Tuesday, August 22, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Sumatra » Lampung » Pengetahan Adok dan Karnaval Budaya Festival Teluk Semaka ke-7
PB010763

Pengetahan Adok dan Karnaval Budaya Festival Teluk Semaka ke-7

Saya merasa sedikit terlambat tiba di lokasi . Dari kejauhan kerumunan itu telah terlihat, membuat kaki saya melangkah lebih cepat seiring makin dekatnya saya di depan Kediaman Bupati Tanggamus pagi itu. Dua orang bertopeng hilir mudik tak jauh dari dua orang lelaki berdiri tegap dengan pedang di tangan. Dibelakangnya beberapa pemuda memegang tombak panjang dengan ujung berupa senjata tajam yang beragam.

Pengetahan Adok
Dua orang bertopeng yang disebut dalam pengantar diatas adalah Sekura atau Sakura. Dua orang yang memegang pedang itu adalah Khakot yang menjadi pembuka iring-iringan.Beberapa orang berbaris rapi di belakang mereka, termasuk barisan pemuda yang memegang tombak. Ada pula rombongan bapak-bapak yang masing-masing memegang payung, memegang alat musik Hadra dan Rebana, dan berdiri di samping tandu. Ada juga tiga pasang muda-mudi berpakaian adat, berbaris dengan tingkatan tinggi dan umur yang berbeda. Mereka adalah peserta iring-iringan yang akan mengawal prosesi Upacara Pengetahan Adok.

Suasana di pusat Kota Agung, Sabtu, 1 November 2014 jadi terlihat ramai. Banyak dari masyarakat Kota Agung yang ingin menyaksikan prosesi Upacara Pengetahan Adok atau Upacara Pemberian Gelar yang akan dilaksanakan di Lapangan Merdeka siang ini. Saya dan beberapa teman dari tim media sosial Festival Teluk Semaka 7 tak kalah semangat, di setiap sudut terlihat beberapa dari kami sibuk mengambil gambar dan mencari informasi seputar upacara pemberian gelar sambil menunggu prosesi dimulai.

PB010682

Pengetahan Adok atau pemberian gelar adat adalah mata acara rutin sebagaimana yang sudah dilakukan pada Festival Teluk Semaka terdahulu. Berdasarkan pertimbangan dan keputusan yang diambil oleh Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL), gelar kehormatan akan diberikan kepada seseorang, bisa karena yang bersangkutan merupakan tokoh adat, pejabat atau petinggi pemerintahan, atau tokoh masyarakat.

Pada Festival Teluk Semaka ke-7 tahun 2014, Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) melalui Bapak Raffiudin sebagai Ketua Umum dan Bapak Idham Kholid sebagai Dewan Koordinator MPAL, memutuskan untuk memberikan gelar kehormatan diberikan kepada dua orang pejabat daerah beserta pasangannya.

PB010759

Kedua orang tersebut yakni; Bapak Bahrudin, S.H., M.H. sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Tanggamus, dengan gelar Pengikhan Niti Hukum. Istri beliau, Ibu Yuliana yang menjabat sebagai Ketua Ikatan Adhyaksa Dharma Karini mendapat gelar Ratu Adhyaksa Karini.
Gelar kehormatan diberikan juga kepada Bapak Bambang Sucipto, S.H., M.H. sebagai Kepala Pengadilan Negeri Kabupaten Tanggamus dengan gelar Pengikhan Nimbang Hukum. Istri beliau, Ibu Novia Rusnita yang menjabat sebagai Ketua Dharma Yukti Karini mendapat gelar Ratu Dharma Yukti Karini.

PB010666

Upacara berlangsung lancar dan khidmat. Dimulai dengan keluarnya dua pasang Pengantin Adat yang akan diberikan gelar dari kediaman Bupati Tanggamus, lalu keduanya ditandu bersama iring-iringan menuju Lapangan Merdeka Kota Agung. Setelah melalui beberapa rangkaian adat di lapangan, maka sebagai penutup dibacakanlah ketetapan pemberian gelar adat untuk keduanya.

*****

Karnaval Budaya

Keramaian Festival Teluk Semaka 7 masih terus bergulir di siang hari selepas Upacara Pengetahan Adok. Cuaca panas dan terik matahari di Kota Agung tak menyurutkan antusias warga untuk berbondong-bondong menuju pusat kota. Sampai sore nanti, panitia telah menjadwalkan acara karnaval budaya dan pertunjukan spektakuler 1000 Pendekar Khakot sebagai bagian dari puncak acara festival.

Melihat antusias warga yang demikian, saya yang semula enggan keluar dari homestay –karena terpaan cuaca panas– mendadak sirna. Apalagi ketika saya sampai di lokasi tempat berkumpulnya peserta pawai. Merinding saya melihat ribuan orang tumpah ruah jadi satu, baik peserta pawai, panitia, pengunjung dan terutama warga lokal. Untuk ukuran Kota Kabupaten, menurut saya ini luar biasa.

Perasaan saya semakin membuncah saat menyaksikan barisan panjang para Pendekar Khakot yang jumlahnya tak kurang dari seribu orang ini. Menggunakan pakaian khas para pendekar, lengkap dengan ikat kepala dan pedang, mereka siap memberikan pertunjukan terbaik secara kolosal melalui gerakan-gerakan Pencak Khakot kepada para pengunjung.

PB010829

Khakot seringpula disebut dengan Tari Pedang. Khakot atau Pincak Khakot ini biasanya berada di barisan paling depan atau pembuka jalan suatu iring-iringan atau arak-arakan, baik dalam upacara adat, upacara pengantin atau upacara penyambutan tamu kehormatan. Dari beberapa sumber diperoleh informasi juga bahwa Khakot sebenarnya adalah seni bela diri asli masyarakat Lampung dan dahulunya merupakan bagian dari pengamanan kerajaan, terdiri dari sepasang atau lebih hulubalang yang siap melindungi di garda terdepan.

Nah, terbayangkan bila Khakot ini merepresentasikan kekuatan dan kejayaan, namun tak terasa lagi gaungnya karena perkembangan zaman. Hal inilah yang kemudian oleh Bapak Marhasan Samba –Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tanggamus– dirasa perlu menghidupkan kembali budaya seni bela diri ini. Dibawah koordinasi Bapak Elzhivago, pada Festival Teluk Semaka ke-7 dihadirkan tak kurang dari 1000 Pendekar Khakot untuk unjuk kebolehan dalam Khakot Carnival. Luar biasa bukan?

PB010985

Bukan hanya itu, selain Pertunjukan Kolosal 1000 Khakot, Karnaval Budaya juga menyajikan beragam pertunjukan dari berbagai unsur masyarakat. Ada Kostum Fantasi yang diperagakan dengan gemulai dan penuh ekspresi oleh para Muli-Mekhanai, ada pula pertunjukan marching band dari beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Tanggamus, termasuk marching band dari Sekolah Usaha Perikanan Menengah Kota Agung yang menampiilkan atraksi memukau.

Bertemakan The Heritage of Tanggamus Culture, berbagai pakaian adat dan budaya dari berbagai daerah yang ada di Tanggamus juga turut memeriahkan suasana. Bukan hanya pakaian adat dan budaya asli Lampung tetapi juga dari daerah lain seperti pertunjukan budaya dari Sumatera Barat serta Barongsai yang berasal dari Tiongkok. Hal ini memperlihatkan bahwa Lampung memang kaya dengan beragam budaya baik budaya asli maupun yang dibawa oleh pendatang sesuai dengan slogannya yaitu tanah Sang Bumi Ruai Jurai. Tempat nan agung dan megah yang dihuni oleh penduduk asli maupun pendatang.

PB011160

Karnaval Budaya ini berlangsung hingga sore hari, antusias masyarakat tak surut hingga iring-iringan terakhir. Sebuah pesta rakyat yang benar-benar dinikmati oleh rakyatnya. Masih ada satu rangkaian acara penutup nanti malam yaitu Semaka Sparkling Night, berupa pertunjukan musik dan sinar laser yang megah.

Selamat berpesta, Tanggamus

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

3 comments

  1. Mbak, itu yang dikalungin pedang ngeri aja gitu :))))
    RedCarra recently posted…4thMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge