Monday, August 21, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Pulau Lumpur Nan Unik itu Bernama Pulau Ketam
pulau ketam donna imelda

Pulau Lumpur Nan Unik itu Bernama Pulau Ketam

Deretan rumah panggung yang unik dengan tiang-tiang kayu penyangga serta barisan perahu yang tertambat itu masih lekat dalam ingatan. Begitu juga aroma laut serta mentari yang malu-malu bersembunyi di balik awan jelang senja tiba, semua hadir kembali dalam benak, membawa cerita perjalanan kemarin di Pulau Ketam. 

Namanya Pulau Ketam, sebuah pulau wisata di Bandar Diraja Klang – Selangor yang berjarak sekitar 12 mil dari Pelabuhan Klang. Dari julukannya saja, saya sudah bisa menduga tentang pulau yang saya datangi ini. Ditambah pula dengan keberadaan sebuah replika raksasa hewan bercapit dengan warna emas di Pelabuhan Klang tempat saya akan menyeberang ke pulau tersebut, makin menguatkan dugaan saya.

Ketam adalah nama lain dari kepiting. Mungkin disebut Pulau Ketam karena banyaknya ketam yang ada di pulau itu. Hal itu sudah terlihat sejak pertama kali kami menjejakkan kaki di dermaga. Di sepanjang jalan dari dermaga menuju hotel tempat kami menginap, bertebaran ketam yang keluar masuk lubang di daratan berlumpur mirip rawa-rawa yang ada di bawah kami. Saking banyaknya, saya sampai dengan sengaja berhenti sejenak untuk memperhatikan aktivitas ketam-ketam dan sejenis mudfish yang masih sangat kecil-kecil tersebut. Ah, menyenangkan.

Konon kabarnya, pulau ini mulai dihuni sejak tahun 1920-an. Dan saat itu salah satu yang menjadi andalan para penghuni pulau untuk mendapatkan penghasilan adalah dengan menjual Ketam. Hingga saat ini Ketam adalah makanan yang paling dicari wisatawan. Itulah juga mengapa yang paling menarik dari Pulau Ketam adalah menikmati berbagai hidangan yang berasal dari makanan laut seperti ketam, udang, cumi-cumi dan ikan. Kalau kalian ke sini, pastikan kalian mencicipi menu-menu spesial makanan laut ya.

Pulau Ketam bisa dicapai dengan waktu tempuh sekitar 40 menit dengan menggunakan kapal dari Pelabuhan Klang. Ongkos menyeberang ke pulau bervariasi tergantung jenis kapal yang digunakan. Saat berangkat kami menggunakan kapal cepat Alibaba yang bertarif RM10 sekali jalan, sedangkan saat kembali menggunakan kapal yang disebut juga dengan taksi air bertarif RM8. Keduanya menempuh waktu pelayaran yang kurang lebih sama dengan kenyamanan yang tak jauh berbeda.

Kapal cepat Alibaba memang memiliki kenyamanan lebih, bentuknya yang lebih mirip kapal pesiar kecil memungkinkan penumpang untuk memilih untuk menikmati pelayaran dengan duduk manis di dalam kabin berpendingin udara atau sambil menikmati angin di dak terbuka yang berada di lantai atas ruang penumpang, seperti yang saya lakukan. Sedangkan taksi air lebih mirip kapal penumpang panjang tanpa dak terbuka, yang sambil bergurau saya menjulukinya seperti limousine air. Jadi semua penumpang akan berada di dalam kabin selama pelayaran.

Rute penyeberangan antara Port Klang dan Pulau Ketam adalah rute yang cukup sibuk terlebih pada saat akhir pekan dan hari libur. Jadwal penyeberangan kapal dari Pulau Ketam dari Port Klang cukup banyak, bisa enam kali dalam sehari pada hari kerja dan dua belas kali dalam sehari pada akhir pekan atau hari libur. Rata-rata ada keberangkatan setiap 45-60 menit, baik dari Port Klang maupun sebaliknya saat kembali dari Pulau Ketam menuju Port Klang.  Jadwal perjalanan untuk kapal Alibaba dari Port Klang sudah ada sejak pukul 8.30 pagi hingga pukul 7.30 sore waktu setempat di akhir pekan dan hanya sampai pukul 6.30 sore di hari kerja.

Berbeda dengan pulau-pulau pada umumnya yang memiliki pantai, tidak demikian dengan Pulau Ketam, ia memiliki keunikan tersendiri. Dermaga tempat kapal kami merapat bukanlah pantai dengan air berwarna biru laut namun lebi tertentuh menyerupai ujung daratan berlumpur kelabu serupa rawa. Daratan ini setiap hari tertutup air pada saat pasang dan kembali surut di waktu-waktu tertentu. Sejauh kaki saya berjalan di pulau ini, saya memang tidak menemukan daratan yang berupa tanah, seluruhnya tertutup lumpur berwarna abu-abu.

Siklus air laut yang demikian mengharuskan penduduk pulau membangun rumah-rumah mereka berupa rumah panggung yang disangga oleh kayu-kayu panjang yang tingginya beberapa meter di atas permukaan laut. Selain karena tidak mungkin dibangun langsung di atas tanah berlumpur, hal ini juga untuk mengantisipasi air pasang, terutama rumah-rumah yang berada dekat dengan laut atau sungai. Meski tak menemukan pantai indah, namun percayalah, keunikan kehidupan yang ada di pulau ini sungguh menarik dan mungkin tak kamu temukan di tempat lain.

Pulau Ketam yang penduduknya sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai nelayan memiliki luas sekitar 22,9 kilometer persegi. Meski kecil, Pulau Ketam sudah dilengkapi oleh sarana transportasi dan infrastruktur yang sangat baik seperti pusat kesehatan, sekolah, rumah ibadah, pabrik pengolahan ikan hingga bank. Sebagian besar rumah mereka terbuat dari kayu dan banyak juga yang sudah berusia lama, namun tertata rapi dan memiliki warna–warna yang menarik dan berbagai ornamen unik.

Jalan-jalan yang dibangun di Pulau Ketam juga sudah baik. Meski kecil dan hanya bisa dilewati sepeda atau sepeda motor, jalan-jalan dan jembatan di Pulau Ketam sudah terbuat dari beton. Pelancong yang datang ke pulau ini bisa berkeliling dengan santai merasakan atmosfer yang khas masyarakat Pulau Ketam yang saat ini jumlah penduduknya sekitar 10000 jiwa. 95 % dari mereka berasal etnis Tionghoa, sisanya terdiri dari etnis Melayu dan India.

Berkeliling pulau bisa dilakukan dengan berjalan kaki, menyewa dan mengendarai sepeda atau sepeda motor listrik atau hopping island menggunakan kapal. Menarik sekali melihat perahu yang hilir mudik, deretan rumah penduduk yang warna-warni, bangunan lama yang bernuansa vintage serta kehidupan masayarakat pulau yang terlihat tenang dan santai. Sungguh berbeda dengan kehidupan saya di Jakarta yang serba sibuk, terburu-buru dan stress karena macet. Pejalan yang datang ke Pulau Ketam tak akan menemukan mobil di sini. Untuk beraktivitas dari satu tempat ke tempat lain, penduduk rata-rata berjalan kaki, menggunakan sepeda kayuh atau motor listrik. Tak adanya kendaraan bermotor di tempat ini membuat Pulau Ketam bebas dari macet dan polusi.

Saat berkeliling pulau, jangan takut akan tersesat karena pulau ini kecil dan jalan utamanya ya hanya itu saja. Namun begitu, perlu diperhatikan betul bahwa cuaca di Pulau Ketam sangat terik, suhunya juga cukup tinggi, namanya juga di pulau ya kan. Nah, pastikan kalian sudah menggunakan krim pelindung kulit dari sinar matahari ya bila ingin berkeliling pulau pada siang hari, gunakan juga topi dan kacamata gelap bila perlu, dan jangan lupa minum yang banyak agar tidak dehidrasi. Resiko kulit akan lebih gelap warnanya itu sih sulit dihindari hehehe.

Selain melihat kehidupan penduduk Pulau Ketam yang khas, pelancong yang datang ke pulau ini bisa melihat bagaimana ikan-ikan dibudidayakan di dalam keramba-keramba sekaligus melihat pabrik pengolahan hasil laut di sana. Kami sempat mengunjungi pabrik pengolahan udang kering atau ebi dan bagaimana ikan-ikan segar diturunkan dari kapal penangkap ikan, lalu dikemas dalam peti-peti berisi es untuk kemudian didistribusikan keluar pulau.

Untuk menginap, pelancong tak perlu khawatir karena tersedia di sana tersedia beberapa homestay dan hotel yang bisa menjadi alternatif untuk menginap. Saat saya dan teman-teman Eat Travel Write 5.0 berada di sana, kami menginap di Sealion Hotel. Hotel ini letaknya paling dekat dengan dermaga, jadi kalau menginap di sini, tinggal jalan kaki dikit deh untuk bersantai di dermaga atau melewatkan sore, menanti sunset dan berfoto di tulisan besar yang menjadi landmark Pulau Ketam.

Saya sendiri memilih duduk berselonjor kaki di bagian belakang hotel untuk menikmati angin sore. Dari tempat saya duduk, terlihat dermaga dan perahu atau kapal yang lalu lalang datang dan pergi. Dari kejauhan, anak-anak kecil dan beberapa peserta ETW 5.0 juga terlihat sedang asik mengambil foto seru beramai-ramai di pelataran dermaga. Meski mentari bersembunyi di balik awan, namun senja tetap hadirkan keindahannya di mata saya. Saya tahu bahwa saya hanya sejenak di sini, maka sebelum esok meninggalkan pulau ini saya ingin menikmatinya dalam-dalam hingga senja berlalu.

Kami memang hanya semalam saja di Pulau Ketam, namun keunikan pulau ini masih terbayang dalam benak saya hingga saat ini. Pulau berlumpur yang sangat unik. Penasaran?

Ayo kita pelesiran ke Pulau Ketam!

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515174902

Aliya Hotel Klang – Hotel Nyaman di Jantung Bandar Diraja

Senja itu kubah Masjid Diraja Klang Utara terlihat indah dari kejauhan. Syahdu disinari cahaya lampu ...

7 comments

  1. Selangor cantik juga ya Mba.

  2. Sesuai dengan namanya, ternyata di sana Hasil lautnya melimpah. Ya Allah itu udang dan rajungannya menggoda 😀

  3. Rumah Panggung di pinggir pantai emang sudah jadi maskotnya. Ah tapi asyik banget bisa santai sore dipinggir pantai seperti itu Tante..
    Fajrin Herris recently posted…Menikmati Sensasi Pedas Level 20 di Mister GeprekMy Profile

  4. Unik banget ya kehidupan pulau kecil ini, penasaran..
    Dewi Rieka recently posted…Bergembira di Pullman Central Park Hotel JakartaMy Profile

  5. Olahan makanannya, duh, sumpah bikin ngiler ya, mbak. Bakal betah di sana, ga cukup sehari aja kayanya 🙂

  6. jauh dari bisingnya kota, rehat di pulau ketam kayanya jadi opsi yang bagus yaa bu. Laut selalu punya sesuatu yang bikin nyaman 🙂
    Risalah Husna recently posted…Tentang Ibu Dan Sentuhan AjaibnyaMy Profile

  7. Bun,naik Jetty a.k.a Taksi Air ongkosnya berapa?
    Taksi airnya kelihatannya bersih ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge