Thursday, December 14, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Mari Selesaikan Apa Yang Sudah Kita Mulai [South East Asia Trip #1]
cv#1

Mari Selesaikan Apa Yang Sudah Kita Mulai [South East Asia Trip #1]

Seandainya alam peduli pada apa yang kita katakan tentang kepuasan hati,

takkan ada sungai yang mencari lautan,

dan musim dingin tidak akan beralih ke musim semi.

Seandainya dia peduli terhadap perkataan kita tentang penghematan,

berapa banyak dari kita yang akan menghirup udara ini.

Kahlil Gibran

Sekitar pukul empat pagi di sebuah restoran cepat saji. Teh panas dan bubur ayam terhidang di atas meja, siap menghangatkan tubuhku yang hampir menggigil semalaman terpapar udara dingin di dalam ruang. Lalu lintas manusia di hadapanku masih saja ramai seperti saat aku mendarat di sini tadi malam. Sebagian terlihat menggendong tas punggungnya atau menarik koper dengan roda di bagian bawah. Hendak kemana gerangan langkah kaki kalian wahai pejalan.

Kulihat jarum di jam tanganku, sedikit sekali berubah posisinya sejak aku duduk disini. Rasanya dunia lambat sekali berputar. Segera kusantap bubur yang dominan sekali dengan aroma rempah serai wangi sambil terus mengamati orang yang lalu lalang di hadapanku. Pikiranku melayang ke Jakarta, pada tiga jiwa terkasih yang mungkin masih terlelap dalam mimpinya masing-masing. Aktivitas yang serupa dengan empat rekan seperjalananku yang masih tertidur di dalam ruangan menanti waktu check in bandara yang lebih mirip sebuah hanggar raksasa ini.

Aku mulai bosan. Sejak sekitar pukul sembilan tadi malam aku sudah berada di Low Cost Carrier Terminal (LLCT) di Sepang Malaysia ini setelah terbang dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng untuk melanjutkan terbang ke Krabi, Thailand pukul tujuh pagi. Jarak antar penerbangan yang cukup panjang, namun malam hari hanya memberikan sedikit pilihan. Terminal yang berada jauh dari pusat kota juga cukup merepotkan bila kami harus keluar dan menginap di hotel lalu harus bangun dini hari untuk bersiap kembali ke sini. Pilihan menginap di bandara akhirnya menjadi pilihan sejak awal kami merencanakan perjalanan ini.

LCCT bagai tak pernah tidur, fasilitas di sini lengkap dan sebagian besar buka selama dua puluh empat jam. Awalnya kami berempat melewatkan waktu di salah satu restoran cepat saji, sambil menunggu seorang teman yang bertolak dari Kuala Namu, kami berbincang dan menikmati makan malam yang terlambat. Aku juga tak lupa memanfaatkan jaringan wifi untuk sekedar memberi kabar ke Jakarta. Namun begitu, bagaimanapun terminal ini bukanlah tempat yang nyaman untuk tidur. Jadi ketika tubuhku sudah memberi sinyal untuk segera beristirahat, mulailah kami mencari tempat yang cocok untuk rebahan. 

Belum lagi lewat tengah malam, tapi di beberapa sudut ruang dalam bandara, ternyata beberapa calon penumpang sudah terlebih dulu mengambil tempat yang nyaman untuk dirinya. Sebagian besar mengambil tempat yang sedikit tersembunyi, misal pada ceruk antar ruang, pojokan atau selasar dekat dinding. Tempat-tempat strategis dan dekat dengan sumber listrik rata-rata sudah terisi. Semua mengambil posisi yang paling nyaman, ada yang masih duduk rapi di atas besi panjang sepanjang dinding, ada pula yang duduk bersila atau bersandar diatas lantai, bahkan banyak pula yang tanpa sungkan mengambil posisi rebah alias tiduran.

Kami mengambil tempat dekat dinding dalam ruang dekat konter check in. Tempat ini menurutku cukup strategis karena merupakan wilayah yang tak dilewati lalu lalang manusia. Niatku untuk meminimkan penggunaan gadget dan memaksimalkan rasa membuatku merasa tak mengapa jauh dari sumber listrik, toh memang waktu yang tersedia memang akan aku gunakan untuk beristirahat. Kucoba untuk memejamkan mata, meski pikiran masih melayang entah kemana. Sesekali jatuh tertidur namun ternyata jaket yang aku gunakan tak mampu menahan dingin yang berasal dari lantai. Lalu aku buka jaket dan menggunakannya sebagai alas, kini giliran bagian atas tubuhku yang kedinginan. Serba salah. Untunglah tak berapa lama kemudian salah satu teman perjalananku yang berasal dari Medan akhirnya mendarat dan merelakan sleeping bag miliknya sebagai alas tiga orang di antara kami. Lumayan sangat membantu mengurangi rasa dingin yang menerpa. Akhirnya aku tidur cukup lelap untuk beberapa jam hingga menjelang waktu Sholat Subuh. Pintu surau masih dalam keadaan terkunci dan baru dibuka pukul lima pagi. Masih ada waktu satu jam, kuputuskan untuk duduk-duduk saja di restoran cepat saji sendirian. Menikmati bubur ayam dan segelas teh panas sambil bermain dengan pikiranku sendiri.

Sungguh ini sebuah perjalanan panjang. Masih ada delapan hari ke depan dari total 9 hari melintasi empat negara dalam rangkaian long trip yang aku beri nama South East Asia Trip. Berawal dari Jakarta, melintasi Thailand, Cambodia, Vietnam, dan Malaysia lalu kembali berakhir di Jakarta. Melalui dua perjalanan darat menggunakan sleeping bus dan lima perjalanan udara yang semuanya hasil perburuan tiket promosi low budget airlines Air Asia.

Sebuah kontradiksi tercipta justru hanya beberapa minggu menjelang berangkat. Serangan vertigo, persiapan studi lanjut, dan ekspektasi yang berlebihan terhadap rencana perjalanan yang aku anggap sebagai hadiah menjadi sebuah antiklimaks. Terlebih saat sahabat baik, karena pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan akhirnya batal berangkat. Aku rasanya seperti kehilangan sebelah sayap. Kemudian aku sempat memutuskan untuk tidak berangkat dan membatalkan semua rencana yang sudah disusun setahun belakangan. Walaupun akhirnya kemudian memutuskan untuk kembali melakukan perjalanan ini, itu dilakukan hanya beberapa hari menjelang berangkat. Itu pun tetap saja seperti mobil mogok yang dipaksa melaju. Selalu dalam keadaan ragu. Dukungan justru didapat dari anak-anak, mereka mengatakan “bener nih,bun… gak jadi berangkat? Ntar nyesel lho”. Saya tersenyum mengingat hal ini. Buat kedua anak perempuan itu, dan sebagaimana yang kuharapkan, bahwa aku adalah role model mereka. Semua aktivitasku adalah menjadi contoh dan suatu kebanggaan buat mereka. Pengalamanku adalah pelajaran menarik dan berharga yang mungkin tidak mereka temukan di kurikulum sekolah mereka, termasuk saat melakukan perjalanan ke beberapa kota dan negara. “Ayolah bun, kita khan harus meyelesaikan apa yang sudah kita mulai”, demikian kata Si Sulung.

Jadi, saat aku bosan, kedinginan dan kesepian duduk sendirian menanti azan subuh tiba, aku lalu menguatkan diri, bahwa perjalanan ini adalah perjalananku, dan semua ekspektasi indah yang aku harapkan adalah sepenuhnya menjadi tanggungjawabku. Ini juga bukan perjalanan pertamaku membawa-bawa tas punggung dan meninggalkan Indonesia. Aku tidak takut lelah, tapi toh vertigo yang bisa kambuh kapan saja ini cukup mebuat aku khawatir. Bantal leher, segala macam obat, pain killer, pakaian dan sepatu yang paling nyaman serta light packing menjadi salah satu upaya memperkecil resiko telah saya siapkan, menjaga batin selalu dalam keadaan terkoneksi dengan Tuhan dan keluarga, juga termasuk persiapan mental untuk –hal yang tak pernah saya lakukan sebelumnya karena saya penakut- yaitu tidur sendirian.

So…hadapi ketakutanmu sendiri, tak ada yang harus ditakutkan kecuali agar kita tetap dalam keadaan waspada. Sudah pukul lima, pintu surau sudah dibuka. Bubur ayam pun tandas sudah. Kusesap beberapa tetes terakhir teh yang sudah tidak panas lagi. Bangkit dari tempat duduk, dan siap menjemput pengalaman baru, South East Asia Trip. Bismillah…

Sepang,

1 April 2014

#9D8N4C day #1

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

12 comments

  1. ditunggu lanjutan berikutnya mak 🙂

  2. ditunggu ya mbak lanjutannya….menarik bgt nih

  3. Lah kan ada temen2nya? Kok nggak ngobrol? Waktu aku ke Prambanan ada sepasang bule yg bergantian membacakan buku, sepertinya novel. Aku pikir, ngapain juga? Mereka kan pasangan? Jalan2 aja, ngobrol atau bercinta. Nah, membaca situasimu tadi, mungkin itulah jawabannya. Bahkan traveler yang mengunjungi tempat2 ramai perlu pemecah kesunyian. Anyway, aku nggak bisa membayangkan tidur di bandara. Waktu gak bisa pulang ke Pku krn kabut asap, aku nyari info hotel transit sekitar bandara yg bisa menjemput. Cuma ngamar 5 jam heheee

    • donna imelda

      ngobrol juga sih sblm tidur, ini setting ceritanya pada pukul 4 pagi, saat yang lain masih lelap tertidur.
      Betul analisismu,lus… sebenarnya bukan sendiri atau beramai-ramai. Sendiri ataupun berdua bisa asyik dan merasa ramai dan berinteraksi, tp pergi beramai-ramai pun kesunyian bisa saja hadir. *kantongin gadget kenceng2.
      Insyaallah nanti aku pengen nulis tentang hal ini.

  4. Moga sehat selalu ya maak, biar bisa menikmati jalan2nya. Seru deh, suatu saat aku juga pengen keliling dunia sepertimu 🙂

  5. Ikut menanti lanjutannya…

  6. selamat jalan mak Donna, semoga sehat dan jadi perjalanan yang berkah. ditunggu oleh2 ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge