuk kartu single trip yang digunakan. Kartu tipe single trip ini dapat di-refund bila dikembalikan sebelum tujuh hari dihitung dari perjalanan terakhir. Alternatif lain adalah dengan membeli kartu berlangganan multi trip yang bisa digunakan kapan saja dan kemana saja tanpa harus repot antri membeli tiket di loket dan mengembalikannya. Bagi mereka yang sering menggunakan kereta disarankan untuk memiliki kartu multi trip seharga lima puluh ribu ini.

Waktu tempuh sekitar empat puluh menit menjadi tak terasa bersama anak-anak ini. Di Stasiun Jakarta Kota kami turun dan melanjutkan perjalanan menuju Museum Gajah dengan menggunakan Bis Trans Jakarta. Letak stasiun kereta dan halte bus yang berbeda dapat ditempuh dengan berjalan kaki melalui lorong bawah tanah. Kubiarkan mereka berempat berjalan di muka, aku dan suami mengawasi mereka dari belakang. Situasi seperti ini mengingatkanku pada perjalanan kami di Kuala Lumpur atau di Singapura. Situasinya mirip seperti saat ini, dengan menyandang tas masing-masing berisi keperluan pribadi, indra keempat anak ini bekerja di setiap langkah kaki menyusuri tunnel, hop off hop on dari satu tempat ke tempat lain. Sangat disayangkan bahwa perbedaan nyata terlihat disini, ketertiban dan kebersihan yang tak terjaga membuat kawasan Kota Tua yang seharusnya indah dan unik ini kelihatan kotor dan kumuh. Ah, tak usahlah membandingkan sampai ke negeri seberang, Jakarta bisa belajar dari Surabaya mengelola Kawasan Heritage dan Kota Tua mereka.

Cara paling mudah menuju Museum Nasional atau Museum Gajah adalah dengan menggunakan Bis Trans Jakarta. Pertimbangannya hampir sama dengan alasan menggunakan kereta yaitu terhindar dari macet karena bis melalui jalur khusus yang disediakan untuk Trans Jakarta. Dari Halte Jakarta Kota kami mengambil rute menuju Blok M bertarif Rp. 3500 per orang dan turun di Halte Monumen Nasional. Untuk mereka yang hendak berpergian menuju Museum Nasional, Monumen Nasional (Monas) dan Stasiun Gambir, maka halte ini adalah halte terdekat tempat-tempat tersebut. Hanya perlu menyeberang jalan dari halte Monumen Nasional menuju Museum Nasional. Kami menyempatkan diri menikmati jalanan yang cukup lengang dengan duduk-duduk di bangku yang disediakan di sepanjang pedestrian Jalan Medan Merdeka Barat tempat museum yang kami tuju berada. Sambil menyantap bekal makanan ringan, kami mengamati segala hal di sekitar kami. Ah, siapa bilang Jakarta tak bisa dinikmati? Asal tahu cara dan waktu yang tepat, Jakarta tak pernah habis untuk dijelajahi.

tdm3Sudah hampir setengah dua belas siang saat kami tiba di Museum Nasional. Aku dan suami tertawa kecil nyaris bersamaan saat kami mendekati tugu kecil di halaman depan museum. Di tugu tersebut terdapat patung dari perunggu yang berwujud Gajah hadiah dari Raja Chulalangkorn dari Thailand pada tahun 1871. Patung ini seolah menjadi aikon museum sehingga membuat museum ini lebih dikenal dengan nama Gedong Gajah atau Museum Gajah. Kami berdua seolah kembali ke masa kecil kami, saat orang tua kami masing-masing membawa kami ke museum ini puluhan tahun lalu. Kejadiannya persis sama, berfoto di depan Patung Gajah. Aku bahkan ingat sekali ekspresi fotoku berdua ibu di depan Patung Gajah. Di bawah terik matahari Jakarta tahun 1979, aku di gandeng ibuku sambil setengah menangis, entah karena lelah atau karena kepanasan. Kini tahun 2014, masih di bawah terik matahari Jakarta yang sama, aku berpose bersama empat anak belasan dengan senyum lepas meski kepanasan.

Dibangun di atas tanah seluas 26.500 meter persegi, sebelumnya museum ini adalah Museum Pusat milik Lembaga Kebudayaan Indonesia dan pada tahun 1962 diserahkan pada Pemerintah Indonesia. Pada tahun 1979 statusnya sebagai Museum Pusat ditingkatkan menjadi Museum nasional dan terus berkembang hingga saat ini Museum Nasional memiliki dua buah gedung. Gedung A merupakan gedung lama, digunakan sebagai ruang pamer koleksi museum juga sebagai tempat penyimpanan koleksi. Sedang Gedung B, yang diresmikan pada tahun 2007 oleh Presiden RI, terdiri dari 7 lantai, dimana lantai 1 sampai 4 digunakan sebagai ruang pamer dan sisanya untuk ruang kantor, ruang rapat, laboratorium dan perpustakaan, dan lain-lain.

Perlu energi yang cukup untuk bisa menikmati seluruh koleksi Museum Nasional. Bukan hanya karena luas tapi juga karena banyaknya koleksi yang dimiliki. Terhitung ada sekitar 140 ribu benda-benda sejarah koleksi museum yang terdiri dari jaman prasejarah, arkelologi, keramik, etnografi sejarah sampai geografi. Penataan yang baik dengan ruangan berpenyejuk udara, kami nyaman menikmati satu per satu koleksi museum. Sesekali memandu anak-anak ini dengan memberi informasi tambahan yang menarik pada beberapa benda. Jadi bila anda mencari tempat dimana anda bisa melihat sejarah bangsa ini dari jaman prasejarah maka tempat ini adalah tempat yang tepat. Pengunjung bisa datang ke tempat ini setiap hari kecuali Hari Senin pukul 08.30 – 16.00. (Sabtu dan Minggu sampai pukul 17.00). Tiket masuknya sangat murah, bila anda adalah pengunjung perorangan, tiket yang harus dibayar hanya dua ribu rupiah untuk anak-anak dan lima ribu rupiah untuk dewasa. Akses transportasi yang mudah dan nyaman, harga tiket yang sangat murah dan koleksi museum yang sangat lengkap, maka tak ada alasan untuk tidak mengunjungi tempat ini dan mengenali sejarah bangsamu sendiri.

tdm4

Hampir dua jam kami berada di tempat ini, masih ada satu tujuan lagi yaitu Museum Bank Indonesia. Kami bergegas kembali ke Halte Bus Trans Jakarta di seberang museum, kembali ke Stasiun Kota melewati rute yang sama saat kami berangkat. Kami tak ingin kesorean agar tak bersamaan dengan jam pulang kantor saat kembali ke Depok nanti.
Museum Bank Indonesia letaknya bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri. Aku bercerita pada anak-anak bahwa Museum Bank Mandiri dulu digunakan sebagai kantor pusat bank dimana dulu kakek mereka bekerja. Dulu namanya adalah Bank Exim, sebelum merger dengan beberapa bank lain dan berubah nama menjadi Bank Mandiri. Sayang hari sudah menjelang sore sehingga kami hanya memilih satu diantaranya.

Untuk masuk ke dalam Museum Bank Indonesia, pengunjung tidak dikenakan biaya sepeser pun alias gratis. Meskipun menempati gedung tua bekas rumah sakit jaman kolonial, namun ruang dalam museum ini bagai disulap sedemikan rupa sehingga kesan kuno layaknya museum-museum lain tak lagi terasa. Museum ini bahkan terasa sangat modern, tertata rapi dan sangat nyaman. Beberapa ruangan dilengkapi dengan peralatan audio visual dengan tata lampu yang membuat suasana dramatis sesuai dengan tema ruangan. Di museum ini kita bisa melihat perjalanan dunia perbankan Indonesia. Sebagai bank sentral, Bank Indonesia memegang peran vital dalam perkembangan sejarah keuangan dan perekonomian Indonesia. Semua itu bisa kita lihat dalam museum ini, sejak masa penjajahan, masa revolusi, masa pembangunan dan reformasi hingga saat ini.

Kami sedikit terburu-buru berada di museum karena museum akan tutup pada pukul 15.30, lagi pula kami menargetkan bahwa pukul 16.00 sore kami harus sudah bertolak kembali ke Depok. Namun kami puas melihat semua koleksi museum dan pulang dengan riang karena banyak tahu dan banyak belajar hari ini. Lelah mulai terasa di badan, untung saja kami semua dapat tempat duduk di kereta sehingga perjalanan pulang dapat digunakan sepenuhnya untuk istirahat. Si bungsu bahkan sudah tertidur dengan kepala tersandar di pangkuanku sejak kereta mulai meninggalkan Stasiun Kota. Hujan pun turun sepanjang perjalanan kami pulang, Stasiun Depok yang basah menyambut kami kembali. Kapan-kapan kami akan lakukan lagi, ke museum yang berbeda tentu saja.

Terimakasih Tuhan, untuk kehidupan yang luar biasa

Depok, 2 Januari 2014.

tdm2

 

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

pulau ketam donna imelda

Pulau Lumpur Nan Unik itu Bernama Pulau Ketam

Deretan rumah panggung yang unik dengan tiang-tiang kayu penyangga serta barisan perahu yang tertambat itu masih ...

8 comments

  1. Wah kok murah ya tiketnya, bulan November saya masuk museum Gajah tiketnya 10.000 atau karena hari Minggu ya.. 🙂

  2. Betul, emang jauh lebih enak naik Busway dibanding Commuter kalau mau ke wilayah Kota Tua, tp tergantung domain kita tinggal sih mba 🙂

  3. Dulu pernah mengajak anak-anak tour ke bogor naik kereta KRL dan seneng banget. Kapan-kapan mau diulangi lagi ah tour kayak gini, kebetulan mereka belum pernah transjakarta 😀

    Jalan-jalan nih di blog Mak Donna.
    Good luck for Srikandi Blogger 2014 ya 🙂

    • donna imelda

      Tersanjung blog aku dikunjungi mak Sary… thanks ya mak sudah berkenan berkunjung. Semoga bisa berkontribusi aktif melalui tulisan bersama KEB.

  4. Sebelum si sulung masuk pesantren, dulu suka ikutan jalan-jalan ke museum bareng Sahabat Museumnya Ade Purnama.
    Kalau sekarang, anak nomor dua, Kayla, lebih senang diajak ke pantai 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge