Sunday, December 17, 2017
Home » Review and Event » Menyibak Lestari di Balik Beningnya Air
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Menyibak Lestari di Balik Beningnya Air

Bayangkan bila suatu hari kelak alam sudah tidak lagi mampu menyediakan air bersih untuk kita. Kira-kira akan seperti apakah kehidupan kita kala itu? Jangankan bisa menikmati air berlimpah untuk berenang atau mandi dengan air bersih yang mengalir deras dari keran. Sekedar untuk minum atau keperluan memasak saja kita akan mengalami kesulitan. Pasti tak satu pun dari kita menginginkan hal itu terjadi.

Meski alam masih berbaik hati memberi kita air namun kualitas dan kuantitasnya semakin menurun. Saat ini sebagian besar penduduk Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia sedang mengalami kesulitan air bersih akibat musim kemarau yang sangat panjang. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino tahun 2015 ini memang menguat dan menyebabkan musim kemarau lebih panjang dari biasa sehingga musim hujan diperkirakan baru akan tiba sekitar bulan November atau Desember.

Padahal, tanpa mengalami musim kemarau panjang saja, masalah penyediaan air bersih itu sendiri sudah menjadi masalah di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung bahkan di Denpasar, Bali. Itu belum termasuk daerah yang memang memiliki curah hujan lebih sedikit dibanding kota-kota lain di Indonesia seperti di beberapa daerah di Nusa Tenggara. Permasalahan penyediaan air bersih semakin lama semakin kompleks.

Kepedulian Terhadap Lingkungan
Permasalahan yang kita hadapi tentang air tak lepas dari permasalahan lingkungan karena keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Kerusakan pada lingkungan terutama yang disebabkan oleh aktivitas manusia akan menyebabkan terganggunya siklus alamiah air. Hal ini kemudian menimbulkan dampak terhadap penurunan mutu air baik secara kualitas, kuantitas maupun kontinuitas. Rantai permasalahan akan menjadi panjang karena penurunan mutu air sebagai sumber hidup pada akhirnya akan berpengaruh dan dapat menurunkan mutu kualitas hidup manusia.

Secara makro, ditengarai bahwa kerusakan lingkungan bisa saja disebabkan oleh perkembangan industri, pertumbuhan penduduk yang pesat atau pemanfaatan sumber daya yang berlebihan. Namun dalam skala yang lebih kecil, kerusakan lingkungan juga sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia di dalamnya. Cobalah perhatikan perubahan di sekitar kita. Ketika hutan kota sirna berganti menjadi pusat perbelanjaan. Tanah kampung yang tadinya rimbun oleh pepohonan dan berfungsi sebagai tanah resapan kini berubah bentuk menjadi perumahan-perumahan padat.

Untuk itu perlu dibangun kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan dan air. Kepedulian memang perlu dibangun, tak bisa tumbuh dengan sendirinya. Kepedulian juga tak bisa tumbuh secara instan, terlebih di tataran masyarakat marjinal yang tingkat pendidikan dan pemahaman tentang lingkungannya masih sangat rendah. Masyarakat memang harus diberi edukasi, didampingi dan dibina hingga akhirnya bisa mandiri mengelola dan menjaga kelestarian lingkungannya.

Tanggung Jawab Bersama
Mungkin masih banyak masyarakat yang belum tahu bahwa untuk menjaga kelestarian air adalah dengan menjaga kelestarian wilayah daerah resapan atau recharge area. Padahal rusaknya kondisi di recharge area akan berakibat pada penurunan kualitas air di bawahnya. Tak heran bila ini dibiarkan terjadi maka pada akhirnya masyarakat sendiri yang akan menerima dampaknya seperti berkurangnya jumlah air dan kualitasnya.

Dengan pemahaman seperti itu, maka jelaslah bahwa kelestarian lingkungan dan air bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, namun sudah menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri. Setiap elemen mengambil peran yang berbeda sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya. Bahkan di lini terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga, setiap anggota keluarga juga bisa turun tangan dan berkontribusi langsung dalam kelestarian lingkungan dan air.

Sebuah Wujud Nyata 
Dalam sebuah kesempatan berkunjung ke Desa Kebonpeteuy, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur, saya melihat bagaimana masyarakat di sana turun langsung melakukan berbagai kegiatan yang mendukung kelestarian lingkungan. Salah satunya adalah pertanian organik yang menggunakan sistem pertanian sehat terpadu yang disebut Integrated Farming System (IFS). Padi dan sayur-sayuran ditanam tanpa menggunakan bahan kimia sebagai pupuk atau pembasmi hama. Hal ini membantu sekali mengurangi efek pencemaran bahan kimia pada tanah dan melindungi sumber air.

Di bawah binaan Corporate Social Responsibility (CSR) P.T. Tirta Investama, mereka membentuk Himpunan Petani Organik Cianjur Indonesia (HIPOCI) yang membantu memperkenalkan sekaligus memasarkan produk-produk pertanian dan makanan olahan masyarakat desa tersebut. Beras organik yang mereka beri merek My Rice bahkan sudah dijual sampai ke luar kota Cianjur. Keberadaan unit usaha ini menandakan bahwa kegiatan ini telah dikelola dengan manajemen yang baik dan mampu memberikan benefit secara ekonomi bagi masyarakatnya.

Masih di desa Kebonpeteuy, di sana saya melihat masyarakat juga mendirikan Pengelola Depo Sampah Bina Lestari yaitu tempat penampungan sampah-sampah plastik yang dikumpulkan masyarakat desa dari berbagai tempat. Meski belum mampu mengolah sendiri sampah-sampah plastik ini, namun setidaknya mereka telah membantu mengurangi sampah yang beredar di masyarakat. Setelah terkumpul dan dijual, maka hasil penjualannya bisa membantu perekonomian masyarakat desa. Saya sempat terpikir, andaikata ini dikembangkan dan sampah plastik yang dikumpulkan lebih banyak, mungkin kelak mereka bisa membuat unit produksi bijih plastik sendiri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih pada sampah plastik yang mereka kumpulkan.

Peran swasta juga tak kalah penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan air, seperti yang dilakukan oleh perusahaan air kemasan dengan merek dagang Aqua ini. Tak hanya bermitra dengan masyarakat sekitar, namun juga bekerja sama dengan Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) untuk melakukan konservasi lingkungan dan air di tempat di mana perusahaan tersebut beroperasi. Filosofi yang dianut oleh pemimpin mereka sungguh mulia, bahwa “bisnis harus berjalan seiring dengan kontribusi sosial perusahaan kepada masyarakat.”

Dari obrolan dan diskusi ringan dengan warga dan tokoh masyarakat di sana, terlihat bahwa kesdaran akan arti penting kelestarian lingkungan dan air sudah terbangun, sehingga kerjasama antara masyarakat dan pihak swasta pun terbina apik. Hal ini terlihat dari keterlibatan masyarakat untuk melindungi mata air Cimapaleran di Desa Gekbrong pada program penanaman pohon di wilayah recharge area. Masyarakat juga terlibat dalam program-program lainnya seperti pembuatan sumur resapan dan biopori, water pond dan wetland.

Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita melakukan sesuatu yang merupakan wujud dari tanggung jawab kita terhadap kelestarian lingkungan dan air. Mulailah dengan cara yang paling sederhana saat ini juga seperti bijak dalam menggunakan air bersih. Beberapa hal diantaranya adalah: habiskan air minum anda, jangan buang air bekas mencuci sayur begitu saja, gunakan kembali untuk menyiram tanaman, atau matikan keran air washtafel, jangan biarkan ia mengalir percuma selama anda menggosok gigi.

Biasakan memisahkan sampah organik dan non organik. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau pupuk cair, sedangkan sampah non organik bisa diserahkan ke bank sampah untuk di daur ulang. Tanamlah pohon atau tumbuhan di halaman rumah untuk melindungi lapisan tanah sebagai filter air resapan dan buat lubang biopori atau sumur resapan untuk membantu proses penyerapan air ke dalam tanah.

Hal-hal tersebut sederhana untuk dilakukan dan terlihat sepele. Namun bila setiap dari kita memiliki kesadaran yang sama dan mau melakukannya, maka saya yakin dampaknya akan luar biasa. Jadi, tunggu apalagi? Tunjukkan komitmen anda sebagai wujud tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan dan air untuk masa depan.

Di balik beningnya air yang lestari, ada tanggung jawab dan komitmen di sana. Karena kelestarian lingkungan dan air, adalah tanggung jawab bersama, tanggung jawab kita!

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515174902

Aliya Hotel Klang – Hotel Nyaman di Jantung Bandar Diraja

Senja itu kubah Masjid Diraja Klang Utara terlihat indah dari kejauhan. Syahdu disinari cahaya lampu ...

4 comments

  1. Bak sampah nya kece dari anyaman
    Lingkungan ini jadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan melestarikan nya yess
    cumilebay.com recently posted…Menikah Bonus HONEMOON ke EropaMy Profile

  2. Seandainya di setiap daerah di Indonesia punya air sebening ini permasalahan air bersih tidak pernah terjadi.
    infoterbaru.co recently posted…Kemenhub Tolak Pembangunan Bandara LebakMy Profile

  3. jadi mau nunggu SDA kita rusak atau merawatnya? jadi ingat sungai ciliwung yang di pelabuhan sunda kelapa, beda banget sama sungai ciliwung dari Bogor

  4. Foto keluarga yang lagi main air itu bagus banget Mbak.. Semoga air digunakan dengan bijak 🙂
    Rifqy Faiza Rahman recently posted…Setengah Jam LagiMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge