Tuesday, November 21, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Krabi dan Imigrasi [South East Asia Trip, day#2]
IMG_9884

Krabi dan Imigrasi [South East Asia Trip, day#2]

Kita semua adalah orang-orang tawanan.

Tetapi sebagian dari kita berada dalam sel yang mempunyai jendela dan sebagian lagi tidak.

Kahlil Gibran

Bola mataku membesar melihat pemandangan di depanku, terheran. Baru beberapa menit saja rasanya aku melewati ruangan ini menuju surau, masih kulihat orang-orang yang meringkuk di setiap sudut tergeletak melewati malam yang dingin di dalam hanggar besar ini. Namun sekembaliku dari surau, tiba-tiba saja ratusan orang tadi telah berkerumun dengan troly di hadapan mereka masing-masing. Bagai dikomando mereka bergerak serentak, bangun dari tidurnya lalu berbaris di depan konter check in. Bersiap berangkat ke tujuan masing-masing dengan penerbangan paling pagi.

Aku bergegas menuju teman-teman yang terlihat menungguku, sudah siap seperti calon penumpang lainnya. Kujejal begitu saja beberapa personal care yang baru saja aku gunakan ke dalam ransel dan bergabung dengan mereka. Lengkap sudah anggota grup ini berlima, rombongan yang terdiri dari dua perempuan dan tiga lelaki. Empat berangkat dari Jakarta dan satu dari Medan, bertemu di Sepang. Perjalanan menjejak di beberapa negara Asia Tenggara dimulai menuju destinasi pertama kami, Krabi di Thailand.

Kabin bertekanan dan terbang di ketinggian ribuan feet memberangus imajinasi romansa menyek yang biasa hadir bila aku melakukan perjalanan darat atau laut. Penerbangan menuju Krabi akhirnya aku isi dengan melanjutkan tidur di dalam pesawat saja. Kurang dari 90 menit kemudian, pesawat Airbus milik maskapai Air Asia ini mendarat dengan mulus di Bandara Krabi, Thailand. Melewati koridor pendek setelah keluar dari garbarata kami langsung memasuki ruang pemeriksaan imigrasi. Meski hari ini adalah hari kerja dan penumpang yang turun saat itu hanya berasal dari pesawat yang aku dan teman-teman tumpangi, tapi di bandara yang kecil ini dan tidak semua konter pemeriksaan dibuka, tak urung mengakibatkan antrian yang panjang.

Seperti biasa ada saja kejadian lucu di bagian imigrasi. Untuk ukuran perempuan yang pernah repot maksimal berurusan dengan imigrasi dan airport karena pernah mengurus kehilangan paspor anakku saat kami liburan di Singapura. Aku kapok campur sedikit trauma, kemudian selalu berupaya untuk menghilangkan semua resiko pertanyaan yang tidak perlu atau perlakuan yang tidak menyenangkan dari petugas imigrasi yang sebagian besar wajahnya nyaris lempeng, kaku seperti kanebo kering setiap aku melakukan perjalanan. Raut wajah mereka jauh dari kesan ramah alias tidak menarik. Tetapi aku berusaha memahami pekerjaan mereka, hal ini mungkin karena mereka adalah garda terdepan masuknya orang-orang dari berbagai negara, termasuk masuknya kejahatan dalam berbagai bentuk. Jadi biarkanlah mereka bekerja dengan format standar seperti itu, karena memang tanggungjawab mereka besar dan harus tegas menghadapi berbagai kemungkinan. Ah, jadi ingat kasus Pesawat MH370, yang kecolongan dua penumpangnya yang berhasil lolos menggunakan paspor curian.

Sejak di pesawat kami sudah dibagikan form isian imigrasi yang harus kami isi dengan  informasi diri, barang-barang yang harus di declare (bila ada), asal dan tujuan kedatangan, akomodasi selama di tempat dan lain lain. Saat kami tengah mengantri, salah satu petugas imigrasi yang cukup ramah mendatangi beberapa penumpang, membantu memastikan isian form imigrasi sudah lengkap dan benar, termasuk menyapaku dan menanyakan satu dua hal sambil memeriksa form. Petugas ini juga mengingatkan bahwa kolom akomodasiku belum terisi, bukan karena lupa tapi memang sengaja tidak aku isi. Pertimbangannya adalah karena kami memang tidak memiliki rencana untuk menginap dan akan melewati malam di dalam bus menuju Bangkok. Tapi ya sudahlah, daripada repot beradu argumentasi dengan petugas imigrasi dengan bargaining position pasti tetap lebih lemah di konter nanti, aku dan teman-teman pun menyempatkan diri browsing beberapa hotel hanya sekedar mendapatkan nama dan alamat hotel untuk melengkapi isian.

Kami berlima tidak selalu antri pada barisan yang sama, seringkali memisah mencari antrian terpendek. Pengalaman pemeriksaan pada konter yang berbeda dan dilayani dengan petugas yang berbeda atau di waktu yang berbeda acapkali memberikan pengalaman yang berbeda-beda pula. Begitu pula saat di Krabi. Petugas imigrasi yang memeriksa kami berlima dalah orang yang sama. Satu orang sudah terlebih dahulu mulus melewati pemeriksaan, dan pada giliranku, masih dengan wajah kaku, tapi petugas ini cukup puas dengan hanya memeriksa isian dan sedikit penjelasan langsung. Namun tidak demikian terhadap tiga teman di belakangku. Petugas ini tidak cukup puas dengan penjelasan temanku. Padahal yang ditanyakan dan jawabannya juga sama, lha kami khan melakukan perjalanan bersama dan bahwa kami akan meneruskan perjalanan malam ini menuju Bangkok dan kemudian terbang menuju Phnom Penh. 

Ya begitulah…namanya juga imigrasi. Untuk mereka bertiga, aku terpaksa harus menjelaskan bahwa kami adalah satu rombongan, sambil menunjukkan bukti pemesanan pesawat bahwa esok hari kami meninggalkan Thailand dari Bangkok dan bertolak menuju Cambodia. Hal yang sebenarnya juga sudah dijelaskan langsung oleh teman-temanku pada petugas ini. Demi menyenangkan petugas imigrasi, aku pun memasang wajah penurut ekstra dramatis (baca: lebay) dan terus berdiri tak jauh dari petugas sampai kami berlima selesai semua diperiksa. Hufh…

Jadi untuk teman-teman yang hendak melakukan perjalanan berantai seperti kami, jangan lupa untuk selalu menyiapkan tiket lanjutan keluar suatu negara atau bukti pemesanannya. Karena pada pirinsipnya mereka berhak tahu dan harus memastikan bahwa setiap orang yang masuk ke negara mereka akan keluar dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan regulasi yang berlaku di negara tersebut. Bisa berupa cetakan atau print out, dan bisa juga dengan menunjukkan bukti pemesanan online melalu layar telepon selular pintar anda. Untuk cara yang kedua, pastikan baterei telepon anda dalam keadaan terisi ya. Jangan sampai saat hendak ditunjukkan tiba-tiba layarnya padam di depan petugas imigrasi karena kehabisan daya. Berabe.

Oh ya, satu lagi. Out of topic sedikit, sekedar lucu-lucuan imaji aku saja, tapi masih seputar urusan pemeriksaan di bandara (bukan di imigrasi). Pastikan pakaian anda yang menggunakan sabuk pinggang itu tidak kedodoran ya, karena akan lucu saat pemeriksaan di bandara bila anda harus memegangi celana agar tidak turun ke kaki saat sabuk dilepas dan melalu pemeriksaan X-Ray. Satu lagi, ini sih catatan buat yang kayak aku yang berpakaian muslim. Sesekali khan aku suka tuh menggunakan jaket atau cardigan hanya dengan kaos atau T-shirt di bagian dalam tanpa lengan atau berlengan pendek. Nah yang ini juga akan lucu terlihat bila saat pemeriksaan, jaket harus dibuka dan, voilaaaaa….. tampillah aku ala you can see dengan kerudung masih bertengger di atas kepala. Hahaha… jangan sampe.

Nanti kita lanjut lagi yaaaa catatan perjalanan 9Day8Night4Country #9D8N4C….

aku mau cerita serunya numpang makan siang di Phi Phi Don. Stay tune.….

Krabi, Thailand.
2 April 2014
#9D8N4C day #2

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

16 comments

  1. ditunggu bun lanjutan ceritanya
    eh yang paragraf terakhir bikin saya ngakak bacanya, jangan sampai kejadian deh hehehe 😀

    • donna imelda

      sip sip, Dika. Insyaallah dilanjutkan. Paragraf terakhir itu diilhami kejadian saat temen seperjalananku harus membuka jaketnya melewati XRay di bandar HCMC, dan dia hanya memakai kaos tanpa lengan yang bikin dia kelahatan seksieh sekali. Tapi dia cowok kok hehehe… yang kelihatan otot2 lengannya yang kekar #eh

  2. imigrasi emang belibet ya, mak. salah satu bentuk kehati-hatian negara yang kita datangi. semoga dimudahkan perjalanannya, mak

    • donna imelda

      Iya Ila,kadang belibet. Itulah kenapa penting mengetahui apa yang boleh dan apa yang gak boleh dilakukan atau dibawa dalam perjalanan. Setidaknya dengan cara itu kita sudah meminimalkan resiko kejadian yang tidak menyenangkan.

  3. Terimakasih infonya.. hehehehe… lucu juga tapi yakin saya bisa BeTe kalau seperti itu… 😀

  4. lebih seru lagi kalau ada fotonya ya mbak

  5. Sekarang memang jaman paperless tp kalau pergi nggak jelas akomodasinya gini memang beresiko nggak bawa print out ya, kalau nggak sempat ngecharge

    • donna imelda

      Untuk yang seperti ini, terutama abroad dan by plane aku selalu well prepared. Gak terlalu suka kejutan dalam perjalanan yang bisa mengacaukan mood atau merusak rencana perjalanan hehehe. Kata temen gue yang menjuluki gue Miss Perfect hahaha

  6. Informasinya sangat berguna bagi yang suka bepergian ke luar negeri.
    Memang sudah tugasnya imigrasi begitu ya, jadi harus sabar.

  7. Informasinya sangat berguna yang suka berplesiran ke luar negeri.
    Petugas imigrasi memang harus teliti.

  8. Hmmm males jg ya mbak ngadepin petugas yg lempeng kek kanebo gitu

  9. Males jg ya mba ngadepin petugas yg lempeng kek kanebo gitu
    astin soekanto recently posted…6 Pantai di Ambon Yang Bikin MelelehMy Profile

  10. Mungkin kalau semua orang pengertian kayak Mbak Donna tentang tugas petugas imigrasi, nggak ada lagi yang bete sama yang jutek-jutek kalo lagi diperiksa, hehehe….
    Dini recently posted…Pastel Jakarta from Istana Pasar Baru RooftopMy Profile

  11. Sumpeh, gw cekikikan sendiri pas di paragraf terakhir, Don. Bayangin elo dengan kerudung di kepala dan tank top lagi diperiksa sama petugas pintu detektor ^_^
    Ratna recently posted…Belajar Foto Bareng Upload Kompakers Bogor di Hancock Resto & CafeMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge