Saturday, November 18, 2017
Home » Review and Event » Makin Jatuh Cinta Karena Wastra Nusantara
IMG20170511100804

Makin Jatuh Cinta Karena Wastra Nusantara

Apa yang tak boleh kamu lewatkan dalam sebuah perjalanan? Kalau saya sih tak ada yang sifatnya kudu banget. Namun bila harus dibandingkan antara menyempatkan diri untuk mencicipi kuliner setempat atau berburu Batik atau kain khas suatu daerah di Indonesia atau Wastra Nusantara, saya sih lebih memilih yang kedua.

Saya memang bisa melewatkan urusan mencicipi  makanan lokal di banyak tempat yang saya singgahi, tapi sungguh saya tak dapat menahan diri bila sudah berurusan dengan kain-kain khas di suatu daerah. Kalau sudah singgah di tempat produsen kain, selalu rasanya bisa khilap untuk membelinya. Di mata saya semua kain-kain itu cantik dan unik serta menggoda untuk  dibawa pulang semua ke Jakarta.

Perkenalan saya dengan wastra Nusantara sudah terjadi sejak saya remaja. Sebagai orang Palembang yang pernah menetap di Lampung, saya terbiasa melihat ibu dan ayah atau keluarga besar saya menggunakan Songket Palembang atau Kain Tapis dalam berbagai acara adat dan kesempatan resmi. Ibu saya memang senang mengoleksi berbagai jenis kain dan merawatnya dengan baik sekali. Di setiap daerah yang kami tinggali, pasti ia memiliki kain khas daerah tersebut.

Seiring dengan waktu dan karena harus mengikuti ayah saya yang ditugaskan di beberapa kota di Indonesia, koleksi kain beliau pun terus bertambah, bukan hanya dari sisi jumlah namun juga dari jenisnya. Dari songket, batik hingga tenun ikat. Dari berbagai bahan, corak atau motif serta warna. Dari harga yang ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah per lembarnya. Sangat beragam.

Bahagianya, mama juga menularkan kebiasaannya dengan mengajarkan kami merawat kain yang beliau belikan untuk anak-anak perempuannya. Saya dan adik saya jadi ikutan suka mengoleksi kain milik kami sendiri meski kala itu beliau masih membantu kami untuk menyimpan dan merawatnya. Hal inilah kemudian yang terbawa setelah saya menikah dan banyak melakukan perjalanan, mengikuti kebiasaan ibu saya mengoleksi kain dari perjalanan-perjalanan saya.

Ya, perburuan kain selalu menjadi agenda wajib buat mama di tiap daerah yang disinggahi atau ditinggali. Dan ternyata setelah dewasa saya pun melakukan hal yang sama. Singgah di suatu kota dan berburu kain di sana memang hal yang sangat menyenangkan. Ada keasikan tersendiri saat memperhatikan detail tekstur, motif, warna hingga cara pembuatan. Apalagi sampai mengerti filosofi di balik warna, pola dan motif kain. Saya bisa betah hingga berjam-jam lamanya untuk hal seperti ini.

Beruntung kami pernah menetap di Pekalongan yang mendapat sebutan sebagai Kota Batik. Saya mengenal lebih jauh seluk beluk Batik dari bahan, proses pembuatan, hingga menjadi baju batik wanita yang saya bisa saya gunakan di berbagai kesempatan. Beberapa kain lainnya saya biarkan sebagai bawahan tanpa dijahit saat digunakan, hanya dililit atau diikat di pinggang. Terasa lebih tradisional namun tetap sedap dipandang mata.

Di setiap daerah yang saya kunjungi dan memiliki kain khas, saya berusaha untuk memilikinya. Pilihan pada kain yang ingin dimiliki terkadang tergantung pada uang yang saya punya saat itu atau kesempatan dan waktu untuk mencari dan membelinya. Jadi tak harus berupa kain,  bisa juga berupa selendang atau ikat kepala sebagaimana yang sering saya pakai. Tak harus dibeli di pasar atau sentra-sentra produksi, tapi dimana saja kesempatan itu ada. Bahkan saking ingin membeli dan tak sempat ke pasar kain, saya membelinya di hotel atau di bandara. Lebih mahal pastinya, tapi kalau selembar dan kesempatan untuk kembali entah kapan, saya tetap melakukannya.

Tadinya sih kain-kain yang saya koleksi memang kain-kain yang sangat selektif untuk dikoleksi dan hanya digunakan di acara-acara yang istimewa. Namun seiring perjalanan waktu dan perkembangan dunia fashion di mana kain-kain tradisional seperti batik, kini bisa tampil di kesempatan-kesempatan yang lebih kasual dan santai sebagai baju batik wanita, saya pun mulai mengkoleksi kain-kain Batik dari jenis yang lebih ringan, baik bahan maupun harganya seperti kain batik atau kain tenun.

Sebagai travel blogger yang sering menerima undangan ke negara tetangga, saya selalu tak lupa untuk membawa satu atau dua helai kain untuk digunakan di sana. Biasanya saya gunakan saat acara gala dinner atau acara dengan nuansa tradisional, Dan betapa bangganya setiap kain yang saya pakai mendapat pujian. Bahkan salah satu koleksi lain khas Lampung pernah saya gunakan saat berkunjung ke Istana Shah Alam Selangor dan mendapat pujian.

Bersama travel blogger Malaysia di Selangor
Bersama travel blogger Malaysia di Selangor

Dengan lebih banyaknya kesempatan yang tidak harus resmi untuk menggunakan kain, setahun belakangan saya lebih banyak mengkoleksi kain dari jenis yang lebih ringan dengan motif dan warna menyesuaikan. Sehingga ini kain seolah tak bisa dipisahkan lagi dengan kehidupan saya. Dibanyak acara saya mulai menggunakannya sebagai padanan blus yang saya gunakan.  Daripada hanya menjadi penghuni lemari, dan melapuk karena waktu, lebih baik kain-kain itu saya gunakan bukan.

Apalagi dengan makin banyak kain yang saya miliki, saya makin banyak tahu tentang wastra Nusantara. Untuk itu penting memiliki pengetahuan tentang kain yang kita miliki, minimal pengetahuan dasar supaya gak salah kostum saat menggunakan. Miris saja rasanya melihat seseorang memakai kain dengan letak tumpal yang salah, atau menggunakan kain Batik dengan motif yang harusnya digunakan hanya di kesempatan tertentu malah dililit-lilit di badan dan dikibar-kibarkan di pantai.

Belajar proses pembuatan sekaligus pakem dan filosofinya, biar gak salah kostum
Belajar proses pembuatan sekaligus pakem dan filosofinya, biar gak salah kostum

Saya sering terkagum-kagum melihat bagaimana proses pembuatan kain-kain tersebut, perlu ketrampilan, ketelatenan dan waktu yang tak sebentar. Di Bima saya melihat perempuan-perempuan menenun Rimpu dengan alat tradisional, begitu juga di Lombok dan Baduy sambil geleng-geleng kepala, betapa terampilnya mereka membuat motif atau pola corak yang demikian presisi di setiap detailnya. Hargai mereka ya, beli dengan harga yang pantas, bahkan kalau bisa hargai lebih upaya mereka mempertahankan budaya dan kekayaan lokal Indonesia.

Belum lagi kalau kita melihat bagaimana Kain Tapis dibuat, wow…satu per satu benang emas itu dijahit dengan tangan dengan hitungan yang tepat agar membentuk motif yang diinginkan. Dan hebatnya semua itu tidak pakai contoh gambar, alias pola itu sudah terekam baik di kepala para penjahit untuk kemudian dipindahkan di atas kain dan menjelma menjadi Kain Tapis Lampung yang sangat bernilai harganya. Kita patut bangga karenanya.

Begitu juga dengan kain Batik, meski langkah prosesnya hampr selalu sama di setiap tempat, tapi toh saya tetap saja tak bosan-bosan menekuri proses pembuatan Batik di berbagai tempa bahkan selalu menyempatkan diri merasakan sensasi menorehkan malam dengan canting di atas pola atau sekedar ikut membuat batik cap. Ada keunikan yang berbeda terutama dari sisi motif di setiap batik yang dibuat di berbagai tempat tersebut.

Saat ini saya lagi senang mengumpulkan kain Batik dengan motif khas landscape, flora atau fauna setempat. Seperti saat saya berkunjung ke Batik Betawi di Cagar Budaya Setu Babakan, saya berhasil mendapatkan beberapa kain cantik sesuai dengan selera saya bergambar Ondel-Ondel, Monas dan Rumah Betawi. Waktu ke Baduy malah saya dapat dua macam, Batik baduy yang khas berwarna hitam biru serta Tenun Suwat berwarna merahmuda. Cantik deeeh.

Beberapa teman yang tahu saya senang mengkoleksi kain, sangat baik hati ikut menambah koleksi kain saya. Entah itu berupa oleh-oleh atau hadiah yang tentu saja saya terima dengan sangat bahagia. Dari Papua saya pernah dikirimi seorang teman Batik bercorak Tifa dan Burung Cenderawasih, dan dari Lestari di Blora saya dikirimi Batik bermotif Loko Kereta yang cantik. Dan seusai kunjungan ke Kabupaten Sumbawa Barat bersama teman-teman Newmont Bootcamp di Sumba saya mendapat Batik khas mereka yang dikenal dengan nama Batik Sasambo.

Nah bulan lalu, saya sibuk berburu Batik Semarang hingga ke Desa Meteseh untuk mencari Batik dengan Motif Lawang Sewu. Bela-belain dari Kuala Lumpur terbang ke Semarang sebelum kembali ke Jakarta. Selain ada keperluan lain, saya juga sudah menunda berkali-kali untuk berkunjung ke tempat pembuatan Batik Semarang tersebut. Jadi pas ada kesempatan saya tak menundanya meski kemudian gara-gara itu saya batal ke Brown Canyon dan meliput proses pembuatan Ikan Mangut khas Semarang demi Batik hehehe.

Saya memang kadang pemilih, bila belum menemukan yang sesuai selera, saya bersedia menunggu lebih lama dengan memesannya terlebih dahulu. Batik terbaru saya bermotif Lawang Sewu dan Warak Endog khas Semarang saya dapatkan dengan cara memesan. Karena stok yang ada motifnya sesuai tapi warna dan panjang kainnya tak sesuai keinginan saya. Untuk melilit tubuh saya yang mungil saya lebih suka dengan kain yang panjangnya  minimal 2,5 meter dan biasanya memilih warna-warna terang atau warna terang dengan dasar hitam. Kontras itu cantik di mata saya.

Kain Kerawang Gayo dari Aceh Tengah
Kain Kerawang Gayo dari Aceh Tengah

Jadi siapa bilang kain hanya sekedar pakaian atau selembar tekstil, karena dari kain, saya mengenal lebih banyak dan makin jatuh  pada Indonesia.

Ayo Pelesiran, Oktober 2017

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

The Passport @donnaimelda

The Passport – Tempat Hangout Favorit di Gading Serpong

Bukan sekali ini saya mampir ke The Passport, tempat hangout favorit saya di Gading Serpong. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge