Tuesday, August 22, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Sumatra » Lampung » Packing Praktis, Mudik Asyik dan Carut Marut Transportasi Negeri ini
IMG_6425

Packing Praktis, Mudik Asyik dan Carut Marut Transportasi Negeri ini

Aku masih berkutat dengan urusan pekerjaan ketika SMS masuk untuk kesekian kalinya dari Rani, anakku. Pertanyaannya masih sama, “Bunda…aku kangen, kapan menyusul mudik ke Lampung”, begitu pesan pendek yang tertulis di layar telepon selulerku. Aku menghentikan sejenak pekerjaanku sambil membalas pesan tersebut. Sejak kemarin agak sulit menjanjikan tanggal pasti untuk bisa berangkat pulang ke kampung halamanku menyusul kedua anakku yang sudah terlebih dahulu berangkat bersama kakeknya. Enam hari meninggalkan kantor untuk urusan diluar pekerjaan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur tak urung membuat beberapa pekerjaan menumpuk dan harus diselesaikan sebelum cuti bersama tiba, sementara aku sendiri malah berharap bisa berangkat lebih awal agar perjalanan tidak bertepatan dengan arus mudik mulai.

Tanggal 5 Agustus 2013 adalah hari pertama yang dicanangkan pemerintah untuk cuti bersama, namun karena tanggal 3 dan 4 Agustus 2013 jatuh pada hari Sabtu dan Minggu, maka diperkirakan kepadatan arus mudik akan terjadi sejak Jumat, 2 Agustus 2013. Tadinya aku merencanakan akan mudik pada hari Jumat tersebut sesuai dengan jadwal libur yang telah ditentukan, namun hari Kamis kemarin pekerjaanku sudah selesai hingga aku berpikir, kenapa tidak berangkat malam ini saja. Ada beberapa alternatif angkutan umum yang bisa aku gunakan, dua diantaranya adalah menggunakan bis antar kota langsung dari Jakarta ke Tanjung Karang, Lampung atau sambung menyambung beberapa moda transportasi secara terpisah. Untuk menggunakan bis kota langsung kami agak ragu mengingat kami belum memiliki tiket dan kemungkinan untuk mendapatkan tiket langsung di situasi jelang Lebaran dengan keberangkatan sesuai dengan jadwal yang kami mau agak kecil, tiba-tiba suami mengusulkan alternatif kedua yaitu sambung menyambung beberapa moda transportasi secara terpisah. Terus terang, kami jarang sekali menggunakan cara ini untuk pulang ke Lampung, tapi karena kami hanya berangkat berdua dan waktu yang sudah mepet akhirnya dengan mantap kami memutuskan berangkat sehabis buka puasa malam itu.

*****

Mudik yuk…

Kami meringkas pakaian yang akan dibawa seringkas mungkin agar bisa muat di dalam tas ransel kami yang tak terlalu besar dan tidak merepotkan kami sepanjang perjalanan nanti. Tepat pukul delapan malam kami meninggalkan rumah setelah memastikan rumah dalam keadaan bersih dan aman. Beberapa barang terbuka aku tutupi dengan kain besar agar tak berdebu dan dirayapi tikus, memastikan beberapa aliran listrik, air dan gas dalam keadaan mati termasuk aki mobil yang kami copot untuk memutus aliran tenaga kendaraan kemudian mengunci rumah dan gerbang dengan gembok besar lalu memulai langkah mudik kami dengan menitipkan segala sesuatu yang kami akan tinggalkan dan doa keselamatan pada Sang Maha, bismillahi rohmanir rohiim…kami pun berangkat.

Terminal Kampung Rambutan menjadi tujuan pertama kami, namun kami menyempatkan diri untuk mampir dulu disebuah restoran yang menyajikan masakan Minang untuk makan malam. Perjalanan kami lakukan dengan sangat santai, makan perlahan dan sambil berbincang. Tak ada yang kami kejar dalam perjalanan ini. Dengan menggunakan angkutan kota kami menuju Terminal Kampung Rambutan dan nantinya akan melanjutkan perjalanan dari sana dengan menumpang bis kota menuju Pelabuhan Merak, Banten. Pukul sembilan lebih seperempat kami baru tiba diterminal karena terhadang macet dibeberapa titik. Bagiku macet sudah jadi bagian hidup yang tak terpisahkan bagi kami yang kehidupannya di sekitar kota Jakarta, aku sudah mahir mensiasati macet agar bisa dinikmati. Menjadi egois salah satu cara ampuh, memasang earphone, mendengarkan musik atau membaca, aku memutus semua indra terhadap sekeliling yang bisa membuat aku kesal atau tak sabar terhadap macet lalu fokus dengan kenikmatan mata dan telinga. Namun tak begitu terhadap perilaku masyarakat metropolitan yang sungguh heterogen ini. Jakarta selalu berhasil membuat aku selalu dalam keadaan waspada dengan aksi kejahatan di jalanan. Seperti dalam perjalanan ini, aku tak dapat memungkiri bahwa jantungku masih saja berdebar kencang saat seorang anak muda dengan tato di sekujur tubuh sampai ke pergelangan tangan, berdandan ala anak punk, dengan bibir dan hidung yang ditindik tiba-tiba merangsek ke dalam angkutan kota yang aku naiki, bernyanyi dengan nada sumbang dan meminta bayaran dengan setengah memaksa. Aku segera merogoh kantong kecil dan menjumput selembar uang seribuan, menyodorkannya dan menghindari kontak mata lalu melanjutkan membaca.

Seperti layaknya terminal di negeri ini, kami disambut “hangat” para calo terminal yang menawarkan berbagai tujuan, aku melenggang dengan tatapan lurus ke depan, tak berminat sama sekali melayani sambil sesekali menolak dengan halus mereka yang sedikit ngotot. Sayang sekali bis kota yang kami ingin tumpangi ternyata sudah tidak melayani tujuan Pelabuhan Merak semalam ini. Bis dengan nama Primajasa ini terakhir membawa penumpang dari Kampung Rambutan pukul sembilan malam dan baru melayani lagi pukul tiga pagi. Apa boleh buat, perjalanan harus berlanjut, kami memutuskan naik bis kota lainnya. Bis berpendingin udara dengan susunan bangku 2-3 ini sudah beraroma tak sedap sejak kami masuk, belum lagi berbagai penumpang dan pedagang asongan yang hilir mudik menjajakan dagangannya dengan berbagai gaya. Ada saja penumpang yang mencoba membeli atau sekedar melihat-lihat dagangan yang mereka jajakan. Hasil akhirnya sudah bisa ditebak, yang hanya melihat-lihat akan terpaksa membeli dan yang membeli beberapa kecewa ternyata barang yang didagangkan tak seperti yang diharapkan.

*****

Selamat Tinggal Jakarta

Hampir satu jam bis kota yang kami tumpangi ngetem, duduk didepan kami sepasang anak muda dengan ransel besar di punggungnya, melihat mereka duduk dengan memangku ransel besar mereka saya jadi teringat perjalanan darat saya dari Singapore ke Malaysia. Dengan tas besar namun kondisi bis yang jarak antar bangkunya rapat seperti ini sulit untuk meletakkan barang, terpaksa memangku ransel sampai tujuan. Konsekuensi backpacker ya begitu, aku pun tersenyum kecil mengingat hal tersebut. Gimana pun bagi saya, perjalanan itu harusnya bisa dinikmati. Kalo harus membayar lebih dan uang nya ada, mengapa tidak? Tiga jam menempuh perjalanan dengan membayar ongkos sebesar 25.000 rupiah, saya dan suami melewatinya dengan tidur. Hidung kami cukup cepat beradaptasi sehingga kondisi aroma bis yang tak sedap itu tak mengganggu kami menempuh kilometer demi kilometer dengan tidur nyenyak. Perjalanan malam tak menyajikan banyak pemandangan, situasi gelap juga tak memungkinkan untuk membaca, tidur adalah pilihan yang terbaik.

Pukul satu dini hari kami tiba di Terminal Terpadu Merak, Banten. Terminal bis ini terhubung dengan Pelabuhan Merak, jadi penumpang yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sumatera bisa langsung menuju pelabuhan. Kami berjalan santai menggendong ransel melewati koridor panjang menuju penjualan loket. Ada ojek yang menawari kami untuk mempercepat perjalanan, namun jarak yang tak terlalu jauh dan niat untuk menikmati saja semua kondisi kami pun menolak dengan halus. Bahkan kami masih sempat mampir di sebuah warung terbuka beratapkan langit di tengah-tengah terminal menikmati sepiring mie rebus panas racikan, angin laut sesekali membelai tubuh kami berpadu dengan teh panas di tenggorokan semua itu indah saja rasanya.

Perjalanan kami lanjutkan setengah jam kemudian, membeli tiket penyeberangan sebesar 13.000 rupiah per orang, dengan e-ticket mesin tap pun membuka dan membiarkan kami masuk ke dalam pelabuhan, melangkah melewati koridor panjang menuju dermaga 2 tempat kapal yang akan kami tumpangi bersandar. Dari jauh kami melihat KMP Mufidah sedang bersandar, sayang kami sedikit terlambat sampai di ujung dermaga, karena tak lama kemudian kapal tersebut mulai bergerak menjauh dari pelabuhan, hal ini berarti kami harus menunggu kapal berikutnya bersandar. Tak lama menunggu, setengah jam kemudian KMP SMS Kertamenggala terlihat mendekati dermaga, pertanda bahwa kapal ini yang akan membawa kami menyeberangi Selat Sunda. Aku dan suami bersiap di ujung dermaga dan dari jarak yang tak terlalu jauh kami bisa membaca situasi kapal, dimana letak kabin bisnis yang kondisinya lebih nyaman dibanding kelas lainya. Ternyata kapal ini menyediakan tak hanya kelas bisnis tapi juga kelas “lesehan”. Lumayan, meski sederhana, dengan menambah ongkos ke anak buah kapal sebesar 6.000 rupiah kami bisa merebahkan tubuh kami di atas matras yang disediakan. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh hanya sekita dua jam, kami lewati lagi-lagi dengan tidur nyenyak sehingga tak terasa perjalanan lebih panjang dari biasanya ini tak terasa bagi kami. Terbangun menjelang Sholat Subuh saat kapal sedang antri merapat, kami pun menikmati matahari beranjak naik diantara awan mendung melewati horison dari geladak. Selamat datang di Pelabuhan Bakauheni, Lampung

*****

Disini kegilaan itu dimulai

Melalui pesan singkat, papa sudah sempat memberiku beberapa petunjuk tentang moda transportasi lanjutan yang aku harus gunakan menuju Kota TanjungKarang Lampung. Tak banyak pilihan dari pelabuhan ini, hanya ada dua yaitu naik bis kota atau mobil travel. Aku disarankan naik travel saja karena bis kota disini tak seperti di Jakarta. Bukan sekedar tak ada pilihan, bis yang ada pun kondisinya hampir seluruhnya ala kadarnya jauh dari nyaman, selain itu untuk sampai didepan rumah kami harus berganti angkutan kota lagi dan diakhir dengan naik becak. Kami pun memutuskan untuk naik travel.

Belum lagi kami keluar pelabuhan, di koridor menjelang keluar, kami dan penumpang lainya sudah ditarik kesana kemari oleh calo-calo terminal. Lagi-lagi saya memasang bahasa tubuh defensif agar tak terlalu terganggu, alhamdulillah berhasil. Diluar pelabuhan kami bingung memilih travel yang akan kami gunakan. Banyak pilihan tapi kami tak tau apakah harus mengantri sesuai mobil yang paing dahulu berangkat atau bisa memilih mobil mana yang ingin kami gunakan. Bila memilih kami khawatir akan lama menunggu penumpang lain sambil menunggu mobil penuh, sehingga kami memutuskan untuk naik mobil travel yang terdepan yang sudah ada penumpang lain dan siap berangkat. Tanpa bertanya berapa ongkosnya, karena kami sudah tahu kami pun duduk bersama penumpang lainnya. Aku bingung dengan sopir mobil van merk Suzuki APV ini, ia berusaha menjejalkan sebanyak mungkin penumpang kedalamnya. Ditengah riuh rendah calo dan sopir-sopir lainnya yang tak sabar menanti antrian berikutnya, mobil pun bergerak meninggalkan pelabuhan dengan penumpang sebanyak dua balita dan sembilan orang dewasa termasuk supir yang terus ngedumel setelah berkali-kali penumpang dijejal kedalam dan keluar lagi karena keberatan berhimpit-himpitan didalam mobil. Begitu kerasnya tuntutan hidup hingga yang ada dipikiran mereka hanyalah sebanyak mungkin mendapatkan penumpang, karena makin banyak penumpang maka makin banyaklah uang yang akan mereka dapatkan.

Napas lega ku ternyata hanya sebentar. Belum lagi keluar gerbang pelabuhan, dua orang yang duduk di pinggir jalan pun diangkutnya. Berdesakan di baris tengah dan baris belakang kabin mobil. Badan kami bahkan nyaris tak dapat bergerak karenanya. Ini keterlaluan, aku menggumam dalam hati. Kesalku belum lagi berhenti, sopir ini melakukan kegilaan yang gak bisa akal sehatku terima, setengah jam perjalanan sopir memasukkan lagi seorang penumpang yang ia tempatkan sebangku dengan dirinya. Aku bilang, ini gila !! Bangku supir dipakai berdua sambil nyetir di jalur Trans Sumatera. Aku jadi berasa seperti mengantarkan nyawa. Kegilaan sopir ini belum berhenti, di suatu tempat ia menaikkan seorang temannya yang kebetulan butuh tumpangan. Tahu bahwa beberapa kilometer di depan ada penumpang yang akan turun, ia pun tak segan-segan menyuruh temannya tersebut masuk dan berdiri setengah jongkok di dalam kabin tengah. Benar-benar gila !!!. Nah, bila anda ingin merasakan ada dalam mobil dengan 13 orang dewasa dan 2 balita melaju kencang di jalanan luar kota, naiklah travel ini.

Memang mungkin nasib saya saja yang sedang apes dapat armada dan sopir yang seperti ini, atau memang saya berada di situasi jelang Lebaran yang ramai. Saya pun berusaha maklum. Tapi hal ini tak menafikan kenyataan bahwa beginilah carut marut transportasi di negeri ini. Penumpang tidak memiliki pilihan. Tak usah lah bicara soal kenyamanan, soal keselamatan yang jauh lebih penting pun kita tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Di saat-saat seperti ini saya sering berpikir bahwa, negeri ini tak pernah berpihak pada golongan pas2an. Mereka yang punya uang tentu punya pilihan, bisa naik bis yang nyaman, mengendarai mobil pribadi atau bahkan naik pesawat terbang. Tapi bagaimana yang tidak? Tak heran bila setiap jelang Hari Raya tiba, fenomena mudik yang memanusiakan manusia menjadi pemandangan yang lumrah buat kita. Ah tulisan ini pun saya tutup dengan keprihatinan yang dalam dan satu kegilaan terakhir sajian bapak sopir yang tekanan hidupnya saya pastikan sangat tinggi ini. Sesampai dirumah saya harus membayar lebih tinggi dari penumpang lainnya hanya dengan alasan saya tidak kompromi dulu dengan dia tentang tarif saat naik di pelabuhan. Saya bersikeras bahwa saya membayar dengan harga yang sama dengan penumpang lain yang sudah kompromi soal tarif dengannya. Lalu mengapa saya harus membayar lebih mahal karenanya. Saya sempat adu mulut dengan sopir ini mempertahankan argumen, sudahlah harus membayar lebih, puasa saya hari ini pun terkotori karena kemarahan saya.

Astagfirullah….

Tanjung Karang, 1 Agustus 2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

8 comments

  1. Scary country ya Don. Kitapun pada akhirnya juga harus mempertahankan diri dengan cara yang sama kerasnya. Sesuatu yang aku nggak sanggup dan lebih banyak melipir.

    • donna imelda

      yup, bener banget. Itulah Lus….kadang aku suka berpikir ada benar nya teori yang mengatakan bahwa manusia yang satu adalah serigala bagi manusia yang lain, Homo Homini Lupus…. 

  2. Memang, bukan hanya sering membuat kita jadi miris, tapi lebih sering lagi membuat emosi membuncah jika kita harus traveling menggunakan transportasi umum 'biasa' di negeri kita ini ya, Mbak. Kapan bisa seperti di negeri lain? Ga usah jauh2, spt negeri jiran terdekat kita aja tuh, kapan bisa ya? 🙂

    Btw, saya bisa bayangkan hiruk pikuk perjalanan yang Mbak lakukan, karena pernah melakukannya, dalam keadaan terbalik, dan rute yang lebih jauh. Yaitu Banda Aceh – Bandung via darat, untungnya adalah kami menggunakan kendaraan pribadi. Tapi hiruk pikuknya dan amburadulnya, sungguh kerasa banget. 🙂

    Sekarang sudah di Lampung kah?

    • donna imelda

      Alhamdulillah sudah di Lampung saat ini, menjauh dari hiruk pikuk kota, menikmati atmosfer rumah masa kecil disini. 

      Tekanan terbesar saya bila traveling dengan transportasi umum bukan repot atau lelahnya, tapi perilaku manusia2 yang saya jumpai kadang kalo gak bikin miris, sakit hati dan menakutkan hehehe. Jadi kadang memang harus bersiasat supaya resiko jadi seminim mungkin. 

      Salam kenal ya Alaika, thanks sudah mampir dan memberi komentar. Banda Aceh kampung halaman kah? saya pernah tinggal di sana tahun 80-an selama empat tahun, dan selalu rindu untuk bertandang kembali kesana. 

  3. aris gonzales

    Seperti ini lah carut marut transportasi kita,ga ada bedanya seperti sekelompok ayam yg dibawa oleh truck…sebenarnya alternatif untuk kelampung,biasanya didalam kapal suka ada yg menawarkan travel ke bandar lampung,dari pada jalan kaki sampai keluar,lumayan menghemat energi beberapa kalor…btw dilampung sampai tanggal berapa??

    • donna imelda

      hihihi.. aku jadi berasa kayak ayam boiler, ris. Aku insyaallah balik ke Jkt tanggal 11 Agustus tapi ditengah2 mau ke Palembang dulu ris. Long time no see, bila ada waktu mungkin bisa jumpa. Aris lebaran dimana? 

  4. Terrific do the job! This can be a sort of information that are meant to end up being contributed around the internet nebeng mudik. Humiliation on bing because of not positioning this particular offered upper! Come on around and also discuss with my personal web site. Thank you so much Means)

  5. Betul-betul pengalaman yang sangat berkesan ya mbak, menikmati arus mudik yang tidak nyaman sama sekali. Saat ini kita hanya bisa bermimpi untuk menikmati sistem transportasi yang nyaman di negeri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge