Wednesday, October 18, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Banten » Satu Perjalanan Seribu Rasa #Catatan Perjalanan Baduy 2013 #Part3
Di Desa Kaduketug bersama Pak Juli dan Bapak Kasip, Noe dan mas Imang
Di Desa Kaduketug bersama Pak Juli dan Bapak Kasip, Noe dan mas Imang

Satu Perjalanan Seribu Rasa #Catatan Perjalanan Baduy 2013 #Part3

Terminal Ciboleger, Sabtu 25 Mei 2013 sekitar pukul sepuluh pagi.

Langit cukup cerah kala aku mengambil tempat di salah satu sudut Terminal Ciboleger. Duduk segaris ke arah tugu yang diatasnya berdiri patung sebuah keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan sepasang anak lelaki dan perempuan. Sang ayah menggunakan caping, memanggul cangkul dan menyelipkan sebuah golok di pinggang sementara sang ibu menggendong bakul dengan selendangnya, ke empatnya merentangkan tangan lebar-lebar seolah mengatakan “Selamat Datang di Ciboleger”

Ya….kami sudah sampai di Terminal Ciboleger, yaitu pemberhentian terakhir kami menuju Baduy dengan menggunakan moda transportasi, karena setelah itu kami akan melanjutkan perjalanan kami ke Desa Cibeo yang berada di kawasan Baduy Dalam dengan berjalan kaki. Diperkirakan perjalanan akan membutuhkan waktu kurang lebih empat jam sehingga untuk mempersiapkan segala sesuatunya panitia memberikan waktu sekitar satu jam untuk berada di Terminal Ciboleger yang bisa dimanfaatkan peserta untuk berbagai keperluan. Sebagian dari kami ada yang memanfaatkan dengan berfoto, belanja beberapa keperluan terutama makanan kecil, dan tak lupa untuk makan bagi mereka yang tadi pagi tak sempat sarapan atau sudah lapar meski belum waktunya makan siang.

Sekelompok anak kecil menghampiri kami, kedua tangan mereka yang mungil cekatan menggendong tongkat-tongkat yang terikat jadi satu untuk dijajakan pada setiap pengunjung yang datang. Tongkat itu kelak berguna dalam perjalanan, sebagai alat bantu pijakan di medan yang turun naik dan licin. Mereka menjajakan dengan riang tanpa beban dan tiada memaksa, beberapa persisten merayu dengan gaya khas anak-anak, dan membuatku tersenyum. Ah, anak-anak selalu menarik di mataku dan selalu berhasil membuatku jatuh hati. Termasuk anak kecil berumur 6 tahun di sampingku ini, putra teman perjalananku, Noe yang kupanggil Daffa. Akan banyak cerita tentang Daffa dan bagaimana ia berpengaruh banyak dalam perjalananku kelak selama di Baduy.

kaduketugP5263096

Desa Kaduketug 10.45 WIB.
Kami semua masih duduk-duduk disalah satu rumah penduduk desa Kaduketug, desa pertama yang ditemui di Baduy, menanti hujan yang turun tak lama setelah kami tiba. Namun langit sepertinya tak memberi tanda bahwa hujan akan segera berhenti, sehingga dengan pertimbangan agar tidak kemalaman di perjalanan menuju Desa Cibeo, panitia memutuskan untuk memulai perjalanan. Peserta pun bersiap, begitu pun aku segera menggunakan mantel plastik yang sudah aku siapkan dari Jakarta. Ransel aku titipkan ke Pak Juli, seorang Baduy Dalam yang dalam perjalanan ini membantu kami sebagai pemandu. Meski ada jasa yang harus ditukar dengan rupiah sebesar 25.000 untuk setiap ransel yang dibawa oleh mereka, aku tidak melihatnya ini sebagai transaksi bisnis. Sejak awal melihat wajah-wajah mereka saya sudah melihat ketulusan mereka menyambut kedatangan kami dan seolah ingin memberikan yang terbaik. Selain itu, saya tak tau seberat apa medan yang akan saya hadapi empat jam ke depan dalam situasi gerimis yang terus mengguyur membuat jalan setapak lebih licin. Vertigo saya bisa menyerang kapan saja dan target saya adalah sampai di Desa Cibeo, sehat selamat tanpa merepotkan orang lain. Titip ransel saya ya Pak Juli…saya memberikan senyum saat menyerahkan tas.

Pukul sebelas lewat beberapa menit saat kami memulai perjalanan, dibawah guyuran gerimis di tanah Baduy, aku melangkah pelan dengan kecepatan konstan, berusaha menikmati apa yang saya temui sepanjang perjalanan. Ada beberapa pemandu yang membantu rombongan kami yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok. Setiap kelompok kurang lebih ada 14 orang, dan satu kelompok dipandu oleh dua orang pemandu dan didampingi panitia. Salah satu pemandu yang kerap ngobrol dengan saya selain Pak Juli adalah Pak San San. Mereka pemandu yang sangat baik, sering sekali bercerita dan mengajakku berbincang. Pak Juli seorang suami yang baru menikah, saat ini istri beliau yang berusia 17 tahun sedang mengandung dengan usia kandungan 7 bulan, sedangkan Pak San San yang kami panggil dengan Bapak Kasip, sesuai dengan kebiasaan Suku Baduy yang memanggil seseorang yang telah memiliki anak dengan menyertakan nama anak tertuanya sebagai panggilan. Kasip adalah anak tertua Pak San San sehingga beliau kerap dipanggil dengan Bapak Kasip.

Kami melewati beberapa desa di Baduy Luar, setidaknya saya mencatat ada 6 desa yang kami lewati sebelum tiba di Desa Cibeo Baduy Dalam, yaitu Kaduketug, Cipondoh, Balimbing, Marengo, Leuwi Buleut, dan Babakan Bungur. Penduduknya mayoritas berpakaian berwarna hitam khas Baduy Luar, tetapi mereka bebas menggunakan berbagai warna lain dan diperbolehkan memakai sandal atau sepatu, dan alat komunikasi. Kami berjalan sesuai dengan kemampuan dan gaya masing-masing, ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang sambil bergurau ada yang anteng. Pak Juli dan Pak kasip dengan sangat pengertian mendampingi, menyesuaikan dengan kami yang di Jakarta malas sekali jalan kaki. Mengambil waktu istirahat di tempat dan waktu yang dirasa perlu, lalu meneruskan kembali perjalanan bila detak jantung yang seolah hendak lepas akibat medan yang naik turun ini bila sudah kembali normal.

baduy2

Separuh jarak tempuh saya masih bisa menikmati setiap langkah, mendaki tanjakan, menuruni lembah, menyeberangi sungai diatas jembatan bambu, menikmati pemandangan dari ketinggian, melewati rumah, saung dan lumbung padi, memanjakan telinga dengan suara-suara alam, desir angin, gesekan daun dan semua yang tak dapat saya temukan dikota, meskipun untuk itu saya harus pandai-pandai memahami diri, kapan harus mempercepat langkah, kapan harus memperlambat. Kapan bisa santai dan kapan pula harus esktra hati-hati karena jalan yang licin, berbatu dan bersisian dengan lembah.
Namun dua jam berlalu, saya mulai kelelahan dan kesulitan mengatur langkah, berjalan dengan gontai dan berkali sejenak berhenti, menatap seolah putus asa setiap menemukan tanjakan baru sama mirisnya ketika menemukan turunan. Tantangannya sama saja, mendaki itu berarti melawan gaya gravitasi, perlu usaha. Turunan tertarik oleh gaya gravitasi, bisa menggelundung, karena itu pun berarti saya harus berhati-hati menempatkan titik tumpu saat menurun mengingat lutut kiri saya yang mulai nyeri. Setiap salah menumpu saat melangkah turun, saya harus menahan nyeri karenanya. Ini kapan sampainya sih….saya mulai mengeluh dalam hati.
Sempat terpikir, beginikah cermin hidupku? Selalu mencari dataran….. inginnya selalu on comfort zone? Gak mau cape dan menghindari tantangan?
Hmmmmm……

baduy1

Dalam perjalanan hari pertama menuju Baduy Dalam, ada satu tempat yang sungguh menguras tenaga dan mental saya, orang-orang menyebutnya “Tanjakan Cinta”, manis sekali bukan namanya? Tapi jangan bayangkan semanis itu untuk bisa melewatinya, tanjakan panjang dengan kemiringan nyaris 45 derajat sempat membuat saya menyesal.
“gak ada kerjaan banget sih loe, Don…menyiksa diri ke tempat yang harus melewati tempat ini”.
Lalu teringat desa-desa di Bali yang indah dan alami yang bisa saya nikmati hanya dengan selonjor di dashboard mobil. “how stupid I am”. Sesalku sejenak.

Ada mitos mengenai tempat ini, konon bila kita berhasil mendaki Tanjakan Cinta bersama kekasih sambil berpegangan tangan tanpa melihat kebawah, maka akan langgeng lah kisah cintanya. Mengingat mitos itu saya hanya mendengus miris, alih-alih memikirkan romantisisme bersama pujaan hati di Tanjakan Cinta, setiap naik 3-5 trap saja saya harus berhenti mengatur nafas dan meredakan detak jantung lalu melangkah lagi, berhenti lagi hanya jarak beberapa langkah, begitu seterusnya. Teman seperjalanan saya, Noe dan putranya Daffa setia menanti beberapa langkah didepan saya, dan itu memberikan saya rasa aman. Setiap saya putus asa dan melihat keatas, meski saya belum melihat tanda ada dataran, setidaknya saya melihat ada mereka disekitar saya. Ada satu cerita yang bikin saya senyum simpul ditempat ini, saat sekali saya berhenti cukup lama dan benar-benar enggan melanjutkan perjalanan, mungkin seperti ini lah rasa yang disebut maju kena mundur kena, maju udah tak kuat, mundur sudah tak mungkin. Namun sari mulut malaikat kecil bernama Daffa ini, keluar satu kalimat yang membuyarkan sesalku, ia mengajakku melanjutkan perjalanan…

“ayo, tante donna….kita jalan lagi, nanti kemaleman lho nyampe nya”…
“ow ow ow, baiklah, mari kita selesaikan apa yang sudah kita mulai, nak….

me and daffaP5253023

Betul kata Daffa, perjalanan harus dilanjutkan. saya mendapatkan suntikan semangat karenanya. Lepas dari Tanjakan Cinta, kami makin dekat dengan Desa Cibeo yang menjadi tujuan akhir hari pertama, dimana nantinya kami akan menginap semalam menikmati kehidupan Suku Baduy Dalam. Perjalanan pun sudah lebih bersahabat, mendekati desa Cibeo saya melewati banyak dataran, meski masih ada tanjakan dan turunan tapi relatif tak ada yang curam. Melewati rumpun bambu dan sungai, sekelompok lumbung padi, lamat-lamat dari kejauhan terlihat atap rumah-rumah di Desa Cibeo, pertanda kami segera sampai. Lutut kaki kiri saya masih terasa nyeri, namun tak lagi saya pedulikan, semakin dekat semakin semangat, sesaat setelah melewati sungai yang airnya sangat jernih, akhirnya arah pandangan mata saya hanya tertuju di satu titik….pelataran bambu teras rumah Bapak Kasip…..

Cibeo, 25 Mei 2013, kurang lebih pukul tiga sore
3,5 jam….menyusuri tak kurang dari 13 km
Saya tahu saya sudah menyelesaikan satu tahap, saya tahu bahwa saya mampu melewatinya,
dan saya tahu mengapa saya mampu,  karena saya tahu, ada orang didekat saya yang handal, saya aman bersamanya dan ia tak akan meninggalkan saya. Thanks, Abang.

baduycoverP5263108

menyitir yang pernah Kahlil Gibran tulis, bahwa:
Sebagian dari kita seperti tinta dan sebagian lagi seperti kertas.
Dan jika itu bukan untuk kegelapan bagi sebagian dari kita, sebagian lagi akan bisu.
Dan jika bukan untuk putih bagi sebagian dari kita, sebagian yang lain akan buta.
*Pasir dan Buih, Kahlil Gibran

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

10 comments

  1. Capek yak bacanya. Naik turun lembah, naik turun gunung. Tapi sampai juga akhirnya.

  2. Mba quote Khalil Gibran itu, masih belom ngerti. Japri ya 😀 aah.. aku terharu nih sama tulisannya. Jadi bingung mau nulis apa di blog ku deh

  3. Keren bu, teruskan!

  4. Bacanya saja sudah ngosan2an. Kulupakan impian menjelajah Baduy Dalam. Kecuali ojek sudah diijinkan masuk, setidaknya sampai di mulut desa 🙂
    Evi recently posted…Jelajah Pasar Los Batu KandanganMy Profile

  5. rumahnya sederhana namun terlihat nyaman ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge