Thursday, September 21, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jawa » Jawa Barat » Semalam di Jalan Braga
P2080234

Semalam di Jalan Braga

Nelangsa

IMG_20140208_155734 Gerimis masih betah mengguyur kota Bandung hari itu, Sabtu, 8 Februari 2014. Kereta Argo Parahyangan rute Jakarta-Bandung yang aku tumpangi perlahan mengurangi kecepatannya dan masuk ke dalam perut Stasiun Hall Bandung. Kereta berhenti tepat di bawah atap yang tinggi di sebuah peron luas bergaya Art Deco peninggalan masa kolonial. Jajaran rel kereta, bangku tunggu penumpang, bunyi peluit dan kereta yang langsir seolah menyambut langkah pertamaku di kota yang dijuluki sebagai Kota Kembang ini. Tak terhitung berapa kali aku datang ke Bandung dan tak terhitung pula berapa kali berpergian dengan menggunakan kereta. Banyak teman, banyak cerita dan banyak peristiwa dari perjalanan tersebut. Aku ingat, terakhir kali naik kereta ke Bandung adalah untuk menghadiri wisuda magister Netty –sahabatku- di ITB hampir lima belas tahun lalu. Selebihnya, aku hampir selalu menggunakan mobil pribadi, terlebih setelah jalan Tol Cipularang selesai dibangun sehingga waktu tempuh menuju Bandung dari Jakarta hanya dua jam saja.

Aku begitu mencintai hujan, tak terhitung banyak cerita dan puisi yang lahir karena hujan. Tapi sore ini, semua yang aku suka seolah sepakat mengaduk-aduk rasa dan untuk pertama kalinya mereka berkolaborasi begitu apik. Bandung, hujan gerimis, dan stasiun kereta, tiga hal yang menyatu menghasilkan atmosfer yang berbeda. Ada rasa yang tak dapat didefinisikan, entah romantis atau sentimentil, atau gabungan keduanya. Entahlah. Yang aku tahu hanyalah bahwa Bandung kali ini berbeda. Seorang teman baik yang biasanya menjadi orang pertama yang aku kabari setiap ke Bandung kini sudah tiada. Rasa kehilangan tetiba menyeruak di ujung mata, membuncah dari dalam benak. Kuseret langkah menuju sebuah mushola kecil di pojok stasiun. Kutunaikan sholat wajibku dan menutup dengan doa khusus buatmu yang berpulang dua bulan yang lalu. Semoga kamu bahagia disana ya.

Kereta Nan Romantis

IMG_20140208_141540 Aku memilih kereta ke Bandung bukan tanpa alasan. Kemanapun aku pergi, selama waktu memungkinkan, pasti aku memilih menggunakan kereta. Buatku tak ada yang perjalanan yang lebih romantis dibanding dengan perjalanan yang menggunakan kereta api sebagai moda transportasi. Terlebih lagi bila aku berpergian sendiri, pikiranku bebas terbang memikirkan apa saja tanpa interupsi.

Perjalanan menggunakan kereta adalah perjalanan filosofis. Lihatlah bangku-bangku dalam peron bergaya tempo dulu, mereka seolah bicara soal harapan dan kerinduan bagi mereka yang akan pergi maupun yang akan datang. Bangku peron adalah refleksi penantian dan kesabaran. Sementara itu, rangkaian panjang kereta seolah membawa banyak cerita dalam setiap gerbongnya, ratusan manusia, ratusan cerita yang dibagi di setiap stasiun yang disinggahi. Peluit kereta selalu menjadi sebuah penanda pulang, bahwa sejauh apapun langkah, kelak rumah juga yang kau rindukan. Derit roda dan rel baja yang bergesekan serta alunan piston sepanjang perjalanan menjelma bagai harmoni rasa. Lalu sempurnalah sebuah perjalanan dengan pemandangan subur tanah negeri dari balik jendela kabin yang modern dan nyaman. Sawah serupa permadani luas, bukit dan gunung bagai tonggak alam, termasuk pepohonan bahkan hewan ternak dan kehidupan manusia khas bantaran rel kereta. Coba katakan padaku, adakah yang lebih romantis dari ini?

Chez Bon Hostel dan Braga Culinary Night

P2090258 Perjalanan ke Bandung kali ini sesungguhnya bukanlah perjalanan wisata. Besok tanggal 9 Februari 2014 aku akan menghadiri briefing untuk mempersiapkan Kelas Inspirasi yang akan dilaksanakan 19 Februari 2014 mendatang. Tapi buatku selalu ada nilai tambah dalam setiap perjalanan, apapun jenis perjalanannya. Jalan Braga adalah tempat yang harus aku tuju sesampai di Bandung. Menurut informasi dari petugas hostel, seharusnya aku bisa berjalan kaki dari stasiun menuju Jalan Braga tempat dimana Chez Bon Hostel berada. Rute ini terhitung dekat apabila aku keluar dari pintu Peron Selatan stasiun. Stasiun yang diresmikan tahun 1884 ini, dahulu merupakan dua buah stasiun yang kemudian disatukan, namun tetap memiliki dua bagian, yaitu Peron Selatan yang berhadapan dengan Jalan Stasiun Timur 1 dan Peron Utara yang akhirnya dijadikan bagian depan stasiun di Jalan Kebon Kawung. Karena aku keluar dari Peron Utara maka jarak tempuh menjadi lebih jauh dan sayangnya baru aku ketahui setelah jauh berjalan keluar stasiun. Hujan gerimis yang tak kunjung henti membuatku berpikir untuk mempercepat perjalanan. Jalanan di sekitar stasiun yang macet dan satu arah membuatku memilih ojek yang bisa melewati jalan-jalan kecil. Benar saja, dengan membayar lima belas ribu rupiah dan melewati jalan-jalan kecil maka sepuluh menit kemudian aku sudah tiba di ujung Jalan Kejaksaan, persis di depan Chez Bon hostel berada.

Jalan Braga sekitar pukul empat sore sudah ditutup bagi kendaraan bermotor untuk persiapan Braga Culinary Night (BCN) yang diadakan setiap dua minggu sekali. Ah betapa beruntungnya aku berada di tempat ini saat kegiatan BCN berlangsung. Hostel Chez Bon (baca: Se Bong) berada di lantai dua kedai minum Kopi Oey. Keduanya milik Pak Bondan Winarno, pakar kuliner yang terkenal dengan jargon “mak nyus” itu. Melalui pintu samping Kopi Oey, aku menaiki tangga ke lantai dua tempat meja resepsionis berada. Hostel yang bergaya dormitory ini memasang tarif 120.000 rupiah nett per malam per orang. Harga yang sangat layak untuk tempat yang nyaman, aman, bersih, dan terletak tepat di kawasan heritage. Dari tempat ini kita tinggal berjalan kaki menelusuri jalan Asia Afrika yang terkenal itu sambil menikmati gedung-gedung tua bergaya kolonial. 

P2090263

Meski harus berbagi kamar dengan tamu yang lain, suasana hostel dan di dalam kamar sangat tenang, bahkan cenderung “loe-gue banget”. Sangat jauh dari kesan berisik dan kumuh seperti yang sering digambarkan untuk hostel-hostel kelas backpacker. Tamu-tamu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat saya masuk, sudah ada enam tamu lain dalam ruangan berkapasitas enam belas orang ini, semuanya asik dengan gadget masing-masing.

Selain kamar berukuran besar seperti yang saya tempati, ada dua jenis kamar lain yang lebih kecil kapasitas dua dan empat orang. Kamar berukuran kecil tak memiliki kamar mandi dan toilet di dalam,tak seperti kamar yang saya tempati. Namun fasilitas lainnya di setiap jenis kamar sama, terdiri dari ranjang bertingkat, kasur springbed, pendingin udara dalam kamar, loker, lampu baca, colokan listrik, bantal dan selimut di setiap tempat tidur. Lantai 3 hostel ini digunakan untuk dorm lelaki sedangkan lantai paling atas atau rooftop di lantai empat adalah area service dan pantry. Sarapan tersedia sejak pukul 7 pagi dan harus kita siapkan sendiri. Tersedia teh atau kopi panas, roti dan telur yang bisa disantap di sebuah meja besar sambil menikmati Jalan Braga dari ketinggian. 

IMG_20140209_175027

Pukul tujuh malam, musik jalanan sudah terdengar dari dalam kamar, pertanda keramaian Braga Culinary Night (BCN) sudah dimulai. Aku berganti pakaian dan turun keluar. Amboiiiiii, dari pintu yang terbuka aku sudah disambut pemandangan manusia yang luar biasa ramainya, persis seperti pasar malam. Tak menyangka akan ramai seperti ini, sehingga berjalan pun harus beringsut, bergiliran dengan ratusan orang lainnya menyusuri jalan. Pria wanita, anak-anak, muda mudi sampai orang tua, tumpah ruah disini. Hampir segala jenis makanan dan minuman ada, dari makanan ringan sampai berat, dari makanan tradisional sampai internasional, dari yang dingin sampai yang panas. Luar biasa. Aku yang berjalan sendirian, mencoba menikmati keramaian perlahan, melihat satu persatu makanan yang dijajakan. Sayang kapasitas perutku terbatas dan aku tidak dalam keadaan lapar. Jadi semua makanan itu kunikmati saja lewat mata. Paling banyak yang kulihat adalah makanan yang praktis dan siap saji. Sate sosis terlihat laku keras di kalangan anak-anak, somay panjang dan pempek juga antrian pembelinya cukup panjang. Aku sebenarnya ingin mencicpi Carbonara yang direkomendasikan oleh seorang teman, namun urung karena penjualnya terlihat kewalahan melayani pembeli.

Satu hal yang disayangkan di tempat ini yaitu hanya sedikit sekali tempat untuk duduk dan menyantap makanan. Pembeli rata-rata menyantap makanan sambil berdiri atau sambil berjalan. Kalaupun ada yang duduk di pinggiran toko yang sudah tutup, pasti rasanya tidak nyaman karena pejalan kaki lain lalu lalang dihadapan kita. Aku yang awalnya berniat mengambil gambar dan meliput acara cukup mengalami kesulitan sehingga kuputuskan untuk menikmati saja salah satu makanan yang aromanya saat di penggorengan menggoda perutku. Lumpia Basah ala Bandung. Hmmm….yummmi.

P2080237

Tak banyak yang aku lakukan setelah itu, hanya berbincang dengan petugas hostel, menonton televisi sejenak lalu beristirahat karena kantuk sudah memberi tanda agar aku segera tidur. Jalan Braga masih ramai, musik masih keras terdengar buat mereka yang masih ingin menikmati akhir pekan. Kutarik selimut dan tertidur…

selamat malam semua.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20161208092228

Pulau Bidadari, Antara Masa Lalu dan Kekinian #EnjoyKepulauanSeribu

Aroma laut, pasir putih, pantai landai, gelombang dan anak-anak pulau selalu menghadirkan rindu setiap berkelebat ...

16 comments

  1. kamuuh selalu saja mendahalui akuuhh.. haha.. mulai dari Bromo dan Braga, daftar impianku yg blm kesampean. oke!

    • donna imelda

      Ah, khan kamuh yang ngajarin. More than travelling. Sekali Kelas Inspirasi, dua tiga destinasi terlampaui xixixi. tgl 18-20 yuuuk nge-Bandung lagi

  2. aarrkkkkk perjalanan yang inah mbk,saya pinginnn banget ke bandung,,,,penasaran bangettt >_<

  3. Aku malah belum sempat ke Braga Culinary Night, penasaran juga dengar cerita teman2.

  4. Ah cakep banget braga di payungin warna-warni cuman yg ngak tahan itu tangan2 vandalisme yg coret2 tembok di braga. Mari kita lestarikan bersama warisan ini tanpa perlu di kotori tangan jahil 🙁

  5. Aaahhhh kirain gak jadi mak ke bandung,, tau gt kita kopdaran sebentar kmrn,,,

  6. woww, nyummy banget, mak. belum pernah nyobain ikut BCN hiks

  7. mbak tau nggak sih, terakhir aku ke Bandung tuh jaman SMP lho..jadul pisan yahh…
    selalu pengen kembali kesana…hopefully someday 😉

  8. Berapa kali hanya melewatinya saja kenapa ga foto-foto dan cerita-cerita ya. Jadinya seru..
    Seperti cerita-cerita mba yang selalu menginspirasi. Saya sering main kesini ulasannya sangat bermanfaat mba 🙂

    Salam dari blog yg masih sederhana sugihfenny.blogspot.com ^_^
    Fenny recently posted…Daftar Langsung Dapat UangMy Profile

  9. BCN ini kayaknya perlu disamperin nih. Penasaran…
    Alris recently posted…Kue-Kue Yang Bikin Sakau !!!My Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge