Friday, September 22, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Selamat Datang di Cambodia
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selamat Datang di Cambodia

“Ada yang salah dengan kota ini sepertinya.” Tak satu kali saya mengatakan hal ini, baik dalam hati maupun yang ditujukan kepada empat rekan perjalanan saya. Di bawah terik matahari Cambodia, saya disajikan wajah-wajah kusam, kota yang berdebu, dan jalan yang semrawut sepanjang perjalanan selepas bandara. 

Mobil-mobil mewah yang berdebu terlihat mencolok diantara lalu lalang kendaraan roda dua. Sesekali Tuk-Tuk yang kami tumpangi berhenti di persimpangan, tersendat di antara puluhan kendaraan bermotor yang tumpah ruah di satu titik tanpa ada yang mengatur. Inikah wajah masyarakat pinggiran? Di negara yang termasuk sebagai salah satu negara termiskin di Asia Tenggara? Ah… selamat datang di Cambodia.

Phnom Penh, demikian nama kota ini. Negara ketiga yang saya singgahi dalam perjalanan saya menelusuri sebagian Asia Tenggara setelah Malaysia dan Thailand. Terbang dari Bandara Don Mueang, Bangkok tanggal 3 April 2014, saya dan teman-teman mendarat di Bandara Internasional Phnom Penh yang dulunya bernama Pocenthong ini setelah terbang selama satu jam. 

Bandara yang terletak sejauh tujuh kilometer dari pusat kota ini terasa gersang, berpadu dengan cuaca yang panas. Tak seperti bandara di kota-kota lain yang pernah saya singgahi, bandara ini relatif dekat sekali dengan jalan raya yang memudahkan kita bila ingin menggunakan transportasi umum. Di dalam areal parkir bandara terdapat taksi dengan sistem tawar menawar. Bila anda ingin menggunakan Tuk-Tuk, berjalanlah sedikit menjauh menuju tempat yang khusus disediakan untuk Tuk-Tuk.

Saat itu kami sebenarnya ingin menggunakan taksi menuju hotel. Namun saat kami menunjukkan alamat hotel tempat kami akan menginap, entah mengapa sopir taksi itu malah menyodorkan alamat tersebut ke sopir Tuk-Tuk. Tak apalah, bagi kami tak masalah menggunakan transportasi apapun yang penting sepakat dengan harganya sebesar US$ 7.

Berbeda dengan pengalaman dengan sopir Tuk-Tuk saat kami di Bangkok yang meminta ongkos dua kali lipat dari yang disepakati, di Phnom Penh kami justru mengalami yang sebaliknya. Sepanjang jalan sebenarnya saya sudah jatuh iba dengan sopir ini. Sudahlah menempuh jarak yang jauh, panas, macet dan sepertinya beberapa kali salah jalan saat mencari hotel. Saat kami tanpa sadar salah membayar ongkos, sopir ini malah sangat berbaik hati menolak uang yang kami sodorkan sembari mengingatkan kami bahwa ongkos yang kami bayarkan itu terlalu banyak.

Masyaallah… selalu ada orang baik yang bisa kita temui dalam perjalanan. Padahal andai saja sopir berpostur kecil seperti kurang gizi ini memilih untuk tidak jujur, maka ia akan mendapatkan bayaran yang besarnya sepuluh kali lipat dari ongkos yang disepakati. Semoga rezekimu berlimpah ya pak.

P4040348

*****

Hotel Salita adalah hotel yang yang kami pesan dari Jakarta. Hotel berbintang tiga yang terletak di daerah Beung Keng Kang ini letaknya sangat strategis dan melayani kami dengan ramah dan sangat akomodatif. Meski relatif jauh dari bandara, namun ternyata hotel ini terletak di tengah kota. Berjarak hanya lima ratus meter dari Tuol Sleng Genocide Museum dan sekitar satu km dari Independence Monumen dan Russian Market. Kondisi hotel sesuai bahkan lebih dari ekspektasi saya karena salah satu kamar dari tiga kamar yang kami pesan mendapat bonus upgrade ke kelas VIP dan itu adalah kamar saya. Alhamdulillah, dari hotel yang mendapat predikat very good dari situs pemesanan hotel online Agoda, saya bisa menikmati kamar luas dengan balkon yang menghadap jalan dengan harga kamar superior.

Ini seperti berkah buat saya yang penakut ini. Sungguh saya adalah seorang pejalan yang norak karena selalu takut untuk tidur sendirian. Bertahun-tahun melakukan perjalanan, beberapa diantaranya solo travelling, saya selalu menemukan cara untuk tidak tidur sendiri. Entah itu memilih tempat menginap di dormitory hotel, merayu teman di lokasi untuk menemani saya atau alternatif terakhir yaitu terpaksa menginap di rumah teman atau kerabat. Tapi tidak untuk perjalanan kali ini. Meski ada salah satu teman seperjalanan saya yang berjenis kelamin perempuan, namun ia dan seorang teman seperjalanan saya adalah sepasang suami istri yang tentu saja memilih tidur sekamar, dua yang lainnya berjenis kelamin laki-laki juga pasti sudah cocok sekamar. Tinggal saya sendiri yang tak memiliki teman tidur.

Sejak awal menuju Phnom Penh saya selalu berseloroh setengah serius dengan teman2 yang berjenis kelamin lelaki itu. Bila nanti ternyata setelah sampai di lokasi, hotel yang kami pesan tak “seindah” yang dibayangkan alias terasa spooky, maka saya akan nekat tidur bersama dua lelaki itu di kamar mereka hehehe. Tapi kejadiannya tak seperti itu kok. Mereka dengan sangat pengertian memilih melewati malam dengan ngobrol-ngobrol di teras balkon kamar sambil merokok dan mengambil gambar suasana malam, menunggu saya benar-benar mengantuk. Alhamdulillah, setelah benar-benar mengantuk mereka kembali ke kamar mereka dan saya bisa melewati malam sendirian dan tidur yang sangat nyenyak tanpa sempat bermimpi atau mendengar apapun.

Sumber: Salita Hotel
Sumber: Salita Hotel

*****

Ah, Phnom Penh, meski semrawut dan panas, saya bisa menikmati kotamu dengan penuh rasa syukur. Diantara wajah-wajah yang masih menyisakan sisa-sisa perang saudara dan kekejaman Khmer Merah, saya bertemu dengan orang jujur dan ramah. Orang-orang yang sedang bangkit dari keterpurukan negerinya melayani kami sebagai tamu di negerinya dengan sangat baik.

Malam ini saya juga menemukan apa yang saya sebut dengan “rumah”. Bisa mandi dengan air yang tercurah penuh suka cita dan tidur di atas kasur yang bersih dan kamar yang nyaman setelah berhari-hari berada di jalan tanpa mandi, tidur di bandara dan sleeper bus.

Dengan cara seperti ini saya menemukan nikmat, apapun bentuknya, besar atau kecil, nikmat adalah karunia yang memang harus disyukuri.

Maka nikmat Tuhan yang mana yang hendak engkau dustakan?

Sumber: Salita Hotel
Sumber: Salita Hotel

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

2 comments

  1. Jadi untuk muter2 Phnom Penh-nya aja kira2 butuh berapa hari ya mb? 😀
    Chocky Sihombing recently posted…Kalender dan Libur Nasional 2017My Profile

  2. Seneng banget baca tulisan Mbak, baru pertama kali berkunjung. Kata-katanya mengalir dan terasa jujur, dan memang pengen ke Kamboja suatu saat nanti. Saya terharu baca baris si Bapak supir Tuk Tuk yang jujur itu. Semoga beliau lancar dan banyak rezekinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge