Thursday, December 14, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jawa » Jawa Barat » Museum Etnobotani Indonesia – Bogor
Bahan Jamu / Obat Herbal Tradisional
Bahan Jamu / Obat Herbal Tradisional

Museum Etnobotani Indonesia – Bogor

Museum Etnobotani Indonesia. Gedung tua berwajah kusam dengan warna coklat abu-abu ini dahulu selalu luput dari perhatian meski saya sering sekali bertandang ke Bogor. Dinaungi banyak pohon besar khas wilayah seputar Kebun Raya yang menutupi sebagian besar bagian depan gedung, membuat museum ini makin terlihat tak menarik dari kejauhan. Namun akhirnya, istilah etnobotani yang unik yang disematkan pada gedung ini mampu menyeret langkah saya untuk mampir.

Secara sederhana, istilah Etnobotani diperkenalkan oleh seorang antropologi Amerika yang bernama Harsberger pada tahun 1895. Berasal dari kata etno dan botani, yang berarti, budaya dan tumbuh-tumbuhan, maka dengan mudah kita memahami bahwa Museum Etnobotani Indonesia adalah museum yang menyimpan berbagai tanaman di berbagai penjuru Indonesia dan berkaitan dengan budaya manusia di tempat tumbuhan itu berasal.

Tingginya keanekaragaman tumbuhan yang hidup di Indonesia yang memiliki iklim tropis serta keanekaragaman adat dan budaya yang berbeda di setiap suku bangsa di Indonesia, mengakibatkan perbedaan pula dalam pola pemanfaatan sumber daya alam sekitarnya. Hal itu sering sekali saya lihat di berbagai daerah yang pernah saya kunjungi. Tumbuhan yang hidup di pulau Jawa misalnya, memiliki jenis yang berbeda dengan tumbuhan yang hidup dan berkembang di Nusa Tenggara.

Museum Etnobotani Indonesia - Bogor
Etnobotani Indonesia Timur

Pola pemanfaatannya secara tradisional pun berbeda diantara keduanya. Perbedaan yang menghasilkan keunikan yang khas di setiap daerahnya ini harus terus dipelajari, didokumentasi dan dilestarikan. Perkembangan teknologi modern memungkinkan hubungan manusia antar daerah di Indonesia yang kemudian berpengaruh pula terhadap kehidupan dan kebudayaan suku bangsa di Indonesia. Tanpa upaya pelestarian, dikhawatirkan teknologi modern akan menggerus pengetahuan tradisional dan pemanfaatan tentang tumbuhan sekitar.

Dengan latar belakang tersebut di atas, diprakarsai oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo yang menjabat sebagai ketua LIPI pada tahun 1962, dimantapkan kembali pada tahun 1973 oleh Dr. Setijati Sastrapradja sebagai Direktur Lembaga Biologi Nasional, akhirnya Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie meresmikan Museum Etnobotani Indonesia pada tahun 1982 dengan tema Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia.

Ada ribuan sampel tanaman tersimpan di sini. Indonesia memang kaya
Ada ribuan sampel tanaman tersimpan di sini. Indonesia memang kaya

Saya bersyukur bisa menjejakkan kaki di museum ini. Nada skeptis yang tercipta karena aroma museum yang redup, tua dan sepi berangsur berubah menjadi kekaguman terhadap negeri ini, bercampur rasa terimakasih terhadap mereka yang memrakarsai dan mengelola museum ini. Bagaimana tidak, kehadiran museum ini mampu memberikan saya sudut pandang yang menarik tentang kehidupan di suatu daerah dan kearifan lokal masyarakatnya dan kaitannya dengan cara mereka mengelola dan memanfaatkan tumbuhan. Museum etnobotani juga mengajarkan kita banyak hal tentang asal mula tumbuhan, penyebarannya, penggalian potensi tumbuhan sebagai sumber kebutuhan hidup, makna dan arti tumbuhan dalam kebudayaan serta tanggapan masyarakat setempat terhadap suatu jenis tumbuhan dari Aceh di ujung paling barat Indonesia hingga ke Papua di ujung Timur.

Ada lima lorong di dalam ruang pamer museum seluas kurang lebih 1600 meter persegi. Menelusuri perlahan satu persatu etalase yang berderet sepanjang kiri dan kanan lorong bisa membuat kita lupa akan waktu yang terus bergulir. Kenangan atas kunjungan ke beberapa tempat di Indonesia menyeruak saat melihat satu persatu koleksi Museum dan menghadirkan informasi tambahan pada hal-hal yang belum sempat saya gali.

Berbagai Olahan Rotan Disajikan di Sini
Berbagai Olahan Rotan Disajikan di Sini
Labu dan Kenangan Masa Kecil yang Menyeruak
Labu dan Kenangan Masa Kecil yang Menyeruak

Saya tak berhasil menemukan tema tertentu pada setiap lorong, beberapa koleksi dipajang secara random. Bisa jadi penempatannya berdasarkan jenis tumbuhan. yang saya lihat, peralatan, pakaian, peralatan upacara keagamaan dan tumbuhan khas suatu daerah dan kerajinan tangan bisa berada di etalase pada lorong yang sama. Padahal menurut saya akan lebih menarik bila diurutkan sesuai dengan tema masing-masing, setidaknya diletakkan berurutan jika tidak memungkinkan satu lorong hanya berisi satu tema saja.

Oh ya ada cerita lucu soal penempatan koleksi ini. Saya sempat terkejut saat melihat etalase pertama di lorong paling depan. Judul koleksinya adalah Pakaian Suku Pedalaman, namun yang terlihat menyolok terlihat oleh saya adalah kain penutup mayat Suku Baduy yang terbuat dari tumbuhan dalam bentuk pocong. Haduh, saya yang pada dasarnya penakut ini sempat kehilangan selera justru di awal penelusuran.

Bahan Jamu / Obat Herbal Tradisional
Bahan Jamu / Obat Herbal Tradisional
Salah Satu Koleksi Tanaman Basah. Penduduk Lokal Menyebutnya Nanas Gila
Salah Satu Koleksi Tanaman Basah. Penduduk Lokal Menyebutnya Nanas Gila

Tapi abaikan soal itu, banyak hal yang lebih menarik yang bisa kita amati. Berbagai perkakas, peralatan, pakaian dan kerajinan tangan disajikan disini. Beberapa yang khas disusun dalam satu etalase berdasarkan asal daerahnya seperti Bali, Toraja, Batak, Nusa Tenggara, dan daerah lain. Ada juga yang ditempatkan berdasarkan jenisnya seperti alat musik, permainan anak-anak, pembuatan jamu, jenis-jenis tanaman herbal dan tumbuhan, aneka buah dan hasil hutan.

Ada satu yang membuat saya begitu bahagia, yaitu ketika melihat koleksi Buah Rumbia. Buah ini sungguh mengingatkan saya pada masa kecil saya yang indah saat tinggal di Aceh, ujung Barat Indonesia. Buah ini selalu menjadi kudapan rutin saya setiap hari di sekolah. Biasanya dijajakan didepan sekolah sudah dijadikan manisan dan dimakan dengan bumbu campuran garam dan Plie (kelapa yang dikeringkan khas aceh).

Ragam Mainan Anak Tradisional
Ragam Mainan Anak Tradisional
Buah Rumbia yang Kini Mulai Langka
Buah Rumbia yang Kini Mulai Langka

Fakta terungkap saat saya unggah gambar tersebut di media sosial, ternyata tanggapan dari teman-teman mengabarkan bahwa buah tersebut sudah menjadi buah yang langka saat ini. Buah Rumbia yang rasanya sepat manis dan sering digunakan untuk campuran bumbu rujak Aceh itu kini sulit didapat. Bahkan pohon-pohon yang ada pun sudah tak lagi menghasilkan buah. Sedih sebenarnya mengingat bahwa kelak kita hanya bisa melihat buah ini di museum dan tak lagi bisa mengecap rasanya.

Ada juga beberapa koleksi berbagai labu dan kegunaannya sebagai tempat air. Hal ini mengingatkan pada perabot rumah nenek yang letaknya di pinggir sungai di Sumatera Selatan. Waktu kecil saya pernah ikut ke sungai untuk mengambil air menggunakan buah labu yang sudah dikeringkan tersebut. Ada juga koleksi tanaman basah yang disimpan dalam botol dan koleksi tanaman kering. Warnanya sudah berubah begitu pun penampakannya. Andai pengelola menyertakan gambar berwarna sebagaimana aslinya saat segar dan keterangan nama lokal selain nama latin, mungkin akan lebih membantu pengunjung menikmati wujud aslinya.

Kesimbangan Alam Dimulai dari Kearifan Manusia Mengelola Sumber Daya Alamnya
Kesimbangan Alam Dimulai dari Kearifan Manusia Mengelola Sumber Daya Alamnya

Tak kurang dari 1700 koleksi yang ada di Museum Botani Indonesia, termasuk di dalamnya puluhan ribu koleksi sampel tanaman dalam botol yang tak mungkin saya jelaskan satu persatu. Tiga ribu rupiah sebagai harga tiket masuk, sungguh nilai yang tidak sebanding dengan banyaknya pengetahuan yang kita dapatkan saat berkunjung. Saran saya, singgahlah ke museum ini kala anda berkunjung ke Bogor, bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki putra-putri, bawalah mereka kemari. Saya yakin mereka akan kagum dan bangga terlahir sebagai anak Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati dan budaya.

Museum dibuka untuk umum dari Senin sampai dengan Jumat, jam delapan pagi hingga jam empat sore. Untuk anda yang menggunakan kendaraan pribadi, arahkan saja kendaraan anda melewati Istana Bogor dan Balaikota menuju Bogor Trade Mall (BTM), letaknya ada di sisi kanan berseberangan dengan pintu masuk KRB yang dekat Kantor Pos. Dengan kendaraan umum, museum ini juga mudah sekali dicapai, hanya dengan menumpang angkutan umum berwarna hijau nomor 02 dari Stasiun Kereta Bogor atau bernomor 13 dan 06 dari Terminal Baranangsiang. Tarif hanya 3000 rupiah saja hingga anda akan sampai di museum.

Jelajahi Tiap Lorong, Temukan Paduan Kekayaan Budaya dan Tanaman Indonesia
Jelajahi Tiap Lorong, Temukan Paduan Kekayaan Budaya dan Tanaman Indonesia

Jangan kecil hati bila anda bertanya letak museum ini, karena ternyata tak banyak warga Bogor yang akrab dengan nama Museum Etnobotani Indonesia. Mungkin masih menjadi pekerjaan rumah buat pengelola museum agar keberadaannya bisa masuk lebih jauh ke dalam kehidupan masyarakat dan menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisata ke Bogor. Untuk informasi lebih lanjut, anda bisa membuka laman resmi di www.museumetnobotaniindonesia.com atau alamat resmi dibawah ini:
Pusat Penelitian Biologi – LIPI
J. Ir. H. Juanda No. 22 Bogor 16122
Telp: 0251 – 8322035, 8387703

Selamat Berkunjung, dan temukan ragam kearifan budaya lokal Indonesia melalui tumbuhannya.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

30 comments

  1. Wah, betapa kayanya negri kita ya mba… sudah lama sekali gak berkunjung ke museum, terakhir ke museum yang ada di TMII untuk mengantar sean 🙂

    • donna imelda

      Iya, Mbak Irma. Aku selalu kagum setiap keluar dari museum. Ada jejak bangsa yang luar biasa di dalamnya. Coba ajak Sean ke daerah Jakarta Kota, Mbak Irma… dalam satu wilayah ada beberapa museum yang bisa didatangi. Salam sayang buat Sean….

  2. ternyata jika kita lihat beberapa tanaman sudah mulai langka dan jarang ditemukan, apakah punah atau gimana yah seperti halnya capung dan beberapa satwa lainnya yang mulai punah apalagi burung garuda yang memang konon katanya burung itu ada dan sebagai simbol negara Indonesia, sampai kini kitapun tidak tahu burung garuda itu ataupun tidak

  3. Eh seru yaaa…. Aku tahu sih ada museum ini tapi nggak pernah masuk hehehe. Jadi pengen masuk ke dalemnya deh. Pasti seru dan nambah ilmu banget ya

  4. ke museum. boyz pasti suka. makasih infonya ya mak 🙂

  5. mbak terus terang aku baru tau ada museum Etnobotani.. pengetahuan baru buatku.. makasih bgt mb..sangat bermanfaat postingan ini.. *krn aku juga salah satu penggemar museum 😉

  6. Dan aku kelewat lagi kalau ke Bogor dan ngga kesini :(, unik banget ya museumnya Mba

  7. kapan kapan saya mampir 😀 harus siap kamera untuk mengabadikan 😀

  8. aku belum pernah ke museum ini mbak… padahal deket yah di bogor…
    ah, kapan2 mesti mampir… bagus utk edukasi anak2… belajar ttg kearifan lokal, dan mainan2 tradisional itu pasti jadi sesuatu yang menarik utk mereka 😀

  9. Museum etnobotani merangkum budaya melalui tumbuhan lokalnya, sukaaa sekali Mbak Donna. lanjut ke museum Zoologikah? Salam

  10. Terakhir kapan yaaa ke museum ini..udah lama bangeet..

  11. Sering lewat depan nya beli asinan haha

  12. tiap kesini, selalu tutup.
    karena salah hari mulu dan penjaganya gak ada hihihi.

  13. nexttime kalo ke Bogor mau kesinii lagiii yeeey

  14. Dicatat, mbak… Insya Allah klo ada kesempatan ke Bogor ( sambil nostalgia, hehe) akan mampir ke sini aah…

  15. Eh, bukanya cuma hari kerja saja, ya? Pantas saat saya mau menyambanginya di akhir pekan, kesannya seperti tidak ada kegiatan di sana. Satu kritik buat pengelola museum nih, agar membuka jadwal kunjungan di akhir pekan, supaya kuli kantoran seperti kita bisa bertandang kemari :hehe.

    Herbarium Bogoriense! Museum yang tidak tampak seperti museum, karena memang sejatinya ini herbarium :hehe. Dipindahkan dari bagian dalam Plantentuin, agaknya orang harus menyempatkan waktu ekstra kalau mau ke sini. Koleksinya banyak banget ya Mbak, negara kita memang sangat kaya. Prihatin saya dengan tanaman yang melangka, tugas kita untuk membantunya tetap lestari. Semoga bisa :amin.

    Thanks for sharing!

  16. saya baru tau museum ini, kudu sekolah lg nih 😛

  17. buah rumbia itu kaya buah salak ya mba aku baru liat loh buah rumbia ini …

  18. kayanya saya belum pernah ke sana deh, jadi malu nih padahal orang Bogor 😀

  19. wahhh … menarik juga isinya … dan bagus pula
    sudah kepikiran kalau ke bogor mau melipir kesini ….
    mampir ah ..

  20. Wah, baru pernah dengar ada museum etnobotani. Keren!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge