Tuesday, November 21, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Nusa Tenggara Timur » Mulus dan Berkelok, Jet Coaster Panjang dari Kupang ke Atambua
1

Mulus dan Berkelok, Jet Coaster Panjang dari Kupang ke Atambua

Selamat Pagi, Kupang….

Klakson mobil angkutan kota silih berganti berbunyi seolah membangunkan saya dari lelap tidur di Hotel Astiti, Kupang, Nusa Tenggara Timur pagi itu. Irama yang khas mengingatkan saya dengan bunyi klakson mobil-mobil besar seperti truk atau bis antar kota antar propinsi yang melintas di depan rumah masa kecil saya yang merupakan perlintasan jalan utama masuk dan keluar Jawa Tengah di Pekalongan belasan tahun lalu. Dari tempat tidur saya terlihat sinar matahari menyelinap diantara celah-celah gorden yang masih menutupi kaca jendela. Ternyata matahari pagi di kota ini sepertinya terbit lebih cepat dibanding di Jakarta. Saya menduga hal ini bukan hanya disebabkan pembagian waktu disini yang lebih cepat satu jam dari Jakarta. Kupang berada di zona waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA), jam tangan saya pun masih menunjukkan pukul 5.30 WIB yang artinya disini masih pukul 6.30 WITA, tapi terik matahari pun sudah bersinar layaknya pukul sepuluh di Jakarta. Hal ini menarik minat saya untuk beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap jalan raya untuk melihat darimana suara-suara itu berasal.

Dari balik kaca itu pula saya melihat gambar sederhana sebuah kota kecil dibatasi bingkai jendela, cuaca kota yang cerah, jalan lebar yang tak terlalu ramai dan mobil-mobil angkutan kota sejenis Carry berwarna warni hilir mudik di hadapan saya. Suara klakson yang bersahut-sahutan di jalan Jendral Sudirman ini seperti sebuah sapa hangat sahabat yang saling mengucapkan selamat pagi. Terlebih melihat dandanan angkutan kota yang semarak dengan stiker beraneka gambar menghiasai kiri kanan badan mobil dilengkapi dengan berbagai aksesoris mobil bagai belalang tempur dengan sungut serupa tanduk tipis diatas kepalanya. Itu belum termasuk dengan sound system yang dirancang khusus hingga bisa menghasilkan suara musik yang keras dari dalam kabin dan terdengar oleh orang-orang yang berada di pinggir jalan. Konon kabarnya, pemilik angkutan kota di Kota yang terkenal dengan pesta dan dansa ini tak segan-segan merogoh kocek belasan jutauntuk mendandani mobilnya. Sungguh meriah. Hasrat hati ingin menikmati lebih jauh suasana pagi hari di kota ini, sayangnya saya dan sebelas orang lainnya masih harus melanjutkan perjalanan menuju Kota Atambua Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur hari ini.

*****

Menuju Atambua…..

Perjalanan dari Kupang menuju Atambua, pada umumnya dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 7 jam, melintasi jalan negara sepanjang kurang lebih 270 KM. Namun dua mobil Innova yang kami sewa selama 6 hari kami berada di NTT ini dikemudikan penduduk lokal yang memang sudah mengenal baik medan yang kami tempuh, sehingga meskipun perjalanan diselingi beberapa kali berhenti untuk istirahat, belanja ta’jil dan buka puasa, kami dapat menempuh perjalanan kurang dari tujuh jam untuk sampai di Atambua.

Perjalanan ratusan kilometer, berkelok, mendaki dan menurun, membelah bukit dan melewati lembah dilalui dengan kecepatan tinggi membuat saya seperti merasa seperti naik jet coaster. Bayangkan saja, meski jalan berkelok, kecepatan mobil ada diantara 90-100 km/jam, dan pada jalan lurus gas di tekan hingga kecepatan 150 km/jam. Berkali saya berkomentar ngeri sambil tubuh saya terombang ambing ke kiri ke kanan. Sopir yang saya panggil Pak Demsy hanya tertawa ringan menenangkan saya, saat saya bilang “weits…aku serasa ikutan nginjek rem nih pak, itu jurang dalam betul”. Beliau memang sudah terbiasa mengemudi jalur Kupang – Atambua, seminggu beberapa kali mengantar tamu, bahkan bisa pulang pergi dalam sehari sehingga mengenal dengan baik medan yang kami tempuh.

Jalan raya yang kami lalui membuat saya berdecak kagum. Meski berada di daerah perbatasan, jalan raya dua jalur yang kami lalui ini ukurannya lebar dan beraspal mulus 90 % tanpa lubang. Nyaris tak menemukan jalan yang rusak kecuali satu dua titik yang disebabkan oleh tanah longsor, itu pun sedang dalam perbaikan. Tanpa harus menunggu rusak, jalan-jalan ini dirawat dengan baik bahkan di aspal ulang meski belum rusak. Bila jalan lurus, saya merasa sedang melaju di atas kaca sambil menahan ngeri. Kondisi yang demikian mulus tak urung ini tetap membuat saya mual dan pusing berkendara dalam kondisi perut kosong di Bulan Ramadhan. Bahkan salah satu anggota tim yang paling muda dan tentu saja paling ganteng karena usianya itu, terpaksa harus membatalkan puasanya karena muntah dan harus mengkonsumsi obat. Saya dan beberapa teman memilih untuk menikmati saja setiap keloknya dan meminimalkan resiko mual dengan lebih banyak tidur.

Tak banyak pemandangan yang dapat kami nikmati selain aspal mulus sepanjang jalan. Ada beberapa bukit yang terlihat indah atau lembah yang memesona, namun cuaca terik dan curah hujan yang sedikit membuat kondisi alam yang kami lalui didominasi bukit-bukit yang relatif gersang dan pepohonan yang terlihat tumbuh kering bahkan ada beberapa yang mati. Mobil atau kendaraan yang berpapasan pun tak banyak sehingga tidur merupakan alternatif terbaik.

*****

Kefa Menanu, bagai sebuah oase…

Lebih dari separuh perjalanan dilalui, kami melewati sebuah kota kabupaten yang bernama Kefa Menanu atau sering di sebut dengan Kefa. Di kota ini kami menjumpai sebuah masjid yang sedang di bangun. Di kota yang mayoritas beragama Nasrani, rasanya memang kami belum menemukan masjid di sepanjang jalan raya menuju Atambua, sehingga kami pun tak menyia-nyiakan keberadaan masjid ini untuk menunaikan sholat Dzuhur sekaligus menjama’ Sholat Ashar disana.

Dari arsitektur bangunan terlihat sekali bahwa masjid yang bernama Masjid Al-Muhajirin ini dibangun dan dipelihara oleh pendatang dari Pulau Jawa. Gapura masjid menyerupai gapura bangunan yang saya sering saya lihat di Jawa Tengah. Bingkai pintu dan jendela yang terbuat dari ukiran kayu jati yang sangat indah jelas menunjukkan bahwa benda-benda tersebut didatangkan dari Jepara. Salah satu dari kami bereksempatan melihat tulisan yang menjelaskan darimana ukiran itu berasal. Ternyata memang diperoleh dari donatur yang bermukim di Kefa yang berasal dari Jepara. Masjid ini tak hanya digunakan untuk beribadah, ada gedung kecil yang digunakan untuk PAUD dan Madrasah. Toiletnya bersih dan terawat. Dari pencarian melalui internet saya sempat menemukan wajah masjid ini sebelum di renovasi. Pada akhir tahun 2012, masjid ini masih berupa bangunan sederhana dan sangat berbeda dengan kondisi bangunan yang sekarang. Meski masih dalam tahap pembangunan, saya bisa melihat kira-kira seperti apa masjid ini bila telah selesai. Semoga bisa menjadi “rumah” bagi seluruh umat di Kefa.

Di Kefa kami juga menyempatkan diri berburu ta'jil di pasar Kefa, sayang kami hanya menemukan gorengan untuk berbuka. Penjual gorengan berasal dari Pulau Jawa dan mengenali kami sebagai pendatang, sambil melayani beliau sempat berbincang dan dari perbincangan itu baru aku tahu ternyata disini tak lazim menggunakan cabai rawit sebagai teman makan gorengan, penduduk setempat lebih senang mengkonsumi gorengan bersama saus sambal. Pantas saja saya tak menemukan satu pun cabai ditempat dagangan beliau. Tapi beliau dengan senang hati segera membeli sekantung kecil cabai rawit khusus buat kami. Terimakasih, pak…

*****

Atambua….

Beberapa menit sebelum pukul tujuh malam, jalan yang kami lalui tak lagi berkelok dan naik turun, jalan sudah mulai rata pertanda bahwa tak lama lagi kami akan memasuki Kota Atambua. Jalan dua jalur dengan beton pemisah dihiasi lampu jalan seolah menyambut kami yang cukup lelah. Meski malam baru saja dimulai, kota kecil ini sudah mulai lengang, bahkan pom bensin sudah tutup sejak tadi. Kami segera mencari hotel untuk menginap. Tak banyak pilihan di kota kecil seperti ini, namun tak mudah juga mendapatkan kamar karena hotel yang ada pun tak memiliki lagi kamar kosong untuk kami yang berjumlah sembilan orang. Saya sempat berpikir, pasti ada yang istimewa dengan kota kecil ini. Nun jauh dari ibukota tapi traffict penerbangan dan tingkat occupancy nya yang tinggi menunjukkan bahwa ada geliat perekonomian disini. Akhirnya kami menemukan juga hotel yang bisa kami sewa. Terletak di pinggir jalan utama Atambua, hotel ini terlihat sepi pengunjung, namun perut lapar dan malam hari membuat kami tak punya banyak pilihan. Kamar yang saya tempati berdua dengan rekan saya terdiri dari dua tempat tidur terpisah, ruang kamar cukup luas, tapi aroma bangunan lama dan lembab mendominasi hidung saya saat masuk. Biasanya hidung saya merupakan detektor yang baik untuk mendeteksi apakah tubuh saya menolak atau tidak. Alhamdulillah saya tidak bersin-bersin, kasurnya juga springbed yang berkualitas dan yang paling penting adalah air panas yang mengucur deras dari kamar mandi cukup menghibur saya dan membuat saya tidak fokus dengan kekurangan lain dari hotel ini. Pikiran saya hanya satu, yaitu segera istirahat karena besok masih ada perjalanan lain menanti. Menjaga stamina menjadi hal yang penting, Saya pun lelap tidur sampai pagi.

Selamat malam Atambua…..

25 Juli 2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

5 comments

  1. keren mbak pengalamannya, waktu itu saya kaya begini pas dari bandung ke pangandaran namun karena jalanny yang berkelok hehehe 🙂 seru kapan kapan saya mau ke atambua, kota yang jadi saksi sejarah timor timur:) di rcti saat ramadhan selalu di tayangkan mbak, bahkan ada anak-anak yang masih tinggal di barak pengungsian, dan ga sekolah… mbak dalam rangka apa kesana?

    • donna imelda

      Ada yg dikerjakan bersama bbrp teman, bella. Insyaallah tulisan berikutnya aku cerita tentang mota ain ya, daerah yg menjadi salah satu pintu perlintasan ke Timor Leste. Thanks sudah mampir dan memberi komentar ya… salam kenal, jabat erat

  2. Ntar ntar.. nginget-nginet, waktu di rumah gue bersin-bersin nggak nih orang yang punya blog 😀

  3. kurang ajar.. wkwkwkwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge