Monday, December 11, 2017
Home » Traveling » Around The Globe » Slow Traveller, apa menariknya?
slow traveler

Slow Traveller, apa menariknya?

Slow Traveller, apa menariknya? – Sejujurnya istilah Slow Traveler ini baru gue denger kemarin melalui tulisan “Dari Redaksi” majalah Femina yang ditulis Petty S. Fatimah. Entah karena kuper atau karena memang belum masuk ke dalam perbendaharaan kata di hidup gue., istilah ini menjadi sesuatu yang baru dan menarik bahkan menginspirasi untuk menulis pagi ini.

Dalam tulisannya Petty mengatakan bahwa istilah Slow Traveler ini sempat populer beberapa tahun lalu, sekarang kurang terdengar lagi. Padahal cara inilah yang dilakukan oleh para pengelana sejati saat menjelajah. Slow traveler melakukan perjalanan dengan santai, tidak terburu-buru, mereka memaksimalkan seluruh pancaindra mereka untuk menyerap keindahan suatu tempat, mereka berinteraksi dengan penduduk setempat, bahkan sejenak menjadi warga lokal. Kebayang deh nikmatnya jadi slow traveler, dan ngerasa klik aja dengan cara itu, seperti yang mulai gue terapkan dibeberapa trip yang gue lakukan akhir-akhir ini sepanjang tahun 2012. Gak ngoyo dengan banyak tempat yang harus didatangi dalam 4-5 hari perjalanan disuatu tempat, hingga hanya membawa pulang setumpuk photo diri, sekedar menjadi bukti gue pernah ke suatu tempat.

Kebiasaan gue kalo traveling emang suka rada-rada lebay. Sebelum berangkat, gue biasanya emang serius banget “browsing to the max” tempat2 yang pengen gue datangin disuatu daerah atau negara selengkap mungkin. Gue bukan backpacker, mungkin juga bukan traveler sejati, bahkan jangan2 gaya gue jalan-jalan bisa masuk ke katagori turis kali ya, alias turis low budget. Jadi penting buat gue memegang prinsip traveling itu harus bisa dinikmati dengan biaya yang sebanding dengan kenikmatan yang pengen gue peroleh. Contoh, soal tempat menginap, gue gak bisa tidur di hostel atau dorm dengan kamar mandi diluar dan campur dengan orang dari jenis kelamin yang beda. Tapi gue juga gak perlu nginep di hotel bintang 5 yang meskipun fasilitasnya mewah dan lengkap, toh gak bisa gue nikmati karena gue lebih banyak diluar. Tapi gue juga perlu tempat tidur yang bersih dan nyaman dihotel supaya bisa tidur berkualitas. Ah pokoknya pinter2 nya gue deh tau standar yg gue mau dan yang kita sedang bicara ini adalah tentang perjalanan yang direncanakan, bukan yang go show atau perjalanan dinas.

Kembali ke soal “browsing to the max” tadi, gue bakal dapat informasi banyak dari aktivitas itu, dari nama tempat yang bakal gue singgahi, rute dan transport menuju kesana, biaya yang harus gue keluarin, hal-hal yg menarik disana, sampai arti penting tempat tersebut sehingga banyak menjadi tujuan orang untuk datang dan dapatkan alasan kenapa juga harus gue datangi. Untuk rute dan transport misalnya rute MRT atau LRT atau peta, gue udah siapin dari Jakarta dalam bentuk print out, bahkan peta atau rute setiap satu destinasi ke destinasi lainnya . Hasil browsing tadi gue format dalam bentuk itinerary yang berkolom-kolom menggunakan Excell (kerajinan banget ya gue), dengan format standar terdiri dari kolom waktu (jam), tempat yang mau didatangi, rute menuju kesana dan biaya yang harus dikeluarkan. Nah untuk menikmati traveling yang berkualitas, menurut gue itinerary ini penting, dan yang paling penting adalah itinerary harus dibuat sefleksibel mungkin dengan alokasi waktu yang longgar, bahkan kalo perlu buat itinerary alternatif karena bisa saja kendala transportasi atau cuaca bahkan stamina membuat kita terpaksa membatalkan satu destinasi dan atau mengganti dengan destinasi lain, semacam plan A plan B begitu. Buat gue gak banget traveling, berkejar-kejaran dengan waktu untuk singgah dibanyak tempat, jeprat jepret di banyak landmark tapi gak tau apa-apa tentang tempat tersebut. Bahkan gue pengennya bisa dapetin sesuatu yang menarik yang sering orang lain tak temukan karena terburu-buru tadi. Rasanya ada kepuasaan aja saat orang bilang, “kok gue gak liat ya, ini dimananya ya” padahal mereka sudah sampai ditempat yang sama, tapi bedanya meraka tak sempat eksplorasi lebih jauh ditempat tersebut.

Slow traveler itu enak, kebayang gak nikmatnya berlama-lama disuatu tempat, apalagi kalo family trip, gue bisa berlama-lama dengan keluarga bukan hanya menikmati tempat yang kita singgahi tapi menikmati kebersamaan dengan atmosfer yang beda. Duduk ditepi kolam atau pantai, dikaki gunung atau hamparan sawah, ngobrol tentang banyak hal, ketawa sama-sama, ngayal setinggi langit bersama keluarga itu indah banget rasanya, dan moment itu masih berasa di jiwa bahkan meski perjalanan sudah bertahun berlalu.

Itulah kenapa gue gak suka ikut paket-paket wisata, selain dikejar2 waktu dan tempat, seolah gak mau rugi dengan biaya yang sudah kita bayarkan, juga harus banyak toleransi dengan peserta lainnya. Padahal dengan persiapan yang baik, kita bahkan bisa bikin paket wisata sendiri yang sesuai dengan selera kita, fleskibiltas waktu dan tentu saja dengan budget yang “worth it”, lebih puas rasanya. Bahkan kalau pun kami ikut tur, kami tetap memilh paket-paket yang waktunya fleksibel, misalnya menggunakan bis wisata Hop On Hop Off waktu family trip di Kuala Lumpur dan Singapore, kita bisa punya banyak pilihan untuk singgah dibanyak tempat dengan transportasi yang aman dan nyaman, namun juga tetap punya kebebasan untuk berlama-lama disetiap titik atau memilih titik-titik tertentu yang menarik. Sekali lagi prinsipnya adalah menjadiikan perjalanan itu berkualitas, bukan hanya kuantitas. Anak-anak pun bukan sekedar melihat suatu tempat bahkan bebas bermain dan mencipta kenangan yang berharga yang bisa mereka bawa pulang.

Gue inget waktu sendirian trip ke Bali, gue udah punya itinerary yang menurut gue lumayan padat sebenarnya, eh tapi ternyata guide gue bilang, dia heran ama gue karena biasanya turis domestik itu maunya ke banyak tempat bahkan dalam waktu kunjungan yang sempit sekalipun tanpa ingin tau apa yang ia kunjungi. Sempat tersinggung sedikit sih waktu ia bandingkan turis domestik dengan turis mancanegara soal hal ini. Sementara gue selama 4 hari bersama dia, sangat santai banget, gak ngoyo harus kesana sini, gue bisa tuh berlama-lama disuatu tempat, berlama-lama sarapan di Kintamani, menikmati angin yang menerpa wajah sambil memandang Gunung dan Danau Batur. Dilain hari gue selonjoran di pinggir Danau Beratan menikmati anak-anak yang mancing dan bermain perahu disekitar Pura Ulun Danu sambil ngobrol dengan Bli Komang, guide gue waktu di Bali, atau berjalan santai sambil menikmati cemilan nenek2 penjual klepon di Uluwatu, alhasil gue banyak sekali dapat cerita-cerita menarik seputar tempat yang gue singgahi dan mengambil photo-photo yang berkulitas yang seolah bisa berbicara ketika kita melihatnya kembali

Menutup tulisan ini, gue setuju banget dengan kalimat penutup “Dari Redaksi” Petty S. Fatimah yang dalam tulisannya mengatakan “banyaknya cap di paspor tidak menjamin kita benar-benar “pernah ada” disuatu tempat. Gue mengartikan hal ini bukan sekedar perjalanan keluar negeri, perjalanan domestik pun sama saja aturan mainnya…kemanapun kita pergi, kita harus benar-benar “pernah ada’ disitu.

Ah jadi inget….masih punya cita-cita pergi ku suatu tempat, jadi penduduk lokal disana dan menghasilkan sebuah buku….. aiiiihhhhh

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

3 comments

  1. nah! akhirnya ada yang membahas.
    untuk saya Slow Traveler membuat saya bisa menyesap lebih banyak detail perjalanan. Paling ndak suka jalan terburu-buru hanya untuk mencapai sesuatu.

    • donna imelda

      Tosss kita, mas…
      Ngejar banyak kota atau negara atau tempat cuma menghasilkan kata “gue sudah pernah ke sana”, tp gak ada kenikmatan di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge