Wednesday, October 18, 2017
Home » Traveling » Wonderful Indonesia » Jakarta » Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Antara Jalan-Jalan dan Napak Tilas.
PA150067

Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Antara Jalan-Jalan dan Napak Tilas.

PA150021Sebenarnya sudah lama aku penasaran dengan tempat ini dan mencari-cari alasan untuk bisa berkunjung, namun kesibukan dan alternatif tempat lain yang menurutku lebih menarik selalu berhasil mengurungkan langkahku ke tempat yang memiliki nama resmi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ini. Di benakku yang terbayang hanyalah rerimbunan hutan Pinus, beberapa air terjun dan udara dingin, hal-hal yang menurutku tak terlalu istimewa dan bisa ditemui di banyak tempat. Alasan lain yang paling sering muncul untuk menunda kedatangan adalah karena letaknya yang bertetangga dengan Jakarta sehingga aku berpikir bahwa kapan saja aku bisa kesini tanpa harus menyiapkan waktu khusus. Namun kemarin mungkin adalah waktu yang sudah ditentukan oleh Nya untuk kesana.

Kondisi rumah yang sedang renovasi kecil membuat mata sepet dengan debu, semen dan pasir yang memenuhi setiap sudut ruang lantai bawah. Sudah dua minggu apabila di rumah aku hanya mendekam didalam kamar yang terletak di lantai atas, tak bisa berbuat banyak didalam kamar yang sudah penuh dengan tempat tidur, rak buku, televisi dan meja tulis. Sudah terbayang bahwa Hari Raya Idul Adha akan berlalu tanpa kesan bila begini caranya. Setelah sholat Ied hal itu terbukti, anak-anak main bersama teman-teman di lapangan sambil melihat panitia kurban memotong-motong hewan kurban. Suami duduk di depan televisi dengan ekspresi bosan, begitu pun aku. Melihat hal itu, aku berpikir bisa mati gaya bila begini caranya, maka spontan saja aku mengajak beliau “minggat” menjauh dari Jakarta.

Roda our Red Beauty pun akhirnya melesat meluncur di Tol Jagorawi dari Gerbang Cibubur menuju Bogor. Sungguh ternyata ini perjalanan panjang, keluar dari Tol Jagorawi kami masih harus terus menjauh keluar Kota Bogor ke arah Leuwi Liang. Beruntung suasana hati kami berempat sedang baik hingga perjalanan terasa menyenangkan. Diantara obrolan antara ayah, ibu dan dua anaknya terselip canda dan senandung bersama mengiringi lagu yang mengalun dari radio yang kami putar. Belum lagi cerita-cerita seru yang aku bagi ke anak-anak saat mengambil program master dan sosok teman-teman kala itu yang beberapa namanya mereka kenal baik ketika perjalanan melintasi daerah Darmaga, tempat dimana kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) berada.

Aku pun demikian, bagaikan de Javu menikmati setiap titik yang menjadi kenangan. Bertutur tentang perjuangan menempuh kuliah. Bagaimana pagi gelap dan siang bolong berangkat dan pulang kuliah, sambung menyambung kereta dan angkot atau bermacet-macet mengendara sendiri sepanjang Gunung Batu – Sindang Barang sampai Darmaga. Menunjukkan ke anak-anak tempat mangkal sarapan bubur ayam enak berlabel Bubur Ayam Kabita di Gunung batu karena gak sempat sarapan di Jakarta dan juga menunjukkan tempat kost teman-teman bunda yang mereka kenal.

Banyak yang berubah disekitar Darmaga setelah lebih dari dua tahun lulus, tapi setiap peristiwa masih terasa akrab di di benak. Kami bahkan sempat istirahat makan dan sholat di Galuga, nama sebuah restoran yang selalu menjadi tempat syukuran teman-teman TIP IPB angkatan 2008 yang telah menyelesaikan sidang akhir. Satu persatu lulus, dan berulang kali aku dapat undangan traktiran disini sebelum mereka kembali ke kota dan kesibukan masing-masing. Mendadak aku tersenyum sendiri, gara-gara lulus paling buncit maka aku tak sempat gantian mentraktir teman-teman. Antara senang dan miris tentu saja rasanya.

PA150054Perjalanan lebih dari enam puluh kilometer dari Cibubur Jakarta tetap terasa panjang, namun 14 kilometer setelah belokan ke kiri yang pertama menuju TNGHS kami mulai disuguhi pemandangan yang berbeda. Jalan desa tak lagi seramai sebelumnya, kiri kanan terasa lebih teduh karena sawah-sawah atau pepohonan. Jalan sedikit mendaki dan menurun landai, tak terlalu istimewa tapi lumayan untuk dinikmati. Tak ada pom bensin di sepanjang jalan ini sehingga persiapkan tangki kendaraan anda agar isinya cukup atau anda terpaksa mengisi dengan bahan bakar yang dijual secara eceran di kiri kanan jalan. Hanya ada satu dua angkutan kota melalui jalur yang panjang ini, bernomor 53 dari Terminal Laladon dan menyambung GB 59 untuk sampai di TNGHS, selebihnya kami hanya berpapasan dengan mobil-mobil yang dominan berpelat nomer Jakarta serta lalu lalang anak-anak muda berboncengan menggunakan sepeda motor. Demikian terasa panjang dan jauhnya perjalanan ini hingga anak-anak dan suami sempat berseloroh, jangan-jangan jalan ini tak ada ujungnya alias perjalanan tak berujung. Syukurlah tak lama setelah kami resah dengan perjalanan yang bagai kasih tak sampai ini, dikejauhan terlihat gerbang berpelang hijau bertuliskan, “Selamat Datang di Taman Nasional Gunung Halimun Salak”. Akhirnya….sampai juga ya.

PA150023

Situasi tempat ini saat kami datang sangat ramai didominasi kendaraan roda dua, aku tidak tahu pasti apakah memang begini setiap hari libur atau hanya karena kebetulan hari ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha sehingga pengunjung cukup banyak. Untuk masuk kawasan TNGHS, kami diminta membayar sebesar dua puluh ribu rupiah berempat dengan kendaraan mobil. Namun ketika aku dengan sengaja meminta tiket yang tadinya tidak petugas berikan, baru kutahu ternyata tiket masuk hanyalah dua ribu lima ratus rupiah per orang dan enam ribu rupiah untuk kendaraan roda empat. Hal yang membuat hatiku miris, masih begini saja wajah pariwisata di negeriku. Korupsi bahkan terjadi sampai di lini terkecil. Hal ini terulang ketika kami menuju salah satu curug yang berada didalam kawasan, kami dimintai retribusi enam ribu rupiah  tanpa tiket dan bahkan ketika diminta pun mereka tidak memiliki, “silahkan catat saja di buku besar, bu” begitu kata petugas retribusi di pintu masuk. Aku kembali kecewa.

Kecewaku tak berkepanjangan, kalimat “nikmati saja yang ada dan bahwa selalu ada hal yang menarik di depan kita” menjadi prinsip kami di setiap perjalanan. Maka kunikmati saja yang ada. Melewati gerbang TNGHS aku seperti memasuki lorong waktu. Tempat ini memiliki suasana yang mirip sekali dengan daerah Linggo Asri yang terletak di Pekalongan, serasa kembali ke awal tahun sembilan puluhan saat aku menghabiskan masa Sekolah Menengah Atas. Aku dan kawan-kawan juga kerap berkendara roda dua ke tempat seperti ini. Hutan Pinus beraroma lembab dan berudara sejuk menyambut kami. Kaca jendela mobil kami buka lebar-lebar memberi kesempatan udara luar masuk menyejukkan paru-paru kami berempat didalam. Di kiri kanan banyak yang sengaja menghentikan kendaraan dan parkir. Beberapa keluarga bahkan menghamparkan tikar sambil menikmati bekal makan siang yang mereka bawa.

PA150069

Ada dua pintu gerbang yang bisa diakses menuju TNGHS, yaitu Gerbang Gunung Bunder dan Gerbang Gunung Sari Pamijahan. Selain bumi perkemahan, pemandian air panas dan Kawah ratu, di tempat ini tersebar beberapa air terjun yang bisa anda pilih untuk didatangi. Dari tempat kami masuk di Gerbang Gunung Bunder secara berurutan kita dapat mengunjungi Curug Cihurang, Curug Ngumpet 1 dan 2 yang diseling oleh Curug Pangeran, serta Curug Seribu dan Curug Cigamea. Mobil kami terus melaju ke titik terjauh dimana Curug Cigamea berada, hal ini sengaja kami lakukan karena kami ingin melintasi jalan yang disediakan sejauh mungkin TNGHS yang luasnya lebih dari 113.00 hektar ini.

Gunung Bunder juga mengingatkanku suatu masa saat kuliah, samar-samar aku ingat pernah ikut suatu kegiatan kampus di daerah Cibungbulan, Gunung Bunder. Pagi-pagi kami olah raga jalan kaki menuju sungai yang ada air terjunnya, jalurnya landai melewati rumah penduduk di sebuah desa. Aku ingat sekali sungainya yang memesona, bening diantara batu-batu besar yang bisa diduduki untuk tadabur alam. Ku coba mengumpulkan potongan puzzle masa-masa itu, dan ternyata tempat itu memang ada dalam wilayah ini. Ah…indah.

Dari informasi yang saya dapat, tujuan favorit yang dipilih pengunjung TNGHS adalah Curug Seribu yang merupakan air terjun yang paling tinggi dengan debit air yang paling besar di wilayah ini. Namun bagi anda yang memilih untuk ke tempat ini sebaiknya memiliki stamina yang baik karena Curug Seribu memiliki jalur trekking yang cukup menantang, dengan panjang kurang lebih 3 kilometer melalu jalur basah, licin, berbatu dan curam. Jalur ini harus ditempuh sekurang-kurangnya satu jam untuk sekali jalan, terasa lebih mudah saat turun mendatangi namun sangat melelahkan saat kembali karena perjalanan yang mendaki. Disekitar Curug Seribu ini juga saya melihat banyak vila dan resor yang disewakan, saya perkirakan hal ini dikarenakan tempatnya paling tinggi dibanding tempat lain di wilayah TNGHS sehingga pemandangan yang dapat dilihat dari vila atau resor pun akan lebih indah di ketinggian. Gara-gara hal ini juga saya sempat terpikir, bolehlah sesekali menyepi dan merehatkan jiwa di tempat ini, pagi-pagi jalan santai dan trekking menuju air terjun dan menikmati Gold Sunset di saat senja. Sepertinya menyenangkan. Walau sedikit lebih jauh tapi tak stress karena lalu lintas yang lancar. Bandingkan dengan stress yang selalu jadi bonus liburan karena macet seperti yang seringkali kami alami bila memilih daerah Puncak Cianjur

PA150030

PA150031

PA150026

Sebenarnya ada satu tempat terjauh di sini yaitu Pemandian Air Panas, namun karena hari sudah menjelang sore dan anak-anak meminta untuk diijinkan main air di air terjun maka kami memutuskan untuk berhenti di Curug Cigamea. Dari tempat parkir kami hanya perlu jalan kurang lebih 1,3 km dengan jalur yang sudah tertata rapih dengan paving blok berpagar. Sangat aman namun tentu saja jangan berharap ada tantangan ditempat ini. Meski menurun dan menanjak, kami melalui dengan sangat mudah, tak heran pula tempat ini menjadi tempat favorit keluarga dan anak-anak, situasinya ramai sekali. Di kiri kanan jalur menuju air terjun banyak kios makan dan souvenir. Bagi yang tak membawa baju ganti ada pula kios yang menjual baju, celana pendek sampai pakaian dalam. Tak ada yang istimewa, tapi bukan tak ada yang bisa dinikmati, karena ditengah hilir mudik manusia disekitar, ada satu pemandangan yang menarik dan tak ingin kulepas, wajah gembira anak-anakku didalam air.

Hari makin sore, anak-anak sudah mulai kedinginan meski raut wajah mereka masih merengek ingin lebih lama, tapi langit cerah diatas kami sudah mulai memudar menjadi gelap, waktunya kami bergegas pulang. Sudah cukup perjalanan hari ini.

Kita akan kembali lagi khan nak, seperti rencana kita semula untuk mencicipi trekking jalur Curug Seribu.

Tunggu kami ya…..

PA150037

 

 

Gunung Bunder, 15 Oktober 2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170515103635

ROYAL KLANG HERITAGE WALK – Telusur Jejak Warisan Bandar Diraja Klang

Royal Klang Heritage Walk namanya, kegiatan ini dilakukan dengan berjalan kaki menelusuri jejak dan bangunan ...

3 comments

  1. Bagus yaaa… Apapun bagus sih kalau ada disekitarku, asal nggak bising & banyak orang, heheheee

  2. Artikel nya cukup bermanfaat bingung baca apa eh dapat referensi untuk wisata yeayyyy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge