Monday, August 21, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » 72 Jam Menikmati Wisata Alam, Budaya dan Kuliner Selangor
IMG-20170310-WA0018

72 Jam Menikmati Wisata Alam, Budaya dan Kuliner Selangor

Selangor, nama yang pasti sudah tak asing lagi bagi sebagian besar pejalan. Sebutlah beberapa nama destinasi wisata di Selangor yang akrab di telinga kita seperti Batu Caves, Sunway Lagoon, Pulau Carey, Bukit Malawati, Sky Mirror dan lain-lain. Beberapa di antaranya telah saya kunjungi, dan dua yang terakhir saya kunjungi kemarin saat mengkuti acara Rentak Selangor. Nah kemana saja saya selama 3 hari dua malam di Selangor, kalian bisa baca dalam tulisan saya yang ketiga tentang acara tersebut di sini ya.

IMG-20170330-WA0000

Sebagaimana nama acaranya, Rentak Selangor “The Breathing Pulse of Our Land”, program ini memang difokuskan sebagai sebuah program wisata budaya yang diorganisir oleh Selangor Youth Generation Development Sports, Culture and Entrepreneurship Development, UPEN Selangor berkolaborasi dengan Gaya Travel Magazine yang dilaksanakan di Selangor. Acaranya dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 9-11 Maret 2017, dikemas dalam bentuk workshop, pertunjukan seni, kunjungan wisata alam serta kuliner. Seni dan budaya yang digelar diantaranya adalah Gamelan, Wayang Kulit dan Kuda Kepang yang disajikan. Ada juga Musik Tradisional Kompang Jawa yang berasal dari Indonesia dan Lion Dance yang berasal dari Tanah Tiongkok.

Selangor memang merupakan tempat bertemunya berbagai kebudayaan antar bangsa sehingga tak heran di tempat ini lahir banyak karya seni dan kebudayaan yang sangat kaya termasuk di dalamnya seni tari dan musik. Seni dan budaya Selangor inilah yang kemudian menjadi nafas kehidupan masyarakat Selangor yang patut diketahui oleh khalayak luas. Melalui program #RentakSelangor diharapkan para blogger, influencers dan awak media yang terlibat di dalamnya dapat mempromosikan kebudayaan Selangor ke khalayak ramai melalui majalah, koran, program televisi, blog dan sosial media yang mereka kelola.

Bukan hanya atraksi seni dan budaya yang dihadirkan. Peserta #RentakSelangor yang terdiri dari  6 blogger Indonesia, 2 blogger Philipina, dan blogger-blogger Malaysia, serta awak media setempat, juga diajak menyicipi ragam kuliner yang terkenal di Selangor. Kami melakukan perjalanan selama 72 jam, mengenal banyak hal tentang Selangor, menginap di tempat yang unik serta melakukan beberapa kunjungan wisata seperti  ke Bukit Malawati dan Sky Mirror yang luar biasa kerennya itu.

rentak selangor 1

  • Tak Hanya Musik, Tari dan Budaya

Dalam dua tulisan saya sebelumnya, kita bisa melihat bagaimana akulturasi budaya luar yang masuk ke sebuah wilayah dan melahirkan sebuah kebudayaan setempat. Dengan sentuhan kearifan lokal, seni musik dan tari yang menjadi bagian sebuah kebudayaan bisa membentuk dirinya selaras dengan budaya di mana mereka berada. Begitu yang saya lihat pada beberapa seni dan musik yang berasal dari Pulau Jawa serta Tarian Singa yang berasal dari Tiongkok, meski berakar dari negeri lain, mereka kini tak lepas sebagai bagian dari kebudayaan Selangor.

Tulisan ini memang tidak mengulas lagi tentang seni dan budaya Selangor selama kunjungan, karena tulisan saya terdahulu tentang kebudayaan Selangor selama mengikuti acara #RentakSelangor telah dituliskan cukup panjang di dua tulisan yang berbeda. Nah, bila anda senggang, anda bisa menikmati pengalaman saya dengan berkunjung ke tulisan saya tentang Gamelan, Wayang Kulit dan Kompang Jawa di Selangor di sini serta bagaimana serunya nonton Kuda Kepang yang berbau mistis dan Tarian Singa yang sporty di sini. Semoga menambah wawasan dan ketertarikan kita terhadap seni dan budaya di negara lain.

  • The Kabin – Bukan Sekedar Tempat Menginap

donna imelda rentak selangor the kabin

Apa yang ada dalam benak anda ketika mendengar kata peti kemas. Benda yang sering saya sebut dengan kontainer memang akrab dengan mata saya  setidaknya di dua pelabuhan besar karena sering saya lewati baik karena aktivitas saya di Jakarta, yaitu Terminal Peti Kemas di Pelabuhan Tanjung Priok atau dalam rangka bolak-balik mudik dan melewati Terminal Peti Kemas di Pelabuhan Panjang Bandar Lampung. Tumpukan kontainer-kontainer raksasa dari besi itu sering mengundang rasa penasaran saya mengenai isi dan asalnya. Bayangkan betapa jauhnya perjalanan kontainer-kontainer ini yang bisa berlayar melewati batas wilayah dan batas negara. Keren!

Namun ternyata ada yang lebih menarik lagi tentang kontainer peti kemas yang saya alami di Selangor, bila yang di pelabuhan berisi barang-barang yang akan dikirim, namun yang ini isinya adalah saya dan dua rekan-rekan lain peserta #RentakSelangor. Bukaaaaan, bukan kami yang hendak dikemas dan dikirim namun kontainer-kontainer ini telah berubah fungsi menjadi kamar-kamar sebuah hotel di kawasan Jeram, Selangor, Malaysia. The Kabin namanya, kawasan hotel tak jauh dari Pantai Jeram yang menyulap kontainer-kontainer menjadi kamar para tamunya.

Unik karena bagian dalam kontainer-kontainer ini sama sekali berubah menjadi layaknya sebuah kamar yang memuat 4-5 orang dengan kondisi yang nyaman lengkap dengan televisi, lemari pendingin, pendingin udara, serta kamar mandi di dalamnya. Setiap kamar di area hotel beralamat Jalan Haji Zaenal, Jeram, 45800 Selangor, Malaysia ini dilengkapi dengan teras dan seperangkat meja kursi untuk bersantai. Sangat akomodir untuk memenuhi kebutuhan kita yang ingin bersantai di kamar selama liburan.

Untuk menikmati area hotel, The Kabin juga menyediakan ruang besar yang sifatnya fungsional room di bagian belakang. Ruang besar tak berpintu ini bisa digunakan untuk gathering atau pertemuan, bahkan pertunjukan seni dan makan bersama bagi rombongan dalam jumlah yang besar. Arena terbuka di sebelahnya bisa digunakan untuk berolahraga dan barbeque seperti yang kami lakukan saat menginap di sana. Sedangkan untuk bersantai bersama sambil berolahraga, di bagian tengah disediakan kolam renang dan ruang santai untuk membaca, berbincang atau sekedar menikmati cemilan dan minuman hangat.

Atmosfernya saya sangat suka, kabin-kabin kontainer yang bentuknya kotak persegi panjang menjadi begitu harmonis dengan sentuhan hijau rumput dan tanaman di sekitarnya. Kesan kaku dan gersang seperti yang biasa kita lihat di pelabuhan sama sekali tak terlihat di sini kecuali sebuah area yang asri, tenang dan nyaman. Tak heran bila anda menginap di sini pasti betah berlama-lama sambil menikmati hijau rerumputan dan hembusan angin beraroma pantai.

  • Taste of Kampong at Dorani Homestay

Letaknya di daerah Sabak Bernam, Selangor.  sebagaimana konsepnya yang merupakan homestay, tempat menginap di sengaja di desain dengan rumah-rumah khas Melayu di kawasan Selangor.  Bagian depannya berupa halaman yang luas serta teras lapang yang menjadi satu dengan bagian utama rumah yang beratap rendah. Di halaman dan teras inilah kami berkumpul, berinteraksi satu sama lain dan menyaksikan pertunjukan Kuda Kepang pada malam harinya sambi menikmati makanan ala kampung alias Taste of Kampung. Sore itu kami disediakan teh dan kopi panas lengkap dengan makanan kampung seperti Singkong Rebus, sedangkan untuk makan malam, yang paling saya ingat saat di Homestay Hj. Dorani adalah pecak ikan dan sambal cabai hijaunya yang sedap cocok sekali dengan lalapan daun singkong rebus yang empuk.

Di bagian belakang rumah, berjajar beberapa rumah panggung terbuat dari kayu untuk para tamu. Setiap rumah memiliki dua kamar dan satu kamar mandi di bagian belakang. Saya seperti merasa pulang ke kampung halaman saya di Sumatera Selatan melihat deretan rumah panggung ini. Setiap rumah panggung didesain menghadap sawah atau ladang, sayang sekali saat kami datang, tak ada padi yang sedang tumbuh di atasnya, mungkin baru selesai panen dan belum di tanam kembali.

donna imelda rentak selangor homestay hj doran

IMG20170310164046

Saat siang suasana cukup hangat karena curahan sinar matahari, namun menjelang sore, duduk-duduk di teras adalah kegiatan yang mengasikkan sambil berbincang. Ah, saya membayangkan betapa cantiknya apabila ada padi yang sedang tumbuh di hadapan saya duduk ini. Rerimbun daun-daun padi seolah permadani hijau yang membentang luas. Apalagi saat senja tiba, pemandangan di teras ini menjadi lokasi favorit menikmati detik-detik mentari turun ke peraduannya. Indah dan syahdu.

Meski rumah-rumah didesain seperti rumah panggung khas Melayu, namun pemiliknya yang masih memiliki keturunan Suku Jawa juga menyiapkan atraksi Kuda Kepang yang memang dahulunya merupakan kesenian yang berasal dari Pulau Jawa di Indonesia. Selain itu aktivitas seperti menanam padi atau menjala ikan juga bisa diatur sebagaimana permintaan tamu yang menginap. Nah bila anda ingin merasakan kehidupan kampung di Selangor, anda bisa datang ke Dorani Homestay, Parit 1, Sungai Haji Dorani, Sungai Besar, Selangor.

  • Concorde Hotel Shah Alam

Hotel ini adalah hotel tempat kami menginap di malam terakhir di #RentakSelangor. Letaknya tepat di tengah kota Shah Alam yang menjadi ibukota  Negeri Selangor. Dari jendela kamar 613  yang saya tempati saya bisa menikmati Jalan Raya Tengku Ampuan Zubaedah tempat hotel ini berada dari ketinggian di lantai 6. Segaris di hadapan saya dari jendela kamar, kubah dan menara Masjid Sultan Salahudin Abdul Aziz yang menjadi aikon Kota Shah Alam terlihat sangat indah dari kejauhan. Apalagi saat sore menjelang malam, saat suasana sekitar masjid mulai temaram dan lampu-lampu menara mulai dihidupkan.

donna imelda rentak selangor concorde

Liza, teman sekamar saya asal Aceh memilih keluar hotel dan berbelanja dengan beberapa teman lainnya dari Indonesia. Sementara saya yang dengan sengaja memilih untuk menikmati senja dari dalam kamar yang luas, asik menikmati detik-detik pergantian siang ke malam sambil menunggu makan malam tiba. Indah rasanya, mendengarkan adzan magrib dari dalam kamar sambil menikmati kerlip lampu masjid di seberang sana. Suasana yang membuat saya makin kagum dan bersyukur pada Tuhan atas semua yang saya lihat, rasa dan nikmati selama perjalanan di Selangor.

  • Taste of Java, Taste Of Selangor

Entah kebetulan, entah memang lidah saya yang mulai menyesuaikan diri di Malaysia. Tiga hari menjadi peserta #RentakSelangor tak ada satupun masakan yang disediakan yang tak cocok di lidah, semua enak dan pas dengan selera saya. Bahkan selama program berlangsung, porsi makan saya pun sepertinya bertambah lebih banyak dibanding porsi makan saya sehari-hari. Saya sempat menanyakan apakah masakan di kuala Lumpur berbeda dengan masakan orang-orang di Selangor, karena saya lebih menikmati cita rasa masakan Selangor dibanding beberapa masakan yang saya cicipi di Kuala Lumpur. Atau bisa jadi sebenarnya perpaduan yang pas antara lapar, recharge energi yang keluar plus selera yang pas, yang jelas berat badan saya pasti bertambah satu dua kilo karenanya.

  • Sensasi Pertama yang Begitu Menggoda

Hari pertama saja saya sudah kalap dengan ikan asam pedas yang disajikan di sebuah rumah makan yang letaknya di pertokoan tak jauh dari tempat parkir bis kami di Bukit Malawati. Kak Olyvia Bendon yang sudah sering bertandang ke Malaysia sepertinya sudah tahu tempat makan ini rekomen untuk makan siang kami. Seluruh menu siap santap disajikan di atas meja di tengah ruangan, sedangkan menu yang harus disajikan panas-panas atau dibakar  bisa kita mintakan pada pelayan di bagian belakang.

Malam harinya tak kalah seru, di The Kabin acara makan malam kami sungguh istimewa, sambil menikmati alunan Musik Kompang Jawa, sederetan menu barbeque sudah disediakan untuk kami. Menunya lengkap, dari ikan bakar, ayam bakar hingga udang dan cumi-cumi. Untuk menjada kadar kolesterol saya tetap stabil saya memilih ikan dan kentang bakar. Cuma itu? Ya Cuma itu! Tapi jangan salah, saya mengambil dalam porsi besar, dan gak cukup sekali hehehe. Bumbunya memang sedap betul ditambah pula sambal barbequenya yang demikian pula, tak heran bila saya kembali ke kabin setelah makan malam dengan perut kekenyangan.

  • Kembali ke Selera Asal di Warung Ibu

Pernah mendengar istilah Nasi Ambeng? Mungkin beberapa dari kita yang berasal atau pernah singgah di Jawa Tengah sudah akrab dengan menu yang satu ini. Nasi Ambeng memang berasal dari Jawa Tengah, yang dahulunya biasa disajikan dalam acara kenduri atau selamatan yang bermakna harapan akan  keberuntungan. Nasi Ambeng biasa disajikan dalam sebuah tampah besar yang dilapisi Daun Pisang berisi nasi putih dan lauk pauknya yang terdiri dari berbagai menu masakan di sekelilingnya.

Lauk pauk dapat berupa pergedel, ikan asin, rempeyek, sambal goreng, telur rebus, ayam goreng, urap, bihun dan lain-lain. Satu tampah besar ini bisa dimakan bersama-sama  berempat atau berlima dan dimakan dengan menggunakan tangan langsung tanpa menggunakan sendok dan garpu.

Nasi Ambeng ini juga terkenal di Selangor, salah satu yang terkenal adalah Nasi Ambeng Warung Ibu yang terletak di dekat Tanjung Karang di daerah Sabak Bernam, Kuala Selangor. Menurut cerita Ibu Ramtinah, pemilik Nasi Ambeng Warung Ibu yang sudah menjalankan usahanya selama sepuluh tahun, usaha ini adalah usaha warisan orangtuanya yang ingin ia turunkan nantinya ke generasi yang akan datang.

Hal ini merupakan bentuk kepedulian untuk melestarikan resep-resep leluhur sekaligus bentuk keprihatinannya terhadap generasi sekarang yang tidak pandai memasak atau tidak mengetahui resep-resep masakan yang merupakan warisan yang berharga dengan ramuan-ramuan yang lengkap tersebut. Duh saya jadi malu, secara saya termasuk perempuan yang tak pandai memasak nih hehehe.

Salah satu menu spesial di Nasi Ambeng Warung Ibu adalah Nasi Ambeng Kahwin atau Nasi Ambeng Pengantin. Menunya terdiri dari Nasi Kukus yang dikelilingi ayam goreng atau ayam masak kecap, sambal goreng kentang, mie goreng tempe dan serundeng kelapa yang menjadi ciri khas Nasi Ambeng di Selangor. Dan bila anda menyukai cita rasa pedas, anda bisa meminta tambahan sambal.

Di sebut Nasi Ambeng Kahwin karena porsinya dibuat untuk dua orang, seperti porsi untuk sepasang pengantin kawin. Ah saya jadi ingat beberapa adat budaya di Indonesia yang selalu menyediakan makanan khusus untuk pengantin saat kenduri di atas tampah atau pinggan bulat besar persis seperti Nasi Ambeng Kahwin di hadapan saya siang itu. Seru juga ya kalau sesekali makan seperti ini bersama pasangan meski bukan lagi pengantin baru. Terasa dekat dan romantis. Aiiihhh…

Lily, salah satu Blogger Malaysia mengatakan bahwa cara makan seperti ini memang harus dipertahankan baik ditingkat kemasyarakatan maupun keluarga. Makan sedulang bersama seperti ini akan akan memelihara silaturahmi atau ikatan antar anggota masyarakat serta keluarga sehingga terus terjaga dan merasa dekat satu sama lain. Saya sangat setuju dengan pendapat beliau. Maklumlah, di era yang makin modern ini, di tengah kesibukan masyarakat kota, terkadang makan tak lagi menjadi momen istimewa di mana kita bisa berkumpul dan berbincang akrab namun menjadi sekedar memenuhi kebutuhan jasmani di tengah kesibukan yang seolah tak pernah reda.

  • Atok Asam Pedas

Puncak pengalaman makan saya selama di Selangor adalah ketika berada di Warung Makan Atok Asam Pedas yang berada di Sungai Sembilang, Jeram, Selangor. Meski ada menu lain seperti berbagai olahan kambing dan bahkan Rusa di akhir pekan, namun menu yang spesial di Atok Asam Pedas adalah Asam Pedas itu sendiri. Meski warungnya sederhana, namun jangan tanya sensasi makanannya di lidah. Utuk Asam Pedas yang kita pesan, jenis ikannya bisa dipilih dan penyajiannya unik karena disajikan di dalam Clay Pot.

Ikan Pari Asam Pedas! Itu yang menjadi menu utama pilihan kami siang itu dan beberapa menu tambahan pendamping seperti Telur Asin, Telur Dadar dan Tumis Sawi. Menuliskan kembali pengalaman menikmati menu masakan yang satu ini membuat lidah saya bagaikan meleleh karena kelezatannya. Saya masih bisa membayangkan sensasi di lidah saat Ikan pari berdaging putih itu lembut dikunyah, rasa manis alami daging ikan berpadu dengan cita rasa asam pedas seolah lumer dalam mulut, apalagi bumbu kuahnya yang luar biasa sedap, membuat saya tak berhenti menghirup kuahnya lagi, lagi dan lagi.

Bila mengikuti nafsu mulut sih, saat itu rasanya saya tak ingin berhenti mengunyah hingga perut kemudian menyatakan menyerah menerima asupan lagi hahaha. Nah, kalau anda mau ke sini, pastikan perut anda sudah kosong ya. Rugi kalau setengah kenyang, apalagi di Warung Makan Atok Asam Pedas juga terdapat pedagang makanan lain yang tak kalah menggugah selera. Meski perut saya terasa kenyang, nyatanya saya tetap saja memesan menu tambahan berupa Cendol Santan Sawit, Rojak Buah, dan Buah Potong. Untung saja saya tak kalap memesan Sengkoang dan Otak-Otak yang juga dijajakan di sana. Bisa terkapar gak bisa bangun karena kekenyangan deh hehehe.

  • Bukit Malawati

Bukit Malawati dikenal sebagai pusat pemerintahan Sultan Selangor yang pertama dan merupakan benteng pertahanan dari Serangan Belanda di jaman perang. Bila anda Berkunjung ke Bukit Malawati, ada beberapa tempat yang bisa disinggahi, diantaranya adalah Taman Ikan Air Tawar, Muzeum Sejarah Daerah Kuala Selangor, Rumah Api Altingsburg, Makam Sultan dan Kerabat Diraja, Batu Pancung dan Perigi serta puluhan Lutung Abu-Abu yang bebas berkeliaran. Sebagian besar tempat-tempat tersebut berada di bagian atas Bukit Malawati.

Untuk mencapai bagian atasnya, pengunjung yang tidak menggunakan kendaraan pribadi bisa menggunakan trem yang disediakan khusus untuk pengunjung oleh Majlis Daerah Kuala Selangor. Jarak yang ditempuh untuk menuju Puncak Bukit Malawati tidaklah terlalu jauh. Trem yang berjalan pelan seolah memberi kita kesempatan untuk menikmati udara sejuk dan pemandangan yang indah dalam perjalanan singkat di jalanan yang berkelok, dan mendaki. Semakin lama tinggi lalu berhenti tepat di puncak bukit yang rindang oleh pohon-pohon besar. Excited rasanya berdiri di ketinggian di apit dua meriam kuno menatap Selat Malaka sembil membayangkan sejarah bukit ini dan kaitannya dengan keberadaan Kuala Selangor.

Tempat ini memang kental dengan nuansa sejarah, sejumlah meriam peninggalan masa pendudukan Belanda tersebar di beberapa tempat, salah satunya ada di halaman Muzium Sejarah Daerah Kuala Selangor. Adapun museum itu sendiri, sebelum dijadikan museum pada tahun 2006, bangunan ini dahulu merupakan kediaman resmi Pegawai Daerah Selangor.  Museum ini dibuka untuk umum setiap hari dan setiap orang boleh masuk secara cuma-cuma dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore.

Ada tujuh bagian pamer yang disusun secara kronologis menceritakan perjalanan sejarah Kuala Selangor yang disajikan dengan berbagai bentuk seperti papan info, diorama, audio visual. Secara berturut-turut dari seksi satu ke seksi berikutnya menceritakan tentang sejarah singkat lokasi Kuala Selangor, dilanjutkan dengan asal-usul kata Selangor, kedatangan orang-orang Bugis  dan perlawanan terhadap kedatangan Belanda, hingga pengukukan Kuala Selangor sebagai daerah yang berdaulat, Kejayaan kesultanan Selangor dan diakhiri dengan ruang pamer peninggalan-peninggalan sejarah.

Tak jauh dari museum berada terdapat mercusuar yang memiliki kekuatan sinar hingga 56 kilometer menghadap ke Selat Malaka. Mercusuar tersebut disebut dengan Rumah Api Altingsburg yang diambil dari nama seorang Gubernur Belanda saat masa pendudukan. Rumah Api Altingsburg yang memiliki tinggi 83 meter dari dasar laut dan 27 meter dari permukaan tanah ini dibuat sejak 110 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 1907 di masa penjajahan Inggris

  • Sky Mirror- Refleksi dari Langit

Kalau puncak pengalaman kuliner saya di Selangor terjadi di Atok Asam Pedas, lain halnya dengan pengalaman berpetualang. Di Sky Mirror, Sasaran, Selangor lah itu terjadi. Bagaimana tidak, perjalanan di mulai di sebuah dermaga kecil yang sangat sederhana. Hanya sebuah dermaga kayu yang mulai lapuk dan daratan sekitarnya dipenuhi dengan cangkang kerang yang telah mati di sebuah pinggiran sungai yang keruh. Namun jangan tanya pengalaman sejak meninggalkan dermaga kecil itu menuju Sky Mirror.

Sepanjang perjalanan 30 menit  dari Dermaga Sungai Buluh, Jeram pagi itu, kami ditemani berbagai jenis burung yang hilir mudik di sekitar speedboat yang kami tumpangi. Celoteh Camar Laut seolah menjadi musik pagi hari yang membuat jantung saya berdetak lebih kencang karena hati yang senang. Belum lagi bila sekumpulan burung-burung yang berhamburan saat speedboat yang kami tumpangi melewati sekumpulan burung-burung tersebut, ingin rasanya saya ikut menghambur ke arah burung-burung itu untuk merasakan kepakan sayapnya.

Sky Mirror sebenarnya adalah sebuah daratan luas yang membentuk sebuah pulau di tengah laut. Fenomena ini kemunculannya tidak lah setiap hari, hanya beberapa hari saja dalam satu bulan yaitu saat bulan baru dan bulan purnama atau di tanggal 1 dan 15 setiap bulan dan empat hari sebelum dan atau sesudah tanggal tersebut di saat permukaan air laut sedang surut yaitu di pagi hari. Refleksi yang dihasilkan di atas permukaan air laut saat itulah yang menjadi daya tarik utama tempat ini. Begitu nyata pantulannya dan sempurna seolah sedang bercermin. Itulah mengapa Sky Mirror sering juga dijulukin dengan Refleksi dari Langit.

Sky Mirror juga habitat bagi kehidupan laut, yang paling sering dijumpai adalah kerang laut dan bayi kerang yang tersebar berlimpah di pasir. Saya benar-benar takjub saat dianjurkan untuk menyapu pasir di kaki saya oleh pemandu wisatanya. Dan benarlah, sesaat setelah disapu, menggeliatlah bayi-bayi kerang dari dalam pasir dan muncul ke permukaan dalam jumlah yang banyak. Saya sampai histeris melihatnya karena kagu. Meski ukurannya mungil, anda pasti akan jatuh cinta dengan juta bayi kerang yang berkilau seperti berlian di bawah matahari itu. Itu belum termasuk organisme laut lain yang menarik ditemukan di situ seperti anemon laut, kepiting pantai, kepiting merah, kepiting tentara, kerang bambu. anggur laut, siput laut, dan berbagai jenis kerang.

Jadi sepanjang pagi itu di Sky Mirror kerjaan saya hanya asik melihat berbagai hewan laut dan berpose cantik, tak peduli matahari yang kebetulan pagi itu agak malu-malu sehingga pantulannya tak secerah bila matahari bersinar penuh. Tapi dari foto-foto yang dihasilkan, saya sudah cukup bahagia melihatnya dan bersyukur saya telah menjejakkan kaki di tempat ini.

Bagaimana dengan anda?

Penasaran ingin berwisata ke Selangor?

Yuk… saya temani

Ayo kita pelesiran ke Selangor!

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

pulau ketam donna imelda

Pulau Lumpur Nan Unik itu Bernama Pulau Ketam

Deretan rumah panggung yang unik dengan tiang-tiang kayu penyangga serta barisan perahu yang tertambat itu masih ...

8 comments

  1. cendolnya juara
    sayang kekenyangan makan asam pedas jadi cuma nyicip dikit hahaa

  2. Kuda kepang / kuda lumping ternyata ada juga di Selangor, mungkin ya melakukan orang keturunan Indonesia ya Bu Dona.

  3. Mkasih bnyak ya mbk donaa, sdh diajak jlm2 ke selangor, cakep amat, suka sm rumah pengunjungnya, 🙂

  4. Ternyata Selangor punya tempat yang asyik2 ya, mbak. Pantesan aja kemaren Andik betah lama2 di Selangor. hehehe

  5. Indah banget pantainya Mba 😀

  6. Es cendolnya kelihatan enak banget 🙂

  7. duh pengen ikut acaranya seru sekali. Pariwisata Malaysia memang juara banget ngemas wisatanya dan transportasinya pun mudah. Pengalaman mau backpackeran atau bawa keluarga transportasinya gampang banget 😀

  8. Haha iyesh, lagi, mbak Donna mewakili Indonesia buat speech. Salah satu bagian yang bikin seneng kalo jalan sama emak-emak dosen yang biasa ngomong hihihi.

    Sky Mirrornya paling bikin mupeng, jadi gak perlu jauh-jauh ke salar de uyuni di Bolivia artinya, cukup ke Selangor aja 😀
    Haryadi Yansyah | Omnduut recently posted…Membeku di Padang Rumput Emas : Sonamarg, KashmirMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge