Thursday, December 14, 2017
Home » Review and Event » Omah Akas dan Granny’s Nest: Paduan Akomodasi Unik Hotel dan Resto di Bandar Lampung
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Omah Akas dan Granny’s Nest: Paduan Akomodasi Unik Hotel dan Resto di Bandar Lampung

Adalah suatu keunikan ketika sebuah konsep akomodasi lahir dari pemilik yang sama namun mengusung dua hal yang berbeda. Omah Akas adalah nama sebuah hotel kecil yang nyaman di Bandar Lampung sedangkan Granny’s Nest adalah sebuah cafe dan restoran tematik yang romantis di kota yang sama. Letak kedua tempat ini berseberangan dan menjadi paduan unik sebuah akomodasi bagi para pejalan seperti saya.

Unik, karena kata Akas dan Granny yang disematkan pada nama kedua tempat itu menggunakan dua istilah yang berbeda namun memiliki benang merah. Akas berasal dari istilah lokal yang berarti kakek dan granny berasal dari istilah asing yang berarti nenek. Penamaan yang demikian menunjukkan kedekatan antara kedua lahan bisnis keluarga ini lebih dari sekedar letaknya yang berdekatan yaitu di Jalan Pulau Sebuku No 9B Antasari, Bandar Lampung.

Lelap di Rumah Kakek
Bagi saya pribadi, Omah Akas sangat ideal untuk tempat menginap saat traveling di Lampung, entah itu untuk perjalanan bisnis maupun wisata, bersama teman atau keluarga bahkan sendirian sekalipun. Ada beberapa poin yang saya suka dari Omah Akas, termasuk didalamnya pemenuhan kriteria saya untuk sebuah tempat menginap yaitu aman, nyaman, bersih dan terjangkau serta salah satu poin tambahan yaitu penerapan aturan berbasis syariah.

Saya mengenal Omah Akas melalui seorang teman saat meliput Festival Teluk Semaka 8 di Lampung bersama beberapa teman lainnya. Saat itu kami ditawari untuk menginap di Omah Akas sepulang dari liputan di Tanggamus sebelum kembali ke Jakarta. Meski dengan embel-embel, “ini hotel biasa lho, semacam hotel backpacker”, kami tak keberatan. Ekspketasi kami sederhana saja, tak masalah menginap di mana pun, selama tempat tersebut cukup nyaman dan aman digunakan untuk tidur. Dan ternyata yang kami dapatkan melebihi ekspektasi kami.

Nyaman itu memang relatif pada setiap orang, begitu juga buat saya. Alhamdulillah Omah Akas memenuhi kriteria tersebut. Omah Akas memang bukan hotel berbintang, tapi kenyamanan yang saya dapatkan setara dengan hotel bintang dua atau bintang tiga yang pernah saya singgah. Dengan harga kamar hanya sekitar dua ratus ribuan, kami sudah bisa menikmati kamar executive berukuran 4×4 m lengkap dengan pendingin udara, televisi flat berukuran besar, kamar mandi di dalam serta Kasur tipe spring bed berukuran King Size serta lemari penyimpan pakaian.

Penginapan yang memiliki tiga lantai ini melengkapi kebutuhan standar tamu seperti perlengkapan mandi dan air mineral, bahkan disediakan pula air mineral di setiap lantai untuk memfasilitasi tamu yang membutuhkan air minum tambahan dan jaringan internet gratis. Fasilitas antara kamar standard, deluxe dan executive nyaris sama, ukuran kamarnya bahkan sama kecuali untuk family room yang bertarif 350 ribu per malam untuk kapasitas tamu sebanyak 5 orang. Perbedaannya adalah pada kamar standar dan deluxe tidak dilengkapi dengan lemari pakaian serta berada di lantai 2 dan 3.

Untuk kamar deluxe di lantai 2 dikenakan tarif sekitar 180 ribu per malam, sedangkan kamar standar dikenakan tarif normal seharga 150 ribu per malam, tapi uniknya harga tersebut hanya dikenakan pada hari Jumat sampai dengan Minggu, pada hari Senin dan Selasa tarifnya akan didiskon hingga mencapai 99 ribu saja sedangkan pada hari Rabu dan Kamis dikenakan tarif 120 ribu rupiah.

So… tinggal atur deh waktu perjalanan kita, pesan lewat internet di www.omahakas.co.id, atau telepon di 0821 8619 9000 dan 0721269590, maka urusan akomodasi anda selama di Lampung akan aman. Aksesnya mudah kok. Meski tak jauh dari jalan raya besar Antasari, Omah Akas letaknya agak masuk ke dalam sehingga tidak bising. Dari Bandara Raden Intan hanya perlu waktu tempuh sekitar 45 menit atau hanya menempuh waktu 20 menit dari Stasiun Kereta Api di Tanjung Karang, Lampung.

Hal ini nantinya akan menjadi pertimbangan buat saya dan keluarga. Sejak ayah dan ibu saya pindah ke Jakarta, kami selalu menginap di hotel saat ke Bandar Lampung. Selama ini ada beberapa hotel yang kami rasa cukup nyaman dan sebanding dengan harga yang harus kami bayarkan per malamnya. Namun ternyata, di Omah Akas kami bisa mendapatkan kenyamanan yang yang sama dengan harga yang lebih murah. Dalam hati saya berkata, suatu waktu kami sekeluarga kembali ke Lampung, maka bisa dipastikan Omah Akas yang akan menjadi pilihan tempat kami menginap.

Romansa di Sangkar Nenek
Sesaat setelah urusan di meja resepsionis beres dan barang-barang sudah masuk kamar, malam itu kami tak langsung istirahat meski badan terasa sudah lengket akibat peluh berpanas-panas seharian dan terpapar gerimis saat liputan di Tanggamus. Perjalanan sekitar 3 jam dari Kota Agung ke Bandar Lampung juga membuat tubuh menuntut beristirahat sebenarnya. Namun tak mungkin tidur dalam keadaan perut kosong, lagi pula kami penasaran dengan Granny’s Nest Cafe and Resto yang unik itu.

Kami hanya butuh melangkah menyeberang jalan dari Omah Akas menuju Granny’s Nest Cafe and Resto. Dari beranda cafe tersebut saya sudah bisa merasakan aura shabby vintage style yang mereka gadang-gadang itu. Bagian luar resto terasa seperti sebuah rumah dongeng, mengingatkan saya cerita-cerita Hans Anderson. Warna-warna lembut beraroma flora mendominasi ruang, warna-warna pastel membuat suasana malam minggu menjadi romansa bagi muda-mudi yang datang menikmati akhir pekan.

Resto ini sepertinya memang lebih pas untuk para remaja atau tempat anak-anak muda meet up atau sekedar hang out dengan teman-teman atau pujaan hatinya. Suasananya memang membawa perasaan menjadi romantis, apalagi saat live music yang hanya ada pada akhir pekan memainkan lagu-lagu beraroma cinta di atas panggung kecil di salah satu sudut Granny’s Nest. Banyak pasangan remaja yang sepertinya sedang dimabuk asmara. Terlihat jelas dari gesture tubuh dan raut wajah mereka saat berinteraksi satu sama lain.

Saya menikmati musiknya, namun bukan romansanya meski saya menyukai pernak-pernik ornamen ala Granny’s Nest. Alih-alih memikirkan pujaan hati nun jauh di Jakarta sana, saya malah membayangkan putri-putri saya yang seumur dengan remaja-remaja di sekitar saya ini, remaja yang sedang asik dengan dunianya. Mungkin tak lama lagi anak-anak saya pun akan memiliki dunia baru seperti itu. Hm… masih tak rela rasanya melepas masa kanak-kanak mereka dan mendadak kangen rumah.

Perut yang sudah keroncongan menghentikan pikiran saya yang melayang kemana-mana. Seporsi nasi dan Sop Buntut menjadi pilihan menu makan malam saya di Granny’s Nest malam itu. Banyak pilihan lain baik menu Indonesia maupun menu-menu Western. Cemilan ringan juga ada, semua harganya sangat terjangkau. Tak heran bila banyak anak-anak muda yang duit jajannya masih minta sama orang tua mereka bisa menikmati hidangan ala Granny’s Nest. Jadi nggak bakal bikin uang jajan mereka ludes deh.

Masih penasaran soal Granny’s Nest, intip aja akun sosial media mereka ya di Twitter @Grannys_Nest dan Instagram @GrannysNest

Yuk ah… selamat makan ya.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515174902

Aliya Hotel Klang – Hotel Nyaman di Jantung Bandar Diraja

Senja itu kubah Masjid Diraja Klang Utara terlihat indah dari kejauhan. Syahdu disinari cahaya lampu ...

5 comments

  1. Wah ayik dapat referensi baru. KEren nih mbaa. Makasih yaaa

  2. Asseekkk…murah dan nyaman. Pas buat backpacker-an.

  3. Keknya menyengangkan sekaliii tempatnya yaaa Mbak :)))
    Ayaa recently posted…Hal Paling Sexy Saat Menunggu adalah Membaca BukuMy Profile

  4. Asyik dan seru nih Mbak, sebab sangat memudahkan. Biasanya saya suka bingung cari penginapan yang nyaman di kantong dan di hati, tapi sepertinya saya akan suka nih dengan perpaduan hotel dan resto ini. Cari makanan juga jadi tidak repot ya, soalnya kalau mentok dan tak bisa ke mana-mana, makan di depan hotel pun bisa jadi pilihan yang bagus karena tidak asal cari makanan saja. Sip, sip. Terima kasih atas rekomendasinya ya. Kemungkinan besar saya akan menginap di sini kalau jalan-jalan ke Lampung :amin.
    Gara recently posted…Candi Pari: Yakin Mau Ke Sana?My Profile

  5. terlampau mewah menurutku untuk hotel backpacker mas hehehhe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge