Sunday, December 17, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jawa » Skenario Tuhan Menuju Bromo
4

Skenario Tuhan Menuju Bromo

Mayangan, Probolinggo…. 12 November 2013

Tuhan…Engkau Maha Tahu keinginanku, Maha Sempurna Engkau dengan segala rencana-rencanaMu, bila kau berkenan pasti Kau turunkan keajaiban buatku.

Aku menatap risau langit Probolinggo, meski tak terlalu gelap tapi hujan tak kunjung berhenti. Sesekali mereda seolah memberi harapan, tapi toh ternyata rinai hujan masih betah membasahi tanah di Kota yang terkenal dengan sebutan kota Mangga ini. Jarum di jam tanganku terus bergerak, waktu pun terus berjalan menjelang sore hari sehingga membuat aku gelisah, masih bisakah aku tetap berangkat dengan kondisi hujan seperti in dan menjumpai matahari yang terbit esok hari di Bromo?

Begitulah sekelumit resah yang tergambarkan pada hari itu. Sudah berjam-jam aku menanti hujan reda. Tentu saja tak ingin kuingkari nikmat Tuhan yang menurunkan hujan di kota ini setelah berhari-hari panas mendera wajah kota. Bagiku hujan selalu merupakan anugerah, tak pantas rasanya menyalahkan hujan. Bahkan pada saat hujanlah aku memperbanyak doa, karena salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah saat hujan turun. Begitu pun siang menjelang sore kala itu, aku mulai berhitung sisa waktu untuk bisa menjejakkan kaki di Gunung Bromo sebelum kembali ke Jakarta, memang tak banyak, hanya tinggal hari ini dan besok. Tiket pulang sudah di tangan, besok siang pukul dua belas aku sudah harus berada di Stasiun Probolinggo menuju Surabaya dan melanjutkan perjalanan kembali ke kotaku.

Sejak kemarin, setelah usai pelaksanaan Kelas Inspirasi aku sudah merencanakan melanjutkan perjalanan ke Bromo. Sayang rasanya sudah sampai di Probolinggo tapi tak sampai melihat keindahan tempat itu. Bersama Astri yang setia menemani dan mengantarku selama di Probolinggo kami membuat beberapa alternatif untuk menuju kesana. Ada Plan A, Plan B, Plan C dan seterusnya. Banyaknya alternatif yang kami buat yang pada prinsipnya adalah karena kami ingin bisa beramai-ramai berangkat tanpa harus menginap di Cemoro Lawang, desa terdekat di kaki Gunung Bromo. Tapi akhirnya rencana terakhir yang sudah matang adalah kami hanya berangkat berdua, karena beberapa teman berhalangan. Kebetulan kepala sekolah tempat kami mengajar di Wonokerto sudah menyediakan tempat untuk kami menginap di rumahnya sekaligus menyiapkan jip yang akan membawa kami ke Bromo dini hari untuk melihat matahari terbit. Waktu tempuh yang hanya setengah jam dari Probolinggo akan kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor sore ini. Begitu seyogyanya yang akan kami lakukan sore ini, namun rencana tinggal rencana, hujan turun sejak siang sampai menjelang sore dan belum ada tanda-tanda untuk berhenti.

Semua plan kami reset, rencana untuk menginap di Wonokerto batal sudah. Aku tetap berpegang teguh untuk tidak mengingkari hujan sebagai rahmatNya, dan aku percaya bahwa di balik semua rencana manusia ada rencana yang paling baik dan sempurna yaitu rencanaNya. Meski tak mampu kusimpan rasa inginku yang masih menggebu untuk bisa tetap berangkat ke Bromo, aku tetap menenangkan hatiku, bila Tuhan memang mengijinkan pasti Dia akan bukakan jalan. Sesore ini Bison, sebutan untuk kendaraan sejenis Elf yang biasa di pakai untuk membawa penumpang dari Probolinggo ke Cemoro Lawang sudah di luar jam public service ditambah kondisi di hari kerja seperti sekarang yang sangat sepi penumpang dan hujan, bisa dipastikan mereka tak mau mengangkut kami berdua dengan tarif normal. Kami mencoba mendatangi Tourisme Centre Probolinggo untuk mencari informasi, hasilnya disarankan untuk menyewa mobil. Kedua alternatif tadi akan membuat budget membengkak, aku memutuskan untuk tidak memilih satu pun kedua alternatif ini. Tinggal satu alternatif terakhir, menginap di rumah Astri di Probolinggo, tetap berangkat besok hari pagi-pagi sekali ke Bromo dan hanya punya waktu beberapa jam saja untuk melihat-lihat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Aku pasrah, lupakan keindahan matahari terbit , yang penting aku tetap bisa kesana. Namun dalam kepasrahan itu aku berkata dalam doa, Tuhan…Engkau Maha Tahu keinginanku, Maha Sempurna Engkau dengan segala rencana-rencanaMu, bila kau berkenan pasti Kau turunkan keajaiban buatku. Sungguh dalam doaku itu, keajaiban yang aku minta hanyalah Tuhan menghentikan hujan sebelum jam lima sore agar kami bisa bersepeda motor ke Wonokerto. Tak kubayangkan ternyata Tuhan memberikan dalam bentuk lain, sesuatu yang di luar dugaan.

Kunikmati donat kentang hangat yang disuguhi Astri di teras rumahnya, nikmat berpadu dengan teh panas. Hilang sudah resahku tentang Bromo, sambil berandai-andai bila keajaiban itu datang. Tiba-tiba aku teringat nomer kontak seseorang yang memiliki penginapan di Cemoro Lawang dari seorang teman yang kusimpan sejak dari Jakarta. Tanpa beban aku hubungi saja nomer itu, siapa tahu dia bisa membantu. Begini kurang lebih isi percakapannya:

“ mbak… saya pengen ke Bromo dan lihat sunrise besok pagi, bisa kasih info bagaimana caranya?” tanyaku.

“lha, mbak’e posisinya sekarang dimana?” jawabnya.

“masih di Probolinggo, mbak. Disini hujan, jadi gak bisa berangkat naik sepeda motor”.

“oh, saya juga lagi di Probolinggo ini, lagi berhenti mau makan dulu”

“mbak nya mau kemana?”

“saya mau pulang ke Cemoro Lawang, Mbak”

“lha saya khan juga mau ke Cemoro Lawang”

“kalo gitu, bareng saya aja mbak. Saya bawa mobil Innova, masih muat kalo untuk dua orang”

Jeng…jeng…. ajaib banget gak sih. Skenario Tuhan memang paling sempurna. Kondisi seperti ini sungguh tak ada dalam rencana kami. Terbayangkan pun tidak, bahwa kami akan terhubung dengan seseorang yang tidak kami kenal yang kebetulan ada di kota yang sama dengan tujuan yang sama. Dengan biaya yang sangat murah, yaitu seratus ribu berdua dibanding menyewa mobil dengan tarif empat ratus ribu, kami duduk nyaman di dalam mobil menuju Cemoro Lawang dan sampai dengan selamat langsung di penginapan. Bukan itu saja, kami pun tak repot mencari penginapan karena orang yang membawa kami tersebut juga anak seorang pemilik penginapan, beliau itu juga yang kemudian membantu kami mencarikan jip untuk melihat mentari yang terbit esok pagi dengan cara sharing cost bersama pejalan lain. Untuk hal ini kami hanya membayar seratus ribu per orang, sangat murah dibanding menyewa jip dengan tarif sekitar empat ratus lima puluh ribu rupiah untuk digunakan berdua saja.

Tak putus-putusnya aku dan Astri mengulang-ulang kata-kata, ajaib banget ya….ajaib banget. Like a miracle, gak nyangka begini kejadiannya.

Benar apa yang sering dikatakan orang-orang, bahwa apa sih yang sulit bagi Tuhan, kalo Dia berkehendak, pasti Dia yang berikan jalan keluar pula. Masalahnya adalah, apakah kita manusia, masih bisa tetap yakin percaya saat rencana tak berjalan sebagaimana yang kita inginkan dan tetap tawakal saat pertolongan Allah seolah tak kunjung tiba.

Maha sempurna Allah dengan Segala Rencana-RencanaNya….

Nyampe juga di bromo

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

2 comments

  1. Fantastic submit. I’m checking out regularly this website using this program . satisfied! Very useful data exclusively the remainder point 🙂 I care for such information a great deal. I was seeking this kind of selected details for your quite a while.. Bromo Tour Travel Package Thank you in addition to all the best ..

  1. Pingback: terrance

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge