Thursday, September 21, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jawa » Museum Batik Pekalongan…yuk belajar membatik
P8161401

Museum Batik Pekalongan…yuk belajar membatik

Museum Batik Pekalongan, 15 Agustus 2013.

Seorang wanita cantik berparas ayu menyapa ramah saat kami memasuki sebuah bangunan tua peninggalan jaman kolonial yang terletak di kawasan Jetayu, Pekalongan. Sebagaimana kawasan pesisir pantai Indonesia, kota yang dikenal dengan sebutan Kota Batik ini memang memiliki iklim yang relatif lebih panas, tak heran bila kami langsung merasa nyaman saat udara sejuk dari taman yang berada ditengah gedung dengan langit-langit yang dibuat tinggi menyergap tubuh menggantikan panas terik diluar.

P8161296

Kunjungan ke gedung yang diberi nama Museum Batik ini merupakan kunjungan saya yang kedua kalinya Kedatangan pertama saya lakukan di sela kegiatan reuni bersama teman-teman semasa sekolah menengah atas. Saya yang datang hanya bersama seorang sahabat kala itu sebenarnya hanya sekedar untuk menjawab rasa penasaran. Ekspektasi awal yang tidak terlalu tinggi saat itu justru menimbulkan rasa yang menggelitik. Museum yang tidak terlalu luas ini ternyata menyajikan lengkap segala sesuatu tentang Batik, dari sejarah, berbagai corak dan warna, filosofi hingga proses dan alat-alat workshop pembuatan Batik.

Lima tahun saya pernah tinggal di kota ini, rasanya lucu karena ternyata sampai saat itu saya tidak tahu apa-apa tentang batik kecuali model dan harga dari beberapa potong pakaian bercorak batik yang saya punya. Kala itu memang Batik belum sepopuler sekarang. Batik yang saya kenal kala itu hanya dua macam yaitu batik resmi berbahan sutra untuk resepsi dan batik yang biasa digunakan untuk di rumah atau daster. Kalaupun ada satu jenis lain, itupun hanya berupa kemeja yang unik pada tahun sembilan puluhan karena coraknya yang tidak biasa, bagus dan etnik serta pilhan warna-warna alamnya yang khas. Batik ini bisa didapatkan di satu pengrajin saja di Pekalongan, produsen yang memberi nama dagangnya Tobal Batik hanya menjual produknya keluar negeri dan di Jakarta pun hanya bisa didapatkan di Pasaraya atau bila sedang ada kegiatan pameran kerajinan tradisional seperti Inacraft.

Kunjungan ke Museum Batik dan momentum yang pas saat Batik telah dikukuhkan oleh Unesco sebagai salah satu warisan budaya dunia dan marak digunakan sebagian besar masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan dengan model dan corak yang makin modern, membuat saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar banyak dan bertekad untuk suatu saat kembali ke Pekalongan dan mengajak anak-anak mengenal dan mempelajari proses pembuatan Batik langsung di Kota Batik. Keinginan itu pun terwujud pada Bulan Agustus 2013 lalu, kami sekeluarga bersama beberapa orang teman yang tinggal di Pekalongan termasuk anak-anak mereka berkunjung ke Museum Batik. Kami selalu menggunakan jasa pemandu di setiap tempat yang kami kunjungi untuk mendapatkan banyak informasi lebih kanjut. Tak hanya melihat-lihat dan mendengar penjelasan pemandu yang ramah dan rupawan, anak-anak juga berkesampatan merasakan bagaimana menggambar, membuat pola dan menorehkan malam/wax menggunakan canting diatas kain sampai membentuk corak batik.

 

P8161372

P8161377

Ada tiga ruang pamer dan satu ruang workshop di museum ini. Di ruang pamer kita tidak diperbolehkan memotret. Kamera hanya boleh digunakan diluar ruang pamer seperti di ruang workshop misalnya. Di ruang pamer utama kita dapat melihat bahan-bahan yang digunakan untuk membatik, dari berbagai jenis kain, canting, malam/wax, bahan pewarna atau pencelup, baik yang terbuat dari bahan alam maupun bahan sintetis. Di ruang ini juga dipamerkan beberapa kain Batik khas Pesisir yang didominasi warna-warna cerah dan motif flora seperti batik Lasem, Cirebon sampai Batik Pekalongan sendiri. Ruang pamer lainnya adalah ruang pamer pakaian atau kain yang pernah dipakai para pejabat pemerintahan dan petinggi negara yang disumbangkan ke museum untuk dipamerkan seperti pakaian dan kain beberapa mantan Presiden Republik Indonesia. Ruang pamer terakhir adalah ruang pamer Batik Nusantara. Andai saja kaki saya tak lelah berdiri terus menerus mendengarkan pemandu ini bercerita, tentu saja saya ingin berlama-lama diruangan ini. Sungguh berbagai corak dan motif Batik dari berbagai tempat di Indonesia ini menarik perhatian saya, apalagi mendengarkan filosofi dari setiap warna dan motif pada kain-kain tersebut. Ada sejarah dan makna pada setiap goresan dan ada pula aturan pakai yang tak semua dari kita memahaminya. Saya tertawa kecil saat membayangkan bila saya salah pakai karena ketidaktahuan saya, misal menggunakan kain untuk berduka ke pesta. Haduh….tentu sangat memalukan.

P8161309

combineplate

Di akhir kunjungan, kami menuju ruang terbuka yang berhadap-hadapan dengan taman untuk belajar membatik. Ada alat batik tulis maupun alat batik cetak. Ditempat ini juga dipamerkan blok-blok logam bermotif untuk mencetak pola diatas bahan. Ada juga alat-alat bantu lain seperti untuk mencelup dan membilas kain batik. Pengelola museum sudah menyediakan potongan kain, alat dan bahan untuk workshop. Perlu waktu untuk bisa menyelesaikan satu potong kain berukuran saputangan pria dewasa menjadi sepotong kain batik. Untuk workshop seperti ini pengunjung hanya dikenakan biaya dua puluh lima ribu rupiah saja. Namun karena kami hanya memiliki waktu yang terbatas, maka kami melakukan sampai tahap membatik dengan menorehkan malam dengan menggunakan canting diatas kain yang sudah digambar saja. Untuk yang seperti ini kami tidak dikenakan biaya tambahan. Tak mudah ternyata membatik. Malam/wax yang terlebih dahulu harus dicairkan dalam kuali kecil diatas tungku berulang kali keluar tidak merata saat ditorehkan diatas kain. Kadang terlalu tebal dan tak jarang terlalu tipis. Bila terlalu tebal maka malam/wax akan menembus kain dan membuat tangan terasa panas. Diba, anakku yang pertama malah karena kurang hati-hati ujung jarinya sempat tercelup malam cair, dengan cekatan mbak pemandu membalur dengan suatu bahan supaya tidak melepuh.

Meski harus sabar dan menghabiskan waktu sampai tengah hari, anak-anak menikmati proses belajar membatik ini dengan senang hati. Sesekali diberi semangat saat terlihat mulai tidak sabar. Beruntung anak-anak juga di bantu dengan pemandu yang sabar mengajari mereka hingga proses membatik selesai. Voilaaaaa…… jadi juga sehelai kain bermotif batik bikinan sendiri. Matahari tepat di atas langit Pekalongan saat kami meyelesaikan kunjungan kami.

Lima anak-anak menjelang remaja berlarian dilapangan Jetayu yang letaknya persis di seberang museum, Dengan landmark lima buah aksara bermotif batik yang membentuk kata “B A T I K” ditengah lapangan, kami menyempatkan diri mengambil beberapa gambar untuk kenang-kenangan karena besok kami akan meninggalkan kota kecil yang ramah dan kulinernya yang lezat ini.

P8161423

Terimakasih Pekalongan. Sampai jumpa lagi.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

One comment

  1. Begitu toh cara buat batik.. OneJogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge