Saturday, November 18, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang
IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan sejarah yang ada di Kota Klang selama 2.5 jam.  Meski singkat, namun kegiatan telusur jejak warisan Bandar Diraja Klang ini sangat menarik untuk dilewatkan. Karena selain melihat jejak sejarah, dalam kegiatan ini kita juga bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Klang yang multi etnis sekaligus menikmati kulinernya.

Selayang Pandang

Royal Town of Klang, adalah sebutan terhormat sebuah kota kecil yang berjarak 32 km ke arah barat Kuala Lumpur. Penduduk lokal menyebutnya Klang Bandar Diraja, sebuah bandar yang memiliki jejak warisan sebagai kota tertua di Negeri Selangor Dahrul Ehsan. Kejayaan Klang telah dimulai sejak abad ke-19 dengan adanya penambangan bijih timah di Lembah Klang yang menjadikan Klang sebagai pusat perdagangan bahan tambang timah.

Klang terus berkembang dengan keberadaaan Port Swettenham atau Port Klang yang menjadi pintu masuk perdagangan di sepanjang Semenanjung Malaysia. Pelabuhan Klang adalah pengendali utama aktivitas perdagangan timah bagi Selangor. Hal ini kemudian didukung pula dengan pembangunan jalur kereta api dari Lembah Klang hingga ke stasiun Bukit Kuda. Kejayaan tersebut masih bisa dilihat sampai saat ini dari banyaknya bangunan dan peninggalan-peninggalan bersejarah.

IMG20170517094956

Klang dahulu pernah menjadi ibukota Selangor sebelum dipindahkan ke Kuala Lumpur dan Shah Alam. Port Klang yang merupakan pelabuhan bisnis antar negara di dunia memang tak dapat dinafikan keberadaannya. Nilai strategis ini terlihat dari keberadaan Pelabuhan Klang yang tercatat di urutan ke-13 sebagai pelabuhan kapal pengangkut tersibuk di dunia dan urutan ke-16 sebagai terminal peti kemas tersibuk di dunia.

Melihat posisi strategis Klang di dunia ini, pemerintah Selangor benar-benar serius untuk mempromosikan Klang sebagai tujuan wisata. Untuk itulah Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, Tourism Malaysia, Tourism Selangor, Majlis Daerah Klang, dan Gaya Travel Magazine untuk kelima kalinya mempersembahkan program Eat Travel Write (ETW). Bertajuk Selangor International Culinary Adventure, program ini dilaksanakan di Klang, Selangor, Malaysia pada tanggal 15-18 Mei 2017.

******

Welcome to Royal Town of Klang

IMG20170515074135

Pagi hari, Senin 15 Mei 2017 adalah pagi yang bersemangat. Sejak pagi dini saya dan dua orang teman dari Indonesia sudah meninggalkan Sentral Hotel Kuala Lumpur  menuju Stasiun Komuter (KTM) di KL Sentral yang letaknya tak jauh dari tempat kami menginap. Gerimis menyergap saat kami masih berada di pelataran hotel, namun dua teman saya sama sekali tak terlihat khawatir dengan rinai hujan tersebut. Aychoti –blogger muda nan cantik dari Batam– dengan lincahnya menggeret koper besarnya menyeberang jalan Thambipilay, Brickfields Kuala Lumpur. Begitu juga Sarip –jurnalis MQTV Bandung—yang sangat santun dan ramah, begitu santai menerobos hujan dengan ransel besar tetap menempel di punggung.

Sesuai dengan petunjuk dari panitia Eat Travel Write 5.0, peserta memang diarahkan untuk menuju titik kumpul di dua tempat yaitu Stasiun Komuter (KTM) di KL Sentral atau di Klang. Cukup banyak yang menjadikan KL Sentral sebagai titik temu. Dipandu oleh Syaza Adela dari Gaya Travel, beberapa blogger, social media influencers dan media, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari Malaysia bersama-sama bergerak menuju Klang dengan menggunakan Kereta Komuter (KTM) jurusan Pelabuhan Klang dan berhenti di Stasiun Klang seharga RM5.20.

IMG20170515084420

Waktu tempuh dari KL Sentral menuju Stasiun Klang tidaklah lama, hanya sekitar 45 menit saja. Saya mencoba tidur sejenak setelah mengambil beberapa foto untuk dokumentasi, maklumlah saya baru tiba di Kuala Lumpur pukul 02.00 dini hari. Lagipula kereta komuter yang kami gunakan saat itu kondisinya tidak terlalu ramai dan sangat nyaman. Suasana pagi ditambah dengan kesejukan dari pendingin udara mengantar saya tertidur begitu lelap hingga beberapa stasiun pun terlewati tanpa terasa.

Stasiun Klang adalah sebuah stasiun kecil dengan bangunan tua bernuansa vintage yang masih terjaga baik. Jarak dari stasiun menuju The Royal Gallery Sultan Abdul Aziz hanyalah beberapa meter saja. Kami cukup berjalan kaki kurang dari lima menit lamanya dan tiba di gerbang bangunan yang menjadi tempat pembukaan Eat Travel Write 5.0 (ETW)-Selangor International Culinary Adventure. Bangunan yang sekaligus berfungsi sebagai museum dan sudah berdiri sejak tahun 1909 itu sekaligus menjadi titik awal kegiatan Royal Klang Heritage Walk.

IMG20170515103449

Sesuai dengan namanya, Royal Klang Heritage Walk adalah kegiatan menelusuri jejak warisan Klang yang dilakukan dengan berjalan kaki dan singgah di tempat-tempat atau bangunan sejarah yang ada di Royal Town of Klang atau Klang Bandar Diraja. Sebagai kota tua yang berada di Negara Bagian Selangor, Klang memang memiliki keunikan tersendiri. Bangunan-bangunan tua nyaris mendominasi berbagai sudut kota yang sarat dengan kekayaan sejarah dan tradisi. Perjalanan kami kemarin seolah menembus lorong waktu, menelusuri satu per satu sejarah Klang sejak jaman kerajaan dan menjadi koloni Inggris melalui bangunan-bangunan dan peninggalan benda-benda bersejarah.

Sebelum kegiatan dimulai, seluruh peserta harus mengikuti briefing terutama terkait Do and Don’t selama kegiatan berlangsung. Peserta juga diharuskan untuk mengisi surat pernyataan dan menandatanganinya. Dipandu oleh seorang pemandu yang sudah hapal di luar kepala cerita di balik tempat-tempat yang kami singgahi, 2.5 jam bersama Royal Klang Heritage Walk memang terasa singkat. Namun kegiatan ini sangat menarik untuk dilewatkan. Karena selain melihat jejak sejarah, dalam kegiatan ini kita juga bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Klang yang multi etnis.

IMG20170515123436

Majlis Perbandaran Klang telah menetapkan dua belas kawasan pelancongan yang bisa disinggahi untuk menelusuri jejak warisan Klang. Sebelas di antaranya menjadi bagian yang disinggahi dalam kegiatan Royal Klang Town Heritage Walk. Bagaimana serunya berjalan kaki menelusuri sudut-sudut bersejarah Bandar Diraja Klang, Donna Imelda –Ayo Pelesiran– membawakannya untuk kalian.

Royal Gallery Sultan Abdul Aziz

Bangunan bergaya Neo Klasik ini dari kejauhan sudah menarik perhatian saya. Dengan ukuran yang besar memanjang ke samping, dan berpilar tinggi, bangunan ini emmang terlihat mencolok dibanding bangunan lain di sekitarnya. Dirancang oleh seorang arsitek Inggris, A.B. Huback pada tahun 1909, dahulu bangunan ini dikenal dengan sebutan Rumah Putih Klang. Hal ini mungkin disebabkan karena warna putih yang disematkan pada bangunan yang memiliki banyak pilar-pilar besar yang juga berwarna putih ini.

IMG20170515085627

Pada tahun 1989, almarhum Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah Alhaj menamakan bangunan ini sebagai Sultan Sulaeman Building. Sebagai salah satu bangunan tertua yang ada di Klang, bangunan ini pernah digunakan oleh Pejabat Daerah Klang dan menjadi markas tentara Jepang di masa Perang Dunia II. Pernah juga menjadi Ibu Pejabat Polis Selangor sebelum akhirnya digunakan secara resmi sebagai pusat pameran utama Galeri Diraja Sultan Abdul Aziz di tahun 2007 oleh D.Y.M.M. Sultan Sharafuddin Idris Shah Alhaj.

Sayang tidak banyak waktu kami untuk mengeksplore secara mendalam di museum ini, namun secara garis besar saya dapatkan banyak pengetahuan mengenai Kesultanan Selangor termasuk jejak sejarah kepemimpinan Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah Alhaj. Sebagian besar isi yang dipamerkan di Galeri Diraja memanglah berkisar mengenai riwayat hidup Almarhum. Kepemimpinan beliau bukanlah sebuah masa yang singkat karena beliau pernah menjabat sebagai Sultan Selangor ke-8 dan telah memerintah Selangor selama lebih dari 39 tahun, termasuk didalamnya saat  almarhum menjabat sebagai Yang di-Pertuan Agong ke-11 selama dua tahun.

Ada tujuh ruang pamer dalam Galeri Diraja Sultan Abdul Aziz ini yang terdiri dari silsilah kesultanan, sejarah awal kehidupan Almarhum Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah Alhaj, alat kebesaran Diraja dan keluarga Diraja, tugas-tugas Diraja, ruang khusus S.P.B Yang di-Pertuan Agong kesebelas, koleksi Diraja serta ruang pameran sementara. Semua benda pamer tersusun rapi di setiap ruang, sebagian disimpan dalam kotak kaca untuk alasan keamanan dan sebagian lagi bisa dilihat langsung. Seluruh ruang ditata apik dan sejuk sehingga dijamin membuat pengunjung betah berada di dalamnya.

The Former Chartered Bank

Bangunan yang dahulu adalah sebuah lembaga keuangan atau bank ini sangat mudah ditemui. Hal ini karena letaknya yang sangat strategis yaitu persis di berseberangan dengan bagian samping Galeri Diraja. Letaknya yang menyudut diapit oleh Jalan Istana dan Jalan Dato’ Hamzah terlihat mencolok dari kejauhan dengan aksara besar bertuliskan CHENNAI SILK di bagian depan bangunan yang berwarna putih. Bangunan ini sudah berdiri sejak tahun 1874 dan selain digunakan sebagai bank dahulunya pernah juga digunakan sebagai markas tentara Jepang. Kini bangunan tersebut digunakan sebagai pusat penjualan tekstil dan kain sutera India yang terbesar di Klang dan tetap dipertahankan bentuknya sebagaimana aslinya.

Selain menikmati bangunan yang bergaya neo klasik, di tempat ini pelancong bisa memuaskan diri untuk melihat dan belanja  tekstil dan Saree India. Di kunjungan yang sangat singkat kemarin, mata saya rasanya tak henti berputar mengitari seluruh ruang menikmati ragam warna dan rupa kain yang ada di sana. Kain-kain itu sangat cantik-cantik sekali, baik warna, motif maupun modelnya. Ah rasanya pengen belanja dan pengen dibeli semua.

Royal Klang Club

Di Jalan Istana, bersebelahan dengan Istana Alam Shah, terdapat bangunan bersejarah yang kini masih digunakan sebagaimana awal peruntukannya yaitu tempat rekreasi dan olahraga sejak tahun 1901. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk klub ini yaitu orang-orang yang telah menjadi membernya. Dahulu hanya orang-orang yang berasal dari kalangan tertentu yang bisa menjadi anggota klub ini yaitu mereka yang berketurunan Eropa dan Inggris atau Jepang (di masa pendudukan Jepang) atau masih keluarga atau keturunan Sultan.

Ada dua tempat yang istimewa yang menjadi perhatian saya selain fasilitas olahraga yang lengkap sebagaimana sport club pada umumnya. Yang pertama adalah The Smugglers Inn, yaitu ruangan yang bias digunakan untuk minum dan makan makanan ringan yang didesain mirip ruang kabin kapal lengkap dengan furniture layaknya sebuah ruang kapal. Di seberang ruang tersebut, yaitu ruang makan bahkan terdapat tiang lengkap dengan tali kapal yang tingginya hingga mencapai atap ruang seolah tiang kapal sungguhan.

Alam Shah Palace

Berdiri di atas bukit, Istana Alam Shah terlihat megah meski dari kejauhan. Sebagai lambang kedaulatan Kesultanan Negeri Selangor, keberadaan Istana Alam Shah merupakan ikon penting bagi Bandar Diraja Klang. Istana ini dibangun pada tahun 1905 oleh Sultan Alauddin Sulaiman Shah, Sultan Selangor ke-5. Kubah istana yang tinggi keemasan seolah menggambarkan kemegahan istana ini dan menegaskan Klang sebagai Bandar Diraja Negeri Selangor.

Istana ini hanya bisa dilihat dari luar saja oleh peserta Royal Klang Heritage Walk, namun kami peserta Eat Travel Write 5.0 sungguh beruntung, karena di hari terakhir kami seluruh peserta diperkenankan berkunjung dan  masuk ke dalam istana. Cerita selengkapnya tentang Istana Shah Alam akan saya tuliskan di tulisan tersendiri ya.

 Church of Our Lady of Lourdes Klang

_DSC9121e

Rumah ibadah untuk umat Katolik ini konon telah ada sejak 80 tahun yang lalu meski baru diresmikan oleh Bishop Perichan pada tahun 1928. Bangunan gereja ini termasuk salah satu bangunan tertua yang ada di Klang, letaknya di salah satu ruas jalan di Jalan Tengku Kelana, bersebelahan dengan bundaran Simpang Lima, Klang. Fasad bagian depan gereja yang bergaya Neo Gothic ini dan hanya bisa puas melihatnya dari kejauhan di taman seberang karena waktu yang sempit untuk eksplore lebih jauh ke dalam.

Klang Convent School

_DSC9123e

Letaknya persis di sebelah Gereja Our Lady of Lourdes Klang, sekolah ini berdiri pada tahun 1924 dan diresmikan oleh Sir William Peel pada tahun 1928. Di awal beroperasinya, sekolah ini hanya memiliki 19 orang murid saja, namun masih bertahan hingga saat ini. Meski kondisinya saat ini sudah terdapat bangunan tambahan baru namun bangunan yang lama dan asli masih dipertahankan hingga saat ini.

Tengku Kelana Street

Tempat ini dikenal juga dengan sebutan Little India dan merupakan kawasan Little India terbesar yang ada di Malaysia. Menarik berjalan-jalan di sekitar area ini, menikmati langsung kehidupan perniagaan etnis India dengan segala pernak-perniknya. Sebagaimana namanya Little India maka segala pernak-pernik barang terkait kebutuhan mereka semua ada. Baik untuk kehidupan mereka sehari-hari, makanan, perhiasan, saree dan tekstil hingga barang-barang untuk kebutuhan sembahyang atau ibadah. Saya sempat melihat-lihat koleksi gelang di salah satu toko. Ah, pengen borooooong.

Saya penasaran untuk berlama-lama di sini dan bertekad kembali suatu saat nanti terutama menjelang perayaan Deepavali. Saya ingin merasakan keriuhan di tempat ini jelang hari raya itu tiba, pasti sangat semarak sekali. Bahkan kabarnya,  menjelang hari raya tersebut, tempat ini bukan hanya ramai karena meningkatnya transaksi jual beli kebutuhan hari raya namun juga banyak artis dan atraksi yang diadakan secara terbuka di di beberapa ruas sepanjang Jalan Tengku Kelana

Indian Muslim Mosque Tengku Kelana

IMG20170515123739

Saya hanya melihatnya dari depan tanpa sempat masuk ke dalamnya. Sebagaimana tempat ibadah umat muslim pada umumnya, masjid ini juga memiliki arsitektur yang kurang lebih sama. Dari cerita sang pemandu, masjid yang dibangun pada tahun 1910 ini memang awalnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan aktivitas keagamaan dan kemasyarakatan etnis India yang tinggal di kawasan tersebut.  Bangunan ini terletak di jalan Tengku Kelana tak jauh dari pusat perbelanjaan di Little India. Namun sayang sekali, bangunan yang lama sudah dirobohkan dan masjid yang kita lihat saat ini adalah bangunan baru karena kebutuhan jumlah jamaah yang makin lama terus meningkat.

Kuil Sri Nagara Thendayuthapani

_DSC9143e

Tiga perhentian terakhir ini sebenarnya sudah hanya tinggal sisa-sisa tenaga hehehe. Jadi semua hanya saya lihat dari luar saja. Maklumlah matahari saat kami berajalan sudah berada di atas kepala dan sinarnya sungguh terik seakan membakar kulit. Saya mencoba menahan panas matahari dengan berjalan di bawah pertokoan dan atau di bawah pepohonan, namun rasa lelah tak urung tetap membuat langkah ini mulai perlahan.

Namun berada di tempat ini justru saya mengalami pengalaman batin yang luar biasa. Sesaat setelah saya tersadar bahwa tempat saya berdiri dikelilingi oleh 4 rumah ibadah dari segala jenis agama. Ada vihara, kuil, masjid, Gereja Katolik dan Gereja Kristen, lengkap dan berdampingan dengan damai. Ya, perbedaan seharusnya menjadikan indah, bukan menjadikan kita terpisah-pisah.

Muzium Balai Bomba Klang

IMG20170515124847

Ya, ini adalah museum pemadam kebakaran. Di sini pengunjung bisa melihat perjalanan sejarah jawatan pemadam kebakaran di Klang. Di dalamnya kita bisa melihat peralatan pemadam kebakaran dari jaman baheula hingga kini, termasuk seragam dan kendaraan yang dipakai dari tahun ke tahun untuk memadamkan kebakaran. Bangunannya berdiri sejak tahun 1890 dan memiliki ciri sangat khas yaitu berwarna merah yang menjadi lambang pemadam kebakaran.

Gedung Raja Abdullah

IMG20170515130101

Disebut demikian karena gedung ini dibangun ole Raja Abdulah bin Raja Jaafar pada tahun 1857. Beliau mendapat julukan “orang kaya Klang” dan memiliki kewenangan untuk melakukan penambangan timah sepanjang Sungai Klang hingga Kuala Lumpur. Bangunan inilah yang dahulunya digunakan untuk menyimpan bijih timah sekaligus menjadi kediaman beliau. Namun sayang beliau harus hengkang ketika terjadi Perang Klang di tahun 1867.

***

Nah itulah sekilas tempat-tempat yang didatangi pada kegiatan Royal Klang Heritage Walk. Dua setengah jam memang sangat terasa singkat, banyak tempat yang tak sempat kami eksplor lebih dalam dan harus puas dilihat dari luar saja. Namun lebih dari 2,5 jam berjalan kaki di bawah terik matahari Klang sepertinya juga akan sangat melelahkan.

So…, bagi kalian yang penasaran dan ingin merasakan serunya berjalan kaki menelusuri Jejak Warisan Kejayaan Klang, ikutan deh Royal Klang Heritage Walk. For free lho!. Kegiatan ini dibuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu, dari pukul 9.15 – 11.45 am. Untuk memastikan, bisa juga dengan menghubungi terlebih dahulu petugasnya di nomer telepon +603-5513-2000 ya.

Ayo! Kita pelesiran di Klang.

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

7 comments

  1. Semoga suatu saat bisa ke sini 🙂

  2. seru ya kak, aku kemarin setelah balik dali hk ke klang lagi. masi penasaran karna gak sampe hanis ikut nya

  3. nah kalau jalan2 heritage begini aku sukaa…

  4. Melihat beberapa sudut kotanya, jadi teringat kota Lama di Semarang. Dari artikel ini pun menceritakan serunya menelusuri berbagai tempat tanpa mahal

  5. Ya Allah cantik-cantik banget…
    Aku paling suka tour jalan kaki, apalagi kalau ke wilayah heritage gini. Semoga suatu saat bisa sampai.

  6. Klang, salah satu kota tua yang menarik minat saya. Nama Klang disebut-sebut dalam salah satu manuscript di jaman Kerajaan Majapahit. Pertanda pelabuhan dan kota satu ini telah jaya sejak dahulu kala. Selain faktor sejarah, ketertarikan akan Klang juga karena tak jauh dari kota ini bertebaran desa-desa yang dihuni warga Malaysia keturunan Jawa..

    Semoga segera bisa mengunjungi Klang. 🙂

  7. Waaah, Selangor cantik juga ya ternyata.
    Belum kesampean untuk main kesana. Selama ini bolak – balik negeri tetangga baru kesampean KL, Melaka, Penang, dan Perak aja.

    Semoga nexttime bisa kesiniiii aaaah. Dan tempat disini juga instagramable budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge