Tuesday, November 21, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Menuju Bangkok: Aku dan Nasionalisme [South East Asia Trip] day #2
Pichamon

Menuju Bangkok: Aku dan Nasionalisme [South East Asia Trip] day #2

Siang hari, masih di seputaran Lautan Andaman. Hampir pukul dua siang kala itu. Kapal penumpang yang membawa kami menuju Phuket perlahan berlayar meninggalkan Phi Phi Island. Suasana ramai di dermaga perlahan memudar seiring semakin jauhnya kapal membawa kami dari daratan. Pantai dengan tebing Karst dan airnya yang jernih bergradasi warna biru dan hijau tosca telah lekat dalam ingatan. Meski singkat, tempat ini telah memberi sebuah pengalaman baru, makna sebuah perjalanan.

Pichamon Kapal bernama Pichamon dari Chao Koh grup ini membawa aku dan teman-teman berlayar selama kurang lebih dua jam. Kapal berpendingin udara ini berukuran lebih besar dibanding dengan kapal yang kami tumpangi saat berangkat dari Krabi. Ditambah dengan penumpang yang saat itu jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding kursi yang tersedia, kabin kapal pun terasa lapang. Kondisi ini cukup nyaman meski bangku hanya dilapisi jok dengan busa tipis dan posisi sandaran tegak. Di setiap kursi, diikatkan sebuah jaket pelampung. Aku tak selalu menemukan hal seperti ini di beberapa pelayaran yang pernah aku jalani. Tapi mengikatkan jaket pelampung pada setiap kursi penumpang, menurutku ide yang sangat baik. Bila sesuatu terjadi, kondisi seperti ini akan memudahkan penumpang meraih dan menggunakan jaket pelampung dibanding dalam keadaan panik rebutan mengambil dari lemari atau kotak penyimpanan seperti yang sering aku jumpai di pelayaran lain. 

P4020162

Panas di luar kabin di siang hari yang cukup terik membuat aku lebih suka duduk di bagian dalam kapal. Tak banyak yang bisa dilakukan. Melepas panas yang tersimpan dalam tubuh akibat terpapar sinar matahari tadi di pantai sambil beristirahat jauh lebih menarik dibanding berbincang. Aku memilih untuk duduk di dekat jendela, melihat pantai yang semakin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan. Laut lepas dan ombak, dan pikiran yang melayang. Sesekali tenggelam ke laut dalam hingga akhirnya lenyap dalam tidur yang lelap.

***

Matahari sudah tergelincir ke arah Barat saat kami tiba di Phuket Rassada Port. Pelabuhan kecil dan sepi yang sepertinya hanya digunakan sebagai tempat transit untuk para pejalan yang akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain seperti kami. Rencananya malam ini kami akan bertolak menuju Bangkok dengan menggunakan bis malam dari terminal Phuket. Rangkaian perjalanan sampai naik bis nanti adalah rangkaian perjalanan yang telah kami sepakati dengan penyedia jasa di bandara Krabi tadi pagi, sehingga kami hanya perlu menunggu jemputan yang akan membawa kami ke terminal bis. Cukup lama kami menunggu di tempat yang gersang dan kotor dengan cuaca yang membuat kulit terasa lekat karena berkeringat. Tak ada keindahan yang bisa aku nikmati di sini, tapi menikmati segelas fruit punch cukup terasa menghibur diri dan tenggorokan.

jambu bangkok

Satu hal yang aku suka dan menjadi berkat selama perjalanan adalah ketersediaan buah-buahan segar di tempat-tempat yang mudah dijangkau, baik yang dimakan langsung, sebagai buah potong atau diolah menjadi minuman jus. Melakukan perjalanan di negara yang jumlah penduduk muslimnya sangat sedikit akan memberi konsekuensi logis sulitnya mendapatkan makanan halal. Kalaupun tersedia menu dari daging sapi atau daging ayam, aku masih ragu dengan cara penyembelihannya bahkan cara memasaknya sehingga buah menjadi pilihan yang sangat praktis selama perjalanan. Selain memberi rasa kenyang, kandungan air pada buah juga memberi asupan akan cairan buat tubuh yang terus bergerak di iklim tropis yang panas. Itu belum termasuk kandungan antioksidan dan vitamin yang membuat aku tetap sehat, hop on hop off dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan berbagai moda transportasi. Alhamdulillah.

buah bangkok

Sekitar pukul lima sore akhirnya mobil yang menjemput kami membawa kami tiba di Terminal Phuket. Cukup ramai kondisi di terminal saat itu. Penumpang hilir mudik di sekitar terminal. Kami tak perlu membeli tiket karena tiket bus yang akan kami gunakan telah dipersiapkan dan diberikan kepada kami oleh pengemudi mobil jemputan saat kami turun. Kami hanya tinggal menunggu bis yang dimaksud di sekitar peron menanti keberangkatan jam tujuh malam nanti. Sekitar dua jam kami menunggu. Sambil menunggu kami juga menyempatkan diri melaksanakan sholat di musholla yang terletak di lantai dua gedung terminal. Musholla dan tempat wudhunya bersih membuat kami nyaman menunaikan kewajiban kami. Untuk makan malam, tak banyak pilihan. Beberapa teman yang sempat berkeliling tak menemukan menu makanan halal di sekitar terminal. Mie instant dalam kemasan siap saji dari mini market akhirnya menjadi pilihan menu makan malam. Aku sendiri tak terlalu bernafsu untuk makan, namun bekal nasi goreng seafood yang aku beli di Phi Phi Island tadi sayang juga bila tak disentuh. Lumayan, masuk ke dalam lambungku beberapa sendok nasi untuk mengganjal lambung sampai esok bertemu makanan lain yang harapannya lebih menggugah selera.

Photo by Ayub Pri
Photo by Ayub Pri

***

Ada kejadian unik di terminal ini. Saat kami duduk-duduk menanti keberangkatan di terminal. Tiba-tiba saja dari pengeras suara terdengar lagu yang asing di telinga. Namun sontak semua yang berada di terminal menghentikan kegiatannya. Yang sedang duduk langsung berdiri dan yang sedang berjalan bahkan saat itu juga menghentikan langkahnya. Aku yang saat itu berdua dengan Nurul pun spontan ikut berdiri tentu saja, sambil berpandang-pandangan heran. Mereka yang semua berdiri itu kemudian ikut menyanyikan lagu yang sedang diperdengarkan. Saat itulah aku teringat tulisan Mas Gol A Gong dalam bukunya The Gong Traveling yang bercerita tentang perjalanannya mengelilingi Asia Tenggara, bahwa lagu kebangsaan di Thailand memang diperdengarkan di berbagai kesempatan secara rutin. Tidak hanya dikumandangkan di saat upacara atau acara-acara resmi seperti di Indonesia. Seperti yang terjadi di terminal ini misalnya, lagu diperdengarkan saat sore hari di sebuah terminal bis antarkota. Bahkan Mas Gong didalam buku itu bercerita bahwa, di dalam bioskop pun, sebelum film diputar, lagu kebangsaan mereka terlebih dahulu diputar dan dinyanyikan bersama.

Lalu aku berpikir. Apakah dengan cara seperti ini nasionalisme terhadap negeri akan lekat kuat pada setiap warga negara. Dalam kehidupan sehari-hari, aku sudah jarang sekali ikut upacara bendera, kecuali saat perayaan hari kemerdekaan. Namun sesekali menyaksikan dan mendengar lagu Indonesia Raya dikumandangkan melalui televisi dalam acara-acara olahraga, di acara=acara resmi kenegaraan, atau menyanyikan lagu Indonesia Raya di beberapa kegiatan Kelas Inspirasi. Kesempatan seperti ini selalu membuat saya merinding, dada yang membuncah dan tak jarang ujung mata saya basah. Apakah bila menjadi rutin setiap hari dalam berbagai kesempatan, sensasi itu akan tetap ada ya? Mudah-mudahan jawabannya adalah ya.

Buat saya Lagu Indonesia Raya itu selalu menjadi janji yang saya ucapkan melalui lagu sehingga itu menjadi afirmasi dalam berbagai kegiatan saya bahwa saya harus lakukan sesuatu untuk negeri ini meski melalui hal yang sederhana sekalipun. Bila saya berada di luar negeri, saya adalah duta bangsa meski saya pergi untuk melakukan lawatan wisata dan membawa nama pribadi. Saya tidak akan melakukan hal-hal yang akan membawa stigma buruk sebagai Bangsa Indonesia. Integritas selalu melekat dalam diri, hal baik dilakukan untuk negeri dan hal baik pula saat berada di negeri orang.

Saya jadi teringat kejadian di Bandara Krabi, saat satu keluarga dari negara tetangga serumpun itu menyela antrian kami di konter imigrasi. Sudah berusaha menyindir bahkan antrian mereka kami halangi. Namun bad attitude tetap saja membuat mereka tak malu dan terus merangsek ke dalam antrian. Aku jengah dan merasa jijik, lalu membiarkan mereka masuk ke dalam antrian sambil berujar dalam hati, “buruk sekali ya perilaku warga negara ini.”

Poinnya adalah, saat kita berada di luar negeri, orang tidak akan melihat kita sebagai pribadi, namun melihat kita sebagai seseorang dari suatu bangsa. Orang tersebut mungkin punya masalah dengan mengatur perilakunya sebagai pribadi. Tapi saat itu, dengan paspor bersampul merah di tangan, ya saya melihatnya sebagai seorang warga negara tertentu yang bermasalah. Hal yang seperti ini adalah satu dari contoh kecil yang mungkin bagi orang lain. Namun bagi saya wajib hukumnya menghadirkan diri sebagai pribadi yang baik agar tidak mencoreng nama baik negara apalagi agama. Karena setiap diri kita adalah seorang duta bagi bangsa dan agamanya.

***

P4020174 Akhirnya, setelah beberapa jam menunggu. Lewat dari pukul tujuh malam, aku dan teman-teman sudah duduk manis di dalam bus malam yang akan membawa kami menuju Bangkok. Perjalanan ini akan ditempuh selama dua belas jam. Dengan kondisi belum juga mandi, badan lengket dan lelah karena panas dan udara pantai hari ini, mudah-mudahan akan membawa aku pada lelap tidur agar esok hari kembali segar untuk sightseeing di Kota Bangkok.

Selamat malam, semesta…

 

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

8 comments

  1. Betul banget ya mbak…setiap perilaku menggambarkan pribadi, tp bl dinegara org akn memberi gambaran ttg bangsanya….btw kapalnya bersih dan bagus…di Indonesia ada gak ya yg spt itu?…

    • donna imelda

      iya mbak Irowati, itulah perlunya integritas. Dimanapun kita beara, menjaga sikap dan perilaku itu penting. Kapal sebagus itu di Indonesia? aku belum punya pengalaman di Indonesia. Mudah-mudahan ada ya…

  2. dalamnya bersih ya mbak

  3. Selain buah, aky biadanya nyari makanan vegetarian Mbak Donna:)
    Iya kalau sdh berhadapan dengan bangsa lain, gampang banget rasa nasionalisme kita tergugah ya
    Evi recently posted…Blog Dalam Perjalanan Hidup SayaMy Profile

  4. Siapa kita akan tercermin dr sikap & tingkah laku kita. Setuju sekali dg hal ini, mbak Donna..

  5. Semangat nasionalisme kini semakin memudar…apalagi dikalangan generasi muda.. Contohnya: Coba saja kita lihat fenomena dimana lagu2 mars perjuangan bahkan mereka tidak mengenalinya.. Jamannya aku sekolah dari SD hingga SMA lagu2 mars tersebut wajib hukumnya utk bisa dinyayikan… Nasionalisme akan tumbuh dan menguat ketika kita berada di negeri orang… Di Arab aku merasa sangat bangga ketika melihat tulisan berbahasa Indonesia dipakai sebagai penunjuk arah atau pengumuman…

  6. justru pada saat kita ke luar negeri itulah rasa kebangsaan ini akan tumbuh ya Mba 🙂
    Salman Bluepacker ID recently posted…[TERIOS] Ke Borneo, Ku Kan KembaliMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge