Wednesday, August 23, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Rentak Selangor – Mengulik Budaya Jawa di Tanah Melayu
IMG20170309165225

Rentak Selangor – Mengulik Budaya Jawa di Tanah Melayu

Menyaksikan Gamelan, Wayang Kulit, dan Kuda Kepang adalah hal yang tak asing bagi saya, namun hal ini tentu saja berbeda rasa ketika saya menyaksikannya nun jauh di Selangor Malaysia. Atas undangan Gaya Travel Magazine dan Selangor Youth Generation Development Sports, Cultural and Entrepreneurship Development, UPEN Selangor, melalui program #RentakSelangor, saya pun mencoba mengulik lebih jauh kesenian ini di negeri tetangga, Malaysia.

Sebagaimana nama acaranya, program ini dilaksanakan di Selangor selama tiga hari pada tanggal 9-11 Maret 2017. Acara ini dikemas dalam bentuk workshop, pertunjukan seni, kunjungan wisata alam serta kuliner. Tak hanya Gamelan, Wayang Kulit dan Kuda Kepang yang disajikan, namun ada juga Musik Tradisional Kompang Jawa yang berasal dari Indonesia dan Lion Dance yang berasal dari Tanah Tiongkok. Selain itu, peserta #RentakSelangor yang terdiri dari blogger Indonesia, Philipina, dan Malaysia, serta awak media setempat, baik cetak maupun televisi, diajak menyicipi ragam kuliner yang terkenal di Selangor, menikmati live music serta kunjungan wisata ke Bukit Malawati dan Sky Mirror yang keren banget itu.

Y.B. Amirudin Shari, selaku Executive Councillor Youth Development, Sports, Cultural and Entrepreneurship Develpoment dalam sambutannya saat membuka acara #RentakSelangor “The Breathing Pulse of Our Land” mengatakan bahwa seni dan budaya Selangor memang istimewa, selain karena unik dan menarik namun juga karena Selangor merupakan tempat bertemunya berbagai kebudayaan antar bangsa sehingga melahirkan banyak karya seni dan kebudayaan yang sangat kaya termasuk di dalamnya seni tari dan musik.

Tak heran bila, En. Ahmad Nazmi Razali dari UPEN Selangor mengatakan bahwa begitu banyak seni dan budaya Selangor yang menjadi nafas kehidupan masyarakat Selangor yang patut diketahui oleh khalayak luas, sehingga diharapkan program #RentakSelangor yang merupakan program wisata budaya yang diorganisir oleh UPEN Selangor berkolaborasi dengan Gaya Travel Magazine dan disupport oleh PUSAKA ini dapat mempromosikan kebudayaan Selangor melalui perjalanan selama 72 jam para blogger, influencers dan awak media untuk disebarluaskan ke khalayak ramai melalui majalah, koran, program televisi, blog dan sosial media.

Bukan sesuatu yang aneh sebenarnya bila kesenian dan kebudayaan yang biasa kita lihat di suatu negara dapat ditemukan di negara lain terlebih di negara-negara yang berdekatan atau memiliki hubungan sejarah yang kental. Sejarah mencatat bahwa migrasi orang Jawa ke Tanah Melayu sudah terjadi sejak tahun 1870-an untuk berbagai alasan, sebagian besar untuk alasan ekonomi, perniagaan atau mencari penghidupan yang lebih baik. Kemudian sebagian dari mereka memilih untuk menetap lalu berkembang dari generasi ke generasi di Malaysia.

Di Selangor, banyak penduduk yang berasal dari Pulau Jawa hijrah dan menetap di Selangor. Keberadaan penduduk dari Pulau Jawa tak lepas dari sejarah pendudukan Inggris di sana dan bekerja sebagai buruh tanam atau perkebunan. Sebagian besar dari mereka hidup dari bercocok tanam sebagaimana yang mereka lakukan di tanah asal mereka, dan sebagian lagi melakukan perniagaan atau bekerja sebagai buruh. Beberapa daerah yang terkenal memiliki banyak penduduk dari Pulau Jawa diantaranya adalah kawasan Tanjung Karang, Sabak Bernam, Kuala Selangor, Kelang, Banting dan Sepang.

Mereka sebagian berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti dari Demak, Kudus, Semarang, Magelang, Tuban, Gresik, Pacitan, dan Ponorogo. Keberadaan mereka tak pelak membawa kebiasaaan-kebiasaan dan budaya yang mereka telah miliki sebelumnya di Pulau Jawa. Beberapa tradisi seperti rewang, sambatan, kenduri atau selamatan masih dilaksanakan dan diselaraskan dengan ajaran Islam dengan menghilangkan beberapa unsur yang tidak ada atau tidak sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan untuk memainkan Gamelan atau Wayang Kulit, mereka tak lagi melakukan ritual khusus seperti di daerah asalnya di Pulau Jawa.

  • Sebuah Wujud Karya, Rasa dan Cipta

Saya tertarik dengan definisi budaya yang sering diadopsi oleh banyak orang bahwa budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni dan sangat erat hubungannya dengan masyarakat (Wikipedia), sebagaimana yang dikatakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi bahwa budaya atau kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.

Begitu juga dengan kesenian dan kebudayaan yang tumbuh di Selangor. Gamelan, Wayang Kulit, Kuda Kepang, Tarian Naga (Barongsai), dan lain-lain yang saya saksikan di #RentakSelangor selama tiga hari, akarnya memang berasal dari Indonesia dan Tiongkok, namun kesenian tersebut sudah beradaptasi dengan budaya lokal masyarakat Selangor yang tumbuh dan berkembang dan dimiliki bersama serta diwariskan dari generasi ke generasi di Tanah Melayu sehingga menghasilkan budaya mereka sendiri.

Di hari pertama #RentakSelangor kami diperkenalkan dengan kesenian Gamelan, Wayang Kulit, serta Kompang Jawa dari Persatuan Seni Budaya Warisan Gamelan dan Wayang Kulit Pasir Panjang. Mereka adalah generasi ketiga yang memainkan gamelan dan Wayang Kulit ini. Di Selangor mereka menyebutnya Ringgit Purwo. Bapak Abdul Mukti yang mewakili kumpulan ini mengatakan bahwa kesenian ini sudah ada sejak tahun 1948 dibawa ke Selangor oleh H. Jafar yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah.

Gamelan dan Wayang Kulit Jawa di Kampung Pasir Panjang ini sempat mati suri bertahun-tahun dan kemudian dipelajari lagi pada tahun 1975 dan dihidupkan kembali pada tahun 1996 sampai sekarang. Kesenian ini bahkan muncul di televisi lokal pada tahun 1997 berkali-kali setelahnya. Untuk melestarikan kesenian ini mereka juga mengajarkan pada anak-anak usia sekolah dasar dan ada hari-hari khusus (biasanya hari Minggu malam) untuk berkumpul dan berlatih Gamelan dan Wayang Kulit. Dan kini dengan sentuhan khas Melayu, Gamelan dan Wayang Kulit pun menjadi bentuk kesenian khas yang ada di Selangor,

Uniknya, peserta #RentakSelangor tak hanya diberi kesempatan untuk menikmati pertunjukan kesenian sebagai penonton, namun peserta juga di perkenalkan lebih jauh bagaimana sejarah dan perkembangan ketiga kesenian tersebut oleh narasumber yang ditunjuk. Tak hanya itu, bahkan peserta pun diperkenankan mencoba turut memainkan alat musik tersebut. Saya tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan ini, mencoba memainkan salah satu alat gamelan tersebut sambil didampingi pemain aslinya. Ternyata menyenangkan meski sesekali salah pukul hehehe.

Di hari yang sama kami juga diperkenalkan dengan Kesenian Kompang Jawa. Disebut Kompang Jawa karena musik ini berasal dari penduduk Pulau Jawa di Indonesia terutama mereka yang berasal dari kaum santri atau yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren seperti di daerah Demak, Jawa Tengah. Masuk sekitar tahun 1940 di Selangor, kala pendatang seringkali tak ada hiburan di perantauan. Malam hari setelah seharian mereka berladang atau mengurus sawahnya, mereka berkumpul dengan sesama pendatang di Selangor dan memainkan Kompang ini.

Seiring dengan waktu, lama kelamaan kesenian Kompang Jawa ini menjadi tradisi dan diturunkan secara turun temurun hingga mencapai generasi ketiga. Kesenian Kompang Jawa kini tak hanya dimainkan oleh sekelompok orang tetapi telah menjadi bagian dari suatu perhelatan untuk memeriahkan acara kenduri, khitanan atau resepsi perkawinan. Tak tanggung-tanggung, permainan ini bisa dimainkan semalam suntuk, dari pukul 9 malam hingga pukul 5 pagi.

Musik yang dimainkan ini biasanya mengiringi syair-syair yang diambil dari Kitab Berzanzi yang berisi lantunan doa dan pujian yang meriwayatkan perjalanan Nabi Muhammad, SAW. Hal ini tak lepas dari riwayat masuknya Islam di Pulau Jawa yang dibawa oleh Wali Songo yang mengajarkan Islam melalui pendekatan budaya setempat, dalam hal ini budaya yang sudah lebih dahulu ada di Pulau Jawa.

Kompang ini bentuknya mirip Rebana yang dilengkapi dengan gendang. Dahulu alatnya masih didatangkan dari Indonesia namun karena harganya mahal, mereka pun menggunakan Kompang yang dibuat di Malaysia yang harganya relatif lebih murah namun tetap menghasilkan bunyi dengan kualitas yang baik. Ada dua macam Kompang yang biasa mereka mainkan di Kampung Pasir Panjang yaitu Kompang Kadaro dan Kompang Tiga.

Dalam satu set Kompang, terdapat jumlah pukulan yang berbeda-beda. Seperti pada Kompang Tiga, terdapat tiga jenis pukulan dan satu bedug, itulah mengapa disebut dengan Kompang Tiga. Tiap pukulan bisa dimainkan lebih dari satu orang sehingga dalam satu kumpulan pemain bisa terdiri hingga belasan pemain untuk memainkan tiga jenis pukulan tersebut. Setiap pukulan pun memunyai nama yang berbeda-beda. Kompang pukulan satu disebut dengan Telon, pukulan dua disebut dengan Banggen, dan pukulan disebut dengan Babon.

Setiap pukulan memiliki irama tersendiri dan harus dimainkan selaras dan harmoni antara satu pukulan dengan pukulan lainnya. Salah satu bentuk pukulan pada Kompang Tiga adalah terdapatnya “krincingan” dari pelat logam yang mengelilingi pukulan sehingga menghasilkan bunyi getaran akibat getaran dua pelat yang bersentuhan saat pukulan di tepuk. Nuansa musik yang dihasilkan pun terdengar lebih semarak dibanding musik yang dihasilkan oleh Kompang Kadaro yang memiliki empat macam pukulan yaitu Pukulan Salahan, Banggen, Babon, dan Kapatan.

Untuk mempelajarinya sebenarnya tidak terlalu sulit, namun memang untuk memainkannya dengan cantik dan harmonis dengan pemain lainnya memang harus melalui latihan yang kontinyu. Ketika saya mencobanya, tak sulit untuk mengikuti irama ketukan, namun…, meski ukurannya tidak terlalu besar, lengan saya yang kecil ini ternyata cukup pegal menopang alat ini untuk waktu yang cukup lama hehehe. Sepertinya saya lebih asik menikmati musiknya dibanding memainkannya.

Dan ternyata memang benar, sungguh mengasikkan mendengarkan mereka memainkan musik Kompang Jawa ini. Apalagi diperdengarkan di malam hari setelah kami makan malam, saat perut kenyang terisi, dan tak ada pekerjaan lagi selain bersantai sambil melepas penat setelah seharian beraktivitas di siang hari. Tanpa terasa, jari-jari saya pun mengikuti ketukan iramanya sesekali diikuti dengan anggukan-anggukan kecil kepala. Lalu, siapa bilang musik tradisional itu tidak menarik? Coba deh!

*dan tunggu tulisan lanjutanya yaaa

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

11 comments

  1. Maaf, mohon perbetulkan jenis pukulan Kompang Kadaro, sepatutnya Salahan, Banggen, Babon dan Kapatan.

  2. Sebagai Indonesian musti bangga kebudayaan kita bisa sampai ke negara tetangga ☺️

  3. Asik banget ya mbk bisa jalan kemana-mana. punya banyak cerita.
    Rahmawatie recently posted…Bertemu Mella-April-Rahmi, 3 Gajah Lucu di Taman Nasional Way KambasMy Profile

  4. Menyaksikan kesenian negeri sendiri di luar negeri itu sesuatu banget ya bu. Rasanya bangga juga karena kesenian kita bbisa sampai disana. Malah jadi ngga berasa lagi di negara orang. Proud 🙂
    Risalah Husna recently posted…Basah-Basahan Seru Di Go!Wet Grand WisataMy Profile

  5. Bos aku ada orang melayu keturunan padang, tapi namanya kayak orang jawa banget

  6. Kebudayaan jawa ada dimana mana. Jadi, orang jawa dimanapun tak lupa tradisinya

  7. Kayaknya kalau mau belajar Wayang Kulit sama Gamelan mending ke Malaysia deh, tiket ke Jawa mahal soalnya. Hehe

  8. Rentak selangor semakin membuka mata kita akan kesenian negeri sendiri ya kak. Ga masalah belajarnya di negeri jiran, kan yang ajarin orang jawa juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge