Thursday, September 21, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Sumatra » Lampung » Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Hati-hati sekali saya menjejakkan kaki di tempat ini. Bonggol tanaman serupa Kubis yang masih kuncup menyembul dari dalam tanah di beberapa tempat. Warnanya yang gelap, serupa dengan warna tanah di sekitarnya membuat kita harus memperhatikan lebih cermat. Salah berpijak bisa-bisa menginjak tanaman langka ini. Bunga raksasa yang hanya mekar sekali dan harus menunggu selama sembilan bulan untuk mekar. Rafflesia Arnoldii.

Festival Teluk Semaka ke-7 masih menyisakan keriuhan meski puncaknya telah berlangsung tadi malam. Hari ini adalah hari ketiga dan merupakan hari terakhir rangkaian acara festival yang diisi dengan Tour D’ Semaka mengunjungi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Tawa canda masih saja mendominasi interaksi diantara kami, di Hari Minggu yang cerah, 2 November 2014.

Perjalanan dari Kota Agung menuju TNBBS ditempuh selama kurang lebih dua jam melalui jalan yang berkelok-kelok, mendaki dan menurun. Kondisi jalan relatif mulus dan hanya ada beberapa titik saja yang sedikit rusak karena sedang dalam fase pembangunan. Namun itu pun tak mengurangi kegembiraan kami, karena sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan khas perbukitan lengkap dengan lembah dan rerimbunan pepohonan.

PB021618

Satu hal yang membuat saya semangat adalah karena di tempat ini dapat dijumpai beberapa kekayaan berupa kenaekaragaman hayati dan spesies langka yang bukan hanya tak pernah saya temui di tempat tinggal saya di Jakarta, tapi juga di dunia. Tak heran bila organisasi dunia Unesco menjadikan tempat ini sebagai Cluster Mountainous Tropical Rainforest Heritage Site of Sumatra atau Situs Warisan Gugusan Pegunungan Hutan Hujan Tropis Sumatra.

Dari sumber Wikipedia, TNBBS terletak di ujung wilayah Barat Daya Sumatra. TNBBS yang memiliki luas area 356.800 hektar ini secara administratif terletak di antara Provinsi Lampung dan Provinsi Bengkulu. Namun 70% wilayahnya berada di Provinsi Lampung Barat dan Kabupaten Tanggamus. Bagi dunia, TNBBS adalah rumah dan wilayah konservasi penting bagi tiga satwa langka yaitu Badak, Gajah, dan Harimau yang populasinya di dunia semakin sedikit dan beberapa spesies tanaman langka seperti Rafflesia arnoldii dan Bunga Bangkai Jangkung, Amorphophallus decus-silvae

Tentu saja dalam kunjungan yang harus mendapat ijin sebelumnya oleh Pengelola TNBBS ini, kami tidak bertemu dengan Badak, Gajah atau Harimau. Dipandu oleh Bapak Sutrisno, kami hanya diperkenankan mengunjungi lokasi Plot Sample Permanen Bunga Rafflesia arnoldii di Rhino Camp dan masuk tak jauh ke dalam area hutan taman nasional untuk mengenal beberapa vegetasi di sana. Bagi teman-teman yang ingin berkunjung ke TNBBS silahkan mendapatkan informasi lebih lanjut prosedur kunjungan dengan mengunjungi portal resmi pengelola TNBBS di www.tnbbs.org

PB021661

Rafflesia arnoldii, si cantik bertubuh besar.
Tetap memesona, itu kesan yang pertama saya tangkap saat melihat bunga dengan lima mahkota besar di tanaman tanpa akar, batang dan daun tersebut. Kondisinya sudah menjelang layu karena telah mekar lebih dari tujuh hari yang lalu. Bunga yang di disebut juga dengan Bunga Padma raksasa ini memang mekar sempurna hanya dalam kurun waktu yang singkat. Hanya sekitar lima sampai tujuh hari saja. Padahal untuk bisa mekar sempurna hingga mencapai diameter satu meter tersebut, Rafflesia arnoldii butuh waktu hingga sembilan bulan lamanya.

Tanaman ini ditemukan pertama kali pada tahun 1818 dalam sebuah ekspedisi di daerah Hutan Tropis Manna, Provinsi Bengkulu. Namanya pun merupakan gabungan dua orang yang melakukan ekspedisi tersebut yaitu Dr. Josep Arnold dan Thomas Stamford Raffles sebagai pimpinan ekspedisi. Meski sudah begitu lama ditemukan, sampai saat ini bunga Rafflesia arnoldii belum mampu dikembangbiakkan secara eks-situ atau di luar habitat aslinya.

Tak banyak tempat di Indonesia untuk bisa menjumpai tanaman parasit ini di luar TNBBS. Selain di beberapa tempat di Pulau Jawa, Rafflesia arnoldii lebih banyak dijumpai di Pulau Sumatra terutama di daerah Bengkulu tempat dimana tumbuhan ini pertama kali ditemukan. Tempat tersebut diantaranya adalah Taman Nasional Kerinci Seblat, Pusat Pelatihan Gajah Seblat, dan daerah Padang Guci yang semuanya berada di Provinsi Bengkulu. Namun diantara semua tempat tersebut, TNBBS-lah yang dijadikan sebagai Pusat Konservasi Rafflesia arnoldii.

PB021684

Kondisi bunga yang tidak memiliki daun menyebabkan bunga ini tidak mampu melakukan proses fotosintesis. Hal inilah yang menyebabkan bunga ini termasuk dalam golongan Parasit Obligat atau Parasit Sejati karena tak mampu menghasilkan bahan makanan untuk dirinya sendiri dan bergantung sepenuhnya pada tanaman inang untuk memperoleh nutrisi. Berbeda dengan tanaman Parasit Fakultatif yang masih memiliki daun dan melakukan fotosintesis.

Tanaman merambat Liana yang seringkali menjadi tanaman inang buat Rafflesia arnoldii. Bonggol-bonggol bunga yang masih kuncup pasti ditemukan tak jauh dari tanaman Liana. Bahkan berdasarkan cerita Bapak Sukirno dan fakta di lapangan, terlihat bahwa penyebaran Rafflesia arnoldii sejalan dengan penyebaran akar atau arah merambatnya tanaman Liana.

PB021678

Banyak orang yang menyebut bunga ini dengan sebutan yang salah yaitu bunga bangkai. Baunya memang tidak enak, menyerupai bau busuk. Mungkin itu yang menyebabkan orang salah kaprah dengan bunga bangkai. Bau tak enak pada dasar bunga yang membentuk cekungan berduri berfungsi mengundang serangga untuk membantu proses penyerbukan.

Bisa dipahami mengapa bunga ini termasuk bunga yang langka. Selain hanya tumbuh di habitat tertentu, setiap bunga hanya memiliki serbuk sari saja atau putik saja, tergantung pada jenis kelamin bunga yang mekar. Periode mekar yang sangat singkat dan belum tentu bunga jantan dan bunga betina dapat mekar bersamaan dalam periode yang sama, menyebabkan perkembangbiakan bunga ini sangat lambat.

Kantong Semar, Keelokan yang memerangkap
Keluar dari lokasi Rhino Camp tempat plot sampling Rafflesia arnoldii, saya dan teman-teman bergerak menuju lokasi lain. Melalui celah di pinggir jalan raya, kami menerobos masuk ke dalam hutan. Aroma lembab dan tanah basah menyergap indra penciuman saya. Harus ekstra hati-hati melangkah bila tak ingin terpeleset atau terperosok juga agar tak menginjak-injak beberapa vegetasi tanaman seperi jamur cantik berwarna merah.

Tak perlu terlalu jauh masuk ke dalam hutan untuk menjumpai satu tanaman langka yang menjadi tujuan kami, yaitu Kantung Semar atau Naphentes. Sekilas saya melihat daunnya mirip Daun Anggrek, hijau memanjang dengan batang tanaman yang tumbuh lebat memanjat dan menjalar. Di banyak sisi di sekitar daun, saya melihat banyak kantung-kantung tanaman berwarna hijau. Ada yang masih muda berukuran kecil dan ada yang tua berukuran lebih besar, Ada kantung yang masih tertutup, ada pula kantung yang sudah terbuka.

PB021760

Kantung-kantung ini bukanlah buah atau bunga dari Tanaman Naphentes melainkan ujung daun berupa sulur yang mengalami perubahan bentuk menjadi kantung. Di dalam kantung berisi cairan yang mengandung enzim pemecah protein yang berfungsi menghancurkan serangga yang terperangkap ke dalam kantung karena tertarik dengan warna yang cerah dan aroma yang dihasilkan Kelenjar Nektar di bibir kantung. Nah, serangga yang telah tergelincir masuk ke dalam kantung ini susah untuk melarikan diri karena terhalang oleh bulu-bulu di dalam kantung yang menghadap ke bawah.

Cara kerja kantong dari tanaman karnivora yang bentuknya seksi ini mirip dengan kerja lambung manusia. Cairan yang bersifat asam akan menghancurkan serangga, lalu enzim pengurai akan memecahkan protein dari serangga tadi menjadi unsur-unsur yang lebih sederhana seperti kalium, fosfor dan garam-garam mineral yang kemudian akan diserap dan berfungsi sebagai bahan makanan atau nutrisi bagi tanaman.

Akar Merah, Sang Pelepas Dahaga
Nah, yang terakhir ini yang seru. Pak Sutrisno yang memandu kami menunjukkan bagian dari sebuah batang pohon, mirip seperti akar gantung. Beliau menyebutnya Akar Merah. Tanaman ini biasa digunakan oleh para pejalan yang masuk hutan sebagai sumber air minum. Caranya sangat sederhana, hanya memotong Akar Merah tersebut di dua bagian. Artinya batang tersebut harus terlepas dari pohonnya. Nah dari ujung potongan Akar Merah tersebut akan mengucur air bening yang dapat diminum langsung.

Saya sempat mencoba meminum kucuran air dari Akar Merah tersebut, rasanya segar dan sejuk. Dari potongan sepanjang sekitar setengah meter itu, bisa diperoleh air sekitar satu botol air mineral berukuran sedang. Selain itu, air dari Akar Merah ini juga bisa digunakan sebagai obat Tukak Lambung atau panas dalam. Wah, alam memang memberi segalanya ya. Tinggal kita manusia yang harus berpikir bagaimana cara yang bijak memanfaatkannya sekaligus tetap merawat dan menjaganya.

10429275_10152631788739263_2584549510987038731_n
Photo by Evi Indrawanto

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

_DSC9098e

EAT TRAVEL WRITE 5 – Rekomendasi Tempat Wisata dan Kuliner di Klang Selangor

Selangor State Economic Planning Unit (UPEN Selangor) berkolaborasi dengan Ministry of Tourism and Culture Malaysia, ...

11 comments

  1. Terima kasih Mbak Donna, saya ikut menikmati kemewahan Raflesia [beneran mirip kol ungu kehitaman], Nephentes maupun akar merah di TNBBS. Salam
    prih recently posted…Coretan dari Kayugiyang di Pinggang Gunung SindoroMy Profile

  2. Serasa baru kemarin ya Mbak Don…Kalau ada kesempatan aku mau lah datang lagi ke TNBBS 🙂
    Evi recently posted…Wisata Loksado nan EksotisMy Profile

  3. pengen juga bisa jalan2 dan menikmati indahnya bunga raflesia yang asli di TNBBS… cuman satu yang mengganjal jadi pikiran saya itu yang mandu kok namanya hampir mirip ama saya ya beda n aja.. hehehe..
    sutrimo recently posted…Liburan Di Negri Atas AnginMy Profile

  4. Wuah, kondisi alamnya bikin penasaran, pengen menginjakkan kaki di sana, dan dipungkasi meneguk akar merah. *Ngelak*

    Maaf ya mbak baru ninggalin jejak 😀
    Rifqy Faiza Rahman recently posted…Doa di Hari Ulang TahunnyaMy Profile

  5. Keren mbak, perjalannya sangat luar biasa sekali.

  6. Perjalanan yang seru! Terima kasih sudah berbagi 🙂

    Josefine Yaputri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge