Thursday, October 19, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jawa » Lautan Pasir dan Matahari Terbit Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
2

Lautan Pasir dan Matahari Terbit Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Cemoro Lawang, pukul tiga dini hari.

Mengingat bagaimana ajaibnya kami bisa sampai kesini dan entah kapan bisa kembali lagi, saya berulang kali mengucapkan syukur. Terimakasih Tuhan, dengan caraMu aku berkesempatan melihat semua ciptaanMu yang luar biasa

Terbangun aku dari tidur yang gelisah. Dingin yang luar biasa setelah hujan seharian sampai malam kemarin membuat aku tak bisa tidur nyenyak meski telah menggunakan pakaian berlapis jaket tebal hingga dua lembar lengkap dengan sarung tangan dan kaus kaki. Dalam salah satu kamar di penginapan yang berukuran kecil dan sederhana ini aku bertahan dari udara dingin bersuhu sekitar 3-5 derajat celcius. Kupandangi wajah Astri, teman perjalananku yang terlihat menikmati sekali tidurnya. Tak kupaksakan diri untuk melanjutkan tidur karena diperkirakan tak lama lagi jip jemputan yang akan membawa aku dan Astri ke Puncak Gunung Penanjakan untuk melihat matahari terbit akan tiba. Kubenahi ransel merahku dan beberapa bawaan untuk mengisi waktu.

Perkiraanku tak meleset, menjelang pukul setengah empat subuh kami berdua dijemput dan langsung bergerak meninggalkan Cemoro Lawang menggunakan jip 4 Wheel Drive berjenis Hardtop. Mobil berpenumpang tujuh orang termasuk supir ini selain membawa kami berdua juga membawa berisi empat orang turis asing lainnya. Perjalanan dari Cemoro Lawang ke Puncak Penanjakan memakan waktu kurang lebih 50 menit melewati lautan pasir. Sesekali mobil oleng ke kiri atau ke kanan karena slip di medan yang berpasir. Tapi supir kami ini terlihat sekali sangat berpengalaman, tak heran bila pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tidak mengijinkan mobil pribadi melintasi wilayah ini. 

Memperhatikan Segara Wedi/Lautan Pasir yang dini hari tadi kami lalui
Memperhatikan Segara Wedi/Lautan Pasir yang dini hari tadi kami lalui

Tak banyak yang dapat dilihat selama perjalanan karena kondisi yang masih gelap gulita kecuali beberapa rombongan pejalan yang memilih berjalan kaki untuk mencapai Penanjakan. Bahkan aku sendiri tak menyadari bahwa kami telah melewati Gunung Batok dan jalan yang dilalui ini adalah pemandangan yang kelak akan terlihat dari Penanjakan. Aku kagum dengan para pejalan itu, dengan suhu yang nyaris menyentuh angka nol derajat celcius, dengan penerangan hanya dari lampu senter atau lampu kecil yang terpasang di kepala, mereka berjalan di udara terbuka melewati lautan pasir.

Setelah melewati lautan pasir, mobil mulai menghadapi medan yang berliku dengan tanjakan yang terjal hingga menjelang pintu gerbang Penanjakan yang tingginya sekitar 2700 mdpl. Mobil yang kami tumpangi parkir cukup jauh dari gerbang, sementara di ufuk Timur semburat jingga sudah terlihat dari kejauhan. Tak ingin kehilangan momen di tempat yang belum tentu bisa aku datangi lagi dalam waktu dekat dan kondisi jalan yang terjal, kuputuskan untuk naik ojek sepeda motor yang hilir mudik menawarkan jasa sejak kami turun dari kendaraan. Hanya lima ribu rupiah aku bisa menghemat waktu dan tenaga. 

Dari jauh,  ufuk timur sudah menunjukkan semburat merah oranye
Dari jauh, ufuk timur sudah menunjukkan semburat merah oranye
Mengabadikan momen mentari yang terbit di Penanjakan
Mengabadikan momen mentari yang terbit di Penanjakan

Penanjakan sudah dipenuhi pengunjung saat itu. Aku cukup kesulitan mengambil titik terbaik untuk mengabadikan momen matahari terbit, terlebih arah matahari terbit tidak berada di segaris lurus dengan Gunung Semeru, Gunung Batok dan Gunung Bromo berada sehingga aku harus mengambil beberapa gambar di titik yang berbeda. Kondisi matahari saat itu diapit dua gugus awan yang memanjang, muncul di balik awan namun akan segera kembali tertutup awan. Tak terlalu buruk, karena kemunculannya yang sesaat pun sudah menghadirkan keindahan buat mata dan jiwaku.

Lalu aku segera berpindah ke titik lain untuk mengambil gambar dimana ketiga gunung yang dikelilingi lautan pasir itu bisa masuk dalam satu bingkai. Tak puas rasanya mengambil beberapa gambar meski dititik yang sama, bukan karena tak puas dengan hasil yang ditangkap kamera, namun terdorong oleh rasa kagum yang teramat sangat melihat bentang alam dihadapan saya . Sebuah maha karya, lukisan alam yang dibuat oleh Sang Maha Pencipta.

Gunung Batok, Gunung Bromo dan Puncak Gunung Semeru dalam satu baris....indah
Gunung Batok, Gunung Bromo dan Puncak Gunung Semeru dalam satu baris….indah

Pukul 05.30 pagi, waktu Penanjakan.
Sesuai dengan janji untuk berkumpul kembali dengan pejalan lain dan melanjutkan kunjungan ke Kawah Gunung Bromo dan Gunung Batok, aku dan Astri segera turun meninggalkan Penanjakan. Matahari yang bergerak meninggi dan cuaca yang cerah memungkinkan aku untuk melihat pemandangan sepanjang perjalanan. Sungguh aku merasa kecil sekali di dalam mobil ini, bagai sebuah titik kecil, bergerak di lautan pasir seluas 5.250 hektar berwarna hitam tebal dan dikelilingi oleh lereng-lereng pegunungan. Kubayangkan tempat ini saat erupsi tahun 2010, saat kawah Gunung Bromo menyemburkan debu vulkaniknya, kubayangkan juga tentang badai pasir yang konon sering terjadi di tempat ini. Ah, makin merasa kecil. Sungguh aku manusia bukan apa-apa dibanding kuasa alam dan segala yang bergerak atas kehendakNya.

Jip di parkir cukup jauh dari Kawah Bromo sehingga kita harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menunggang kuda yang disewakan buat pengunjung. Saya membagi perjalanan sejak dari tempat parkir mobil hingga bibir kawah menjadi tiga bagian. Yang pertama kita melalui lautan pasir yang landai dimana terdapat Pura Luhur Poten, tempat beribadah Suku Tengger yang beragama Hindu sampai ke kaki kawah, dilanjutkan melalui tanjakan terjal berpasir sampai ke ujung bagian bawah tangga, dan yang terakhir menaiki dua ratus lima puluh anak tangga sampai ke bibir kawah. 

Segara Wedi di lihat dari bibir Kawah Gunung Bromo, titik kecil itu Pura Luhur Poten
Segara Wedi di lihat dari bibir Kawah Gunung Bromo, titik kecil itu Pura Luhur Poten

Awalnya saya memutuskan untuk berjalan kaki saja sampai ke bibir kawah dengan pertimbangan bahwa saya takut menunggang kuda dan merasa cukup kuat untuk mendaki. Namun melewati etape pertama lautan pasir yang landai, pikiran saya mulai terkontaminasi dengan kekhawatiran saya sendiri saat dari dekat melihat tanjakan curam dan pasir yang tebal. Terlintas dipikiran saya pesan seorang teman di Tanjakan Cinta menuju Baduy Dalam, saat saya hampir putus asa melewatinya, ia berkata, “jangan lihat atas Donna, jalani saja langkah demi langkah dengan kecepatan konstan, berhenti saat lelah, ambil nafas untuk kemudian melanjutkan lagi”.

Namun pesan ini tak banyak membantu saya yang sendirian karena Astri yang sudah pernah kesini memutuskan untuk tidak ikut mendaki. Tanpa menawar biaya sewa kuda sebesar seratus ribu rupiah pulang pergi, saya memutuskan untuk menunggang kuda sampai ke ujung tangga, baru kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki menaiki ratusan anak tangga. Jangan ditanya rasanya menunggang kuda untuk pertama kali, namun instruksi singkat dari Pak Kadi, demikian nama pemilik kuda yang bernama Binggo, membuat saya akhirnya bisa menunggangi kuda meski tetap sesekali diliputi kekhawatiran. 

250 anak tangga
250 anak tangga
Pinggiran Kepundan
Pinggiran Kawah Puncak Gunung Bromo
Lubang Kepundan
Lubang Kawah

Di bibir kawah saya bisa melihat puncak Gunung Batok dari jarak dekat. Kawah yang merupakan bagian dari Puncak Gunung Bromo yang tingginya 2392 mdpl ini tak terlihat jelas lubangnya karena tertutup kabut asap dan terus menerus mengeluarkan bau belerang yang cukup menyengat. Saya tak berlama-lama di tempat ini. Setelah puas menelusuri bibir kawah dan mengambil beberapa gambar saya kembali menuruni anak tangga menjumpai Pak Kadi dan Binggo yang siap membawa saya ke bawah di tempat Astri menunggu.

26

27

Di sisi Kaki Gunung Batok aku menghabiskan sisa waktu bersama Astri, berbincang sambil menikmati segelas teh panas dan mengambil beberapa foto diri. Mata melihat sekeliling, merekam dengan baik dalam benak semua pemandangan ini, Pegunungan Tengger, jejeran jip warna warni, kuda-kuda dan pemiliknya. Lautan Pasir, Gunung Batok, dan Gunung Bromo dan Kawahnya serta puncak Gunung Semeru dari kejauhan semua terekam baik dalam benak. Hal yang sama aku lakukan lagi saat berada didalam jip yang berjalan membawa kami kembali ke Cemoro Lawang. Mengingat bagaimana ajaibnya kami bisa sampai kesini dan entah kapan bisa kembali lagi, saya berulang kali mengucapkan syukur. Terimakasih Tuhan, dengan caraMu aku berkesempatan melihat semua ciptaanMu yang luar biasa, semoga aku bisa lagi kembali ke sini bersama mereka yang aku sayangi. 

Segara Wedi, 13 November 2013

Di punggung Binggo
Di punggung Binggo

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

12 comments

  1. bulan Juli lalu sy ke Bromo. MEmang menakjubkan pemandangannya. Semoga bs ke sana lagi 🙂

  2. Indah nian pemandangan alam di sana, bersahabat dengan alam memang menyenangkan ya mbak 🙂

  3. lirik lirik cari suami. yuk ah ke bromo,,,,,,,

  4. Penanjakan dan Kawah Bromo hampir bosan saya kunjungi. Terlalu sering sih. Tapi sekarang ada objek lainnya yang menarik di sini. Menjelajah gurun pasirnya naik jeep/trail.

  5. Subhanallaah, saya jadi rindu sama sunrise-nya. Aaah, pengen ke sana lagi 😀

  6. Asik banget ya Don. Duh, aku merasa sangat ibu2 nih ngliat yg beginian, belum2 udah ngos2an aja. Tapi pengiiiiin banget 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge