Wednesday, October 18, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jakarta » Menara Syahbandar dan Museum Bahari: Jejak Kejayaan Bahari Milik Negeri
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Menara Syahbandar dan Museum Bahari: Jejak Kejayaan Bahari Milik Negeri

Masih dalam rangkaian tur sehari bersama Jakarta Corners dan Grand Zuri BSD, tulisan mengenai Menara Syahbandar dan Museum Bahari ini adalah bagian kedua catatan perjalanan D’Jakartans setelah Pelabuhan Sunda Kelapa pada tanggal 14 Oktober 2015 kemarin. Tak sulit menemukan kedua tempat ini, letaknya berada di kawasan yang sama di sekitar Jalan Pasar Ikan, Penjaringan Jakarta Utara yang juga tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa.

Menara Syahbandar

Tingginya yang mencapai 12 meter membuat Menara Syahbandar yang dibangun pada tahun 1839 ini mudah terlihat dari kejauhan. Bentuknya sederhana sebagaimana bangunan-bangunan tempo dulu. Namun justru kesederhanaan dan kesan vintage yang muncul itulah yang menjadi daya tarik kami. Daun jendela yang di cat warna hijau terlihat kontras dengan warna dasar bangunan yang berwarna kuning gading. Warna merah yang mendominasi tangga, kusen jendela dan seluruh menara bagian paling atas membuat bangunan ini terasa hangat.

Bagai menemukan kesenangan, seluruh peserta tur serta merta sibuk dengan urusan foto begitu memasuki kawasan Menara Syahbandar yang tak luas itu. Ada yang sibuk memotret obyek-obyek menarik di sekitar menara, ada pula yang asik mematut diri mencari pose yang paling menarik di hadapan lensa. Pose selfie dan welfie juga tak ketinggalan membuat heboh. Mbak Uci yang sempat sedih bercampur bingung karena mengalami kesulitan menemukan lokasi Menara Syahbandar pun segera sirna sedihnya dan larut dalam kegembiraan.

Kami sengaja menyewa pemandu untuk menemani. Saat berkunjung ke lokasi-lokasi yang memiliki nilai sejarah seperti ini, rasanya sayang sekali bila hanya datang untuk melihat dan sekedar berfoto saja. Lagipula biasanya tarif resmi untuk pemandu tidaklah mahal. Untuk memandu kami yang berjumlah 15 orang di dua lokasi ini, kami hanya perlu membayar biaya tambahan di luar harga tiket sebesar 30.000 rupiah saja. Sedangkan harga tiket masuk per orang hanyalah 5.000 rupiah yang berlaku sebagai tiket masuk di Menara Syahbandar maupun di Museum Bahari.

Saya cukup kagum dengan kekuatan bangunan ini terutama bagian yang terbuat dari kayu yang tetap kokoh meski sudah berusia ratusan tahun. Memang ada beberapa yang lapuk termakan usia namun secara keseluruhan, bangunan ini masih sangat kokoh dan kondisinya baik. Saya menikmatinya sambil menapaki anak tangga kayu satu demi satu secara perlahan sampai ke bagian paling atas menara. Agak sedikit ngeri saat berada di atas karena menara ini ikut bergetar saat ada kendaraan besar yang melewati jalan raya di sekitar menara.

Menara ini dulunya berfungsi sebagai menara pengawas bagi lalu lintas kapal laut yang masuk dan keluar kota Jakarta yang saat itu masih bernama Batavia dan tempat ini berfungsi sebagai kantor kepabeanan yang menarik bea atau pajak terhadap barang-barang yang dibawa oleh kapal laut dan dibongkar di Pelabuhan Sunda Kelapa. Dari bagian atas menara kita bisa melihat Museum Bahari , sebagian benteng yang masih tersisa di sekitar museum.

Dari tempat ini juga kita bebas memandang wilayah di sekitar area yang dulunya disebut-sebut dengan Culemborg, kubu pertahanan Belanda. Bahkan di bagian bawah menara, terdapat lorong bawah tanah yang konon kabarnya bisa tembus sampai ke benteng Frederik Hendrik di sekitar Masjid Istiqlal dan juga jalan tembus hingga Fatahillah atau yang sekarang menjadi Museum Fatahillah. Sayang sekali saat ini pintu menuju terowongan sudah ditutup, jadi kami tidak dapat membuktikan kebenarannya.

Museum Bahari

Dari Menara Syahbandar kami bergerak menuju destinasi berikutnya yaitu Museum Bahari. Letak hanya beberapa meter saja di seberang Menara Syahbandar. Gedung ini sudah mengalami banyak sekali pergantian fungsi sejak jaman pendudukan Belanda, masa penjajahan Jepang, hingga akhirnya kini dijadikan museum oleh pemerintah Indonesia. Saat Belanda memerintah, bangunan ini dulu merupakan gudang penyimpanan dan pengemasan hasil bumi dan rempah-rempah yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa.

Bangunan yang berdiri persis di samping muara Ciliwung ini memiliki dua sisi, sisi barat dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai tahun 1652-1771) dan sisi timur, disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur. Gudang barat terdiri dari empat unit bangunan, dan tiga unit di antaranya yang sekarang digunakan sebagai Museum Bahari. Gedung ini awalnya digunakan untuk menyimpan barang dagangan utama VOC di Nusantara, yaitu rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil. (wikipedia)

Museum ini luas sekali, dengan sabar kami berjalan mengikuti pemandu menikmati koleksi demi koleksi museum yang tersebar di beberapa ruang. Dibanding dengan luasnya area museum, koleksi yang dimiliki tidaklah terlalu banyak. Namun yang ada itu pun bila kita nikmati satu demi satu, membutuhkan waktu berjam-jam juga. Kaki saya sampai merasa pegal menelusuri ruang demi ruang yang ada di sana. Padahal tak seluruh koleksi saya cermati dalam-dalam.

Di lantai bawah, sebagian besar koleksi terdiri dari koleksi-koleksi yang berukuran besar. Ada berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Selain itu ada pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Juga peralatan yang digunakan oleh pelaut pada masa lalu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan meriam (wikipedia).

Ada yang baru di museum ini, yaitu ruang diorama yang menceritakan tentang Legenda Nusantara yang berhubungan dengan kelautan atau sejarah maritim Indonesia seperti legenda Malin Kundang dan kehebatan Laksamana Malahayati dari Aceh. Ada juga legenda Navigator Dunia dari Marcopolo, Colombus hingga Laksamana Cheng Ho. Di sini juga terdapat ruang rempah-rempah yang mengingatkan kita bahwa negara kita adalah negara yang kaya sejak jaman dulu kala.

Cerita lengkap mengenai museum ini sepertinya harus didapat dengan datang langsung ke sini. Gampang kok, caranya sama seperti rute menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, hanya saja saat menemukan persimpangan ambil ke arah kiri ke arah Menara Syahbandar yang puncaknya kelihatan itu. Atau cari lokasinya di Jalan Pasar Ikan No. 1 Sunda Kelapa, Jakarta Utara . Perhatikan jam kunjung museumnya ya 09.00 – 15.00 WIB, dari Hari Selasa hingga Hari Minggu. Hari Senin dan libur nasiona museum tidak dibuka alias libur.

Selamat berkunjung…

Photo: dokumen pribadi dan Jakarta Corners

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

17 comments

  1. Ehm, foto yg melongok ke jeruji besi bagus banget Mbak Don..
    Dan gaya berceritamu sungguh keren 🙂
    Evi recently posted…(Review) Hotel Backpacker Bandar Lampung – Omah AkasMy Profile

  2. itu di jakarta utara ya mbak, bisa nih kalau ada kesempatan tur kesana. Ada dioramanya juga ya…
    Adi Pradana recently posted…Family Gathering RS Mata dr. YAP YogyakartaMy Profile

  3. Itu di jakarta utara ya mbak, bisa nih kalau ada kesempatan main kesana. Ada saudara tinggal di jakut soalnya….
    Adi Pradana recently posted…Family Gathering RS Mata dr. YAP YogyakartaMy Profile

  4. Saya suka membayangkan hari-hari ketika menara ini belum miring. Para pencatat harian membangun arsip terbesar yang pernah dimiliki Nusantara–catatan rinci untuk penghuni kastil dari ruang-ruangan yang selalu diterpa angin laut pada pelabuhan yang sibuk. Meski kini aroma laut sudah kalah dengan aroma kanal yang menusuk, dan catatan harian itu mulai tak terbaca, saya bersyukur bisa menyaksikan menara dan gudang penyimpanannya masih sudi berdiri. Terima kasih sudah mengulas tempat ini, Mbak! Ini lokasi yang sebetulnya sangat sentimentil, tempat Jakarta memulai jarak hidupnya dari nol!

  5. aku juga pernah ke sana, naik menara, serem tapi seru..

  6. Menara Syah Bandar sama Museum Bahari sungguh mempesona ya Mba 🙂
    Salman Faris recently posted…Kejutan 10 Ribu Mister AladinMy Profile

  7. Menara syahbandar ini di penjaringan utara, padahal dulu cukup sering ke penjaringan utara, ke salah satu kantor yg berada tak jauh dari pelabuhan tsb. super sayang banget, kala itu kok ya belum aware soal ubek-ubek Jakarta, dimana pun kala itu saya berada.
    Ririe Khayan recently posted…Uniknya Nama Anak Indonesia Masa SekarangMy Profile

  8. Penasaran sama ruang diorama, pengen ngerti sejarah Nusantara yang berhubungan sama kelautan. Pasti menarik sekali ya mbak, apalagi ada cerita legendanya.

  9. Mbak Donna, tulisannya sangat lengkap. Padat berisi dan enak dibaca. Jadi kenal lebih dalam tentang menara dan museum Bahari. Tfs 🙂
    Katerina recently posted…Air Terjun Pelangi yang Menggetarkan HatiMy Profile

  10. Mendengar kata museum langsung semangat mbak bacanya. Asyik, setelah berkunjung ke Museum, langsung naik ke Menara. Istilahnya dari serius kemudian santai di atas, hehe

  11. aku pernah ke sini beberapa kali dan menurutku, lokasi in sangat fotogenik.
    sahlah jadi titik nol kota jakarta. dan pelabuhan sunda kelapa juga keren. masjid luar batang masih ada, mbak?
    indri juwono recently posted…12 jam keliling kupangMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge