Friday, June 23, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jakarta » Pasar Baru Heritage Walk with POP Hotel Pasar Baru Jakarta
Pasar Baru Heritage
Gereja Ayam

Pasar Baru Heritage Walk with POP Hotel Pasar Baru Jakarta

Di balik hilir mudik geliat ekonomi Pasar Baru, ternyata bukan hanya terkait sepatu, tekstil dan kamera yang menjadi daya tarik utama tempat yang sudah ada sejak 1820 ini. Peninggalan bersejarah dan cerita di baliknya menjadi sisi yang menarik tempat ini untuk dikulik. Yuk ikuti ceritaku saat mengikuti Pasar Baru Heritage Walk bersama POP Hotel Pasar Baru.

Pasar Baru Heritage

Siang itu kami sekitar 20 orang influencer –begitu sebutan dari Yosua Tanuwiria, Corporate Communication & Social Media Manager Tauzia Hotel Management buat kami— sudah berkumpul di POP Hotel Pasar Baru dan bersiap untuk tur keliling. Bersama DeSade Tour and Travel rencananya siang sampai sore nanti kami akan diajak mengunjungi berbagai tempat yang memiliki nilai sejarah atau heritage di sekitar hotel.

Seperti yang saya sampaikan pada tulisan sebelumnya mengenai POP Hotel Pasar Baru, hotel ini memang memiliki letak yang sangat strategis. Bukan hanya dekat dengan pusat kota Jakarta dan pusat bisnis, namun juga memiliki banyak destinasi wisata yang menarik. Dan istimewanya, Pasar Baru yang legendaris itu letaknya persis berseberangan dengan hotel. Maka langkah kaki kami pun dimulai dengan ringan yaitu menyeberang jalan.

Pasar Baru Heritage

  • Gereja Ayam

Gereja Ayam merupakan destinasi pertama kami, letaknya persis bersebelahan dengan gerbang Pasar Baru di jalan K.H. Samanhudi Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta. Gereja ini dikenal juga dengan nama Gereja Pniel. Awalnya hanya berbentuk kapel dan dibangun pada tahun 1856. Tujuan pendiriannya adalah untuk memenuhi kebutuhan beribadah penghuni panti jompo di lingkungan sekitar gereja.

Gereja ini dikenal dengan nama Gereja Ayam karena adanya sebuah penunjuk arah angin yang berbentuk ayam yang dipasang di puncak gereja. Letaknya yang berseberangan dengan POP Hotel Pasar Baru memungkinkan kita melihat dengan jelas penunjuk arah berbentuk ayam tersebut dari dari lobby atau teras hotel.

Mengingat sudah banyak bagian yang rusak dan dianggap tidak aman lagi untuk digunakan sebagai tempat ibadah, kemudian gereja ini dipugar pada tahun 1913 sehingga bentuknya seperti yang terlihat sekarang ini adalah corak Neo Romanik dengan unsur – unsur Neo Barok. Pembangunan gedung baru gereja ini dirancang oleh seorang arsitektur Belanda yang bernama NA. Hulswit dan digunakan secara resmi pada tahun 1915.

Salah satu hal yang menarik adalah terdapat sebuah kitab yang sudah berusia ratusan tahun dan hanya ada dua di dunia. Satu berada di Gereja Ayam dan satu berada di Belanda. Kitab ini pernah dibawa ke Belanda untuk diperbaiki karena beberapa bagian dari kitab tersebut mulai rusak karena usia. Kini untuk melindungi dari kerusakan, kitab tersebut disimpan dalam kotak kaca di Gereja Ayam.

Pasar Baru Heritage

  • Vihara Sin Tek Bio

Siapa sangka bila di sebuah gang sempit di sekitar Pasar Baru terdapat sebuah Vihara yang telah berabad-abad usianya. Walaupun terletak di gang – gang sempit di sekitar Pasar Baru, ternyata tetaplah tidak mengurangi nilai – nilai sejarah dari Vihara Sin Tek Bio dan selalu mendapat kunjungan baik dari para pejalan, penyuka sejarah atau mereka yang ingin beribadah. Jaraknya hanya sekitar 10 menit dari POP Hotel, masuk lewat sebuah pusat perbelanjaan dan menembus gang-gang sempit.

Vihara Dharma Jaya atau Sin Tek Bio ini pertama kali dibangun oleh para petani Tionghoa yang tinggal di tepi sungai Ciliwung pada abad 17 atau tepatnya pada tahun 1698. Sebelum daerah ini berkembang seramai saat ini, Vihara ini dulunya termasuk di daerah pedalaman atau sekitar 5 km dari dalam tembok kota Batavia. Sampai saat ini Vihara Dharma Jaya masih menyimpan 28 altar di lantai atasnya yang juga dikelilingi oleh ratusan patung yang sebagian besar berasal dari abad ke-17.

  • Gang Kelinci

Sontak saya bersenandung saat sang guide cantik mengatakan bahwa destinasi selanjutnya adalah menuju Gang Kelinci. Yang generasi sebelum generasi 90-an harusnya masih ingat lagu legendaris berjudul Gang Kelinci yang dinyanyikan oleh Lilis Suryani. Namun meski hapal luar kepala isi lagunya sejak puluhan tahun lalu, tak sekali jua saya pernah menjejakkan kaki di Gang Kelinci. Jadi terbayang ya betapa istimewanya walking tour kali ini. Dari POP Hotel Pasar Baru kita hanya butuh berjalan kaki sekitar delapan menit saja.

Jalan kecil di areal kompleks Pasar Baru ini ternyata menyimpan beberapa tempat– tempat kuliner bersejarah. Salah satunya Bakmi Gang Kelinci, yang ternyata sudah berdiri sejak tahun 1857. Pendirinya yang bernama Hadi Sukiman mulanya menjual bakmi dengan menggunakan sebuah gerobak sederhana di Jl. Pintu Besi Pasar Baru, tepat di depan Blobe Theater (Moyen). Namun pada tahun 1962, gerobak itu dipindahkan ke Jl. Belakang Kongsi No. 16 Pasar Baru. Sejak itulah istilah Gang Kelinci mulai familiar digunakan sebagai nama Bakmi milik Pak Hadi tersebut.

Tidak hanya Bakmi Gang Kelinci namun juga terdapat beberapa restoran bakmi yang melegenda, salah satunya Bakmi Aboen. Sama halnya dengan Bakmi Gang Kelinci, rumah makan ini sudah berdiri sejak 1962. Berbeda halnya dengan bakmi Gang Kelinci, Bakmi Aboen ini hanya menjual makanan yang non-halal. Namun dari segi rasa, keduanya tentu layak untuk disandingkan dan tentu memiliki keunikan rasa yang sangat melezatkan.

  • Rumah Mayor Tio Tek Ho

Saya sempat bingung saat pertama kali masuk ke dalam bangunan yang berlokasi di dalam Pasar Baru ini. Di depan bangunan ini tertulis nama “TOKO KOMPAK”, namun nyaris tak ada barang dagangan yang dipajang di dalam bangunan dengan arsitek pencampuran Eropa dan Tionghoa ini. Ternyata ada sejarah panjang sejak 300 tahun silam mengenai bangunan yang telah resmi menjadi cagar budaya ini.

Pasar Baru Heritage

Bangunan ini dulunya ditinggali keluarga Mayor Tio Tek Ho dan dibangun pada abad 19. Sampai saat ini bangunannya masih tetap terlihat kuat dan kokoh meski cat dindingnya mulai terkelupas di sana-sini dan beberapa kayu sudah mulai terlihat rapuh. Saya jadi ingat tentang Museum Benteng yang bangunannya dahulu persis sama dengan tempat ini sebelum direstorasi. Saya membayangkan bila tempat ini juga direstorasi tanpa harus menghilangkan komponen aslinya, maka sejarahnya akan bertahan lebih lama.

Catatan Mona Halanda dalam buku “The Kapitan Cina of Batavia 1837-1842” sendiri menyebutkan, bahwa Mayor Tio Tek Ho menjabat sebagai Mayor di Batavia pada tahun 1896-1908, menggantikan mayor sebelumnya Lie Tjoe Hong yang menjabat pada tahun 1879-1896. Namun pasca meninggalnya Mayor, bangunan ini terus beralih kepemilikan hingga ke pemilik terakhirnya yang saat ini memiliki keturunan marga Tan. Sebelum berganti nama menjadi Toko Kompak tidak lama setelah tahun 1965, toko ini dikenal dengan nama Sin Siong Wouw.

  • Galeri foto Jurnalistik ANTARA 

Setelah beristirahat sejenak melepaskan dahaga sambil mendengarkan kisah di Toko Kompak, kami pun menuju tempat berikutnya yaitu Galeri foto Jurnalistik ANTARA (GFJA). Dulunya tempat ini merupakan Gedung Antara atau Kantor Berita Antara. Dahulu Antara termasuk sebagai bagian dari ANETA (Algemeen Niews en Telegraaf Agentschaap), yang kemudian berubah menjadi Algemeen Niews en Telegraaf Aneta dan bergerak di bidang pemberitan, periklanan dan penerbitan majalah Hindia Belanda.

Pada masa Pendudukan Jepang, kantor berita ini berganti menjadi Yashima dan yang terakhir sebagai Kantor Berita Domei. Pada masa Agresi Militer Belanda I (1947) bangunan tersebut diberikan oleh Pemerinta Hindia kepada Apotheek Van Gorkom, dan baru pada 1961 kembali dipergunakan oleh LKBN Antara lagi. Perkembangan selanjutnya bangunan tersebut dipergunakan sebagai tempat Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara.

Di dalamnya terdapat sejumlah peninggalan alat-alat jurnalistik beserta dengan sejumlah foto-foto bersejarah. Tentu merupakan suatu destinasi yang menarik mengingat letaknya cukup berdekatan dengan Mayor Tio Tek Ho dan dapat dicapai 15 menit dengan berjalan kaki dari Pop Hotel. Kalau mau ke sini perhatikan hari dan jam bukanya ya hari Selasa – Minggu, Jam: 10.00 – 20.00

  • Masjid Istiqlal

Masjid yang diyakini terbesar di Asia Tenggara ini, dibangun pada 24 Agustus 1961, oleh seorang insinyur Kristen bernama Frederich Silaban. Pembangunannya yang berdampingan dengan Gereja Katedral merupakan ide Presiden Sukarno dengan maksud untuk melambangkan nilai-nilai persaudaraan, persatuan dan toleransi beragama sesuai dengan ajaran Pancasila.

Pasar Baru Heritage

Dalam perencanaan lokasinya, sempat terjadi perdebatan pendapat antara Sukarno dan Muh. Hatta. Sukarno menghendaki agar letak Istiqlal dapat berdekatan dengan Istana Merdeka. Disisi lain Muh. Hatta sendiri menghendaki agar Masjid Istiqlal dibangun di kawasan Muh. Thamrin yang kini menjadi kawasan Bundaran Hotel Indonesia, dengan pertimbangan akan lebih hemat karena tidak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menggusur beberapa bangunan yang ada di sekitar lokasi Taman Wilhemina.

Banyak filosofi-filosofi yang kami dengar dari guide khusus yang disediakan Masjid Istiqlal seperti jumlah tiang, tinggi menara, jarak antara menara ke kubah dan lain-lain. Jadi pastikannya kalau ke sana minta didampingi guide agar mendapatkan informasi-imformasi menarik seputar Istiqlal.

http://ayopelesiran.com/review-yang-baru-dari-pop-hotel-pasar-baru-jakarta/

  • Pantjoran Tea House

Perjalanan kami dalam Pasar Baru Heritage Walk bersama POP Hotel Pasar Baru berakhir dengan makan malam di Pantjoran Tea House. Bangunan yang juga sudah ditetapkan sebagai cagar budaya ini merupakan salah satu bangunan yang menjadi kawasan landmark di kawasan Glodok/Pecinan, yang sudah berdiri sejak 380 tahun silam di tahun 1635. Dulunya bangunan ini adalah sebuah toko obat tertua kedua di Jakarta yang didirikan sekitar tahun 1928, dikenal sebagai Apotek Chung Hwa.

Untuk mendukung upaya pemerintah menjadikan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai situs warisan budaya dunia oleh UNESCO, bangunan ini direvitalisasi pada tahun 2015 oleh arsitek Ahmad Djuhara, dan beralih fungsi menjadi kedai teh dengan nama Pantjoran Tea House. Meski begitu pengunjung masih bisa menikmati bagian dari peninggalan tersebut di setiap sudut kedai.

Budaya minum teh di kawasan Pecinan sangat kuat pada saat itu. Bibit teh pertama dibawa dari Jepang oleh seorang botanis bernama Andreas Cleyer dengan kapal VOC yang biasanya berlabuh di sekitar Kota Tua Jakarta. Seusai makan malam, kami pun menikmati suguhan teh sebelum akhirnya tur ini berakhir dan kami kembali ke POP Hotel untuk beristirahat.

Nah, sahabat Ayo Pelesiran, lumayan khan dalam waktu setengah hari saja kita bisa menikmati wisata heritage di sekitar Pasar Baru.

Ayo… kita pelesiran

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

pulau ketam donna imelda

Pulau Lumpur Nan Unik itu Bernama Pulau Ketam

Deretan rumah panggung yang unik dengan tiang-tiang kayu penyangga serta barisan perahu yang tertambat itu masih ...

7 comments

  1. Ihhh seruuu acaranya. Pengen deh ikutan yg acara jalan2 kayak gini. Bisa nambah pengetahuan ttg Jakarta ya. Aku jg baru tau itu ada Gereja Ayam di Jakarta. Kirain cuma di Jogja aja *film AADC* :))

  2. dulu wktu SMA sering banget ke Pasar Baru naik getek hahaha… masih ada gak yah.. siap melancong lagi akhh.. seru banget bs ikut menelusuri berbagai peninggalan sejarah yah..akhh mau
    miramiut recently posted…Pantau Tumbuh Kembang Anak Lebih Mudah dengan Aplikasi PrimaMy Profile

  3. Hahaha…jadi ingat waktu sama istri pagi-pagi nyasar ke daerah pasar baru, tempatnya unik-unik 🙂

  4. Foto2nyaaaa cakep bener. Aku berapa kali lewat Istiqlal tapi belom pernah mampir >.<

  5. Kerennn Jakarta ku. Salam blogger yah!

  6. Wahh jadi tahu nih ada tempat menarik di Jakarta tepatnya deket pasar baru. Padahal kalau mampir kesana sering tapi engga tahu ada gereja ayam, toko kompak.thanks infonya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge